Unknown Baby

Unknown Baby
EP 6 Pekerjaan


__ADS_3

Suasana lebaran masih sangat terasa, orang-orang libur kerja. Berkumpul bersama keluarga ataupun mengunjungi saudara. Acara keluarga Faiq selesai kemarin, setelah lebaran pertama di rumah dan hanya bersilaturahmi bersama teman-teman serta tetangga di Metro.


Lebaran hari kedua mereka pergi ke simpang sribawono, tempat orang tua Faiq. Berkumpul bersama keluarga besar selama dua hari tiga malam, lalu berlanjut ke keluarga Myesha. Mereka menginap beberapa hari lalu pulang.


Satu hal yang tidak pernah berubah setiap tahunnya, yakni semua keluarga akan menanyakan Yuno. Kapan anak itu pulang? Apakah sudah mengirim kabar? Apa Yuno baik-baik saja?


Dari bayi Yuno selalu menjadi kesayangan keluarga, anak itu sudah terlihat unggul di semua aspek. Masih bayi saja keimutannya membuat orang menyayanginya, rambut jabriknya yang khas selalu menjadi ciri khas. Menginjak balita, Yuno tumbuh dengan menggemaskan. Selalu dibawa kakeknya jalan-jalan berkeliling desa dikenalkan pada warga dengan bangganya.


Yuno juga selalu melerai pertengkaran para sepupunya, bersikap dewasa dan bisa mengayomi. Belajarnya lebih cepat dibandingkan anak seusianya. Wajahnya tampan dan tinggi. Dari kecil dia memang terlihat berbeda dari Faiq atau pun Myesha, tidak ada kemiripan sama sekali dengan anggota keluarga.


13 kali lebaran pertanyaan disertai kerinduan selalu sama, padahal semua anggota keluarga sudah tahu bahwa Yuno tidak ada hubungan darah dengan mereka. Meskipun begitu mereka tetap sayang dan menganggap Yuno bagian dari keluarga tanpa membedakan DNA.


Setelah Myesha mengabari bahwa Yuno telah pulang, mereka langsung bergegas ke Metro. Menemui bayi jabrik kesayangan semua orang. Bayi yang telah menyatukan dua manusia dan dua keluarga besar. Bayi yang sekarang sudah tumbuh menjadi pria gagah dan tampan.


"Sha, Bapak bentar lagi sampai Metro. Tapi istirahat dulu di Sukadana, katanya udah tua jadi capek nyetir," kata Faiq berjalan mendekati Myesha.


Myesha tak terlalu menanggapi, dia fokus melihat mobil baru Yuno. "Hmm... ntar aku masakin. Orang tuaku juga besok ke sini. Katanya hari ini masih ada tamu di rumah."


Mobil mengkilap anti gores, silau dipandang mata.


"Bunda suka mobil ini nggak?" tanya Yuno.


"Kinclong banget, cocok sama kamu." Myesha tersenyum.


Orang-orang yang berada di depan warung Riki mengintip, pagar rumah Myesha bagian samping tidak terlalu tinggi, hanya sebatas dada orang dewasa.


"Kalau Bunda suka, mau nggak aku beliin lagi? Atau yang ini buat bunda aja trus aku beli lagi."


"Eh, nggak usah. Mobil butut ayahmu masih bisa digunakan kok. Walaupun ada asapnya."

__ADS_1


Mendengar itu jantung Faiq terasa seperti ditusuk jarum dengan kekuatan super. Sakit banget dihina istri sendiri. Walaupun Faiq tahu Myesha tidak bermaksud menghina.


Sementara para ibu-ibu yang sedang berbelanja pun menjalankan tugas sebagai tetangga, salah satunya kepo. Mereka mendekat hingga berjarak 7 meter dari Myesha berdiri. Mereka hanya terhalang pagar rumah setinggi dada.


"Wah ada tamu ya," sapa Bu RW. Orang yang paling rajin menggosip di warung Riki.


Myesha berbalik, melihat ke arah rombongan ibu-ibu. Para tetangganya yang kepo.


"Bukan tamu, tapi ini anakku, Bu. Udah pulang dari Jakarta."


Mereka diam sesaat, memandang Yuno yang tersenyum ramah kepada mereka.


"Assalamualaikum, Bu-ibu. Saya Yuno. Masa udah lupa sama saya." Sekali lagi Yuno tersenyum ramah.


Orang-orang di kelurahan itu tahu bahwa Yuno bukan anak kandung Myesha dan Faiq sejak 13 tahun lalu, kabar menyebar begitu cepat. Yuno diambil orang tua kandungnya dan dibawa ke Jakarta. Tetapi tidak ada yang tahu siapa sebenarnya orang tua kandung Yuno.


"Ya ampun si jabrik, nggak nyangka udah besar. Tambah tinggi aja, kok baru ngunjungin Bundamu?"


Ibu Siti, tetangga yang anaknya baru diangkat menjadi PNS tahun ini menyela. "Kamu kerja apa di Jakarta, kok baru bisa pulang tahun ini?"


"Cuma punya perusahaan biasa, Bude." Jawab Yuno sekedarnya.


"Kamu inget Galang temenmu SMPmu?" tanya Bu Siti lagi.


"Inget, Bude. Niatnya nanti saya juga main ke ruma-"


"Dia udah jadi PNS," potong Bu Siti buru-buru.


Yuno lumayan terkejut karena omongannya dipotong. Dia kenal Galang, teman sekelasnya ketika SMP. Anaknya rajin dan selalu masuk 5 besar. Wajar kalau jadi PNS.

__ADS_1


"Kalau usahamu di Jakarta nggak nguntungin, coba aja kerja sama dia. Dia nerima lulusan SMP kok. Katanya kemarin dia lagi nyari supir."


Yuno menelengkan kepalanya, bingung. Apakah ibu-ibu ini menganggap dia hanya lulusan SMP? Yuno menoleh ke Myesha, kurang mengerti dengan arah pembicaraan para ibu-ibu.


Memang tidak ada yang salah dengan lulusan SMP, hanya saja, Bu Siti terlalu percaya diri bahwa Yuno hanya lulus SMP.


"Heh, dengar ya, Bu Siti. Yuno ini lulusan master ekonomi di Harvard. Enak aja jadi supirnya Galang!" Myesha menunjukkan taringnya.


"Sarjana pun jaman sekarang tetap susah cari kerja, Bu Myesha. Apalagi perusahaan Yuno katanya kecil, pasti rugi terus. Dari pada nanti rumahnya disita bank. Mending jadi supir, benar, 'kan ibu-ibu?" Bu Siti mencari pembelaan.


"Benar itu, Bu. Ponakan saya juga sarjana tapi emang susah cari kerja," tambah Bu RW.


"Anak saya juga gitu, Bu. Tapi Alhamdulillah kemarin akhirnya keterima di kelurahan." Ibu berambut ikal ikut berpartisipasi.


Myesha yang tidak tahan akhirnya ngegas. "Anak saya ini punya perusahaan besar ya, Bu! Jangan remehin! Duit Yuno sisa kalau cuma buat bayar utang negara. Kok disamain sama PNS. Ya nggak level dong."


Kali ini Myesha menunjukkan kesombongannya sebagai ibu dari anak orang kaya. Ia membusungkan dada. Sementara Faiq dan Yuno merasa malu sendiri berada di tengah perdebatan ibu-ibu.


Dua pria itu saling pandang, Yuno memberi isyarat kepada Faiq untuk menghentikan perdebatan memalukan ini. Sementara Faiq hanya angkat bahu.


.


.


.


.


bersambung

__ADS_1


maaf ya gengs. Aku ada masalah di dunia nyata jadi up sebisanya. Tapi ttp aku sempetin nulis walaupun nyicil 🤧 makasih udah mampir. jangan lupa share cerita ini di sosmed kamu ya 🥺


__ADS_2