
"Loh, Mas Faiq kenal Kak Erika?" tanya Myesha, terkejut.
Kini Faiq tahu bahwa mantannya itu bernama Erika. Dia hanya mengingat wajah cantiknya. Kira-kira mereka pacaran online selama 5 bulan, tepatnya kapan Faiq lupa. Sering video call dulu. Tetapi Faiq hanya samar mengingat namanya karena terlalu banyak mantan online.
"Jadi Faiq ini benar suami kamu? Pantes rasanya nggak asing waktu kamu kirim foto pernikahan." Erika berdiri. Mengimbangi Faiq.
"Iya, Kak. Ini Mas Faiq suamiku. Mas Faiq ini Kak Erika editorku."
"Hay Erika," sapa Faiq canggung. Mencoba mengingat dulu dia putus dengan alasan apa.
"Bentar bentar. Kamu kan menikah setelah melahirkan. Berarti selama tinggal bersama kalian .... ? Tunggu dulu, waktu itu aku ngrasa aneh tiba-tiba Myesha bilang menikah. Pria bang sat mana yang melakukan itu ke Myesha, ternyata kamu ... Faiq?" tuduh Erika. Tatapan matanya penuh intimindasi.
"Itu--nggak seperti yang kamu pikirkan." Faiq ingin menjelaskan hal yang sebenarnya terjadi tetapi sangat sulit. Bibirnya terasa kelu.
"Kita kan putus baru setengah tahun yang lalu, dan Myesha bilang selama ini nggak punya pacar tapi tiba-tiba menikah karena memiliki anak. Tunggu, apakah rumah ini kos-kosan Myesha sebelum menikah dan kamu adalah pemiliknya?"
"Anu Kak Erika ... iya memang benar dulu aku ngekos di sini dan Mas Faiq pemiliknya. Tapi kami nggak--"
Plak!
Erika menampar Faiq dengan keras. Sangat tiba-tiba. Bibir Faiq yang luka akibat gigitan Myesha semalam terasa sakit kembali. Mata Faiq nyalang memandang Erika. Meminta penjelasan tentang tindakannya.
"Aku tahu kamu breng sek tapi nggak nyangka kalau kamu se bang sat ini. Masih pacaran sama aku tapi nidurin penyewa rumah, apa kamu nggak punya malu? Kamu pasti ngancem Myesha, 'kan? Kamu manfaatin gadis lugu, benar-benar pria bang sat kamu."
"Jaga ucapanmu Erika! Aku nggak pernah berbuat seperti yang kamu tuduh. Oke, aku akuin kita putus karena salahku yang suka gonta ganti pacar online tapi di dunia nyata aku bukan pria breng sek."
Sekarang Myesha bingung harus berbuat apa, suasana sangat panas dan tak ada yang mau mengalah. Menjelaskan ke Erika pun dia tak tahu harus dimulai dari mana, pasalnya dia yang memulai kebohongan supaya bisa hiatus.
"Cih, benar-benar tidak mau mengakui kesalahan. Be jat. Mye, seharusnya kamu bilang padaku kalau mendapat pelecehan seksual. Kamu tidak perlu menderita sendirian."
__ADS_1
Myesha menggeleng. "Nggak, Kak. Mas Faiq baik sama aku. Dia nggak seperti yang Kakak pikirkan."
"Kamu dengar sendiri, 'kan Myesha bilang apa?"
"Pasti kamu mengancamnya. Kamu menggoda dia dan merayu supaya mau tidur sama kamu, 'kan?"
Kali ini Faiq yang darah tinggi, tak tahu bagaimana menjelaskan ke Erika bahwa dia tidak seperti yang dituduhkan. Harga dirinya sangat terluka saat ini.
"Kalau kamu nggak percaya, coba pikir. Untuk apa aku menggoda Myesha yang culun dan buluk sementara aku memiliki pacar yang cantik? Aku masih waras!" Kata Faiq.
Erika terdiam sesaat, kemudian melihat ke arah Myesha yang dalam keadaan acak-acakan.
"Nafsu tidak memandang culun dan buluk, dia dekat makanya kamu manfaatin keadaan." Erika masih tak mau kalah.
Myesha mengambil napas panjang, kemudian melangkah mendekat ke Erika. Masih menggedong Yuno dengan dot birunya.
Erika mereda, dia melihat Myesha yang menunduk sedih. Lima tahun mereka kenal. Walaupun sering marah-marah tetapi Erika peduli dengan Myesha. Lagi pula, Faiq bukannya mantan yang penting untuknya. Hanya kenal iseng lewat aplikasi pencari jodoh. Pacaran pun online, tidak pernah bertemu secara langsung.
Baginya Myesha jauh lebih penting dibanding Faiq yang hanya mantan online. Erika mengembuskan napas berat.
"Aku nggak nyangka kalau kamu sangat kesepian. Nggak papa, kita lupain ini. Aku pergi dulu, kalau sudah nemu asisten buat kamu nanti aku hubungi."
"Makasih, Kak."
Erika pergi, tak berkata apapun lagi. Meninggalkan Myesha dan Faiq yang masih terpaku di ruang tamu.
"Sha, aku nggak bermak--"
"Nggak papa, aku emang culun dan buluk. Masih banyak pacar Mas Faiq yang cantik, untuk apa sama aku. Kalau Mas mau nyari istri yang cantik silakan, Mas kan masih waras."
__ADS_1
Myesha berbalik, membawa Yuno masuk kamar. Menutup pintu kemudian menguncinya. Faiq berusaha membuka pintu itu, tapi nihil. Ia tak bisa.
"Sha, aku minta maaf. Aku nggak bermaksud ngomong kayak gitu," kata Faiq di luar kamar. Menyesal. Baru kali ini dia melihat Myesha marah, sangat menakutkan dengan nada bicaranya yang rendah tapi langsung menusuk ke hati.
Sementara itu di dalam kamar hati Myesha terasa dicabik, orang yang paling dia percayai, orang yang bilang akan menjaganya, memberi kehangatan keluarga yang tak pernah dia dapatkan. Hanya menganggap dia gadis seperti itu. Jadi, apakah kalimat cinta yang Faiq ucapkan itu dusta? Lalu, sebenarnya pria itu menganggap dia apa?
Air mata itu terus menetes, membasahi Yuno yang berada dalam dekapannya. Myesha duduk di balik pintu. Sepertinya dia yang terlalu berharap. Bahkan dengan mudahnya memberikan segala yang dia miliki untuk pria itu, termasuk tubuhnya yang Faiq sebut culun dan buluk tanpa curiga sedikitpun. Sekarang Myesha merasa sangat bodoh.
Dia terlena, lengah akan segala perhatian yang memabukkan. Berharap kebahagiaan itu adalah nyata dan berlangsung selamanya.
Suara tangisan Myesha terdengar sampai ke telinga Faiq yang masih berdiri di depan pintu. Berharap Myesha mau membuka dan memaafkannya.
"Sha, jangan nangis. Rasanya hatiku sakit denger kamu nangis. Aku salah omong, maafin aku, Sha. Aku janji nggak bakal gitu lagi. Sha, buka pintunya aku mohon."
Namun, hanya tangisan yang Faiq dengar. Tak ada jawaban apapun dari Myesha. Pria itu menyesal, dia meraba pintu. Suara tangisan Myesha seakan menusuk hatinya.
.
.
.
.
bersambung
Hargai aku lewat like, komen, vote dan tip
(╥﹏╥)
__ADS_1