
Perlahan Myesha membuka baju Yuno, bayi berusia dua bulan itu terlihat gembul dan sehat. Pukul delapan pagi Myesha baru sempat memandikan bayi itu setelah membereskan rumah.
Terlihat sangat lucu ketika sebagian tubuhnya berada di dalam air. Tak seperti bayi lain, Yuno sangat menyukai air. Mengusap kulit sensitif itu menggunakan sabun bayi. Myesha menikmati masa merawat Yuno. Membayangkan jika nanti Yuno tumbuh besar akan seperti apa.
Ah, pikirannya terlalu jauh. Padahal semua ditentunkan setelah menemukan orang tua kandung bayi itu. Bisa saja Yuno anak yang diculik dan tak sengaja ditaruh di depan rumah mereka. Jika begitu tentu orang tua kandung Yuno sangat bersedih kehilangan bayi mereka. Mau tidak mau Myesh harus menyerahkan bayi mungil itu kembali ke mereka.
"Ayo ganti baju," ucap Myesha setelah Yuno memakai handuk dan berada di dekapannya.
Tetapi jika ternyata Yuno memang anak yang dibuang oleh orang tua kandungnya, Myesha tak keberatan membesarkan bayi itu. Terlebih dia memiliki Faiq, pria yang sangat dewasa dan bertanggung jawab.
"Pakai minyak telon dulu." Myesha memberikan minyak telon ke perut Yuno sebelum memakaikan baju.
Hari ini Yuno akan ikut imunisasi untuk pertama kalinya, bertemu banyak orang. Bagi Myesha sendiri hal ini juga mendebarkan. Selama tinggal di lingkungan ini dirinya tidak berinteraksi dengan warga. Hanya tetangga kanan, mini market. Dan kiri, kosan Tina dan Susi.
Sementara depan rumahnya adalah keluarga kaya yang jarang keluar rumah. Pagar tinggi menjulang menjadi pembatas, Myesha sendiri tak tahu siapa saja orang yang tinggal di sana karena mereka terlalu tertutup.
"Seger ya, Mandi. Cium pipi dulu." Myesha mencium pipi gembul dengan taburan bedak bayi. "Duh imutnya."
Gadis itu mengangkat Yuno, menimangnya sembari memberi susu. Perlahan bayi itu memejamkan mata, ia tertidur karena kenyang.
Perlahan tapi pasti rasa sayang itu muncul di hati kecilnya, untuk Yuno dan untuk Faiq. Untuk kedua kalinya dia merasa memiliki sesuatu yang harus dijaga dan merasa dijaga.
Setelah Yuno benar-benar terlelap Myesha mandi, ia keramas. Kemudian membilas baju dan membawanya ke belakang rumah untuk dijemur.
Dulu, ketika mencuci celana dalam Faiq tak ada perasaan apapun. Tetapi sekarang ketika memegangnya seperti ini perasaan geli itu muncul begitu saja. Celana dalam berwarna abu-abu. Teringat ketika tragedi balon beberapa hari yang lalu, sungguh membuat pipinya merona merah karena malu membayangkan isi celana dalam itu.
"Kak Myesha!"
__ADS_1
Tina muncul dari samping rumah mengagetkan gadis itu hingga membuat celana dalam yang dia pegang terjatuh. Buru-buru Myesha mengambilnya dan dimasukkan ke dalam ember kembali. Ia malu jika dilihat Tina.
"Kok kamu muncul lewat samping?"
"Aku udah ketuk pintu depan dari tadi, ternyata kakak lagi jemur baju."
Gadis berhandrok selutut itu memegang payung berwarna kuning. Ada bando cantik yang dia kenakan.
"Aku nggak denger, maaf ya. Kamu masuk aja ke rumah aku selesein jemur dulu."
"Oke Kak, sekalian pingin liat rumah Kakak." Tina menutup payungnya sebelum dimasukkan ke dalam tas.
Gadis ceria itu masuk ke dalam rumah tanpa canggung. Myesha hanya menggelengkan kepalanya, ia menunduk untuk membilas celana dalam Faiq di kran air yang tak jauh.
Menyelesaikan acara menjemur baju dengan cepat, ia membalik ember itu sebelum masuk ke dalam rumah. Di kepalanya masih ada handuk. Rambutnya basah.
"Minta ini ya, Kak?"
"Ambil aja."
Sikap seenaknya dari tetangga semacam ini yang sebenarnya tak Myesha sukai. Tapi biarlah, hitung-hitung sedekah. Asal tidak terlalu sering.
Myesha mengeringkan rambutnya menggunakan handuk. Kemudian masuk kamar untuk berganti baju. Bayi mungil itu masih terlelap dengan empeng kesayangannya ketika Myesha memindahkan ke kereta bayi.
Setelah selesai memasukkan perlatan yang dibutuhkan ke dalam tas, dan menaruhnya di belakang kereta bayi. Myesha keluar kamar.
"Eh, jangan masukin tanganmu ke sana!" teriak Myesha ketika Tina hendak memegang kura-kura Faiq di aquarium.
__ADS_1
Tina berhenti, ia masih memakan apel yang dia ambil dari kulkas.
"Cuma pingin megang dikit, Kak."
"Jangan, itu kura-kura kesayangnya Mas Faiq. Bisa marah dia nanti."
"Imut sih kura-kuranya, ada namanya nggak, Kak?"
"Namanya Cucut."
"Apa? Cangcut?"
Kura-kura yang sedang berada di dalam tempurungnya mendadak keluar ketika namanya disamakan dengan celana dalam.
"Bukan Cangcut, tapi Cucut. Udah ah ayo ke Posyandu."
Myesha mengunci pintu belakang kemudian mendorong kereta bayi itu keluar rumah diikuti Tina di belakang.
Mereka berjalan kaki menuju tempat Posyandu. Bercerita banyak hal dan menjadi semakin akrab.
.
.
**
bersambung
__ADS_1
Jangan lupa kasih vote