
Mata Yuno terpejam, perjalanan jauh membuat badannya sangat lelah. Tanpa sengaja dia tertidur di sofa ruang tengah, menutup wajahnya menggunakan topi yang dia bawa sejak turun dari bandara Raden Intan.
Pikirannya melayang kemana-mana, bahkan dia memimpikan tubuhnya tengah ditumpuk berkas.
"Tidur aja di kamar, nanti makan siang Ayah bangunin."
Kalimat itu membuat Yuno terbangun, melihat ayahnya berkeringat. Yuno mengambil topinya yang terjatuh, kemudian berdiri. Melihat jam dinding, cukup kalau tidur dua jam. Dia ingin istirahat.
Sejak menjadi Presdir WterSun Group, dia hanya tidur sekitar 3-4 jam sehari. Pekerjaan menumpuk sampai membuatnya jengah. Dia sampai merasa mual hanya karena melihat berkas.
Matanya menoleh ke Kahfi yang mengangkat kardus ke gudang belakang. "Fi, nanti sore ambilin koperku di Bandara ya."
"Lah kok kopernya tadi nggak dibawa sekalian, Bang?"
"Biar kamu ada kerjaan."
"Sial."
Yuno menoleh ke Faiq, "aku istirahat di kamar dulu, Yah."
Yuno tidak menghiraukan Kahfi yang mengoceh setelah diberikan tugas sebagai adik setelah sekian lama, dia menaiki tangga ke lantai dua.
Ruangan lantai dua banyak berubah. Mainan Kahfi sudah tidak ada lagi. Berganti dengan tumpukan buku di rak, sofa dan dan pohon hias di pojokan.
Dia memutar knop pintu kamarnya, semua masih terlihat sama setelah 13 tahun berlalu. Meskipun sekarang warnanya berubah usang. Bibir Yuno tersenyum, merasa nostalgia.
"Ah, jadi kangen jaman dulu."
Yuno ke lemarinya, melihat baju-bajunya saat berusia 12 tahun. Kecil dan pendek. Tubuhnya yang sekarang tinggi dan besar tidak muat lagi. Kemudian Yuno berjongkok, mencari harta karunnya.
Celengan ayam masih ada di sana, berdebu dan usang. Warnanya pun memudar. Dia mengocok celengan itu hingga menimbulkan suara. Sekali lagi bibirnya terangkat.
"Nanti malam aku akan memotongmu," katanya.
Yuno mengembalikan celengan itu pada tempatnya, dia berdiri dan menutup pintu lemari. Tubuhnya berbalik, melihat sekeliling kamar.
Baju putih biru masih ada di belakang pintu, lengkap dengan celana dan dasinya. Sayangnya nametagnya sudah tidak ada. Dia ingat membawa nametag itu ke Jakarta dan memberikannya pada gadis buta.
"Gadis itu masih berutang makanan padaku."
__ADS_1
Yuno penasaran apakah gadis buta itu akhirnya bisa melihat atau tidak? Dia terlalu sibuk untuk mencari tahu. Membiarkan takdir mempertemukan mereka dengan caranya sendiri.
Yuno merebahkan tubuhnya di ranjang, bunyinya kretek, serasa akan jebol. Ternyata Myesha tidak mengganti ranjangnya walaupun sudah 13 tahun.
"Bisa bahaya kalau buat malam pertama," ucapnya.
Tangan Yuno terulur meraih bantal guling, lumayan apek tetapi dia suka. Matanya terpejam, memimpikan masa kecil ketika dia masih tinggal di sini bersama keluarga angkatnya.
Saat ini Yuno melupakan segala yang terjadi selama dia di Jakarta dan Amerika, kembali ke kehidupan kampung tanpa berebut kekuasaan. Tidak memikirkan saham dan tidak berpura-pura menjadi orang kuat.
Di sini dia bisa jadi diri sendiri, Yuno Putra Alamsyah, berasal dari keluarga sederhana di Lampung. Hidup nyaman tanpa tekanan dan musuh.
Mungkin, jika dia anak kandung keluarga ini. Musuhnya hanya nyinyiran tetangga, keiri dengkian tetangga, gosip tetangga dan hal simpel seperti itu. Bukan Haikal ataupun saingan bisnis yang setiap saat mengancam nyawa.
Tok tok tok
Suara pintu diketuk, Yuno duduk. Melihat jam tangannya. Ternyata dia tidur tiga jam. Dia menguap sebelum berjalan ke pintu.
"Makan siang, yuk. Bunda udah masakin lele goreng."
"Aku solat zuhur dulu, Bun."
"Kan tiap nelpon Ayah sama Bunda ngingetin terus."
Myesha terlihat sangat senang, dia menepuk bahu Yuno sebelum meninggalkannya. Menunggu anak tersayangnya itu makan siang di dapur.
Setalah salat zuhur, Yuno turun ke lantai satu. Dia tidak menyangka sedang ditunggu semua orang. Senyumannya mengembang, berjalan cepat duduk di kursinya.
Dia rindu mereka semua, setiap hari setelah meninggalkan rumah ini. Yuno selalu rindu. Dia bisa kuat menjalani hari melelahkan di Amerika hanya dengan mengingat keluarganya.
Yuno menghapus air di sudut matanya, penantiannya telah berakhir hari ini. Dia pulang. Ini rumah keluarganya. Di mana dia merasakan kasih sayang begitu tulus meskipun tidak memiliki hubungan darah sama sekali.
"Ayo doa dulu," kata Ayah.
Mereka berdoa bersama, lalu Bunda memberikan nasi di piring Yuno. Ayah menaruh lele yang paling besar, Kahfi menaruh lalapan, dan Pinea menaruh sambel.
Mereka adalah sesuatu paling berharga, lebih dari harta dan saham. Setelah hari berat yang dia lalui beberapa tahun belakangan, akhirnya Yuno sampai di titik kembali. Berkumpul bersama keluarga yang sangat dia sayangi.
Selesai makan, Kahfi pergi bersama Pinea mengambil koper yang Yuno tinggal di bandara. Sementara Yuno dipanggil Myesha dan Faiq. Mereka bertiga duduk di ruang tengah.
__ADS_1
Bercerita banyak hal, membuka album lama yang sudah usang. Yuno membawa banyak foto selama di Amerika. Perjalanannya selama 13 tahun ini. Sayangnya berada di koper.
"Ini waktu kamu baru umur 5 bulan, rambutnya jabrik banget kayak antena." Bunda menunjukkan foto Yuno yang masih bayi.
"Kok ini di kapal, Bun? Perjalanan ke mana?"
"Waktu ke Jakarta," jawab Bunda.
Tiba-tiba Faiq menyela, "waktu itu Bundamu dapet nominasi Webcuun Awards. Komik paling populer."
"Yusha sang Pangeran?" tebak Yuno.
Faiq mengangguk, "iya."
"Wah keren banget."
Kali ini Myesha yang menyela, "tapi buat ke sana banyak banget hambatannya."
"Ceritain dong," desak Yuno penasaran.
Tidak menyangka dia ikut saat Myesha meraih karir tertingginya. Hari itu Myesha dan Faiq menceritakan perjalanan mereka selama Yuno masih kecil. Pencapaian mereka dan juga beberapa kejadian yang membuat mereka hampir bercerai.
.
.
.
bersambung
visual Yuno ada di IG @ka_umay8
semua info aku umumin di sana ya gengs.
jangan lupa dukung karya ini ya,
Bagiin juga cerita ini ke temen-temen, tetangga, suami, istri, anak, cucu, buyut, selingkuhan, mantan, musuh, sepupu, ponakanan, bibi, paman dan lain sebagainya.
Terima kasih (◍•ᴗ•◍)❤
__ADS_1