Unknown Baby

Unknown Baby
Sandal


__ADS_3

Faiq masih memejamkan matanya, jantungnya berdesir ketika bianglala sampai di puncak dan turun ke bawah. Ingin sekali mencoba membuka matanya tetapi diurungkan. Ia takut.


"Kalau takut ketinggian kenapa tadi ikut naik?" tanya Myesha merasa khawatir.


"Karena kamu ingin naik." Fiaq menjawab dengan mata masih terpejam.


Myesha cukup terharu dengan tindakan Faiq yang melawan rasa takut demi dirinya. Selama ini ia tak pernah menemui orang yang mau berkorban untuknya seperti itu. Gadis itu tersenyum. Tak menyangka di dalam bianglala bisa menemukan kehangatan lain selain kenangan dari orang tuanya. 


"Jangan takut, aku di sini," kata Myesha sembari berpindah di samping Faiq.


Tangannya mencoba memegang Faiq tetapi pria itu menepisnya.


"Kamu jangan duduk di sini nanti miring. Balik ke tempat dudukmu sana."


Myesha memanyunkan bibirnya dan kembali ke tempatnya semula. Kehangatan apanya? Faiq hanya ketakutan.


Mendapat penolakan dari Faiq membuat ia ingin marah, tapi kasihan. Akhirnya Myesha cuma bisa menikmati bianglala dengan melihat pemandangan sementara Faiq memejamkan mata.


Banyaknya lampu membuat lapangan Samber seperti surganya orang bersenang-senang. Mengalahkan gelapnya malam dengan tawa keceritaan. Ah, tak menyangka dia satu di antara orang-orang itu.


Bianglala berhenti, dia dan Faiq turun. Rasa mual Faiq tahan hingga Myesha berhasil memberinya minuman.


"Kita pulang yuk, Mas."


Mereka duduk tak jauh dari bianglala.  Menghindari kerumunan orang.


"Nggak mau coba permainan lain atau nunggu kembang api? Mumpung di sini."


"Kalau gitu beliin sandal dulu. Aku nggak bawa uang." Myesha mengambil sandalnya. 


Ia menunjukkan sandal swallow itu kepada Faiq. Sandal berwarna putih itu putus ketika membeli minuman tadi karena sudah sangat lusuh. Ntah tahun kapan Myesha membelinya.


"Tunggu di sini, biar aku beliin kamu sandal." Faiq berdiri.


"Aku ikut, nanti Mas milihnya jelek."


"Kamu mau nyeker? Malu Sha. Rame. Ntar diliatin orang." Faiq menunjuk jalan yang penuh orang.


Melihat itu Myesha cemberut, "yaudah deh, pilih yang bagus ya dan jangan lama-lama."

__ADS_1


Faiq mengangguk sebelum meninggalkan Myesha sendirian dengan sandal jepitnya yang putus. Ia berjalan di antara kerumunan orang. Awalnya ia ingin melihat sandal tetapi diurungkan setelah melihat sepatu berjejer cantik.


Tak terlalu mahal. Hanya 75 ribu sudah bisa mendapatkan sepatu cantik. Faiq memilih warna merah muda, terlihat cocok untuk Myesha. Ukuran 38. Dengan rasa bahagia ia membeli sepatu itu.


"Lah kenapa beli sepatu?" protes gadis itu ketika Faiq menunjukkan sepatu warna pink yang dia bawa.


"Sepatunya cantik, cocok buat kamu."


"Harganya berapa? Mahal nggak?"


"Nggak kok, ini murah."


"Mas bawa uang berapa? Kita kan nggak niat ke sini. Ntar kehabisan uang gimana?"


"Lebih dari cukup, kamu nggak usah khawatir."


Faiq berjongkok, ia mengambil kaki Myesha untuk diusap telapaknya sebelum dipakaikan sepatu.


"Nah, cantik, kan? Ayo jalan."


Myesha mengamati kakinya yang memakai sepatu berwarna pink. Memang cantik. Dia suka. Kemudian gadis itu berdiri.


"Kalau uangnya cukup beli jaket, yuk. Makin malem rasanya dingin."


Mendengar pertanyaan dari Faiq membuat gadis itu menyipitkan matanya. 


"Iya deh, ayo beli." Faiq meraih tangan Myesha. Menggenggam melewati orang-orang.


Tepat di depan tempat baju mereka menemukan jaket couple berwarna putih yang bagus. Myesha tertarik karena beli couple harganya lebih ngirit. Sementara Faiq mengiyakan saja asal Myesha senang.


Jaket itu langsung Myesa kenakan untuk menghalau dingin. Begitu pun dengan Faiq, walau tak merasa dingin tetapi ingin memakai sesuatu yang couple dengan Myesha. Kapan lagi bisa merasa pacaran halal seperti ini. 


"Beli arum manis yuk." Ajak Myesha lagi.


"Ayo. Mau makan mie ayam nggak?"


"Iya."


Malam itu mereka menghabiskan uang yang ada di dompet Faiq. Membelikan bakso dua bungkus untuk Tina dan Susi yang sudah menjaga Yuno.

__ADS_1


"Jam berapa, Mas?" tanya Myesha sembari berhenti.


"HP ku mati."


"Lah, berarti kalau Tina dan Susi nelpon nggak tau dong."


"Emang kamu nggak bawa HP?"


Myesha menggeleng. "Ayo cepet pulang, perasaanku nggak enak."


"Tapi bentar lagi ada kembang api."


"Ayo pulang ajalah, aku takut Yuno kenapa-napa."


Mereka buru-buru pulang setelah membayar parkir 5 ribu rupiah, uang satu-satunya yang tersisa di dompet Faiq.


Jalan dua jalur menjadi alternatif tercepat untuk sampai ke rumah, dari kejauhan Myesha bisa melihat kembang api yang meletus setelah dia pergi. Berada di boncengan Faiq, angin tak mampu menembusnya. 


Kembang api itu indah, Myesha meletakkan kepalanya di punggung Faiq sembari terus melihat kembang api selama perjalanan pulang. Pegangan tangannya juga kuat di perut pria yang telah resmi menjadi suaminya itu.


Inilah momen romantis pertama yang dia dapatkan bersama Faiq, tak menyangka dicintai rasanya akan semenyenangkan ini. 


Kemudian motor berhenti, padahal rumah masih jauh.


"Kenapa, Mas?"


"Kayaknya bensinnya habis."


"Ehh kenapa nggak diisi sebelum berangkat? Kayaknya di sana ada warung." Myesha menunjuk warung yang tak terlalu jauh.


"Uangku habis, Sha. Dorong aja yuk sampai rumah."


Malam itu juga untuk pertama kalinya Myesha merasakan bergotong royong dengan suami, menjalani susah senangnya mengarungi kehidupan berumah tangga.


.


.


.

__ADS_1


bersambung


jangan lupa vote yang banyak buat dedek Yuno.


__ADS_2