Unknown Baby

Unknown Baby
Obat Merah


__ADS_3

Saat di dalam mobil terlihat jelas bahwa Myesha mengalami banyak luka, gadis itu mengeluh punggungnya sakit terbentur aspal dan juga dijatuhkan ke semak-semak. Belum lagi kakinya yang tertindih motor.


"Kita ke RS ya?" Faiq melihat ke samping sembari memacu kendaraannya dengan pelan.


Myesha menggeleng, "apa gunanya punya suami dokter. Aku nggak papa kok. Tapi Mas, aku belom solat magrib."


Myesha membuka ponselnya, mati. Kemudian meraih ponsel Faiq dan melihat jam. Sekarang jam 7 malam.


"Nanti mampir ke mushola depan, sekalian kamu basuh kakimu. Bajumu lepas aja terus pake jaketku, sobek dan kotor nggak bisa buat solat."


Myesha mengangguk, dia lebih tenang sekarang. Benar-benar kejadian tadi membuatnya merasa hampir mati. Atau dia lebih baik memilih mati dari pada diperkosa. 


Jika mengingat itu ingin rasanya menangis lagi. Beruntung ada Faiq.


"Makasih ya Mas udah jemput aku," ucap Myesha dengan air mata yang meleleh lagi. 


"Besok lagi jangan ngeyel kalau dibilangin."


Myesha mengangguk, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk menurut sepenuhnya dengan Faiq. Sekarang dia tidak sendiri, tidak perlu menanggung semua beban sendiri. Ada Faiq. Super hero-nya.


Setelah solat Magrib mereka melanjutkan perjalanan ke Metro. Membeli ayam bakar di jalan untuk makan makan. Tak lupa membelikan Tina juga supaya dia rajin menjaga Yuno.


Sesampainya di rumah Tina terlihat khawatir dengan keadaan Myesha.


Tina memeluk Myesha dengan erat, "Kakak nggak papa, 'kan? Penjahat itu belum anu anu kakak, 'kan?"


"Aduh punggungku sakit, lepasin dulu. Aku nggak papa kok."


"Syukur nggak papa," ucap Tina sembari melepaskan pelukannya.


Sementara itu Faiq menguluarkan ayam bakar untuk Tina, "ini buat kamu, makasih udah jaga Yuno."


Tina menerimanya dengan senang hati, "makasih, oh ya Yuno baru aja tidur. Aku pulang dulu ya, mau ngerjain tugas."

__ADS_1


Tina berlalu dengan hati gembira sementara Myesha masuk ke dalam kamar, ia rindu dengan Yuno. Padahal hanya setengah hari tak melihat wajah mungil dan imut itu.


Dari luar box bayi Myesha melihat, bayi itu sedang tidur pulas dengan dotnya. Perlahan tangan Myesha meraih pipi gembul itu, mengusap ringan. Apa jadinya jika tadi dia mati dan tak bisa melihat Yuno? Perasaan takut kehilangan kini merasuk sempurnya. Membuat gadis itu menghargai setiap momen dalam hidup dan orang-orang yang berharga untuknya.


"Mandi, Sha. Rambutmu banyak tanahnya. Nanti aku obati lukamu," ucap Faiq yang baru saja masuk kamar.


Myesha mengangguk dan beralih menuju kamar mandi. Kakinya sakit, tubuhnya sakit, matanya sembab. Ia meletakkan uang hasil merampas dari begal ke dalam laci.


Sementara itu Faiq berjalan ke dapur, mencuci tangannya ke kran setelah meletakkan ayam bakar di meja. Belum lapar. Tangannya lecet ketika memukul begal dengan sangat keras.  Ia menuju ke ruang kerja, mengambil kotak P3K kemudian membawanya turun ke kamar.


Hanya luka kecil, Faiq mengobati tangannya sendiri sembari menunggu Myesha mandi. Tak lama kemudian Myesha keluar dari kamar mandi setelah mengeringkan rambut. Hanya memakai handuk dengan rambut tergerai sempurna. Lurus dan tebal sepunggung.


Gadis itu meraih kacamatanya yang dia letakkan di atas laci. Kemudian berjalan menuju Faiq yang duduk di kasur.


"Mas, punggungku sakit. Kayaknya memar." Myesha menyibakkan rambutnya ke samping sembari terus mendekat.


"Sha, kenapa kamu hanya pakai handuk?" tanya Faiq terkejut. Handuk adalah kelemahannya!


"Katanya mau diobatin, soalnya hampir seluruh tubuhku rasanya sakit." Myesha duduk berhadapan dengan Faiq.


Sekarang, nafsu Faiq sedang meronta tak karuan. Ia harus menahan diri sembari mengoleskan salep di bagian punggung Myesha yang memar. Ada sedikit penyesalan di hati pria itu, seharusnya dia mematahkan leher kedua begal yang berani membuat istri mulusnya lecet.


"Udah, Sha. Nggak seberapa, ntar juga sembuh." Faiq menutup salep itu.


"Kaki dan lututku luka, Mas. Sakit."


Faiq meletakkan kotak P3K di lantai, kemudian dia duduk di bawah Myesha. Mencoba memeriksa lutut dan kaki gadis itu.


Ada luka di mata kaki. Faiq mengambil kaki gadis itu untuk diletakkan di pahanya. Membersihkan luka itu dengan alkohol lalu obat merah dan menutupnya dengan perban.


"Oh ya, gimana respon Dhamar soal perasaanmu?" tanya Faiq masih memasang perban di kaki Myesha.


"Dia cuma nganggep aku adek."

__ADS_1


Faiq ber-iyes dalam hati, dia menyembunyikan senyum.


"Pasti kamu kecewa, nggak usah bunuh diri kayak tadi lagi. Lama-lama bakal move on kalau kamu mau usaha."


"Aku nggak kecewa, udah aku duga kok jawabannya bakal kayak gitu, cuma aku mau mastiin hal lain," balas Myesha sembari tersenyum.


Faiq berpindah ke lutut Myesha, berusaha untuk tidak melihat paha mulus istrinya dan fokus kepada luka. Ia mengambil alkohol dan membersihan luka tersebut.


"Apa yang mau kamu pastiin?" tanya Faiq. Sekarang dia mengambil obat merah.


"Perasaanku apa sudah pindah ke Mas Faiq atau masih di Kak Dhamar," jawab Myesha.


Kali ini Faiq berhenti, kemudian mendongak ke atas memandang bola mata istrinya.


"Jadi, sekarang sudah pindah atau belum?"


Myesha mengangguk sembari tersenyum, "sudah, sekarang orang yang aku sukai adalah Mas Faiq."


Jawaban itu akhirnya dia dengar, setelah hampir tiga bulan bersama penantiannya membuahkan hasil.


"Sha, anu anu yuk?" ajak Faiq penuh harap.


.


.


.


.


bersambung.


Menurut kamu apa jawaban Myesha? Tulis di kolom komentar.

__ADS_1


Makasih udah menghargaiku lewat like, komen, vote dan tip.


__ADS_2