Unknown Baby

Unknown Baby
Hal Penting


__ADS_3

Rizal menutup kotak P3K. Dia menepuk pundak Yuno lagi. Masih membiarkan anak itu menangis. Dulu, Rizal pernah iri pada Yuno.


Yuno memiliki keluarga yang hangat, perhatian dan penuh kasih sayang. Bisa dibilang hidup Yuno sempurna.


"Pulanglah, minta maaf sama Bundamu."


Yuno menghampus air matanya. Dia menggeleng. "Aku udah jahat sama Bunda dan Pinea. Aku takut Bunda nggak maafin aku."


"Nggak mungkin, ayahmu aja masih nungguin kamu kok." Rizal menunjuk Pria yang berada di luar gerbang.


Yuno menoleh dan terkejut ada ayahnya di sana. "Sejak kapan ayah di sana?"


"Sejak tadi, nunggu kamu berhenti nangis."


"Ngapa nggak bilang?"


Rizal malah menaikkannya bahunya, Yuno berdiri. Dengan langkah tertatih dia mendorong sepedanya keluar gerbang. Baru lima langkah dia berbalik. Melihat ke arah Rizal.


"Aku yakin almarhum ibumu juga sangat menyayangimu, sama kayak almarhum ibuku." Yuno tersenyum.


Dibalas senyum pula oleh Rizal. "Aku tahu."


Yuno kembali berjalan keluar gerbang. Dia berhenti tepat di samping Faiq yang sudah menunggunya. Kemeja ayahnya itu basah. Mata mereka bertemu.


"Ayah ...."


"Jagoan Ayah kok nangis, apa lukanya sakit banget?"


Yuno menggeleng. "Nggak." Sembari tersenyum.

__ADS_1


Tangan kekar Faiq mengusap rambut Yuno. "Ayo pulang, nanti Ayah obati kakimu." Faiq mengambil sepeda Yuno lalu menaikinya. "Ayo naik."


Yuno terharu atas sikap ayahnya. Dia naik dan berdiri di belakang sembari memegang bahu Faiq. Sepeda berjalan pelan. Sesekali Yuno mengusap air matanya. Orang tuanya sangat menyayangi dia, tapi pikirannya begitu dangkal sampai melukai mereka.


Sesampainya di rumah langsung disambut Myesha yang khawatir. Dia berlari ke gerbang. Ketika Yuno turun dari sepeda Myesha memeluknya erat.


"Maafin Bunda, Bunda nggak bermaksud mukul kamu."


Rasa hangat dan aroma tubuh bundanya selalu bisa membuat Yuno tenang. Dia membalas pelukan Myesha.


"Maafin Yuno juga ya, Bun. Yuno udah jahat sama Bunda dan Pinea."


Myesha melepas pelukannya dan langsung mencium anak kesayangannya itu kanan dan kiri. Tak lupa keningnya, dia sangat menyayangi Yuno melebihi nyawanya sendiri.


Bayi jabrik kesayangannya, yang dia besarkan sejak kecil hanya sedang labil. Sekarang dia telah kembali seperti semula.


Kini meja makan berjumlah lima orang. Faiq sendiri tak menyangka meja makan yang dulu hanya satu kursi dan ditemani Cucut kini selalu bertambah kursi. Ketiga anak kesayangannya menjadi warna tersendiri yang melengkapi rumah.


Tanpa adanya Yuno di hidupnya, maka Myesha, Kahfi dan Pinea tidak akan pernah menjadi keluarganya.


Yuno duduk di kursinya, sudah ditunggu semua orang. Kahfi mengambilkan lele goreng dan menaruhnya di piring Yuno. Membuat semua orang terkejut.


"Walaupun bukan kandung, Bang Yuno tetap Abangku." Kahfi mengatakan itu dengan mata berkaca-kaca. Menahan tangis.


Pinea melakukan hal yang sama, bocah berumur 3 tahun itu mengulurkan buah pisang kesukaannya.


"Bang Uno, abangnya Ina."


Inilah keluarganya, tidak peduli yang mengalir di darahnya tak sama dengan mereka. Kahfi dan Pinea tetaplah adik kesayangannya. Yuno berhambur memeluk Pinea.

__ADS_1


"Maafin Abang ya, Dek. Maaf tadi Abang dorong kamu."


Tepukan di punggung Yuno didapatkan dari tangan kecil Pinea. Dia penghapus air di sudut matanya.


"Ina aafin bang Uno."


Yuno melepaskan pelukannya dan beralih ke samping. Melihat Kahfi yang cengeng. Kemudian mengacak rambut adik laki-lakinya itu. "Kamu juga adiknya Abang."


Melihat keluarganya kembali seperti semua Faiq tersenyum, sementara Myesha terus menghapus air sudut matanya.


"Nah, karena udah baikan ayo sekarang kita doa terus makan."


Mereka menadahkan tangan ke atas, berdoa sebelum makan dipimpin Faiq. Hari itu semua anggota keluarga mendapatkan pelajaran berharga.


Sekalipun tidak memiliki ikatan darah, tapi kasih sayang sangat kental sampai tidak bisa dihilangkan. Mereka terikat kenangan, terikat rasa cinta satu sama lain. Berusaha saling menjaga dan menguatkan.


Selesai makan mereka berkumpul di ruang tengah, lengkap dengan pisang goreng buatan Myesha.


Yuno mencatat hal penting hari ini, yakni sejauh apapun dia pergi. Tempatnya kembali adalah keluarga ini.


.


.


.


.


bersambung.

__ADS_1


__ADS_2