
Myesha mendesah berat, alasan sakit sampai tidak ada gizi sudah digunakan. Hingga pada kesimpulan ASI nya harus dipaksa keluar bagaimanapun caranya. Keluarga Faiq sangat menginginkan Yuno diberi ASI seperti anak yang lain, katanya biar sehat maka mereka menggunakan berbagai metode yang membuat Myesha susah.
Tapi bagaimana, Myesha bukan wanita yang pernah melahirkan. Tidak mungkin bisa mengeluarkan ASI.
"Masalahnya akan beres kalau aku hamil. Padahal kita udah usaha, tapi kenapa aku belum hamil juga ya Mas?" tanya Myesha.
"Sabar, namanya rejeki dari Allah itu datangnya gk bisa langsung. Doa aja semoga kita cepat diberi momongan lagi."
Myesha mengangguk, dia mempererat pegangannya di perut Faiq.
Rejeki Myesha yang begitu besar adalah Yuno. Bayi itu yang mengantarkan satu persatu kebahagiaanya. Dimulai dari mendapat suami Faiq, mendapat kasih sayang dari 4 ibu, berbaikan dengan ayahnya, memiliki keluarga besar dan masih banyak lagi.
Mungkin, Tuhan masih menyimpan kebahagiaan selanjutnya, yakni kehamilan. Myesha akan mencoba sabar seperti perkataan Faiq.
Mereka tiba di taman Merdeka. Berada tepat di tengah kota Metro. Ada air mancur tepat tengah. Tertata rapi dengan berbagai patung hewan. Ada tempat duduk dan hijaunya pohon rindang serta rerumputan. Sudah lama Myesha tidak ke sini.
Perlahan Faiq meraih tangan Myesha, bergandengan tangan layaknya orang pacaran. Membuat senyum wanita berkacamata itu mengembang.
"Aku khawatir sama Yuno, ntar nangis gimana?"
"Ada banyak orang di rumah, nggak masalah. Jarang lo kita ada waktu berdua kayak gini."
Mendengar itu Myesha tersenyum. Dia memandang pria yang jauh lebih tinggi darinya itu. Seorang anak menghampiri mereka, menawarkan teh poci. Faiq membeli 2 dan mereka minum sembari duduk di tangga, tepat di samping air mancur.
"Bayi itu ke mana?" pertanyaan dari samping membuat Faiq dan Myesha menoleh bersamaan.
__ADS_1
Seorang pria bertubuh tinggi, memakai topi hitam dan masker.
"Kamu siapa?" tanya Faiq sembari berdiri. Terkenjut dengan orang asing yang tiba-tiba datang dan mengganggu mereka.
"Di mana bayi itu?!" Suara pria bertopi itu meninggi.
Kali ini Faiq menaruh curiga, dia melindungi Myesha yang tepat berada di belakangnya. Menghadapi pria aneh yang tidak tahu asal usulnya.
"Kenapa kamu menanyakan anak kami?" tanya Faiq. Memasang badan.
"Anak kalian? Jangan konyol. Dia adalah anak kakak saya yang berharga."
Mendengar itu mereka terkejut, keluarga kandung Yuno muncul. Padahal, mereka selama ini sangat kesulitan mencari jati diri Yuno. Tapi sekarang keluarganya malah muncul sendiri.
"Kalau begitu kenapa kakak anda membuang bayi di depan rumah kami?" tanya Myesha, melangkah ke depan. Penasaran.
Bicara seolah tanpa rasa bersalah, Aslan yang berada di balik masker hitam itu menoleh ke kanan dan ke kiri. Takut ada orang yang melihatnya.
"Kamu pikir kami penitipan anak? Kalau sudah memberikan bayi ke orang kenapa diminta lagi? Kami tidak akan menyerahkan bayi itu!" tegas Faiq.
"Kalian tidak tahu sesulit apa keadaannya sekarang, lebih baik kalian menurut untuk memberikan bayi itu atau nyawa kalian bisa melayang."
"Kamu mengancam kami dengan nyawa?" tanya Myesha.
"Bukan saya, tapi orang yang akan kalian hadapi lebih menakutkan dan tidak bisa kalian bayangkan." Aslan memberi peringatan.
__ADS_1
Matanya melirik ke kanan dan kekiri. Dia menemukan seseorang mencurigakan yang menatap ke arahnya. Segera Aslan menunduk.
"Temui saya di Buper besok jam dua siang."
"Besok saya kerja, hari senin bisa potong gaji kalau bolos," ucap Faiq.
"Besok jam 2 aku juga nggak bisa. Ada arisan panci."
Aslan menyipitkan mata dengan kesal. "Kalau begitu malam."
"Kalau malam di Puber seram, cari tempat lain saja," ucap Faiq lagi.
"Kalian kenal Riki kan? Kalau begitu di rumah dia saja."
Faiq dan Myesha saling pandang. "Rumah kami di sebelah Riki."
Aslan terlihat terkejut, tapi buru-buru dia menunduk lagi dan memegang topinya. "Besok malam saya tunggu di rumah Riki."
Setelah mengatakan itu Aslan pergi, dia berjalan cepat meninggalkan taman. Tak lupa membeli teh poci sebelum naik angkot.
.
.
bersambung.
__ADS_1
Hargai aku lewat like, komen, vote dan share.