
Langit sore dengan kicauan burung, angin berhembus ringan menerpa wajah Yuno. Sudut bibirnya tersenyum merasakan suasana kota Metro yang dia rindukan. Berbeda dari Jakarta yang panas dan pengap. Yuno suka di sini, kota tempatnya tumbuh besar.
Kakek dan para nenek sudah masuk ke dalam rumah, disambut Myesha dan Faiq. Sementara dia berjalan ke belakang mobil tua milik kakek. Membuka bagasinya. Kata Kakek, ia membawakan pisang dan durian hasil kebun mereka.
Matanya melihat ke samping, rumah Yuriel, sahabat kecil sekaligus cinta pertamanya. Bagaimana kabar gadis itu, ia sangat penasaran.
"Kayaknya aku harus ngasih kejutan," ucapnya sembari tersenyum.
Dari kecil mereka selalu bersama, bahkan Yuriel tidak bisa melakukan apapun tanpanya. Dari TK selalu mencontek. Saat mereka SMP, semua orang mengatakan bahwa mereka pacaran.
Yuriel masuk ke hatinya sejak mereka balita, gadis kecil yang pasang badan ketika Yuno dibully. Mengatakan bahwa Yuno bukan anak haram. Yuriel juga memujinya sebagai sahabat paling baik.
"Dia suka bunga apa ya," kata Yuno sembari mengusap belakang lehernya.
Dia mulai gugup, ingin menyatakan cinta dan mengajak Yuriel pacaran. Kalau orang tua mereka sudah setuju, ia berniat membawa Yuriel ke Jakarta.
Sahabat kecil yang menjadi pasangan halal, Yuno sangat menantikannya. Bibirnya terangkat ketika membayangkan bisa bersanding dengan Yuriel di pelaminan.
"Yuno!" Panggilan dari dalam rumah membuat Yuno bergegas mengambil buah durian dan pisang.
"Iya!"
Bagasi itu ditutup, dia mengangkat pisang lebih tinggi sebelum membawanya ke dalam. Keluarga besarnya sudah menantikan.
Sebelum masuk dia kembali melihat rumah Yuriel, catnya berubah lebih terang dan sudah direnovasi. Akan lebih baik jika dia segera mengunjungi gadis pujaannya itu.
"Sini, kamu belum cerita ke Kakek, selama ini gimana kehidupanmu di Jakarta?" tanya Kakek sembari menepuk sofa. Menyuruh Yuno segera duduk.
Buah pisang dan durian diletakkan di lantai, Myesha mengambil pisangnya bersama ibu mertua nomor tiga. Berbicara tentang pisang yang akan digoreng tersebut.
Sementara buah duriannya, Faiq membawa golok. Siap dibuka dan dimakan bersama saat itu juga.
"Di Jakarta cuma kerja, Kek. Biasalah sibuk ngurus proyek ini itu. Nggak ada yang menarik."
Pandangan Yuno ke arah durian, Faiq kesulitan membukanya dan akhirnya membawa durian itu ke dapur. Mungkin akan mengganti golok yang lebih tajam.
"Kalau calon istri, gimana? Udah ada belum?"
Pulang kampung pasti pertanyaannya tidak jauh dari pekerjaan dan calon istri. Apalagi usianya sudah 25 tahun. Yuno pun berpikir pulang kampung ini akan menjemput calon istrinya, yakni Yuriel.
Sekali lagi Yuno mengusap belakang lehernya, wajahnya malu untuk menjawab bahwa salah satu alasan pulang adalah ingin melamar Yuriel.
"Masih proses, doain aja cepetan dapet, Kek."
"Hahahaha ngeliat kamu malu-malu kayak gitu pasti udah ada inceran."
Kakek menepuk pundak Yuno sembari tertawa lebar membuat pria itu semakin malu.
Inceran? Sejak dulu Yuriel miliknya. Mereka menghabiskan waktu 12 tahun bersama, Yuno pikir sisanya akan seperti itu juga. Persahabatan antara pria dan wanita tidak ada yang murni. Walaupun sedikit pasti ada ketertarikan satu sama lain.
Ingatan Yuno kembali ke 13 tahun lalu, saat dia pamitan dengan Yuriel ketika hendak ikut ayah kandungnya ke Jakarta.
__ADS_1
"Beneran mau pergi?" tanya Yuriel. Matanya berkaca-kaca.
Sejak mereka bayi, tidak pernah sekalipun berpisah. Rumah yang bertetangga dan usia yang sama. Cukup menjadi alasan mereka menjadi dekat.
"Aku pasti balik, kok."
Yuno melihat ke bawah, sandal jepit yang dia kenakan adalah hadiah ulang tahun dari Yuriel. Matanya kembali melihat depan, sahabatnya itu mulai menangis.
"Terus kalau nggak ada kamu, nanti aku nyontek siapa?"
Sekarang mereka berada di belakang rumah, dekat dengan parit. Tempat mereka bermain ketika masih kecil. Sore itu langit begitu mendung, Yuno sudah membereskan barang-barang yang hendak dibawa ke Jakarta besok.
Dari sekian banyak teman, hanya Yuriel yang dia pamiti, karena gadis kecil itu spesial. Yuno menyimpan rasa, cinta pertamanya.
Perlahan tangan Yuno terulur, mengusap pucuk kepala Yuriel. Gadis berkepang dua itu berhenti menangis dan memandang wajah Yuno.
"Kamu kan hebat, pasti bisa nggak nyontek orang lain lagi."
"Jangan percaya aku, otakku ini susah loading."
Kalimat itu membuat Yuno tertawa, tangannya masih mengusap rambut Yuriel yang hitam lebat.
"Cepet pulang ya?" rengek gadis kecil itu.
Yuno mengangguk, "tunggu aku ya."
Kali ini Yuriel yang mengangguk, bersedia menunggu Yuno pulang.
"Ini duriannya, susah banget dibuka."
Faiq datang ke ruang tamu membawa durian yang sudah dipecah. Meletakkan di atas meja. Para pria itu makan durian sembari bercerita tentang kebun durian milik Kakek.
Ketika jam 5 sore, Pinea dan Kahfi datang. Mereka membawa dua koper Yuno berukuran besar dengan susah payah.
"Bang, minta duit bayaran." Pinea langsung menodong dengan mengulurkan tangan.
Wajah gadis itu memang imut, hanya dengan memelas seperti itu sudah cukup untuk membuat orang lain luluh.
"Mau motor baru nggak? Besok aku beliin."
"Mauuu!"
Tiba-tiba Faiq menyela, "nggak boleh! Pinea itu masih kecil. Nggak boleh naik motor sendiri."
"Aku udah SMA, Yah!"
Rupanya tidak semua orang bisa luluh dengan Pinea, salah satunya adalah Faiq. Seberapapun memohon tetapi Faiq tidak menghiraukan. Pada akhirnya Yuno hanya menjanjikan akan ke mall dan membelikan apapun yang Pinea mau.
Waktu makan malam menjadi begitu hangat, semua orang berkumpul setelah bertahun-tahun. Putra pertama keluarga ini sudah pulang. Mereka berusaha mengembalikan waktu yang terbuang, mengisinya dengan bertukar cerita.
Setelah makan malam dan berkumpul, Yuno berhenti di depan lemari kaca. Di sana terpajang berbagai piala dan piagam. Milik semua anggota keluarga.
__ADS_1
Dulu kebanyakan hanya miliknya, sekarang sudah terisi penuh oleh Kahfi. Adik lelakinya itu tumbuh dengan cerdas dan mengunggulinya dalam mengisi lemari.
"Kayaknya yang ini punya Bunda." Yuno membuka lemari itu, mengambil piala usang di bagian pojok.
Ketika masih kecil dia tidak memperhatikan piala apa itu, sekarang Yuno memperhatikan piala berwarna hijau dengan seksama.
"Kamu liat apa?"
Pertanyaan itu membuat Yuno menoleh, terlihat Myesha membawa tablet Android. Ibu angkatnya itu membenarkan kacamata, walaupun sudah paruh baya, tetapi wajahnya masih menampakkan kecantikan.
"Bunda masih bikin komik?"
Sejenak Myesha terdiam, lalu mengangguk. Ia membuka tabletnya dan menunjukkan komik yang sedang digarap.
"Gambar komik itu udah kayak candu, selama tangan masih digunakan, Bunda bakal terus gambar."
"Bunda udah cinta banget ya sama komik."
Myesha hanya mengangkat bahu, ia mengambil piala yang Yuno bawa. Sudah 25 tahun dia memiliki piala tersebut.
"Buat dapetin ini nggak mudah, ada banyak drama."
"Drama apaan?"
"Kamu nggak perlu tahu," jawab Myesha. Kali ini bukan tersenyum hangat, tetapi miris.
Yuno tidak memaksa supaya bundanya bercerita, ia malah menarik napas dan memenuhi rongga dadanya.
"Oh ya, Bun. Yuriel gimana kabarnya?"
"Dia sehat, main aja ke rumahnya."
Jawaban Myesha membuat Yuno tersenyum, Yuriel ternyata masih sama. Mungkin memang sengaja menunggunya. Besok Yuno akan membeli bunga untuk menyatakan cinta pada gadis itu.
"Sekarang udah malem, tidur sana." Myesha mengembalikan piala ke tempat asal.
Kemudian menepuk pundak Yuno sebelum berlalu menuju ruang kerja Faiq, mereka berbagi ruang kerja.
Yuno melihat punggung bundanya menghilang setelah masuk ke ruangan. Dia mengusap belakang lehernya sebelum berbalik menuju kamar atas. Memikirkan bunga apa yang akan dia berikan kepada Yuriel besok.
.
.
.
.
bersambung
maaf ya gengs. masalah di dunia nyata belum selesai. jadi aku cuma bisa up lambat
__ADS_1