
Faiq membonceng Yuno menggunakan motor, mereka memakai baju Koko panjang berwarna putih. Langit sore ini berwarna biru dengan sedikit awan yang menghiasi.
Hembusan angin tak terasa dingin, bahkan sisa kehangatan dari sinar matahari tadi siang masih terasa. Yuno melingkarkan sebelah tangannya erat di pinggang Faiq. Tangan yang satunya memegang bunga dengan air di toples astor bekas lebaran.
Mereka saling diam, tidak ada yang memulai pembicaraan. Hanyut dalam pikirannya masing-masing. Menikmati sisi sore yang tenang.
Motor berbelok, masuk ke area pemakaman. Sebenarnya Yuno pernah ke sini. Setiap mau ramadhan dan sebelum lebaran. Berdoa untuk nama yang terukir di nisan yang tidak dia ketahui siapa.
"Ayo turun." Faiq turun dari motor. Diikuti Yuno.
Mereka berjalan di antara makam, terus lurus ke dalam di antara makam orang-orang yang meninggal 12 tahun yang lalu.
Tepat di depan makam tertanda Archie mereka berhenti. Yuno tidak pernah menyangka bahwa yang dia berikan yasin setiap mau lebaran adalah makam ibu yang telah melahirkannya.
"Jangan nangis, nanti ibu Archie sedih." Faiq mengusap kepala Yuno yang kini mengenakan peci putih.
Anak itu sudah besar, Faiq tak menyangka waktu berjalan begitu cepat. Tangan kecil dengan rambut jabriknya kini berubah menjadi sosok remaja yang memiliki sikap dewasa.
"Ibuku orang yang seperti apa ya, Yah?" tanya Yuno.
"Dia ibu baik yang berharap kamu bahagia."
Sekali lagi Yuno menghapus air matanya dengan punggung tangan. Tak kuasa menahan kesedihan. Yuno ingin memiliki kesempatan mengenal ibunya.
__ADS_1
"Ayo bacakan Yasin," ucap Faiq. Dia mengambil buku yasin kecil dari saku bajunya.
Mereka memberikan doa terbaik untuk Archie, berharap wanita itu tahu bahwa anaknya sudah tumbuh besar dan menyayangi dia walaupun tidak pernah bertemu.
Ada tiga hal yang tidak akan putus meskipun kita sudah meninggal, yakni amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak soleh yang mendoakan. Faiq berharap didikannya terhadap Yuno membuat anak itu menjadi anak yang soleh. Bisa mendoakan Archie.
Langit sore semakin gelap, angin berembus menerbangkan dedaunan. Tidak ada kesombongan, keangkuhan ataupun ketamakan di antara orang-orang yang sudah terkubur di sini. Mereka hanya bisa meronta berharap anak-anaknya mengirim doa.
Yuno dan Faiq mengakhiri doanya lalu menyiramkan bunga yang sudah dicampur air, beranjak meninggalkan area makam. Baru beberapa langkah kaki mereka berhenti. Bertatapan dengan seorang pria dengan buket bunga di tangan. Memakai jas hitam rapi dan berwajah tampan. Orang itu buru-buru berpaling seperti menghindar.
Mereka meninggalkannya dan menuju motor. Berboncengan kembali untuk pulang. Yuno memegang pinggang Faiq dengan erat, tak bisa menyembunyikan kesedihannya.
"Mau beli sosis goreng dulu nggak?" tanya Faiq.
Faiq tahu betul anaknya tengah butuh dihibur. Tak mudah menerima kenyataan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Seberapapun anak itu bersikap tegar. Faiq tahu bahwa dia hanyalah anak biasa yang bisa sedih.
Sementara itu di makam Archie, bunga yang disebar Yuno masih basah. Tanah gersang itu sebagian berair. Ren duduk di sampingnya. Perlahan menaruh buket bunga di atasnya.
"Aku berkunjung Sie, aku sudah bertemu anak kita. Dia tumbuh dengan baik. Terima kasih karena sudah melahirkan anak itu. Aku berhutang banyak padamu."
Matahari mulai terbenam, cahaya jingga menyorot awan hingga burung-burung yang berkicau kembali ke sarang. Ren masih di sana. Memandang makam itu setelah perjalanan jauh dari Jakarta.
Untuk pertama kalinya dalam 12 tahun dia menemui Archie. Wanita yang dia cintai itu tinggal nama. Tidak bisa membalas apapun yang dia ucapkan.
__ADS_1
"Sie, kamu selalu bilang bahwa kamu mencintaiku. Ketika itu aku menjawab mencintaimu juga. Tapi itu sebuah kebohongan. Aku berkata seperti itu karena tidak mau membuatmu sedih.
"Sepertinya karma sudah menimpaku, setelah kamu tidak ada hatiku benar-benar hampa. Kali ini aku berkata jujur, aku mencintaimu Sie."
Pria itu menunduk, air mata menetes di makam yang sudah berusia 12 tahun. Sudah termakan waktu dan zaman. Dia terlambat sangat lama sampai rumput tumbuh subur di atas makamnya.
Anak kandung mereka terlihat sehat bersama keluarga baru. Dia tidak melihat sedikitpun pertumbuhannya. Bagaimana dia berjalan, bagaimana dia tumbuh gigi, seperti apa ketika mendengar ucapannya pertama kali, bagaimana hari pertamanya di sekolah? Ren melewatkan semua itu.
"Kamu nggak perlu khawatir, Sie. Mulai sekarang aku yang akan merawat anak kita."
Ren beranjak, dia berjalan meninggalkan makam. Dedaunan di sekitar diterbangkan angin. Azan magrib terdengar jelas dari sana.
Makam itu kini sepi, ada dua bunga di sana untuk Archie. Yang satu dari anaknya, yang satunya lagi dari suaminya. Harapan keduanya sama, yakni Archie tenang walaupun di alam yang berbeda dengan mereka.
.
.
.
.
. bersambung
__ADS_1
jangan lupa vote, nanti aku usahain up lagi.