
Sekarang pukul tiga sore, biasanya tamu undangan berdatangan tapi karena hujan kemungkinan menunggu reda. Setelah berbincang dengan Pak RT yang juga penerima tamu seperti dirinya Faiq meminta untuk pulang.
Hujan badai diterjang memakai motor matic warna pink, dia mengendarainya dengan pelan. Air hujan yang masuk ke mata membuatnya berkedip beberapa kali, mulut dia tutup rapat-rapat supaya air hujan tidak masuk. Badan menggigil, dari ujung rambut sampai celana dalam basah semua. Sempat tak melihat lubang jalan hingga masuk ke genangan. Kepalanya menggaguk angguk karena jalan yang berlubang itu tak semulus paha Luna Maya.
Sesampainya di rumah badannya sudah mengkerut. Motor langsung menuju halaman belakang, berhenti di samping jemuran. Faiq turun dan masuk lewat pintu belakang.
"Loh, Mas. Kok hujan-hujan gini malah pulang?"
Rupanya Myesha sedang berada di dapur, masak. Terkejut melihat Faiq yang mengigil kedinginan. Bibir pria itu biru, kulit tangannya berkerut. Bajunya basah kuyup.
"Tadi kehujanan waktu bantu ngangkat pasir buat nimbun tiang tarup yang mau rubuh. Sha, ada air anget nggak?"
Faiq masuk setelah membuka sepatunya, air menetes dari celana hitam panjang yang dia kenakan. Matanya melihat sekeliling, mencari dua bayi yang berada di rumah. Namun rumah tampak hening.
"Aku siapin air anget buat mandi, lepas dulu bajumu, Mas. Nanti flu."
Tanpa menjawab Faiq melepas bajunya, meletakkan baju basah itu ke dalam ember. Badan kekar terlihat sempurna. Tak lupa celana panjangnya juga dilepas, menyisakan celana dalam yang basah. Faiq meraih handuk yang ada di kamar mandi.
Myesha memberikan jaket, segera Faiq memakainya selagi menunggu Myesha merebus air.
"Katanya anaknya Riki juga di sini? Kok sepi?" tanyanya sembari duduk di kursi.
"Yuno dan Yuriel baru aja tidur." Myesha menyalakan kompor setelah mengisi air di panci.
Pria itu menggosok tangannya, mencari kehangatan di antara badannya yang menggigil kedinginan. Myesha berbalik dan mengambil handuk lagi, berdiri di belakang Faiq dan menggosok rambut pria yang memakai jaket merah itu.
"Mas, aku mau cerita."
"Cerita apa?" Faiq menikmati usapan Myesha di rambutnya.
"Ayahku sakit ginjal, dia minta uang 20 juta buat operasi. Menurut Mas gimana?" Myesha masih menggosok rambut Faiq supaya cepat kering.
__ADS_1
Tak langsung ada jawaban, Faiq diam sesaat. Kemudian mengembuskan napas berat. Sadar akan ucapan Myesha yang tak menunjukkan rasa simpati.
"Alhamdulillah keuangan kita nggak ada masalah kalau pingin bantu," jawab Faiq.
"Tapi 20 juta itu banyak. Bisa buat beli motor baru."
Tangan Faiq menghentikan tangan Myesha yang menggosok rambutnya. Ia mendongak ke atas, menatap mata sang Istri. Mata bening di balik kacamata itu terlihat menyimpan banyak rasa.
"Apa kamu belum memaafkan ayahmu?" pertanyaan Faiq membuat mata Myesha berkaca-kaca. Wanita itu menoleh ke samping, menghindari tatapan Faiq.
"Aku cuma manusia biasa yang bisa sakit jika diabaikan dan dibuang."
Faiq berdiri, kedua tangannya berada di bahu Myesha. Perlahan membawa wanita itu ke dalam dekapannya. Mengelus rambut yang dikucir itu dengan ringan.
"Myesha anak baik, walaupun diabaikan dan dibuang tapi tetap berbakti. Bagaimanapun juga dia ayahmu. Dulu waktu kecil Ayah selalu menghibur Myesha, sayang sama Myesha. Cukup ingat hal itu, lupakan hal-hal yang membuatmu sakit hati."
Usapan itu semakin lembut, namun air mata Myesha tidak bisa tertahankan dan mengalir begitu saja. Hatinya yang sakit akan perlakuan ayah bagaimana bisa dilupakan begitu saja? Hal itu terlalu sulit untuknya.
Tumbuh besar sendirian, mengemis kasih sayang pada keluarganya sendiri. Dibuang dengan alasan pernikahan, tak mau membelanya sedikitpun. Semua itu terlalu sulit untuk dimaafkan.
"Apa kamu pernah mengungkapkan semuanya ke Ayahmu kalau kamu sakit hati?"
Sekali lagi Myesha menggeleng. "Ayah pasti sudah tahu tanpa aku bilang." Wanita itu menghapus ingusnya yang mengalir.
"Bantu ayahmu dan ungkapkan semua yang kamu rasakan, biar ayahmu tahu dan kamu lega. Toh, kamu punya hak untuk bicara, apalagi setelah membantu biaya yang cukup besar."
Kali ini Myesha mengangguk, tangannya membalas pelukan Faiq. Merasa hangat di antara tubuh yang dingin. Air di kompor sudah mendidih, uapnya mengepul.
"Mandi bareng, yuk?"
Myesha melihat ke atas, mendapati Faiq yang menunduk menatapnya.
__ADS_1
"Nggak mau, ah." Myesha berusaha melepaskan pelukan suaminya. Namun tubuh kecilnya ditahan.
"Kamu ini Sha, dikit-dikit nggak mau. Nyenengin suami gitu loh, apalagi suamimu kan lagi kedinginan, kasihlah kehangatan." Gerutu Faiq. Mencairkan suasana yang melow.
Pria itu memeluk Myesha semakin erat, mencari kehangatan di antara badannya yang menggigil. Jika kebahagian mampu dicicil maka mencintai Myesha terasa sebagai pelunasannya.
"Mas ih, aku jadi basah."
"Apa? Kamu udah basah? Padahal aku cuma meluk. Ternyata kamu nafsuan ya,"
Myesha mengerutkan kening. Tak mengerti dengan ucapan Faiq, sekali lagi berusaha lepas dari dekapan pria itu yang semakin erat menempelkan tubuh mereka.
"Kamu ini ngomong apa sih, Mas. Bajuku basah ini lo," ucap Myesha sembari menunjukkan bajunya yang terkena tetesan air dari rambut Faiq.
"Udah basah sekalian mandi bareng, ayo kita memproduksi anak."
"Ogah, balon Mas habis. Belum beli, jadi nggak ada jatah buat, Mas. Udah ah lepas."
Sekali lagi Myesha mencoba melepaskan pelukan Faiq.
"Pokoknya nanti malam kita harus memproduksi anak. Kamu sadar kan Sha kalau asal usul Yuno belum jelas. Walaupun dia masuk kartu keluarga kita tapi tetap bisa diambil keluarga kandungnya. Aku ingin punya anak kandung, Sha."
Saat itu Myesha terdiam, pikirannya sama dengan Faiq. Diliputi rasa cemas karena Yuno belum ada kepastian. Keinginan memiliki anak sendiri setelah 7 bulan menikah tentu pernah melintas di pikirannya.
.
.
.
bersambung.
__ADS_1
Kalau suka cerita ini jangan lupa dukung lewat like, komen, vote dan share. Makasih.