
Wangi dari tubuh Myesha terasa menenangkan hatinya, Faiq memeluk semakin erat. Menenggelamkan wajahnya di balik pegunungan itu. Merasakan detak jantung Myesha yang begitu dekat. Dulu, tak terlintas sedikitpun di pikiran Faiq bahwa akan melakukan hal iya-iya dengan Myesha, si penyewa lantai dua. Orang yang tenang dan bebas berisik.
Perlahan Myesha mengusap rambut halus milik Faiq, rasa sayangnya untuk pria itu begitu tulus. Jika tidak menikah dengan Faiq ntah dia bisa menikah atau tidak. Mungkin, dia akan perawan sampai mati dan pegunungannya pun tidak akan pernah dijelajahi.
"Auuhh sakit," kata Myesha mencoba melepaskan kepala Faiq. Tetapi pria itu masih di sana, mengklaim bahwa minum susu supaya kuat dan sehat. Walaupun nyatanya sekuat apapun Faiq menghisap dia tak mendapatkan setetespun.
Faiq melepasnya, kemudian mengusap bibirnya yang penuh liur. Pencarian akan susu bergizi tak menemukan hasil. Ia mendongak ke atas memandang Myesha. Ciuman itu datang lagi.
Kali ini Myesha yang mencoba menjelajahi roti kotak-kotak. Dia ingin memakannya supaya kenyang tetapi tidak bisa. Yang bisa dilakukan hanya meraba dan memandang. Begitupun wanita itu sudah puas.
"Aku lepas ya?" pinta Myesha.
"Semua milik kamu, nggak usah izin."
Myesha tak bisa menyembunyikan senyuman itu. Roti sobeknya, miliknya, hiya hiya dia suka. Dia pernah mengambar Yusha yang tidak memakai baju, keinginan untuk memegang di dunia nyata ikut menyertai. Dan sekarang dia bisa melakukannya dengan bebas.
"Apa kamu mau di atas?" tanya Faiq. Dia juga ingin mencoba berbagai angka yang netizen sebutkan di kolom komentar.
"Ngapain pindah ke lantai atas?" tanya Myesha balik.
Ah, Faiq lupa. Manusia yang dia ajak beriya-iya sangatlah polos. Dia sedikit terlena dengan perkembangan otak Myesha yang mulai ikut ngeres akhir-akhir. Sial. Dia terlalu berharap.
"Maksudku kamu di atasku, Sha."
Faiq telentang, bajunya sudah dilepas menyisakan boxer warna biru.
"Apaan sih, aku nggak maksud."
Suasana panas berubah menjadi dingin, sudahlah biar Faiq ajari pelan-pelan. Hasratnya sekarang tidak bisa ditunda hanya karena kepolosan Myesha yang membuat tepuk jidat.
__ADS_1
Pria itu duduk, melepas semua yang menghalangi pemandangan indah akan gadis itu. Bersyukur Myesha tak mengenakan daster bau apek lagi. Setelah dilepas dan tak memakai apapun air liur Faiq seakan ingin menetes, dia suka, dia ingin, apa lagi semua ini halal dan miliknya. Nikmat Tuhan mana yang kau dustakan?
"Cepetan Mas, dingin tau."
"Iya iya, sabar."
Hiya hiya hiya, dalam hati Faiq ber-iyes ria. Ia melapas boxernya dan melempar asal sampai menyangkut di gantungan mainan Yuno yang tepat berada di atas bayi itu.
Acara menunggang kuda pun akan dimulai, arena sudah siap. Si ular yang menjadi pemeran utama berdiri tegak dan bersiaga untuk bertempur di dalam gua.
Faiq menjatuhkan tubuhnya, mencium Myesha dengan lembut dan tangan yang berekspdisi. Mencari puncak gunung untuk dia lumpuhkan. Tak jauh berbeda dengan Myesha. Kukunya sudah dipotong, ia mengambil tongkat yang berdiri tegak. Tak merinding seperti pertama kali menyentuhnya. Dia suka, kata Faiq tongkat itu juga miliknya.
"Masuk sekarang ya?" tanya Faiq. Sudah tidak bisa menahan ularnya yang siap bertempur di arena kuda.
Myesha mengangguk setuju. Ular itu pun mengintip ke dalam gua. Baru kepalanya yang masuk untuk melihat keadaan. Tapi ada yang aneh, si pemilik melihat kepala si ular yang berdarah. Dia mengusapnya. Melihat darah apa itu. Lalu mengusap pintu gua, ternyata banyak darah di sana.
"Da-darah?" tanya Faiq shock.
Seketika dunia si ular terasa runtuh seakan pernyataan Myesha adalah gempa berkekuatan 9,5 skala richer yang berada di Chili. Gempa terbesar di dunia.
"Tidaaak! Ini si ular sudah siap tempur!"
"Kan udah aku bilang di awal kalo aku bentar lagi datang bulan."
"Nggak, nggak boleh. Ini harus tuntas, aku nggak bisa nahan lagi!"
Si ular memaksa masuk ke dalam gua. Di sana sudah penuh dengan darah tapi si ular memaksa bergoyang ria.
"Stop Mas! Jangan dilanjut!"
__ADS_1
"Nggak bisa," ucap Faiq semakin mendekap Myesha.
Myesha tak tahan, rasanya sakit dan ini bukan perbuatan yang benar. Faiq sudah tak bisa mengendalikan dirinya lagi. Tak ada cara lain menghentikan ini selain cara bar bar. Menggigit telinga Faiq dengan kuat mengalahkan goyangan si ular supaya Faiq kembali sadar.
"Ahkk sakit!" Teriak Faiq. Ia berhenti. Telinganya berdarah.
Semua berakhir dengan lumuran darah yang berada di tubuh ular. Tercecer di area kasur. Serta darah di telinga Faiq. Malam berdarah itu pun berakhir dengan kemurungan si ular. Padahal kata pemilik gua dia sudah bebas keluar masuk kapan saja tapi sekarang malah diusir keluar, sungguh si ular merasa kecewa.
Pagi menjelang, seperti tak ada semangat hidup bagi pria itu. Faiq sepenuhnya murung. Gagal lagi. Harus menunggu 7 hari untuk pelunasannya. Bahkan itu lebih cepat dari kredit panci dibanding cicilannya. Sedih.
Hari kerja dilanjutkan seperti biasa, wajahnya tak sedap dengan ekspresi bak orang yang hidup segan mati tak mau.
"Hey! Ngelamun aja," ucap Sella. Datang ke ruangan Faiq saat senggang.
"Ada apa ke sini?" tanya Faiq sekedarnya. Tak bersemangat setelah insiden tadi malam.
"Gimana anu-anunya lancar?" tanya Sella.
Faiq menggeleng lemas, bahkan telingannya pun kini menggunakan plester.
"Pantes lesu. Kamu nggak ngecek HP ya? Detektif Dito udah nunggu kamu di luar."
"Oh dia udah datang." Faiq berdiri. Ia keluar dari ruangannya menuju teras depan rumah sakit.
.
.
..
__ADS_1
bersambung