
ANAK DI BAWAH UMUR DILARANG BACA PART INI!
Perlahan bungkus itu dibuka semua, menampilkan pemandangan langka yang membuat Faiq berkata 'wah' dan tangannya ingin sekali meraih tetapi berusaha dia tahan. Ia harus sabar dan pelan atau Myesha bisa takut.
Lantai keramik biru itu menjadi dingin, Myesha membelakanginya. Tak berani menatap pria yang tak memakai bungkus apapun itu. Debaran jantung yang terlalu keras masih berusaha dikendalikan keduanya.
"Lihat sini, Sha." Pinta Faiq sembari menyenggol pundak gadis itu.
Myesha menggeleng, ia malu dan menelungkupkan tangannya di depan dada. Masih menghadap tembok berkeramik biru. Ada kaca berukuran sedang di sana. Myesha menunduk karena bisa melihat Faiq dengan ototnya yang kekar. Dibandingkan dengan Faiq dirinya terlihat kecil dan mungil dengan rambut terurai sepunggung.
Tak tahan dengan itu Faiq menghampiri Myesha dan memeluknya dari belakang. Melingkarkan tangannya di perut gadis itu. Membisikkan sesuatu di telinga, "aku mencintaimu."
Myesha menoleh, menghadap wajah pria yang tepat berada di sampingnya. Sangat dekat hingga gadis itu mampu merasakan deru nafasnya. Mata mereka bertemu. Sesaat terasa tenggelam dalam keheningan.
Tangan kekar pria itu menyalakan shower, membuat aliran air menghujani punggung. Terasa dingin merasuk ke kulit di tengah udara yang panas. Faiq masih diam. Menunggu jawaban dari Myesha atas pernyataan cintanya.
"Aku juga cinta Mas Faiq," jawab Myesha sembari tersenyum.
Sejurus kemudian Faiq mencium bibir ranum itu, menuntut dengan dekapan yang semakin erat menyatukan dua kulit tanpa bungkus. Memaksa Myesha membuka mulut untuk apsen. Terasa merinding sampai ke seluruh tubuh.
Seperti naluri tanpa aba-aba, tangan Faiq berjelajah ria. Menyusuri gunung dan membelah lembah. Myesha hampir jatuh karena tak kuat menahan kakinya yang melemas. Tangan wanita itu memegang Faiq. Berbalik dan melingkarkan tangannya ke leher pria itu.
"Sha, aku belum pernah loh dicium sama kamu."
"Tapi kita, 'kan udah sering ciuman." Myesha menghalau air yang membasahi wajahnya.
"Bedalah, kan aku terus yang dulua--"
__ADS_1
Ucapan Faiq terhenti ketika bibir Myesha mendarat di bibirnya. Gadis itu berani memulai duluan. Mengapsen bibir Faiq dengan lidahnya. Kakinya berjinjit supaya bisa mengimbangi tinggi pria yang berada di depannya itu.
Sejenak Faiq terpaku, akal sehatnya terasa hilang. Terasa bergetar di bawah sana. Ada yang tegak tapi bukan keadilan.
Tangan Faiq meraih pinggang gadis itu supaya menempel padanya, dia menunduk agar Myesha bisa lebih leluasa tanpa harus berjinjit. Gadis itu tak memiliki rasa malu lagi saat ini. Dia juga menginginkannya.
Setelah kehabisan napas Myesha memundurkan wajah, mengusap wajahnya yang penuh air. Napasnya tersengal sengal.
"Katanya mau belajar," kata Myesha.
"Kamu sudah bisa, kenapa harus belajar?" tanpa aba-aba Faiq mendaratkan ciumannya lagi.
Kali ini, tangannya jalan-jalan tanpa henti. Memeriksa setiap inci apapun yang disentuh dengan teliti selayaknya ilmuan handal, hingga tiba di lembah yang tak selebat hutan Amazon. Seperti hutan gundul, hanya ada rumput halus di sana. Masih menerka-nerka, apakah ada sesuatu yang menarik hutan itu. Secara penjelajahanya selama ini belum pernah sampai dalam. Tanpa pikir panjang ia menyusuri lembah itu hingga menemukan sesuatu yang kecil dan mungil. Penemuan baru, harus mendapat perhatian lebih.
Myesha melepas ciuman Faiq, ada yang basah tapi bukan air. Ada yang bergetar tapi bukan hati nurani. Myesha memberanikan diri mengimbangi Faiq dengan memegang tongkat itu, tongkat yang berdiri tegak tak seperti keadilan di negeri ini.
Suara air mengalir memudarkan racauan Myesha, jemarinya kini mengacak rambut basah Faiq seakan ingin menjambaknya. Cukup lama hingga semua tanda itu membuat Myesha merasa nyeri.
Ketika ular sudah sampai di pintu gua, tinggal masuk tanpa permisi lagi. Si pemilik gua mengijinkan dengan suka rela. Bahkan, si pemilik gua menantikan menyambut ular sebagai tamu agungnya. Sedikit lagi, penantian si ular akan sampai pada ujung, yakni bertamu dan membuat kacau isi gua. Memuntahkan bisanya di sana dengan bahagia.
Akan tetapi ular itu ragu. Padahal, tinggal selangkah lagi. Si pemilik gua menatap si pemilik ular dengan penuh pertanyaan, kenapa tidak masuk? Dengan tatapan menunduk si pemilik ular menjawab bahwa ini bukan saat yang tepat. Merasa telah di-PHP-in, si pemilik gua kecewa.
Myesha mundur, menjauhkan badannya dari Faiq. Sudah sejauh ini, dia juga menginginkannya. Tapi kenapa? Sejurus kemudian Faiq memeluk Myesha. Mengusap punggung basah itu.
"Maaf, tapi aku ingin menjagamu dari sejarah yang tak mengenakan. Melakukan pertama kali di sini bukan sesuatu yang tepat. Kalau kamu tanya apakah aku tidak ingin? Jawabannya aku sangat sangat ingin, Sha. Tapi rasa sayangku padamu mengalahkan nafsu."
Perasaan marah itu mereda, Myesha membalas pelukan Faiq. Masih banyak waktu, tidak harus sekarang.
__ADS_1
"Kalau nggak sekarang lalu kapan?" tanya Myesha. Kali ini dia yang tidak sabar.
Faiq mencium kening Myesha dengan lembut, hari ini dia mendapat banyak cicilan.
"Aku ingin menunggu sampai kamu benar-benar pulih, mungkin beberapa hari lagi. Ayo cepat mandi. Nanti kamu bisa demam lagi kalau kedinginan."
Myesha mengembuskan napas berat, kemudian meraih sabun dan mulai menyabuni tubuhnya. Sementara itu Faiq menggigit bibirnya sendiri, ia berbalik dan ingin mencakar tembok.
Ada sedikit penyesalan kenapa sok menjadi bijak padahal nafsunya sudah di ujung tanduk. Tapi seperti perkataannya tadi, dia tidak ingin membuat sejarah di hidup Myesha menjadi penyesalan.
Terlebih bagaimana jika pelunasan cicilannya mendapat bonus bayi? Faiq akan sangat merasa bersalah jika anaknya dihasilkan dari kamar mandi.
.
.
bersambung.
Part ini susah bgt đ
bukan karena aku jomlo berkualitas ori tapi otak hilang kendali đ
tpi krn aku mikirin bocah yg nekat baca part ini, gimana caranya halus tp ttp asik bagi pembaca dewasa. Aku gk lebelin 21+ krn males ruwet, tau sndr apk ini sering buat gk betah.
Visual cerita ada di IG ku @ka_umay8
Hargai aku lewat like, komen, vote dan tip
__ADS_1
(âĨīšâĨ) makasih buat orang-orang yang rela ngeluarin poinnya demi vote baby walaupun banyak cerita yang lebih bagus dari ini. lop yu buat kalian.