Unknown Baby

Unknown Baby
Kantin


__ADS_3

Musim semi hadir di hati dingin Faiq, pemuda yang beberapa bulan lalu tak percaya cinta dan menganggap cinta hanyalah hiburan semata. Setelah kejadian malam itu hari-harinya terasa penuh warna. Ketika mengobati pasien sikapnya jauh lebih ramah, bahkan kepada koas. Faiq tak lagi memasang wajah killer seperti dulu. 


Hal tersebut membuat Cindy, koas yang ditugaskan di sampingnya menjadi takut. Mungkin saja Faiq keracunan sesuatu hingga berubah seperti itu. Pikirnya. 


"Cin, waktu pacaran biasanya pacarmu ngasih apa?" tanya Faiq.


Hari ini dia tidak banyak pasien. Jam setengah dua belas sudah mulai sepi.


"Biasanya sih ngasih coklat, Dok."


Faiq menggelengkan kepalanya, tak mungkin dia memberi Myesha coklat. Dia tidak akan menjerumuskan gadis itu ke dalam gigi hitam dan berlubang. Bunga sudah biasa, cincin pernikahan sudah terpasang manis di jari mereka. Dia ingin memberikan sesuatu untuk PDKT tetapi tidak tahu harus memberi apa.


"Selain itu apalagi?"


"Dia sering beliin pulsa. Soalnya kalau aku males bales chat selalu alasan nggak punya pulsa."


Faiq baru ingat kalau dia pernah membelikan Myesha pulsa, lebih tepatnya membayar hutang pulsa gadis itu. Mereka bertemu setiap hari untuk apa chat. Membelikan pulsa lagi juga bukan sesuatu yang romantis.


Sampai makan siang Faiq tak menemukan harus memberi apa ke Myesha. Pria itu meminun kopi di tempat sepi yang berada di samping kantin. Masih berpikir cara terbaik untuk PDKT.


"Faiq!" panggil Sella.


Wanita itu berjalan ke arah Faiq dengan cangkir gambar bebek. Kemudian duduk di samping pria itu setelah menepuk punggungnya.


"Gimana penyelidikan tentang asal usul baby?" tanyanya. 


"Masih terus berjalan, data dari kamu sama sekali nggak bantu."


"Tuh kan udah kubilang."


Sella mengeluarkan ponselnya, ia mengirim nomor telepon seseorang kepada Faiq.

__ADS_1


"Itu Dito, dia detektif. Aku udah cerita masalah kamu ke dia. Dia bilang bakal bantu. Minggu depan dia bakal ke rumah kamu buat nyelidikin masalah baby."


"Serius?"


"Tentu, aku baik banget kan?"


"Makasih, Sel. Akhirnya ada gunanya juga kita temenan."


Sejurus kemudian Sella memukul lengan Faiq, membuat pria itu tertawa lebar. Persahabatan yang mereka jalanin sejak lama terkadang membuat orang salah paham. Pasalnya tak ada persahabatan antara cewek dan cowok yang 100% normal. Selalu ada rasa. Tetapi sepertinya itu tak berlaku untuk dua orang itu.


Ketika Sella memutuskan untuk menikah duluan 5 tahun lalu, membuat Faiq sedih. Dia sedih karena tidak ada lagi orang yang bisa diajak iuran bensin untuk berangkat ke kampus.


"Penyelidikanku dan Myesha berjalan sangat lambat, mungkin sampai lebaran monyet pun kami tidak bisa menemukan orang tua kandung Yuno."


"Aku tahu, maka dari itu aku kenalin ke Dito. Dia temennya temenku, katanya orangnya baik."


"Oh ya bisa bantu aku lagi nggak?" tanya Faiq.


"Aku nggak ada duit, sumpah."


Sekali lagi lengan Faiq mendapat pukulan.


"Aku ada rasa sama Myesha, tapi dia nggak ada rasa sama aku. Aku harus gimana ya?" Lanjut Faiq.


Hanya kepada Sella, Faiq berani bicara terus terang. Sahabatnya itu walaupun suka ngutang akan tetapi cukup berguna untuk dimintai pendapat. Terlebih Sella bisa membuatnya nyaman untuk berbicara.


"Wah ini rekor, seorang Faiq ditolak cewek? Harus diabadikan."


Sella tertawa, seolah penderitaan Faiq adalah kebahagiaannya. Membuat Faiq sangat kesal. Ah, dia lupa sisi menyebalkan Sella yang ini.


"Aku serius."

__ADS_1


Sella berhenti tertawa, kemudian menatap Faiq dengan iba.


"Apa jawaban Myesha?"


"Dia punya pria yang dia sukai."


"Susah juga kalau begitu, apalagi kalau Yuno sudah kembali ke orang tua kandungnya. Kalian tidak ada ikatan lagi."


Faiq mengembuskan napas berat. Orang-orang berlalu lalang di sekitar mereka. Terkadang berbisik curiga dengan dua sahabat yang tertawa begitu lebar. Mereka memang jauh dari kamar pasien akan tetapi tetap saja mengundang perhatian orang lewat.


"Aku tahu itu, makanya minta solusi."


"Ya sudah, buat saja Myesha hamil anak kamu. Beres. Dia nggak akan bisa lepas dari kamu sekalipun Yuno tidak ada."


Faiq teringat pengaman beberapa hari yang lalu, kenapa saat itu dia tak terpikirkan cara itu dan malah membeli pengaman. Walaupun tidak berhasil digunakan.


"Kalian udah pernah gituan belom? Udah dua bulan kan kalian tinggal bareng, pasti adalah kesempatan buat gituan walaupun tanpa cinta." Lanjut Sella.


"Kamu nggak tahu sepolos apa Myesha sampai aku ingin menggigit tembok, gregetan banget dia tidak maksud kodeku. Dan waktu aku minta terang-terangan dia menolak karena alasan belum cinta," ucap Faiq.


Sella mengangguk paham, ia lumayan kagum karena selama ini Faiq bisa menahan diri.


"Oh ya sejak kapan kamu suka sama Myesha?" tanya Sella lagi, kali ini dia penasaran karena ada gadis yang mampu menaklukan dokter cuek seperti Faiq.


"Sejak liat dia hanya pakai handuk."


.


...


..

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa vote buat dedek Yuno. lop. lop


__ADS_2