
"Jangan pulang kalau nggak bawa uang!" Nindy melempar bedak bayi ke arah Riki. Pemuda itu lantas berdiri di samping pintu menghindari lemparan istrinya.
Menikahi anak orang kaya manja seperti Nindy sungguh membuatnya repot. Dia menyesal telah beriya-iya dengan perempuan itu sampai membuat hamil. Seharusnya waktu itu dia keluarkan di luar saja. Ah, sial. Sekarang anaknya lahir dari perempuan ini.
"Kan sudah aku kasih semua gajiku, kenapa masih kurang juga?" Bentak Riki emosi.
"Kurang, pokoknya kurang! Kamu pikir ini cukup buat makan bergizi? Aku ini masih dalam tahap menyusui. Lihat rambutku, aku sudah ngirit nggak ke salon. Aku menerima kamu apa adanya sampek jadi buluk kayak gini! Masak ngasih makan yang bergizi aja kamu nggak sanggup?"
Pertengkaran yang hampir setiap hari terjadi dalam rumah tangga pasangan muda itu. Kepala Riki rasanya hampir pecah, dia hanya mengontrak dan makan apa adanya. Tidak pernah memikirkan bergizi atau tidak. Yang penting kenyang!
Sejak kecil Riki tinggal bersama pamannya, pemilik mini market yang dia kelola sekarang. Orang tuanya terlalu memiliki banyak anak, dia anak nomor 12. Tidak diinginkan, hanya hasil kebablasan. Orang tuanya hanya mampu menampung 11 anak. Alhasil dia diberikan kepada kerabat.
Sekarang pamannya tinggal di Palembang, membuka lahan di sana dan membawa seluruh keluarganya. Dia diamanahi menjaga mini market. Pun begitu pamannya setiap bulan tetap meminta uang hasil dari mini market.
"Aku sudah berusaha semampuku, mau gimana lagi? Makan apa adanya kenapa sih, repot banget. Toh, tetap hidup."
Sekali lagi Riki mendapat lemparan barang, kali ini tepat mengenai wajahnya. Membuat pemuda itu terhuyung ke belakang.
"Nggak mau, cepat cari uang tambahan sana!" bentak Nindy. Masih menggendong bayinya. "Kalau kamu nggak bawa uang aku bakal pulang ke rumah orang tuaku!"
Ketika Nindy sudah mengucapkan itu Riki hanya bisa diam. Sebenarnya lebih enak jika perempuan itu pulang ke rumah orang tuanya, dia bisa hidup santai seperti dulu. Tidak berisik dengan ocehan istri yang selalu minta ini itu.
"Iya aku cari uang sekarang!" Bentak Riki. Dia keluar rumah mengendarai motor vespanya.
Satu hal yang membuat Riki bertahan, yakni putri kecilnya. Merasakan rumah tangga seperti neraka sangat membuat muak. Tapi dia tidak bisa mengabaikan Yuri. Bayi kecil itu tidak bersalah.
Sekarang pukul tujuh malam, ia lelah dan ingin beristirahat. Seharian mengurus mini market sangat menguras tenaga.
__ADS_1
"Demi Yuri, harus cari uang yang banyak."
Riki masih mengegas motor yang mengeluarkan asap itu, ia menyinggahi rumah makan. Meminta apakah ada pekerjaan, beberapa penolakan ia dapatkan.
Mengurus mini market dibantu Mbak Lisna, perempuan janda yang masih berbau sepupu dari istri pamannya. Ia akan meminta shif yang mudah untuk melakukan dua pekerjaan.
"Dari pada susah nyari uang, lebih baik kamu bekerja padaku." Suara dari kegelapan. Seorang pemuda muncul dari sana, Andre.
Riki tak jadi memasang helmnya, dia kembali turun dari motor. Parkiran di depan rumah makan itu sepi, Riki tahu kenapa dia ditolak bekerja di sana. Minim pengunjung.
"Kamu buronan, gimana bisa memberiku uang?"
Dengan topi hitamnya Andre semakin mendekat, ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Mencoba melihat keadaan.
"Aku memiliki banyak uang rahasia, memberimu uang puluhan juta bahkan ratusan hal yang mudah."
"Ck ck ck untuk apa CCTV, Aku sudah tidak butuh."
"Lalu apa yang kau inginkan dariku?"
"Kerjasama, aku ingin membunuh Faiq dan merasakan tubuh Myesha sebelum aku membunuhnya."
"Aku tidak mau membunuh orang, kau bayar 1 triliyun pun aku tidak sudi."
Riki berbalik, dia menaiki motornya lagi.
"Aku tidak menyuruhmu membunuh, cukup pancing dia saja. Aku yang akan menghabisinya."
__ADS_1
Andre mendekat, ia membisikkan sesuatu. "100 juta."
Saat ini Riki butuh uang, tapi sebusuk-busuknya dia, tidak ada pikiran untuk membunuh atau terlibat dalam khasus pembunuhan.
Tangisan Yuri, bayi kecilnya yang baru berusia sebulan itu memenuhi kepalanya. Membuatnya lemah iman.
"Aku mau lebih," ucap Riki. Ia tergoda.
Andre tersenyum tanda kemenangan. Ia melempar uang 5 juta yang dia kantongi tepat ke dada Riki.
"Deal, itu uang bensin. Nanti aku kabari rencananya."
Riki menerima uang itu, 5 juta. Cukup banyak baginya. Dibanding pasutri pelit Faiq dan Myesha yang hanya memberikan 9 ribu untuk bensin, bukankah membantu Andre lebih baik?
Ini memang kegiatan ilegal, tapi dia tidak membunuh. Hanya memancing saja. Dia tidak akan mengotori tangannya.
Setelah Andre berlalu Riki segera memakai helmnya. Ia pulang, membawa uang seperti keinginan Nindy. Dia bisa tidur nyenyak malam ini tanpa istri yang terus mengomel.
.
.
.
Bersambung.
Mulai lelah gengs. Hargai aku lewat vote ya, walaupun aku gk dihargai apk ini tpi seenggaknya dihargai pembaca.
__ADS_1