
Gedung WterSun group berdiri gagah di antara gedung pencakar langit yang berada di Jakarta pusat, dengan bangunannya yang mewah dan megah membuat banyak orang menginginkan bekerja di sana. Dipimpin oleh Renold Bagaskara sebagai presiden direktur, WterSun menjadi salah satu perusahaan terbesar di Asia Tenggara.
"Aku lelah sekali, para tua bangka itu sangat merepotkan," gerutu Elja ketika memasuki ruangan Ren.
Ruangan Presiden Direktur yang berada di lantai 53, jendela kaca transparan memperlihatkan betapa kecilnya mobil berlalu lalang di bawah. Sofa di tengah dengan meja kaca menjadi tempat favorit Elja ketika mengunjungi ruangan suaminya.
Wajah lelah yang baru pulang dari London langsung disuguhi komplain dari para pemegang saham, wanita itu melempar tasnya ke sofa. Dia merebahkan diri di sana dengan wajah yang mendongak ke atas. Benar-benar terlihat lelah.
Sementara Ren berjalan ke kursinya, ia duduk di sana dan langsung membuka laptopnya. menyalakan monitor hingga logo WterSun muncul.
"Kau pulanglah duluan, keberadaanmu di sini hanya menganggu." Ren mengambil kacamatanya di laci, mengenakan kacamata itu sebelum menggeser mouse. Matanya menatap monitor.
"Baiklah, badanku rasanya sakit semua." Wanita itu beranjak, ia mengambil tasnya dan berjalan keluar dari ruangan Ren tanpa menoleh lagi.
Elja merupakan patner yang cocok, cerdas dan memiliki kekuasaan. Pengalamannya dalam menjalankan perusahaan terkadang membuat Ren kagum, mungkin karena dari kecil wanita itu sudah dilatih menjadi pendampingnya dalam memimpin WterSun.
Tapi sayangnya Elja tidak pernah hadir di hati Ren sebagai seorang istri. Pesona wanita itu tak kunjung meluluhkan kerasnya hati seorang Renold. 4 tahun menikah rasa cinta itu tak kunjung muncul, begitupun buah hati. Dibanding sebagai suami istri hubungan mereka lebih mirip sebagai rekan bisnis.
Setelah Elja pergi ruangan menjadi hening, hanya ada suara keyboard di sana. Cukup lama Ren memperbaiki kesalahan sistem yang membuat para pemegang saham melayangkan protes hari ini. Dengan cepat Ren menyelesaikan semuanya.
Pria menutup laptopnya, ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Ia memutar kursi dan berjalan mendekat ke jendela kaca, memandang langit mendung dengan awan menggumpal. Hambusan napas berat terasa di sana. Pikirannya melayang jauh ke Archie, istri sirinya yang sudah meninggal.
Dari sekian banyak wanita yang dia tiduri. Archie memiliki kisah berbeda. Dia lembut dan penyanyang. Walaupun Ren sudah berkata bahwa berbahaya memiliki anak darinya namun Archie tetap terlihat sangat bahagia ketika itu.
"Aku bahagia bersamamu, Ren." Perkataan Archie dan senyumannya terngiang sampai sekarang. Ada rasa sesak yang tidak Ren pahami. Archie juga tampak bahagia ketika menunjukkan foto USG, janin laki-laki berusia 4 bulan.
"Apa anak itu masih hidup?" gumamnya penasaran.
__ADS_1
Pria berusia 29 tahun itu ragu, apakah anaknya masih hidup atau tidak. Jika masih hidup dia ada di mana dan siapa yang merawatnya. Setahu Ren semua keluarga Archie setelah meninggal kecuali adik laki-lakinya yang menghilang.
Ren mengambil ponsel di saku jas, mencoba menghubungi seseorang yang dia tahu bisa membantu masalahnya saat ini.
"Hallo, Bos." Jawaban dari seberang.
"Kau ingat istri simpananku, Archie?"
"Tentu saja, Bos. Apa yang bisa kami lakukan?"
"Sebelum meninggal dia mengandung anakku, cari di mana keberadaan bayi itu dan juga adik Archie yang bernama Aslan."
"Baik Bos, segara kami laksanakan."
"Satu lagi, bergeraklah hati-hati jangan sampai Elja tahu." Ren memberi peringatan.
"Baik, Bos."
Gumpalan awan yang memenuhi sebagian daerah Indonesia bagian barat, mengguyur tanpa peduli bagaimana perasaan orang yang berada di bawahnya. Ada petani yang bahagia, ada gelandangan yang kesusahan, ada orang yang takut banjir, ada yang menikmati sisi romantis dari hujan.
Di tempat lain, jauh dari Jakarta. Melewati selat Sunda. Hajatan yang sudah dipersiapkan selama sebulan, dari dekor hingga panggung. Orang-orang riuh akan angin kencang dan hujan lebat yang menggangu proses acara.
Faiq membantu tarup reot hampir rubuh diguyur hujan. Para artis dangdut dan memakai rok mini itu juga kedinginan dengan hati was-was apakah acara hajatan ini tetap dilanjutkan di antara cuaca extrem.
Sementara itu pasangan pengantin baru yang kini duduk di singgasana juga diliputi kekhawatiran. Pasalnya keluarga pengantin laki-laki tidak bisa pulang di cuaca seburuk ini. Lain tempat lain orang, ibu-ibu yang mengaduk jenang di belakang mengkhawatirkan jemuran di rumah.
Riki berlari dari parkiran menuju orang-orang yang tengah kerepotan mengganjal tiang tarup dengan pasir, supaya kokoh dan tidak roboh. Padahal sejak kemarin pemilik rumah sudah memasang sapu lidi secara terbalik, kata Mbah Dukun penangkal hujan.
__ADS_1
Riki menghampiri Faiq yang baru saja meletakkan karung bekas mengangkat pasir.
"Bang, kata Nindy anakku dititipin di rumahmu, dia juga kejebak hujan. Nggak bisa pulang." Riki membersihkan air yang menempel di kemejanya.
Sangat jarang Riki memakai kemeja, pemuda pekerja keras yang terkadang menyebalkan itu menoleh ke Faiq. rupanya Faiq basah kuyup, lebih dari dirinya. Bibirnya biru.
"Jadi sekarang Myesha ngurus anakmu juga?"
"Nitip doang."
"Emang istrimu pergi ke mana?"
"Beli baju. Bang, kamu pucet banget. Mending pulang aja dari pada pingsan di sini. Males nyeretnya kalau kamu pingsan."
"Gimana mau pulang, nggak ada payung."
"Bajumu udah basah sekalian aja hujan-hujanan," ucap Riki.
Faiq menelangkupkan tangannya, sedkit menggesek supaya mendapatkan rasa hangat. Dia mengamati kanan dan kiri. Lalu menoleh ke belakang. Orang-orang yang tadi mengangkat pasir bersamanya sudah pergi. Mungkin, pulang duluan. Mereka juga basah sepertinya.
"Kalau begitu aku juga akan pulang duluan," balasnya.
Lebih dari basah, Faiq memang ingin cepat pulang bertemu anak dan istrinya. Hari minggu yang biasa dia habiskan bersama keluarga kecilnya itu hari ini malah dihabiskan di tempat hajatan.
.
.
__ADS_1
.
bersambung.