
"Biana"
PLAAK
"Aauu, Apa magsudmu" teriak Biana penuh emosi
"Apa lagi yang kamu inginkan Siska"
"Apa yang kamu katakan pada Riko Biana" Seru Siska dengan nafas yang naik turun, Biana mengerutkan keningnya tidak tahu apa yang di magsud Siksa
"Kamu menyuruh Riko, untuk menggugurkan Anaknya" Biana kembali tersentak atas ucapan Siska, dirinya menarik tangan Siska untuk menjauh dari lingkunganya Restorannya, Dia tidak mau di jadikan tontonan dan membuat riuh di restorannya
"Siska " sentak Biana
"Hah, kenapa kamu bawa aku kemari, kamu malu jika orang melihat sifat aslimu" Ucap Siska Sinis
Biana sudah geram atas perlakuan Siska
"Siska aku tidak pernah meminta Riko untuk menggugurkan Anaknya, bahkan aku mengancamnya kalau dia sampai melakukan itu" Jelas Biana
"Pembohong, kamu tahu jika kemarin aku tidak sadarkan diri atas perbuatan Riko yang membawaku untuk Aborsi, anak ini mungkin sudah tidak ada di dalam perutku" Siska terisak saat mengingat kejadian yang menimpanya, saat Riko mengajaknya ke rumah sakit, alih alih untuk periksa kandungan, ternyata dirinya di bius saat menerima minuman darinya dan, saat Siska sadar dirinya sudah di dalam ruang operasi, Beruntung saja dirinya bisa kabur saat di ruangan itu terlihat sepi tanpa penjaga
Biana tercengang mendengar ucapan Siska
"Demi Tuhan Sis, Aku tidak pernah meminta Riko untuk melakukan itu, Aku seorang Ibu dan aku tidak mungkin melakukan hal yang menyakitkan seperti itu pada anak orang lain" Jelas Biana, dirinya tidak habis fikir atas tindakan Riko yang benar benar membuktikan ucapanya
"Siska, walaupun aku sakit hati atas perbuatan kalian, tapi aku tidak akan pernah melakukan hal seperti itu" Ucap Biana menenangkan Siska yang masih menangis
"Tapi kamu tetap jahat Biana, karena cintanya Riko padamu dia tega membunuh anaknya" Siska kembali tersulut emosi, dan mendorong Biana dengan kasar hingga Biana terjatuh dan kepalanya membentur aspal jalanan
"BIANA.." Teriak Niko dari jauh lalu menolong Biana,
kedatangan Riko membuat Biana dan Siska melihat kearah Riko yang sedang berjalan khawatir kearah mereka
"Kamu tidak apa apa Hany,, Siska kau sudah gila" Teriak Niko pada Siska dan membuat nya begitu ketakutan
"Apa yang kamu lakukan pada Biana hah, Kamu mau mencoba melukainya" Riko mencekal tangan Siska begitu keras membuat Siska meringis kesakitan
"A a aku tidak sengaja Rik" Ucap Siska terbata, dan berusaha melepaskan cekalan tangan Riko
"Tidak sengaja, aku melihat sendiri kamu melakukannya dengan sengaja, Kau ingin... "
" Mas Riko cukup, aku baik baik saja, Siska tidak sengaja mendorongku" Jelas Biana dengan darah yang mengalir di keningnya
"Kamu tidak baik baik saja, ayo aku obati" Niko langsung membawa Biana pergi, tanpa melihat Siska yang menahan sakit di perutnya
"Aauuu, kenapa perutku sakit sekali, Sayang kamu jangan marah yah, sekarang mungkin papamu masih belum bisa menerimamu, tapi percaya setelah kamu lahir papamu akan begitu perhatian padamu" Ucap Siska mengelus perutnya yang mendadak sakit
π
π
__ADS_1
"Kenapa kamu melakukan itu" Ucap Biana pada Rimo yang sedang fokus membersihkan luka Biana
Mereka berdua saat ini ada di Restoran Biana, tepanya di ruangan kerja Biana
"melakukan Apa" jawab Riko santai
"Menggugurkan Anakmu" Gerakan Riko terhenti mendengarkan sesaat, lalu mengangkat sudut bibirnya
"Apa Siska yang memberitahumu" Ucap Riko kembali membersihkan luka Biana
"Bukan hanya memberitahuku saja, tapi menuduhku juga, seakan aku adalah otak dari semua ini" jelas Biana jengah, yah laki laki yang ada di depannya sangatlah berbeda dari yang dirinya kenal selama ini, tidak ada Riko yang terlihat ceria, namun raut Muka dingin
"Apa kamu tidak ingin memperbaiki hubungan kita Biana" Tanya Niko mengalihkan pembicaraan
"Apa kamu tidak merasa kasihan pada Siska dan juga anaknya Mas" Bukannya menjawab Biana berbalik bertannya
"Ayo kita kembali dari awal, aku tidak akan menghilangkan anak itu, dan ketika anak itu lahir, kita besarkan, bersama Devanio" perkataan Riko lagi lagi membuat Biana tidak habis fikir, sejak kapan laki laki yang dia kenal beberapa tahun ini menjadi egois hanya untuk kebahagiaannya sendiri
"Mas, sejak kapan kamu menjadi sangat egois"
"Sejak Aku mencintaimu Biana, Aku tidak Suka sesuatu yang sudah aku dapatkan harus aku lepas di gantikan dengan yang lain, apa lagi aku tidak menyukainya" Ucap Niko tepat di depan wajah Biana, dirinya bisa merasakan nafas hangat dari Riko
"Aku tahu kamu belum bisa membalas perasaanku, tapi Aku tahu kamu mulai nyaman saat bersamaku Bia, itu berarti kamu mulai ada rasa dengaku bukan" ucap Riko tersenyum, Biana hanya diam menunduk tanpa menjawab
Memang Biana merasa nyaman saat bersama Riko, namum tentang perasaannya Dirinya masih belum bisa memastikan, karena sampai saat ini dirinya merasa nyaman dengan Riko hanya seperti saat pertemanan mereka tidak lebih.
"Mas sebenarnya... "
Biana terkejut saat benda kenyal menempel di bibirnya dan membuat ucapanya terhenti,
Dirinya berusaha mendorong dada Riko yang mulai menjamah bibirnya agar melepaskan ciumannya, namun Riko menekan kepala Biana, yang awalnya hanya kecupan, menjadi ciuman yang dalam dan saling menuntut, Riko senang Biana membalas ciumanya, Lebih dari sepuluh menit adegan itu berlangsung dan baru terlepas saat Riko melepaskan ciumanya memberi Biana oksigen untuk bernafas,
Biana menunduk malu dengan pipi merona seperti kepiting rebus,
"Love you sayang" Ucap Riko lalu membawanya kedalam pelukannya, Biana hanya terdiam dalam pelukan Riko, dirinya masih terdiam dengan apa yang dia lakukan,
"Bagaimana mungkin aku melakukan hal seperti ini dengan adik dan kakanya" Gumam Biana dalam hati
Drrrtt Drrttt
Biana melepaskan pelukan Riko, saat ponselnya berdering
"hallo"
"......"
"iyah, baik saya akan kesana" Jawab Biana lalu mematikan panggilannya
"Ada apa" Tanya Riko,
"Tidak apa apa mas, aku mau menjemput Dev" Jawab Biana
__ADS_1
"Ayo kita kesana"
"Tidak usah mas lagian... "
Drrrrt Drrrttt
kali ini ponsel Riko yang berbunyi
"Yah, ada apa" ucap Riko, Seketika Raut muka berubah, dan membuat rahangnya mengeras
"Hmmmm, kau awasi terus, aku akan segera kesana" Ucapnya lagi
"Ada apa mas, apa ada sesuatu" tanya Biana khawatir
"Tidak ada apa apa, maaf yah aku tidak bisa mengantarkan mu, ada yang harus aku selesaikan" Ucap Riko
"Tidak apa, kamu selesai kan urusan mu" Ucap Biana tersenyum, Riko langsung mengecup kening Biana sekilas,lalu bergegas pergi
Ting
π© Es Batu ;Kamu tidak usah menjemput Devan, Aku sudah menjemputnya, sekarang sedang dalam perjalanan ke restoran.
Biana; Terima kasih mas" Balas Biana
Dirinya memijat pelipisnya merasa pusing, dengan semua yang terjadi akhir akhir ini, Dirinya mengira dengan membuat Anaknya menetap dengannya membuatnya bisa mengalihkan permasalahan yang sedang dia hadapi, namun malah dirinya merasa seakan-akan lalai pada Devan
,
,
,
,
,
,
,
,
Semoga bisa Up tiap hari, biar bisa cepat selesai ππ, dan bisa menulis cerita yang lain lagi,
oya guys aku juga sedang membuat beberapa novel di plat orange, Nanti kalau sudah siap buat di iklanin, aku pasang baner yang gede deh di sini hhehehe
dan terima kasih yang masih setia dengan cerita ini
Terima kasih, dan semoga sehat teruss yahh guyss
ππππ
__ADS_1