Wanita Itu Istri Tercintaku

Wanita Itu Istri Tercintaku
Jalan Baru


__ADS_3

Biana menemui tamu yang beberapa hari ini dia tunggu, di ruang khususnya


"Selamat Siang Tuan Ricard" Ucap Biana saat masuk keruanganya dan terlihat laki laki paruh baya yang sedang duduk di sofa panjang


"Hallo Nona Biana" Jawab tuan Ricard saat mendengar ucapan Biana, mereka berdua pun berjabat tangan


"Maaf Nona Biana, saya tidak memberitahu anda terlebih dahulu" Ucap tuan Ricard


"Tidak masalah Tuan justru saya sangat senang, saat mengetahui andalah yang menemui saya langsung"


"Saya sangat mengagumi anda di dunia bisnis, semoga saja saya bisa seperti anda" Ucap Biana


"Yahh itu bagus, saya merasa senang masih ada anak muda yang memiliki minat tinggi di dunia bisnis" Ucap Tuan Ricard, Biana tersenyum mendengarkan ucapan Tuan Ricard


Mereka berdua membicarakan dunia bisnis dan menandatangani kontrak kerja sama yang akan mereka jalani kedepannya, bagi Biana ini pengalaman baru baginya di dunia bisnis,


Tuan Ricard tidak lepas pandangannya pada Biana, mengingatkannya pada istrinya waktu masih muda,


seandainya istrinya lily mengetahui jika wanita yang di depannya begitu mirip saat dirinya muda, pasti akan mengira Biana adalah anaknya yang menghilang selama beberapa tahun ini,


Demikian dengan Biana, dirinya merasa nyaman berbincang dengan laki laki tua yang ada di hadapannya ini, seperti berbincang masalah dunia bisnis dengan ayahnya,


"Oh Tuhan, aku merindukan ayahku" Gumam Biana tanpa sadar dalam hati


"Terima kasih Biana atas kerja samanya, semoga kita bisa bekerja sama dengan Baik, " Ucap Tuan Ricard


"Sama sama tuan, dan terima kasih atas investasinya pada Restoran saya" Jawab Biana lalu menyalami Tuan Ricard sebelum beranjak Pergi


"jika saja waktu saya masih banyak, saya masih ingin berbincang dengan kamu Nona Biana, sayanganya saya harus pergi karena masih ada urusan lain di luar kota, lalu kembali ke negara saya" Jelas Tuan Ricard


"kita masih bisa berbincang lagi di lain waktu yang akan bertemu tuan, saya sangat berterima kasih pada anda" Ucap Biana


Biana menghantarkan Tuan Ricard sampai beliau masuk kedalam mobilnya, dan menunggu mobilnya pergi, saat berbalik dirinya di kagetkan oleh Anaya yang sedang berdiri bersandar pada pintu masuk


"Hai mba, tumben banget jam segini ke restoran" Ucap Biana


"Biana, kau berhutang cerita padaku" Seru Anaya, lalu berjalan masuk ke dalam restoran di ikuti Biana


"Ayo ceritakan, Siapa tadi ko sepertinya penting banget" Ucap Anaya antusias, Biana menghela nafas, sahabatnya ini salah satu orang yang suka kepo dan suka ghibahin orang, Penampilannya yang anggung dan elegan tidak sebanding dengan orangnya yang Bar bar,


ga sadar Biana, dia juga sama bar barnya


"Dia Tuan Ricard" Ucap Biana


"Tuan Ricard... " Ucap Anaya mengerutkan keningnya sembari berfikir


"Yang punya perusahaan startup di Inggris" Jelas Biana


"What seriuss" Tanya Anaya dengan nada teriak


"Jangan teriak teriak mba, ya allah Gustiii, lama lama aku selotip bibir" Anaya langsung tersenyum saat Biana kesal atas tindakannya


"Heheh Reflek sayang terkejutnya" Ucap Anaya


"Terus ngapain tuh Pak tua ke mari" tanya Anaya,


Biana menggelengkan kepalanya, sahabatnya ini selain bar bar juga suka ceplas-ceplos menyebut nama orang


"Dia orang pertama yang bakalan bekerja sama di restoran ini"


"Mba tahu kan aku dari dulu pengin ngembangin restoran ini agar lebih besar, tapi karena mba terlalu sibuk ngurus perusahaan jadi gagal terus, walaupun aku bisa ngelakukan itu dari dulu, tapi tetap saja harus ada ijin dari pemiliknya langsung" jelas Biana


"Maaf yah Bia, aku kira dulu kamu hanya bercanda, karena aku berfikir buat mencoba fokus ke perusahaan dulu, malah jadinya aku yang ga bisa konsen ke usaha yang dulu aku inginkan" Ucap Anaya dengan nada sedih


"Mbaa, semua usaha yang kita lakukan itu ga ada kata gagal saat kita berusaha, buktinya ajah ini restoran dulu yang awalnya hanya cuma beberapa meja, sekarang begitu luas, dan menjadi ramai, ini kan karena siapa juga kegigihan dan keniatan mba buat besarin restoran ini, sampai kapanpun restoran ini tetap milik mba" Ucap Biana pada Anaya, sekali lagi Anaya begitu sangat senang memiliki sahabat seperti Biana


"Tidak Bia perusahaan ini sudah menjadi milik kamu atas nama kamu secara legal dan hukum, Aku malah merasa bersyukur, bangga dan ga nyesel ngasih restoran ini ke tangan kamu, jadi usaha dan impian aku tidak akan pernah sia sia, karena aku tahu kamu yang begitu banyak mendominasi di restoran ini dari pada aku" seru Anaya dan meraka pun saling berpelukan


"Ehheemm, permisi nona nona" Ucap laras sembari mengetuk meja, membuat dua wanita itu langsung melihat ke arah Laras dengan tatapan tajam


"hehehee, maaf sepertinya saya mengganggu " seru Laras dengan cengiran di bibirnya


"sangat menganggu" jawab serempak mereka berdua


"Aduhhh, jangan marah atuh mba, nanti cepet keriput loh mukanya, sayang kan pake skincare mahal tiap hari tapi masih marah marah terus"


"Jadi kamu ngatain kita Tua" Ucap Biana


"Engga mbak, saya cuma bilang jangan suka marah marah" jelas Laras yang kini ikut terduduk di sebelah Biana


"Ras Aku mau ngasih sesuatu nih buat kamu" Ucap Anaya


"serius mba aku siap terima, emangnya mba mau kasih aku apa, uang, enas berlian atauu.. "


"isss kau ini, harta mulu yang di pikirin" Gerutu Anaya


Biana mulai jengah pada sahabat sahabatnya itu


"heehee terus apa dongba hadian yang mau di kasihin ke aku" Ucap Laras


"Nanti aku pikirin" jawab Anaya


"Udah sore aku mau jemput Dev" Ucap Biana yang akan beranjak dari duduknya


"Emang Dev kemana, pantas saja dari tadi ga keliatan tuh bocah" Ucap Anaya


"Ke perusahaan Niko" ucap Biana


"Whaattt" Teriak Anaya


"Jangan teriak teriak mba" Seru Biana dan Anaya bersama

__ADS_1


"heheheh, ayo aku anterin ke sana, sekalian mau balik ke kantor" Ucap Anaya


"Beneran nih"


"iyaa ayo"


"Laras hadiahnya nanti aku paketin ke kamu" Ucap Anaya lalu keluar dari restoran


"Beneran mba, makasih mba" jawab Laras antusias


"Di tinggalin lagi deh" Gumam Laras


"emangnya apa yang mau kamu kasih mba ke laras" Tanya Biana pada sahabatnya yang sedang menyetir


"Sesuatu yang bakalan ga bisa dia lupain"


"jangan aneh aneh loh mba"


"Engga, kapan aku kasih hadiah ke orang yang aneh aneh"


"Kapan yah, pernah ko"


"Kapan"


"Entahh"


"Cckk, Sudah sampai, tahu ga di lantai berapa Niko" Ucap Anaya


"Berapa yah ga tau" jawab Biana


"Tanyalah biar tahu"


"Tau ah, nyeselin banget, kirain mau di kasih tau" jawab Bian kesal, Anaya tertawa puas karena membuat Biana meradang


"Heheh santai dong mahmud jangan ngegas, Ruangan Niko ada di lantai 30, kamu bilang ajah sama Repsesionis nya kalau kamu calon Istrinya"


Biana kembali kesal atas ucapan terakhir Anaya


"Apa lagi ini, Tau ah makasih mba udah mau nganterin" Ucap Biana lalu turun dari mobil Anaya


"Selamat sore" Sapa satpam yang membukakan pintu untuk Biana


"Selamat sore" jawab Bian tersenyum


Biana berjalan menghampiri dua wanita cantik yang sedang berdiri di belakang meja Repsesionis


"Selamat sore, maaf Ruangan Pak Niko ada di lantai berapa yah" ucap Biana sopan


"Maaf apa anda sudah ada janji dengan pak Niko" Tanya Repsesionis yang bernama Nisa


"Emmm, Sudah " Jawab Biana


"Sebentar yah Nona saya hubungin dulu sekretaris nya "


" Nona Biana" Seru suara laki laki yang menghampiri Biana


"Iya" Jawab Biana, menoleh pada seseorang di belakangnya


"Apa anda akan menjemput Dev" tanya Jeams asisten Baru Niko


"Oh iyah"


"Mari ikut dengan saya" Ajak Jeams, Bian pun mengikuti laki laki itu dari belakangnya


"Perkenalkan nama saja Jeams Asisten Tuan Niko" Ucap Jeams saat sudah masuk kedalam lift


"Bukannya Asisten Tuan Niko itu Hans" Tanya Biana


"Saya asisten baru menggantikan tuan Hans" jelas Jeams


"Oh memangnya Hans kemana"


"Tuan Hans kembali ke negaranya" Jawab Jeans tersenyum


Ting....


Jeams Dan Biana pun keluar dari lift, dan menuju keruangan Niko, namun belum sampai Jeams membuka pintu ruangan Niko terdengar keributan dari dalam, Biana samar samar mendengar pertengkaran itu dan mengenali suara mereka,


"Itukan suara mas Riko" gumam Biana lirih


"Nona Biana sebaiknya kita tunggu di ruangan saya dulu" Jeams membawa Biana kedalam ruangannya, Dirinya tidak menginginkan pertengkaran bosnya terdengar oleh orang lain


"Tapi anak saya"


"Tenang saja Nona, Anak anda sepertinya tidak ada di dalam, kemungkinan sedang di ajak keliling oleh sekretaris Tuan Niko" jelas Jeams, Biana akhirnya menunggu di ruangan Jeams,


Saat Biana baru saja terduduk di sofa, dirinya di kagetkan dengan Suara pintu yang tertutup dengan keras dan langkah kaki yang menggema


" Jeams Sepertinya Tamu Tuan Niko sudah pergi"


"Mari nona saya antarkan


Tok tok


Jeams langsung membukakan pintu untuk Biana


" Silah kan Nona"


"Maaf tuan, Ada nona Biana" Ucap Jeams pada Niko yang membelakanginya


"Hai Bia "Seru Niko tersenyum

__ADS_1


"Jeams kau panggil Dev di ruangan IT" Suruh Niko pada asistennya


"Dev sedang di bawa ke ruangan IT oleh sekretaris ku, sudah lama menunggu" Tanya Niko, Biana hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya


"Kamu mendengarkan semuanya"


"Tidak" jawab Biana singkat, Tanpa melihat kearah Niko, dirinya menunduk seakan enggan untuk menatak Niko


"Biana"


"Yaa"


"Lihat Aku" Ucap Niko, Biana pun menatap Niko, dan tersentak saat Wajah Niko berada di hadapannya


"Kenapa sampai keningmu terluka" tanya Niko


"Bukankah kamu dengar ucapanmu tadi pada Devan" jawab Biana


"Jangan berbohong Bia, aku tahu apa yang terjadi"


"Jika memang sudah tahu kenapa masih bertanya"


"Dan jangan perhatian lebih terhadapku, kita tidak ada hubungan apapun, Aku tidak ingin menimbulkan gosip"


Niko mengangkat sudur bibirnya mendengar perkataan Biana


"Jadi kamu menginginkan lebih dari hubungan kita" Ucap Niko tersenyum, Biana Sendiri merasa terjebak oleh ucapanyanya sendiri


"Yaa Ti tidak" Jawab Biana


"Serius" Ucap Niko memastikan, Biana hanya mengangguki ucapan Niko


"Sayangnya kamu tidak pandai Berbohong Biana" Ucap Niko, Biana langsung menatap tajam pada Niko


"Aku mengatakan yang sebenarnya kalau aku tidak akan lagi menjalin hubungan dengan Siapapun, termasuk kamu" Ucap Biana tajam,


Ucapan Biana membuat Niko terdiam,


Mereka Kini hanya terdiam tanpa ada yang bersuara, Biana yang merasa di diamkan oleh Niko sedikit kesal karena dirinya merasa tidak ada yang salah dengan ucapanya,


"Aku tidak salag berkata, tapi kenapa dia kesal"Gumam Biana lirih, Namun Niko masih bisa mendengar samar ucapan Biana


Ceklekk


"Ibuuu" Seru Dev saat masuk kedalam ruangan Niko langsung berhambur ke pelukan Ibunya


"Dari mana saja, ko lama banget maennya, pasti nakal yah di sana, gangguin uncle auntie yg lagi pda kerja hmm" Ucap Biana


"Aku tidak nakal Bu, Kalau aku nakal nanti aku ga di ajak ke sini lagi" Ucap Dev dan memandang Niko yang terseyum padanya


"Boyy Bagaimana kamu suka" Ucap Niko yang mendekati Dev dan duduk untuk mensejajarkan tingginya dengan Dev


"Suka Uncle Daddy, boleh kan aku kapan kapan main ke sini lagi" Ucap Dev


"Boleh dong kapanpun dev mau ke sini" jawab Niko


"Tapi Dev, kantor bukan tempatnya bermain tapi buat bekerja, jadi ga harus sering sering ke sini ok" Jelas Biana


"Yes Bu" Jawab Devan


"Uncle Daddy" Panggil Dev


"Emmm, Uncle maukan jadi ayah Dev" Ucap Devan tertunduk diringa merasa takut akan ucapanya


Biana tersentak akan ucapan Anaknya,


Niko tersenyum mendengar ucapan Devan


"Sekarang pun Uncle sudah menjadi Ayah buat Dev, Karena Devan juga sudah menjadi anak Uncle" Ucap Niko memandang Biana sekilas


"Benarkah, jadi Uncle bakalan tinggal bareng Devan sama ibu" Tanya Dev


"No sayang, Uncle Niko sudah menganggap Dev seperti anaknya, tapi bukan berarti Harus tinggal bareng kita, kan Uncle Niko punya rumah sendiri yang harus di tempatin" Jelas Biana, Devan pun cemberut mendengar ucapan ibunya


"Tapii temen sekolah aku, dia Katanya punya ayah baru dan tinggal bareng sama dia dan bundanya, tapi kenapa Uncle ga boleh tinggal bareng sama kita Bu" Ucap Dev lirih


"Karena Bunda sama ayah barunya temen dev sudah menikah jadi boleh tinggal bersama" Jelas Biana


"Ya sudah kalau begitu, Ibu sama Uncle Daddy menikah saja" Ucap Devan, Biana tersedak mendengar perkataan yang terlontar dari Anaknya, sedangkan Niko menahan senyum karena Biana terjebak dalam Argumen dengan anaknya


"Dev ini sudah hampir malam, ayo kita pulang, kamu kan belum istirahat, nanti kecapean sakit Gimana" Biana langsung mengajak Anaknya pulang, dirinya tidak ingin memperpanjak obrolannya dengan Anaknya


"Tapi Uncle Daddy harus anterin"


"No sayang, uncle Niko sedang... "


"Ayo Daddy Antar, Daddy juga mau pulang jadi kita bareng oke" Ucap Niko memotong ucapan Biana dirinya sudah tahu apa yang akan Biana ucapkan selanjutnya


"Bener yeeyy" Dev merasa gembira karena pulang bersama Niko, Biana kembali hanya bisa pasrah, dirinya lebih baik mengalah dari pada harus mendapatkan kemarahan lagi dari anaknya


"Tapii ada syaratnya" Ucap Niko


"Apa Uncle"


"Panggil Uncle denga sebutan Daddy karena mulai sekarang Dev sudah jadi anak Daddy"Ucap Niko tersenyum, dan mendapatkan teguran dari Biana


"MAS" Ucap Biana sedikit meninggikan suaranya


"Siap Daddy" jawab Dev senang, lalu berjalan ke luar Ruangan Niko, Biana hanya bisa melihat kebahagiaan Dev saat memanggil Niko Daddy


"Apa Dev mengingkan sosok seorang Ayah" gumam Biana

__ADS_1


.


.


__ADS_2