
"Maaf sayang, ibu tadi agak sibuk sampai lupa jemput kamu" Biana sedang merayu anaknya yang sedang merajuk karena tidak di jemput olehnya
Niko yang sejak awal terdiam tanpa ekpresi menatap ke arah mereka, kini mendekatdan ikut berbicara pada Dev, dan membuat bocah kecil yang sejak datang terus menunduk tanpa melihat ke arah ibunya,
"Dev kamu tidak kasihan melihat kening ibumu" ucap Niko, Dev pun langsung mengangkat kepala dan menatap ke arah ibunya
"Ibu you ok " Tanya Dev yang baru sadar tampak khawatir dan mengusap kening ibunya,
dirinyna yang mendengar ucapan Dev tersenyum, sejak kapan anaknya berbicara pakai bahasa English
"Yes i'am fine boy" jawab Biana dengan tersenyum
"Kenapa dengan kening ibu, apa ibu terlalu sibuk sampai membuat kepala ibu sampai harus di perban" Tanya Dev dengan polosnya
"Tidak sayang, tadi ibu waktu jalan ngga sengaja nabrak dinding ekh malah jadinya seperti ini" Ucap Biana berbohong, Niko terus memperhatikan setiap ucapan Biana, dirinya tahu jika Biana sedang berbohong dan menyembunyikan sesuatu, karena terlihat dirinya yang terus menghindari tatapan Niko,
Niko ingin bertanya pada Biana namun melihat Devan yang masih susah di bujuk olek ibunya akhirnya dia mengurungkan niatnya
"Ibu harus hati hati kalau kerja, nanti kalau ibu sakit siapa yang ngurusin Devanio, siapa yang bakalan bikinin makanan buat Aku, Kan Kakek sama Nenek jauh, datengnya masih lama, jadi ibu ga boleh sakit" Ucap Dev dengan raut sedih
"Ulu uluu anak ibu, udah besar sekarang yah" ucap Biana lalu memeluk anaknya
"Jadi kalau Kakek nenek udah dateng ibu boleh sakit gitu" Goda Biana, Dev hanya berdecak dan memutar malas bola matanya
Niko tersenyum melihat Biana dan Dev kembali akur lagi, dirinya ikut mengusap kepala Dev yang saat ini sedang dalam pelukan Ibunya
"Emm Uncle Daddy, Apa kita jadi pergi" Tanya Dev menatap pada Niko
"Jadi dong, tapi kamu harus ijin dulu sama ibumu" icap Niko
"Ibu, apa ibu ngijinin" tanya Dev, Biana menatap Niko seakan bertanya padanya
"Em Bia aku akan mengajak Devan ke kantorku" Ucap Niko tersenyum sembari menggarung tengkuk kepalanya yang tidak gatal,
"Tapi mas, nanti Dev malah ngganggu kerjaan kamu di sana" Jawab Biana menatap Niko dan Dev bergantia sedangkan anaknya terlihat cemberut mendapat jawaban darinya
"Tidak masalah, lagian kerjaanku hari ini lenggang, aku ingin mengajak dia kekantorku agar bisa tahu suasana orang yang bekerja di kantor, dan aku pastikan Dev tidak akan mengganggu, bukan begitu Boy" jelas Niko yang langsung mendapatkan anggukan antusias dari Devan
"Ya Bu aku janji aku ga bakalan nakal di sana, lagian aku juga bosan tiap. hari di restoran" Ucap Dev dengan senang
Biana menghela nafas dan akhirnya mengijinkan anakya untuk pergi ke kantor Niko
"Hmm baiklah tapi ingat jangan nakal sama Uncle Niko ok"Ingat Biana
" Yes Bu, Dev ga bakalan nyusahin Uncle Daddy" Ucap Dev, Niko tersenyum senang kala mendapatkam ijin dari Biana
"Ok Boy, karena sudah mendapatkan ijin dari ibumu, sekarang kita berangkat" Niko pun berlalu dari ruangan Biana bersama Devan yang ada gandengannya
__ADS_1
"Nanti Ibu jemput ok" teriak Biana pada anaknya yang sudah akan menuruni tangga
"Ok Buu" Jawab Dev lalu melampaikan tangannya
"Hhmm Aku harus bicara sama Devan, agar mengganti panggilanya pda Niko" Gumam Biana
Tok Tok
"Masukk"
"Ada apa Ras" Tanya Biana pda Laras orang kepercayaan di restorannya
"Ada yang ingin bertemu dengan anda bu, Tuan Richard Investor yang akan bekerja sama dengan restoran Kita" Jelas Laras
"Wah benarkah kenapa cepat sekali datangnya, Laras kamu bawa Beliau ke ruang khusus tamu" Suruh Biana pada Laras,
"Siap Bu" Jawab Laras dan Berlalu keluar dari ruangan Biana,
"Maaf Bu" Ucap kembali Laras yang masih berdiri di pintu masuk
"ya Laras" Jawab Biana, lalu memandang asistenya
"Yang tadii"
"jangan mulai Ras" Seru Biana
"Larasss awas nanti yah" Pekik Biana, Laras yang mendengar teriakan bosnya hanya bisa tertawa,
dirinya merasa senang karena bisa menjahili lagi bosnya, karena semenjak kepulanganya dari maldives, Biana terlihat berbeda kadang sering uring uringan,
🌹🌹🌹
"Bagaimana ini bisa terjadi Riko" ucap Suara laki laki yang sedang memandang penuh amarah pada Riko
"kecelakaan" Jawab Niko singkat
"Kecelakaan kamu bilang hah, berapa kali papi bilang untuk berhenti minum minuman dan menggoda wanita Rik, kali ini kamu kena getahnya sendiri bukan, dan itu sekretarismu sendiri" Laki laki yang sedang berbicara dengan Riko adalah ayahnya Hendra Prajaya,
Hendra Prajaya mendapatkan laporan jika anak laki lakinya itu telah menghamili sekretaris nya, dari orang suruhanya yang selalu mengawasi Riko, dirinya lebih emosi saat tahu Riko berusaha menggugurkan Anaknya sendiri, Cucu pertama dari keluarga Prajaya.
"Sudah lah Pi, sejak kapan Papi peduli denganku, Urus saja istri dan anakmu itu jangan pedulikan aku ataupun kaka" Seru Niko tidak kalah Emosi
"Bagaimanapun kamu anakku penerus Prajaya, bagaimana bisa aku tidak mempedulikan saat anakku membuat kesalahan fatal yang membuat keluarga malu"
"Hahh, Malu sejak kapan papi mempunyai rasa malu, Jika Papi mempunyai rasa malu papi tidak akan papi menghamili wanita lain dan membuat mommy pergi. meninggalkan aku dan juga kakak
Plaakkk
__ADS_1
Riko langsung mendapatkan tamparan keras dari Ayahnya,
" Bahkan Begitu sengaja menyakiti Anaknya" Ucap Riko dingin
Hendra merasa bersalah karena sudah menampar anaknya sendiri, yah baru pertama kali dirinya menyalangkan pukulan pada anaknya
"Maa maaf Riko"
Hendra mendekat pada Riko lalu memegangi pundak anaknya
"Jangan pernah menyentuhku walau tidak sengaja" Ucap Riko tanpa Ekspresi, dan menyingkirkan tangan ayahnya dari pundaknya
Hedra tersentak akan ucapan Anaknya, dirinya merasa Riko berbeda, yah tidak seperti Riko anaknya yang selama ini dia kenal, tidak seperti Riko yang selalu merengek meminta uang padanya,
Riko yang di hadapannya saat ini terlihat begitu dingin, tatapannya yang begitu tajam
"Papi tidak bermagsud menamparmu Rik" Ucap Hendra
"Jika tidak ada perlu lagi keluarlah" seru Riko dingin tanpa memandang ayahnya
"Masalah anak itu tenang saja, aku akan bertanggungjawab" Riko pun langsung berlalu meninggalkan ayahnya, dirinya sudah begitu sangat emosi, kenapa sampai ayahnya mengetahui masalahnya,
"Mark, kau cari tahu siapa yang sudah memberi tahu papi, dan bunuh saja dia"Perintah Riko pada Mark asistennya lalu mematikam panggilannya
Siaalllll
Riko begitu emosi, lalu membantinh semua barang yang ada ruanganyaa
" Jika memang kamu Ka yang memberi tahu papi, akan aku hancurkan perusahaanmu" Seru Niko
,
,
,
,
,
,
Seru gaa hehehe
semoga tambah suka yah guys sama novelku ini
terima kasih sudah baca, semoga sehat selalu
__ADS_1