Wanita Itu Istri Tercintaku

Wanita Itu Istri Tercintaku
Mencoba Menerima 2


__ADS_3

"Bagaimana keadaannya Dok" Tanya Riko pada dokter


setelah beberapa jam Siska di tangani


"Keadaan ibunya baik tapi janinnya lemah, jadi tuan pesan saya agar sang ibu tidak terlaly stres karena ini beresiko besar pada janinnya" Ucap Dokter, Rimo menghela nafasnya, Dirinya masih bersyukur jika keadaan anaknya masih terselamatkan


"Baik dok, terima kasih, apa sekarang boleh saya mauk"


"Sialahkan Tuan, Tapi ingat pesan saya tadi jangan membuat pasien stres" kata dokter pada Riko, dengan wajah serius,


saat sang dokter menangani Siska, dirinya melihat bekas cekikan di leher Siska, namdun saat dokter bertanya padanya Siska menepis jika itu tindak kekerasan


"Baik Dok" Riko pun berjalan masuk menemui Siska yang menemui Siska yang sedang tertidur


"Maafin papa yah sayang, papa hampir saja melukaimu" Ucap Riko sembari mengusap perut Siska,


Siska yang merasa ada pergerakan di perutnya, terbangun dan melihat jika Riko sedang mengusap perutnya


"Ri Riko" Seru Biana tersetak, dan berusaha bangun dari tidurnya


"Jangan bergerak dulu berbarinh saja"Ucap Riko


" Kamu mau apain aku lagi Rik setelah ini" Tanya Siska dengan ketakutan, Riko menghela nafas melihat raut wajah Siska yang ketakutan padanya, dia pun meraih tangan Siska dan menggenggamnya


"Maaffin aku Sis, karna perbuatanku kamu Anakku hampir saja celaka" Siska masih tidak percaya pada Riko yang meminta maaf padanya dan dengan suara lembut bukan dengan suara yang kasarnya


"Kamu kenapa Rik"masih tidak percaya atas ucapan Riko


"Aku tidak apa apa, aku berjanji akan melindungi kalian dan berusaha kehadiran anak ini, Mari kita percepat pernikahan Kita, agar aku bisa selalu mengawasi perkembangan anak ini"Kata Riko sembari mengelus perut Siska, Siska merasa Bahagai atas apa yang Riko katanya,


"


Riko berarti sudah mau menerimku dan anakku, Apa aku sedang mimpi, oh tuhan terima kasih sudah membuat lelaki yang aku cintai mau menerimaku, dan terima kasih baby berkatmu kita bisa hidup bersama papamu" Gumam Siska tersenyum dan ikut mengelus perutnya


"Setelah kamu sehat, kita pulang dan urus pernikahan Kita"


"Benarkah" Tanya Siska bahagia, Riko mengangguki


"Bolehkah aku minta sesuatu" Ucap Siska


"Apa"


"Aku ingin pernikahan kita di adakan dengan meriah, kamu tahu bukan pernikahan itu sangat berarti bagi kaum wanita, apalagi akan Menjalaninya satu kali dala hidupnya, aku ingin pernikahan kita semua keluarga kita tahu, dan aku juga ingin mengundanh teman masa sekolah dan kuliahku dulu"Ucap Siska tertunduk, dirinya takut jika Riko akan marah atas permintaannya


"Tidak, Sis aku tidak ingin terjadi sesuatu pada anak kita" Tolak Riko, mendengar penolakan Riko membuatnya berkaca kaca,


Riko pun menghela nafas panjang


"Oke jika itu mau kamu, tapi ingat jangan sampai kecapaian ataupun terjadi apa apa pada anakku" Ingat Riko, Siska kembali tersenyum dan memelul Riko, membuat Riko merasa risih dan segera melepaskan pelukan Siska


"Istirahat lah, aku akan kembali kesini sepulang kerja" Ucap Riko lalu pergi meninggalkan Siska


"yeeeyyyy, akhirnya satu langkah lagi aku akan menjadi istri Riko dan akan menjadi Nyonya Di keluarga Prajaya, dan kamu sayang bakalan menjadi pewaris di keluarga Prajaya" Ucap Siska mengelus perutnya


"Ck Biana akhirnya kali ini aku yang menang"

__ADS_1


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


"Daddy, Besok nenek sama kakek bakalan ke sini, terus mau tinggal bareng sama Devan sama ibu samaaa daddy juga heheheh" Seru Devan pada Niko yang sedang menganggandengnya keluar dari lift apartemen Biana


"Benarkah, kamu senang kakek sama nenek datang ke sini" Tanya Niko


"Senang dong, nanti aku mau nunjuki mainan yang daddy beliin buat Devan, Biar kakek tau kalau mainan aku bagus bagus, di rumah juga bagus kakek yg Buat sendiri pake kayu" Jelas Devan, Niko terseyum dan mengacak rambut Devan


Klik


"Ayo masuk, Mas mau makan apah" Yah sudah menjadi kebiasaan Biana untuk memasakan makan siang ataupun malam saat Niko ke apartemennya


"Aku sepertinya makan di kantor saja, ada berkasa yang harus aku tanda tangani gapap kan" Ucap Niko


"Bener makan di kantor bukan di.. "Goda Biana dengan menaik turunkan alisnya


" Ck, makan di kantor, kalau ga percaya nanti hubungin aja jeams"Seru Niko sembari mengacak rambut Biana


"Hati hati yah" Niko menganggukan kepala


"Boy, Daddy harus kembali ke kantor, ga bisa nemenin kamu makan siang, kemungkinan sampai malam, jadi nanti ga usah nungguin Daddy oke" Pamit Nikoo pada Dev yang baru saja kelaur dari kamarnya


"Yah padahal aku masih pengin main sama daddy"Devan cemberut saat Niko tidak bisa makan siang bersamanya


"Besok besok kan bisa sayang" Biana merayu Devan supaya tidak marah


"Oya nanti kita telfon nenek aja gimana, kita tanya besok sampainya jam berapa, Devan mau ikut jemput ga ke stasiun" Ucap Biana berusaha mengalihkan perhatian Dev


"Ikut Dong, aku mau ikut jemput nenek sama kakek, Daddy mau ikut kan" Tanya Dev pada Niko, Niko tersenyum dan mengecup kepala Dev


"iyah besok Daddy ikut, sekarang daddy pergi dulu yah"


"Ok Boy, sayang aku pergi dulu, kalau terjadi sesuatu kabarin langsung, hati hati di rumah" Ucap Niko dan mengecup kening Biana


"Iyahh, udah sana hati hati" Niko menganggukan kepala dan keluar dari apartement Biana


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


"Ras, kamu merasa ga kalau Biana menjalin hubungan lebih sama Niko" Tanya Anaya yang saat ini sedang duduk di restoran


"Mba belum tahu apah" Ucap Laras


"Tau apah" Tanya Anaya penasaran


"Yahh ketinggalan berita nih" Kekeh Laras, dan itu membuat Anaya sangan penasaran


"Berita apa, perasaan dari kemarin aku kesini juga ga ada kabar panas ataupun apa gitu" Kata Anaya


"Emang Berita apa"


Laras melirik kanan kirinya seakan mengecek jika tidak ada seseorang di sekeliling mereka


Bugh


Larasa tersentak karena Anaya memukul Meja

__ADS_1


"Ni anak bukannya jelasin malah kaya maling takut ketahuan" Cerocos Anaya membuat Laras berdecak


"Sabar atuh, aku lagi mastiin ada orang yang lagi nguping ga" Gerutu Laras


"Udah cepetan ga sabar Nih"


"Dasar, sene mendekat" Ucao Laras agar Anaya mendekatkan tubuhnya


"Sepertinya Mba Biana sudah di pinang sama Mas Niko"


"WHAATT" Teriak Anaya


BUGHH kini giliran laras yang memukul meja


"Sialan Lo, gatet tau" Seru Anaya


"Brisiikk" Ucap Laras


" ekh kamu tau dari mana, jangan Bikin gosip loh ya, bisa di tendang lo dari sini" Seru Anaya


"Aku ga gosip mba tapi aku ngeliat sendiri"


"Lo ngeliat ngasihnya gitu"


"Bukan tapi aku lihat ininya" Ucap laras sembari menggerakan jarinya


"Siapa tau ras itu cincin lama" Ucap Laras


"Ga lama mba itu baru beberapa hari ini,


aku tahu betul Mba Biana itu paling ga demen sama yang namanya perhiasan, dia paling cuma pake Jam tangan, Risih katanya" Jelas Laras


"Masa sih, Coba deh aku ke apartemennya dia ga ke sini kan kalau habis jemput Dev" Tanya Anaya


"Biasanya kesini langsung cuma ini beberapa hari ga kesini, paling kalau sore ke sini itu juga jarang" Jelas Laras


"Yaudah Cabut yah, aku mau ke Biana mau mastiin kalau beneran itu terjadi, bakalan aku goreng tuh anak" Ucap Anaya sembari berdiri dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan Laras


"Hati hati, Oyy mba ada yang ketinggalan Nih" Teriak Laras, Anaya pun langsung berbalik badan dan mengangkat dagunya seakan bertanya


"Belum bayar" Kekeh Laras


"Sialan Lo, ngutang dulu" Seru Anaya lalu kembali berjalan keluar


"Ck cuma dia doang mungkin di restoran ngutang, untung nih restorannya Sendiri, up maksudnya bekas restorannya, coba kalau di restoran orang lain surub cuci piring tuh orang " Gumam Laras


"Novi" Panggil Laras pada salah satu pelayanannya


"Iyah Bu" Ucap Novi mendekat


"kamu hitung Bonnya terus simpan, kumpulin yah" Laras memberikan secarcik kertas Bon makanan pada Novi


"Ckckkc sekali kali ngerjain Sultan" Kekeh Laras lalu meninggalkan Novi yang masih bingung


,

__ADS_1


,


,


__ADS_2