
Arman mengemudikan mobilnya dengan perlahan. jika benar Raisya hamil tentu saja anak itu adalah anaknya. Arman tidak bisa menggambarkan perasaannya saat ini. di satu sisi ia bahagia namun disisi lain ia masih belum dapat memaafkan perbuatan Raisya.
Raisya turun dari mobil dan melangkah menuju apotek ia membeli sebuah alat test kehamilan.
sesampai dirumah lekas Raisya ke kamar mandi.
Arman menunggu dengan dada berdebar.
setelah menunggu lima menit Raisya mengambil alat test kehamilan tersebut. nampak dua garis samar terpampang disana. Raisya menutup mulutnya. rasanya tak percaya ia hamil. ada sedikit ketakutan dalam hatinya. mengingat sudah berapa kali bandot tua tersebut memakainya tanpa pengaman. tapi ia kembali menentramkan hatinya. setidaknya Arman pernah menyentuhnya. jadi ia harap Arman tak curiga sedikitpun.
Raisya membuka pintu kamar mandi. ia memeluk Arman."mas aku hamil"ucap Raisya.
hati Arman membuncah bahagia. membayangkan akan memiliki anak memberikan perasaan hangat di hatinya. dipeluknya raisya seolah dia telah melupakan semua kecewanya pada Raisya.
"terimakasih karena sudah memberiku seorang anak"Arman mengecup kepala Raisya.
Raisya merasa terbang ke awan.tiba tiba ponsel Arman berbunyi.tertera nama ibu di layar. lekas Arman menjawabnya."assalamualaikum bu"jawabannya.
(kau dimana man?acara nya sudah selesai.kau malah tidak ada.ini kami sudah siap untuk pulang)
"maaf Bu Arman tidak bisa kesana. Arman menunggu dirumah saja ya. ada hal gembira yang ingin Arman sampaikan"ucap Arman lalu menutup teleponnya.
****
Bu Mona menatap ponselnya. ada apa dengan Arman fikirnya.kenapa dia selalu mengecewakan Zahira.
"kenapa Bu?"tanya Zahira.
"ini Arman bilang ia tak bisa kembali kesini dan dia bilang ada kabar bahagia untuk disampaikan"ucap Bu Mona.
Zahira tersenyum getir."sudahlah Bu tak apa. ayo kita naik taksi online saja"Zahira lalu memesan taksi online. perasaannya terasa tak menentu.
sesampainya dirumah. tanpa meminta maaf pada Zahira atau ibunya Arman malah datang menggandeng Raisya. Bu Mona dan Zahira nampak berpandangan.
"Bu, Arman ingin menyampaikan berita gembira. Raisya saat ini tengah hamil."ucap Arman tak berhenti tersenyum.
Zahira menatap Arman. masih terbayang bagaimana Janji Arman dahulu untuk memulai rumah tangga utuh dengannya, moment saat Arman menangis meminta Zahira untuk tidak pergi dan mengatakan dirinya dijebak. namun semua itu hanyalah omong kosong belaka. lihatlah lelaki ini sekarang sedang tersenyum sambil memeluk madunya didepan matanya.
"Bu mengapa ibu diam saja?sepertinya ibu tidak bahagia"ucap Arman heran melihat ibunya hanya diam tanpa reaksi apa apa. seolah memiliki cucu bukan suatu kebahagiaan untuknya.
"lalu ibu harus apa. haruskah ibu salto salto lalu bilang WOW. apakah kau yakin anak yang dikandungnya adalah anakmu?"cecar Bu Mona.
Raisya yang mendengarnya menjadi pias. tidak boleh. Arman tidak boleh bimbang. maka ia langsung memainkan perannya.
"Bu apa maksud ibu Bu. ini calon cucu ibu Bu. tak masalah jika ibu membenciku tetapi jangan bayi dalam kandunganku"Raisya memulai dramanya.
Arman yang mendengar Raisya menangis. emosi nya memuncak."Bu kenapa ibu seperti ini. Arman tahu ibu sangat menyayangi Zahira. namun hal itu jangan membuat hati ibu menjadi buta!"ucap Arman kesal.
__ADS_1
Bu Mona terkejut. baru kali ini Arman membentaknya. hanya karena wanita jadi jadian seperti Raisya. entah mengapa perasaanya mengatakan jika itu bukanlah cucunya.
"Arman kau tega berbicara keras kepada ibu?"tanya Bu Mona tak percaya. matanya sudah mulai berkaca kaca.
"iya Bu!aku bahkan bisa bersikap lebih dari ini!jika ibu terus menyakiti ibu dari anakku!mulai sekarang aku akan menjaga istri dan calon anakku!"tegas Arman.
airmata mengalir diwajah Bu Mona. lihatlah anakmu pak. sekarang ia sudah berani membentak ibunya sendiri.
"cukup mas!!!!. jagalah istri dan anakmu!!!!aku yang akan menjaga ibumu!!!!"Zahira tak tahan melihat Bu Mona diperlakukan seperti itu oleh Arman.
Arman hanya diam memandang Zahira. entah mengapa Zahira terlihat sangat kuat kali ini dan ia tak mampu melawannya. memandang Zahira masih membuat jantungnya berdetak kencang.
Raisya menyadari itu."aduh mas. perutku terasa keram"rintih Raisya. lekas Arman memegang perut Raisya."Ayo kita ke dokter kita periksakan dulu anak kita"ucap Arman.
"Bu Arman minta tolong Bu. raisya sedang mengandung. jadi bersikaplah sedikit lunak padanya."ucap Arman sebelum pergi.
Bu Mona hanya diam saja. Zahira pun mengajak Bu Mona untuk ke kamar."za jika ini terlalu berat untukmu. maka ibu tak akan memintamu mengantarku untuk tinggal disini"lirih Bu Mona.
"Bu bagi Zahira sekarang ini hanya ibu yang menjadi prioritas Zahira. mengenai mas Arman Zahira sudah tidak perduli Bu. sudah berkali kali mas Arman mematahkan hatiku. sudah cukup hal itu benar benar mematikan hati ini untuknya. za ingat pesan bapak untuk menjaga ibu. apalagi mengingat sikap mas Arman barusan. za takut tidak ada yang melindungi ibu ketika za pergi dari rumah ini"ucap Zahira.
"terimakasih nak. terimakasih banyak. ternyata Allah memiliki alasan untuk menghadirkan kau dirumah ini."
****
Zahira menghapus airmata dipipinya. bohong jika ia tak merasakan sakit. hatinya sakit teramat sakit. ia ingin menangis namun hanya untuk malam ini. esok dia akan bangkit dan membuktikan jika dirinya mampu dan bisa bertahan dengan segala keadaan menyakitkan ini.
****
hari ini Zahira akan interview disebuah perusahaan pembiayaan yang sudah memiliki banyak anak cabang yang tersebar di setiap kota di Indonesia. Zahira mengajukan diri menjadi sekretaris CEO. sebelumnya ia telah melalui tahap seleksi berkas. kemudian interview secara online dengan HRD perusahaan tersebut. kemudian dilanjutkan dengan psikotest melalui online juga. dan setelah melalui semua seleksi tersebut. barulah Zahira dipanggil untuk melakukan interview secara langsung dengan CEO perusahaan tersebut.
Arman nampak terpesona melihat Zahira. Raisya sampai harus menyenggol lengan Arman beberapa kali.
Raisya semenjak hamil jadi tidak suka mengurus dirinya sendiri. terlihat pagi ini ia masih memakai daster dengan rambut acak acakan. membuat yang melihat pun menjadi risih. Arman tidak bisa protes karena Raisya bilang itu adalah bawaan bayi.
"interview dimana za?*tanya Arman.
"di PT sinar mentari sepadan finance mas. aku melamar sebagai sekretaris."jawab Zahira.
Bu Mona tidak bertanya karena Zahira selalu bercerita dengannya. ia malah risih melihat penampilan Raisya di meja makan. namun hanya dipendamnya ia tak mau ribut lagi dengan Arman.
"wah itu perusahan yang cukup bonafit za. semoga kau diterima"ucap Arman tulus.
"terimakasih mas"jawab Zahira.
"ayo ku antar"ucap Arman.
"apa apaan sih mas. anak didalam kandunganku tak suka jika kau mengantar wanita selain ibunya."kembali Raisya menggunakan anaknya sebagai senjata.
__ADS_1
Zahira hanya tersenyum miring."tidak usah mas aku membawa mobil sendiri saja"ucap Zahira beranjak dan mencium tangan Bu Mona sebelum berangkat.
****
sesampai di kantor tersebut. Zahira langsung menuju ke meja resepsionis Dan menunjukkan undangan interview di emailnya yang ada di ponsel.
resepsionist langsung mengarahkan Zahira untuk naik kelantai 5 tempat ruangan CEO berada.
ketika keluar dari lift Zahira melihat sudah ada 3 calon kandidat selain dirinya.
gugup merajainya. apalagi dia belum memiliki pengalaman bekerja di manapun. Zahira pun duduk di bangku tunggu.
selama menunggu ia mensugesti Jika dirinya layak dan mampu bersaing dengan yang lain.
"nona zahira Luna"nampak seorang lelaki muda tampan keluar dari ruangan CEO.
Zahira lekas berdiri. ia berdoa terlebih dahulu di dalam hati.
"silahkan masuk"lelaki tersebut mempersilahkan Zahira masuk.
"bos nona zahira sudah siap untuk diinterview."pria tersebut menginterupsi bosnya yang nampak fokus pada ponselnya.
"baiklah mari kita lakukan"sahut sang CEO sembari mengangkat wajahnya dan menatap Zahira.
Mikail Zayn nectario altair. sang CEO muda yang banyak digandrungi kaum hawa. tidak bisa mengedipkan matanya ketika melihat Zahira. apakah ini cinta pada pandangan pertama. fikirnya. wanita dihadapannya mampu menyihirnya.
"bos!silahkan mulai proses interviewnya!"Alfarizi menyadarkan bosnya yang nampak terang terangan terpukau pada calon sekretarisnya.
"ehem ehem"Zayn batuk batuk untuk meredakan gugupnya. ia menarik nafas untuk menguasai dirinya. bukankah seharusnya wanita ini yang gugup mengapa malah dirinya. sungguh tidak profesional sekali. fikirnya.
"baiklah nona zahira Luna silahkan duduk"ucap Zayn sembari tersenyum.
Zahira menarik bibirnya. ternyata CEO yang ditemuinya tidak seperti cerita cerita yang sering ia baca. sosok di depannya terlihat sangat ramah. tidak dingin dan tidak terlihat kejam. Zahira mengucap syukur alhamdullilah di dalam hatinya.
Zayn mulai membolak balik resume milik Zahira. hatinya langsung mencelos begitu membaca status zahira. tertera disana statusnya adalah kawin.
****! dia sudah memiliki suami. gerutu Zayn.
akhirnya Zayn berusaha profesional melakukan interview dengan Zahira.
sampai ketika akhirnya Zayn berkata"baiklah kau ku terima. mulai besok kau bisa mulai sebagai sekretarisku."ucap Zayn.
Alfarizi membolakan matanya. namun ia hanya diam saja. sifat Zayn yang impulsif kembali muncul saat ini.
Zahira merasa tak percaya mendengarnya."terimakasih banyak pak. saya akan berusaha bekerja dengan sebaik baiknya"ucap Zahira dengan Mata berkaca kaca.
membuat Zayn semakin gemas menatap sekretaris barunya. akhirnya ada yang membuatnya semakin bersemangat untuk berangkat ke perusahaan.
__ADS_1
****