
Selesai perkuliahan. Zahira melihat ke ponselnya ternyata Zizi mengiriminya pesan. Zizi mengajaknya bertemu. Memang setelah pertemuan mereka di gallery mereka menjadi lebih akrab.
(za. hari ini ketemu yuk. kakak ingin ngobrol denganmu)pesan Zizi.
"baiklah kak. Tetapi za mau ke minimarket dulu ya kak. Za mau mengurus surat pengunduran diri Za dulu ya. nanti za kabari Jika sudah selesai urusan za." balas Zahira.
(baiklah)balas Zizi.
****
Sesampainya di minimarket tempatnya bekerja. Zahira langsung menuju ke ruangan atasannya. untuk menyerahkan surat pengunduran diri yang sudah disiapkannya. Tadi Zahira mampir ke rental dekat kampusnya untuk mengetik surat pengunduran diri.
Atasannya sebenarnya keberatan Zahira mengundurkan diri. karena penjualan selalu baik ketika jam Zahira menjaga kasir. banyak pria muda yang datang ke minimarketnya. Namun ia juga tak bisa menghentikan keinginan Zahira. kebetulan memang di minimarketnya telah disiapkan karyawan yang bisa menggantikan kasir jika terdapat kasus seperti ini. jadi hari ini Zahira bisa segera keluar dari pekerjaannya.
Ada rasa sedih menghampiri Zahira, karena bagaimanapun dengan bekerja di minimarket ini zahira bisa mandiri dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Bahkan terkadang ia bisa membeli jajanan untuk Adik adiknya di panti.
"kak aku sudah selesai. mari kita bertemu"Zahira mengirimkan pesan kepada Zizi.
Zizi lalu mengirimkan map cafe tempat mereka bertemu. Zahira ingat dengan nama cafe ini. di cafe inilah Arman membuangnya. Ingin menolak namun Zahira tak enak hati. Tak mungkin juga kan Arman selalu di cafe tersebut.
****
Zizi melambaikan tangannya ketika melihat kedatangan Zahira. Zahira lekas menghampiri Zizi. mereka berpelukan dan mencium pipi kanan dan kiri masing masing.
"sudah lama kak?maaf tadi za berpamitan dulu ke rekan rekan kerja za."tanya Zahira sembari duduk.
"za apakah Arman mwnyuruhmu mengundurkan diri?"tanya Zizi sambil meminum pesanannya. kebetulan dia sudah memesan untuknya dan Zahira. Zahira pun ikut saja apapun yang dipesankan Zizi untuknya.
"Sebenarnya ibu mbak yang menyuruh za berhenti. namun mas Arman juga mendukungnya."jawab Zahira.
"Mertuamu Dan Arman sangat menyayangimu ya za. kau beruntung sekali bertemu mereka"Zizi berkata sambil matanya melihat keluar. dan betapa terkejut nya ia melihat siapa yang baru masuk ke cafe.
"za bukankah itu Arman?. mengapa ia memeluk wanita lain?"tanya Zizi tak percaya.
Zahira menoleh ke arah pandangan mata Zizi. seketika matanya memanas. meskipun sudah tahu dan mencoba menerima tetap saja sakit hatinya melihat suaminya memeluk mesra pinggang wanita lain.
__ADS_1
Zahira hanya tersenyum kecut pada Zizi.
"ayo za kita hampiri mereka. kita maki maki perempuan penggoda itu!!!!"zizi terlihat marah.
Zahira menangkap tangan Zizi yang sudah akan berjalan mendekati mereka. lekas Zahira menarik tangan Zizi. "jangan kak za sudah tahu semuanya"ucap Zahira terisak.
Zizi tertegun dan duduk di samping Zahira. ia menatap Zahira dengan heran."bagaimana bisa za?katakan pada kakak apa yang sebenarnya terjadi padamu?"ucap Zizi sambil memeluk Zahira.
Zahira masih terisak dan Zizi membiarkannya untuk menumpahkan segalanya. Untung saja ia dan Zahira duduk dipojokan jadi Arman tidak melihat mereka.
Setelah merasa tenang. Zahira mulai menceritakan semuanya. Zizi mengepalkan tangannya. Zizi tak mengira jika Arman adalah pecundang.
"kenapa kau bersedia za. ini pasti sangat menyakitkan mu."ucap Zizi ikut menangis. dia mengusap usap punggung zahira. sungguh berat cobaan yang harus dihadapi Zahira.
"za tidak tahu harus bagaimana kak. pernikahan za baru sebentar sekali. za tidak mau membuat Bu Rima dan mertua za bersedih. mereka sangat baik pada za. biarlah za jalani saja. sampai akhirnya mas Arman melepaskan za."ucap Zahira. ia terlihat sangat pasrah dengan hidupnya. Menjadi anak yatim piatu Zahira sudah terbiasa tidak memiliki pilihan dalam hidupnya.
Zizi mendekap Zahira dengan erat. ingin rasanya ia membawa Zahira ikut saja tinggal bersamanya. namun itu tak mungkin. pasti Zahira juga tidak akan mau.
"za kakak ingin sekali menolongmu tapi kakak tak tahu caranya"Zizi memandang Zahira.
Zahira menggelengkan kepalanya."kakak sudah mau mendengarkan dan memeluk za disaat za sedih saja. sudah cukup membantu untuk za"ucap Zahira.
****
"za tidak apa apa Bu. tadi hanya sedih saja berpisah dengan teman teman di minimarket"kilah Zahira.
"oh yasudah. sebaiknya kamu mandi dahulu agar sedikit merasa segar"ucap Bu Mona.
"iya Bu. za naik dulu ya"Zahira pun melangkah dengan gontai. saat Zahira naik,Arman pun tiba dirumah. Arman mencium tangan ibunya.
"man, coba kau hibur Zahira. sepertinya dia sedih karena berpisah dengan teman temannya."ucap Bu Mona.
Arman hanya mengangguk kemudian naik ke kamarnya. ketika ia masuk ternyata Zahira sedang mandi. Arman pun menghempaskan dirinya di kasur samnbil bermain ponsel.
ceklek!!! pintu kamar mandi terbuka. Zahira yang tidak tahu jika Arman sudah pulang. terkejut melihat Arman sudah terbaring di kasur sembari menatapnya. saat itu Zahira hanya melilit tubuhnya dengan handuk.
__ADS_1
"kau sudah pulang mas?"tanya Zahira salah tingkah. ia pun langsung berlari ke lemari bajunya dan kembali berlari masuk ke kamar mandi. Zahira merutuki dirinya yang teledor. tapi sebenarnya kan tak mengapa. toh Arman halal untuknya.
Arman yang tertegun sampai tak menjawab pertanyaan Zahira. terbayang di kepalanya tubuh mulus Zahira dalam balutan handuk. kulitnya sangat putih dan mulus. Arman sampai menelan ludah jika mengingatnya. namun lagi lagi dia lekas mengalihkan fikirannya dengan melihat Poto Raisya diponselnya.
Zahira keluar kamar mandi dengan berpakaian lengkap. dia langsung keluar kamar tanpa menyapa Arman. Arman sampai heran sendiri. mengapa Zahira seakan menghindari dirinya.
ketika makan malampun Zahira lebih banyak diam. dia hanya menanggapi setiap obrolan dengan senyuman. meski begitu dia tetap meladeni Arman di meja makan.
"za besok pulang kuliah ikut ibu dan ayah ya. kami ingin memberikanmu hadiah pernikahan"ucap pak Rohmat.
Zahira menoleh"tidak usah pak. Bu. memiliki kalian sebagai mertua za. itu sudah menjadi anugerah untuk za"jawab Zahira sungkan.
Arman hanya diam mendengarkan. sebenarnya dia penasaran. apa yang akan diberikan oleh orang tuanya kepada Zahira.
"ibu dan bapak ingin membelikan mu mobil za. jadi za tidak perlu naik ojek ke mana mana"ucap Bu Mona.
Arman dan Zahira melongo mendengarnya.
"ya Allah Bu pak tidak usah. lagipula za tidak bisa menyetir."ucap Zahira.
"gampang saja nanti kau bisa kursus menyetir. atau kalau tidak aku akan mengajarimu"ucap arman sungguh sungguh dan tulus. ia berharap meski ia tak bisa mencintai zahira. setidaknya Zahira harus bahagia dengan cara lain. apalagi Zahira sampai saat ini selalu menurut pada permainannya.
"nah betul yang dikatakan Arman za. biar ibu dan bapak tidak khawatir. za terima ya"ucap Bu Mona.
Zahira tidak bisa berkata apa apa lagi selain menganggukkan kepalanya.
****
"za ini uang nafkahmu. tadinya ingin kutransfer tapi ku fikir lebih baik aku memberikan langsung padamu. ini uang nafkah pribadi untukmu. untuk keperluan rumah ini dan dapur sudah kuberikan pada ibu"ucap Arman sembari menyerahkan amplop tebal berwarna coklat.
Zahira menerimanya dan melihat isinya."ya ampun mas kenapa banyak sekali"Zahira melihat kertas yang mengikat uang tesebut. tertulis Rp. 10.000.000,-.
"tidak apa apa za. itu memang hakmu. lagipula ibu juga sebenarnya tidak mau menerima uang dariku karena nafkah dari bapak sudah sangat cukup untuk ibu. jadi ibu tidak mau menerima terlalu banyak dariku"jelas Arman. sebenarnya dengan memberikan uang itu pada Zahira. Arman berharap Jika bisa menebus segala kesalahannya pada Zahira.
Zahira pun tersenyum dan mengucapkan terimakasihm bukan karena nilai uangnya. tetapi Arman masih mau menghargainya.
__ADS_1
bukankah tak semuanya harus menjadi milik kita. mungkin saat ini Arman hanya bisa memberikan materi tapi tidak dengan hati. dan hal itu harus Zahira terima saat ini.
namun Zahira merasa harus tetap bersyukur meski hatinya sering merasakan sakit. uang dari Arman akan disimpannya dan ditabungnya. ia akan berhati hati menggunakan uang tersebut. mengingat kapan saja Arman bisa membuangnya jika ia sudah tak lagi berguna bagi Arman.