
...Kedepannya, jangan benci Nadya, Bagas, ataupun Hansel ya?...
...Cuma mengingatkan.🤭...
...Happy Reading......
...Jangan lupa jejaknya ya bestie...💕...
Pakai baju formal?
Pak Hansel: Ngga, pake baju santai aja.
Tepat pukul tujuh malam, pak Hansel memberi kabar melalui pesan jika dia sudah ada didepan kamar hotelku. Kami sempat bertukar pesan sebelumnya karena aku bertanya perihal pakaian. Aku yang masih malas bergerak, langsung berdiri mengambil ikat rambut dan mencepolnya asal. Disusul sweater rajut warna dusty pink yang aku gunakan untuk menutupi kaos putih polos yang aku gunakan, serta jeans tadi siang yang belum sempat aku ganti, aku berjalan keluar menuju pintu.
Setelah pintu terbuka, aku mendapati pak Hans juga memakai baju santai berupa kaos oblong polos bermerk polo, celana jeans pendek selutut berwarna sama, jam tangan mahal yang melingkari pergelangan tangan, dan tatanan rambut tidak Serapi saat bekerja. Benar-benar bukan seperti pak Hansel yang biasa kulihat di kantor.
“Saya...”
“Udah. Gitu aja cantik kok. Yuk.”
Pak Hansel berjalan didepan, sedangkan aku, masih tertegun dengan apa yang baru saja dia katakan. Aku, cantik? Gila.
Akan tetapi, pada akhirnya aku berjalan mengekor dibelakangnya. Aroma yang kuhirup, sangat berbeda dengan aroma milik Bagas. Jika Bagas lebih suka aroma soft yang tidak meninggalkan kesan maskulin, laki-laki didepanku ini kelihatannya lebih suka menggunakan parfum beraroma Strong. Namun hidungku masih bisa mentoleransi bau kuat dari parfum mahal yang digunakannya. Ya, maklum, parfum mahal. Strong pun tetap nyaman dihirup.
Setelah turun dari lift dan berjalan melewati lobby yang cukup ramai, aku bersama pak Hansel sampai di restoran hotel dan sialnya, ponselku tertinggal dikamar.
Aku sempat mengumpat dalam hati, lalu merutuki kebodohan karena bisa saja Bagas membalas pesanku ketika aku meninggalkan ponselku di kamar. Aku terus merutuki diriku sendiri, sampai tidak sadar jika pak Hansel sudah berhenti disalah satu kursi yang di atas mejanya terdapat tulisan ‘booked’. Meja ini sudah di pesan. Jadi pak Hans sudah melakukan reservasi? Lalu dimana yang lainnya?
“Duduk dulu Nad.” perintahnya yang langsung ku amini. Aku duduk sambil memperhatikan sekitar, mencari-cari keberadaan yang lain yang juga akan makan malam bersama kami. Tapi, belum sempat aku menemukan siapapun, pelayan menyodorkan buku menu didepanku. Oh tunggu, apa pak Hans melakukan reservasi pribadi untuk kami berdua?
Aku mengernyit dahi. Merasa kurang nyaman ketika pegawai restoran mulai menatap aneh padaku.
“Yang lainnya, dimana pak?”
“Yang lain? Aku hanya mengajak kamu.”
Oh my God. Kenapa aku tidak bertanya sejak awal. Jadi aneh kan situasinya sekarang?
“Saya kira sama mbak Titi, mbak Nana, dan yang lain juga?”
Pak Hans menggeleng. Kemudian dia mulai memesan beberapa menu yang hendak menjadi santapan makan malamnya.
“Menu pilihan nyonya?” tanya si pramusaji mengejutkanku dari lamunan.
Ah, sial.
__ADS_1
“Sa-saya,”
Sial. Aku merasa seperti seorang wanita yang tengah tertangkap berbuat serong dengan suami orang sekarang. Mengapa pak Hans sampai mengajak aku makan malam berdua saja seperti ini?
“Nasi goreng seafood saja. Minumannya, jus strawberry, gulanya sedikit saja.”
“Baik, nasi goreng seafood satu, dan jus strawberry dengan sedikit gula. Ada yang lainnya?”
“Tidak. Itu saja.”
“Baik. Silahkan tunggu sebentar tuan dan nyonya.”
Setelah pramusaji itu pergi, aku ingin sekali bertanya apa maksud dan tujuan pak Hansel mengajak aku makan malam berdua seperti ini. Tidak tau apa, yang dia lakukan sekarang bisa jadi salah faham jika salah satu saja dari tim melihat, dan berakhir menjadi bahan gosip di kantor.
Mataku menatap lurus dengan ekspresi datar ke arah pak Hans, berharap dia peka dan memberi penjelasan spesifik akan sikapnya. Namun apa yang kudengar, malah bikin aku terkejut setengah mati.
“Kenapa Nad? Kamu nggak suka makan malam disini?” tanya pak Hansel tanpa memutus pandangan dari ponsel berkamera tiga Boba dalam genggaman tangannya.
“Pak. Saya ngga tau maksud bapak ngajak makan berdua seperti ini. Tapi saya harap bapak tidak lupa dengan status saya, dan juga status bapak sendiri. Saya wanita bersuami, tidak pantas kalau makan malam berdua dengan laki-laki yang bukan suami saya.”
Pak Hansel berhenti menatap ponselnya dan beralih menatap ke arahku. Badannya ia condongkan kedepan setelah meletakkan bebas ponsel diatas meja dan melipat kedua tangannya. “Lalu kenapa?”
Entah mengapa, aku malah gugup ditatap dalam seperti ini. “Saya nggak enak kalau nanti ada salah faham, lalu jadi bahan omongan dikantor kalau sampai ada yang lihat kita lagi makan malam berdua seperti ini.”
Aku bukan wanita bodoh. Aku tau arti tatapan mata pak Hansel untukku. Tatapan memuja seorang laki-laki kepada seorang wanita. Atau, hanya perasaanku saja yang terlalu besar kepala?
“Nggak usah dengerin apa yang nggak perlu didenger.” sahutnya cepat begitu meyakinkan hingga membuatku menurunkan pandangan seketika. Aku tidak ingin larut, apalagi tergoda oleh tatapan yang menawarkan sebuah kenyamanan itu, lalu berakhir terjerumus, tersesat jauh dan nggak tau jalan kembali.
Pergi saja tinggalkan dia, atau kamu dan Bagas berakhir hancur.
Dia itu atasanmu, nggak etis kalau kami pergi gitu aja.
Dua sisi diriku berperang mencari kebenaran masing-masing. Dua-duanya benar, dan aku harus menjatuhkan satu pilihan yang akan menjadi keputusan. Okey, kali ini ambil yang kedua saja.
Aku menetralisir kembali isi otak dan nafasku. Berharap tidak ada kalimat-kalimat miring di kantor setelah kembali dari Semarang lusa. Aku masih tertunduk, sama sekali tidak ingin menatap manik mata sipit yang sebenarnya sangat aku sukai itu.
Kalau boleh jujur, pak Hansel memiliki beberapa kriteria laki-laki yang aku harapkan. Akan menyenangkan jika kami berdua belum memiliki status, tapi—
“Bagas,”
Nama itu. Dari mana pak Hansel tau nama Bagas?
Aku terlonjak dari lamunan sepihakku, lalu dengan cepat mengangkat pandangan dan kembali mengunci tatapan memuja dari pak Hansel untukku. “...itu nama suami kamu?”
Aku mengangguk dengan gerakan pelan bak slow motion. “Darimana bapak tau nama suami saya?”
Dia tersenyum. Senyuman yang akhir-akhir ini membuat aku harus memalingkan wajah ketika melihatnya.
__ADS_1
“Aku pernah lihat kamu diantar suamimu. Dan aku rasa, aku pernah melihat suamimu itu.” jelas pak Hansel dengan nada santai. Dia terkesan sengaja menjeda agar aku tetap fokus padanya, pada perbincangan kami berdua sambil menunggu menu makan malam datang. “Setelah aku ingat-ingat, nama seseorang muncul. Bagas.” lanjutnya penuh keyakinan yang sekarang memancing agar aku memberikan jawaban atas praduganya tersebut. “Benar 'kan?”
Jadi firasat Bagas tentang Hansel yang pernah ia kenal itu...benar? Mereka saling kenal?
“Bapak kenal suami saya?” tanyaku, penasaran.
“Ya. Dia junior ku di kampus dulu.” sahutnya tenang sambil tersenyum hangat. Sumpah, senyuman itu selalu menggodaku agar aku melihatnya. Terlalu sayang jika dilewatkan, karena pak Hansel tidak pernah tersenyum seperti itu kepada orang lain, bahkan dikantor, kecuali padaku.
“Lalu, apa kalian dekat?”
Aku amat sangat penasaran, sampai tidak bisa mengontrol diri untuk tidak bertanya hal-hal mendasar seperti ini.
“Tidak. Kami tidak dekat. Aku hanya kenal dan tau namanya, karena dia salah satu bagian BEM kampus. Dan aku, Senat di sana. Kami sering bertemu saat ada meeting penting yang berhubungan dengan kegiatan kampus.”
Aku mengangguk paham. Tapi, mengapa Bagas seperti tidak menyukai pak Hans? Padahal, menurut penilaianku selama bekerja bersamanya, dia pria baik, dan juga mempesona.
“Apa Bagas pernah cerita tentang aku?”
Apa aku harus terus terang? Ah, bohong itu salah, dosa pula. Dan tidak seharusnya aku melakukan kebohongan itu. Berkata jujur lebih baik.
“Pernah.”
“Oh ya?” jawabnya antusias. “Jadi dia pernah cerita tentang masa kuliahnya?”
“Bukan, pak.” jawabku mulai tidak nyaman karena pak Hans terkesan ingin tau hal pribadi yang ingin aku simpan sendiri. “Dia bilang seperti mengenal bapak, setelah saya menyebut nama bapak dan mengatakan jika bapak adalah kepala divisi baru dikantor.”
“Lalu, apa tanggapannya?”
Serius. Mereka berdua kenapa sih?
“Ya, nggak ada tanggapan yang gimana-gimana pak. Dia cuma bilang ‘Oh’ gitu aja.”
Pak Hansel tersenyum manis didepanku. Lalu, tangannya terulur pelan dan menangkup punggung tangan kecil milikku. “Kalau kamu ada masalah, cerita ke aku. Aku nggak apa-apa, siap jadi teman curhat kamu. Apapun masalah kamu. Kalau aku bisa, aku bantu.”
Ada sedikit debaran di hatiku ketika mendengar tawaran itu. Pada akhirnya, ada orang yang mau dan ingin, serta menawarkan itikad baik untuk menjadi pendengar bagi masalahku, tentu saja selain Bagas yang sudah aku pastikan tidak lagi bisa begitu saja aku bercerita bebas seperti dulu. Setelah menikah dengan Bagas, aku membatasi semua cerita yang ingin dan biasanya aku ceritakan padanya. Lebih memilih menyimpan semuanya sendiri, termasuk hubungan kami yang entah bertujuan kemana.
Sadar tidak benar dan terlalu inthim, aku menarik tanganku tiba-tiba ketika sang pramusaji datang membawa beberapa menu makanan yang kami pesan. Aku dan pak Hansel diam, menahan semua rentetan kalimat yang memaksa keluar dari kerongkongan, yang ingin terucap saat ini juga.
Lalu, senyuman berbeda dari yang biasa pak Hansel berikan padaku, ia tujukan untuk sang pramusaji yang sudah selesai menata makanan diatas meja. “Thanks.” katanya sambil meyelipkan uang lima puluh ribu diatas trolly dorong sang pramusaji.
“Sama-sama tuan.”
Setelah itu, Pak Hans kembali menatapku lembut dan penuh perhatian. “Makan dulu, Nad. Kita bisa bicara lagi nanti. Atau, kalau waktunya terlalu malam dan kamu nggak nyaman dengan situasi, kita bisa ngobrol lewat chat.”
Aku terkejut dengan penawaran pak Hans. Lalu, satu kesimpulan yang berubah menjadi pertanyaan muncul dalam kepalaku. Jika kami bertukar pesan pribadi seperti yang dia inginkan, apa tidak apa-apa untuk kami?
Untuk dia dan rumah tangganya?
__ADS_1
Atau bahkan, untuk aku dan Bagas? []
^^^to be continued.^^^