
...Happy Reading......
...Jangan lupa dukungannya agar aku semangat nulis,...
...Thankyou....
...🌹🌹🌹...
Cukup terkejut mendengarnya. Ternyata perasaanku selama ini tidak bertepuk sebelah tangan? Ternyata perasaanku tidak hanya sepihak dariku? Bagai didalam mimpi, Bagas berkata jika dia mencintaiku? Aku tidak salah dengar 'kan?
Aku menatapnya dengan mata berlinang. Kemudian ku tundukkan wajah dan memeluk tubuhnya yang kurasakan semakin kokoh. Mengapa baru sekarang dia mengatakannya? Setidaknya jika aku tau dari dulu, lima tahun tidak akan berjalan seperti neraka untukku.
“Aku mencintaimu, Nadya.”
Aku membenamkan wajahku semakin dalam pada dada bidang Bagas. Mendengar itu, hatiku semakin perih, namun jantungku berdebar. Aku menginginkan kalimat itu sejak lama, tapi memendamnya sendirian. Berusaha terlihat baik sebagai sahabat agar Bagas tidak meninggalkan aku. Karena hanya dia temanku. Teman yang mau mengerti aku dari segi apapun. Aku bukan anak orang berada, berbanding terbalik dengan dia yang terlahir dari kalangan menengah bahkan menurut ku berkecukupan.
“Kalau kamu mencintaiku, mengapa kamu memaksa Hera tetap berada diantara kita.”
Pertanyaanku membungkam Bagas. Dia terdiam cukup lama hingga hembusan nafasnya yang kelewat besar menyapa pori-pori kulit kepalaku.
“Ya. Itu salahku. Seharusnya aku sama Hera sudah mengakhiri semuanya dan nggak bikin semua jadi runyam kayak gini.”
Aku masih nyaman dengan posisiku.
“Soal anak,” Bagas menjeda kalimatnya, mengusap kepalaku begitu pelan hingga aku amat sangat terlena untuk terus mendengar suaranya yang berat dan dalam. “Aku nggak mau kalau kita menghadirkan seorang anak, tanpa rasa cinta. Aku nggak mau dia hidup tanpa dicintai oleh kedua orang tuanya”
Aku tertohok dengan kalimat Bagas barusan. Lalu apa maunya?
“Kamu sering dengar kalau anak itu buah cinta sebuah hubungan dalam pernikahan, 'kan?” aku mengangguk. “Kamu pasti tau maksudku kan, Nad?”
Tatapan Bagas begitu hangat. Jelas aku tau maksud perkataannya itu. Dia nggak akan mau dan membiarkan aku hamil tanpa cinta diantara kami. Jelas, itu alasan yang membuatku kembali percaya penuh kepada Bagas.
“Ayo kita perbaiki hubungan ini. Ayo kita bangun pernikahan kita yang memang sejak awal nggak bener ini. Aku ingin kita menjadi sepasang suami istri yang saling mencin—”
Bagas terdiam sejenak, lalu kembali bersuara. “Tunggu. Apa kamu tidak memiliki perasaan yang sama denganku, Nad?”
Bagaimana ini? Bagaimana aku harus menjawabnya sekarang?
Aku menggeliat kecil berusaha menarik diri dari pelukan nyaman Bagas. Rasa bersalah kembali menyapa satu sisi diriku. Satu nama yang membelenggu, Hansel. Aku juga merasa nyaman dengan suami orang itu. Aku tau salah, tapi aku tidak bisa memungkiri, jika aku butuh dia sebagai orang yang mengerti dan bisa mendengarkan keluh kesah ku.
“Beri aku waktu.”
__ADS_1
Bagas hanya diam. Dia menatapku datar ketika aku benar-benar menjauh dari dirinya dan mengambil posisi tidur membelakangi.
“Berapa lama?” tanyanya, menyadarkan aku dari belenggu rasa bersalah.
“Aku—”
“Nggak masalah. Aku akan nunggu sampai kamu mau mengatakannya, Nad.” lanjutnya memotong ucapanku yang ingin memberikan sedikit pengertian agar dia mau menerima keadaanku. “Tentang perasaanmu padaku.”
***
Ini hari Minggu. Setelah semalam aku tidak bisa tidur nyenyak karena masih kepikiran tentang pembicaraanku dengan Bagas yang ingin memperbaiki pernikahan, pagi ini aku masih seorang istri dyangan harus memenuhi kewajiban ku.
Aku bangun dan melirik jam dinding. Masih pukul setengah lima pagi. Diluar masih gelap, dan suara adzan masih berkumandang bersahut-sahutan untuk membawa para hamba memulai hari dengan kewajiban sebagai seorang umat dengan berserah diri dalam sujud dan do'a. Aku pun demikian.
Setelah itu, aku mengganti pakaian tidurku dengan daster longgar dan bersiap ke tempat teh Ari untuk belanja. Bagas tidak meminta dimasakkan sesuatu, jadi aku bebas menentukan menu hari ini.
Setelah mengambil dompet dari laci dalam lemari, aku meraih jaket jeans dan memakai sambil berjalan keluar kamar.
“Hoaaam....”
Itu, suara Bagas menguap. Mungkin dia akan bangun karena terganggu saat aku membuka tutup laci dan pintu lemari tadi.
“Mau belanja, Nad?” tanya Bagas dengan suara dalam yang serak setelah menggeliat menyamankan tubuhnya.
“Eumm. Mau dimasakin apa?” tanyaku memastikan.
Aku menghela nafas, menurunkan bahu dan meraih handle pintu untuk keluar menuju ruang tengah sembari menunggu Bagas membasuh wajah.
Ah, ini momen pertama Bagas ikut aku belanja. Aku berdebar.
***
Kami berdua jalan dengan kaki telanjang—Itu keinginan Bagas—diatas aspal yang kadang berkerikil. Katanya, baik untuk refleksi, relaksasi dan juga bisa melancarkan peredaran darah ke beberapa titik tubuh. Berbeda dengan dia yang biasanya berpakaian formal, pagi ini Bagas memakai pakaian rumahan yang terkesan santai dan cocok di badannya. Sempat bikin kesal juga karena banyak yang melirik.
Bagas itu ganteng, banget. Dia juga gampang banget berbaur dengan sekeliling dan membuat orang lain merasa senang berada disisinya. Termasuk aku.
“Kenapa orang-orang lihatin aku sih? Ada yang salah denganku, Nad? Atau, mataku ada beleknya?” dumalnya sambil menarikku paksa untuk berhenti dan memperhatikan wajahnya.
Aku tertawa, menggeleng mendengar kalimatnya yang terdengar lucu. “Nggak. Kamu manusia pada umumnya kok. Sama seperti mereka juga. Matamu juga nggak ada beleknya.”
“Terus kenapa mereka lihatin aku kayak gitu. Tuh, ibu-ibu itu juga.” tanyanya dengan wajah seperti ingin menangis dan panik saat menunjuk dengan dagu ibu-ibu diseberang jalan yang sedang melihat ke arahnya.
Aku mengedikkan bahu. Menahan beberapa perasaan nggak nyaman ketika mendapati kenyataan bahwa Bagas memang menarik dimata orang lain. “Suka sama kamu kali.” jawabku asal sedikit kesal, karena setelah itu aku memanyunkan bibir lalu mempercepat langkah hingga Bagas tertinggal beberapa meter dibelakang sambil memanggil-manggil namaku yang nggak aku peduliin.
__ADS_1
Sesampainya di tempat teh Ari, Bagas masih menjadi perhatian ibu-ibu. Kupingku sampai panas mendengar bisikan memuja-muji ketampanan suamiku.
“Tumben abangnya ikut, neng?” tanya teh Ari menunjuk Bagas yang sedang duduk di trotoar jalan, hingga sedikit menarik perhatian si ibu yang sedang bergosip dan mencuri-curi pandang ke arah Bagas.
“Engga tau teh. Tiba-tiba maksa ikut.”
“Takut istrinya dilirik orang pasti.”
Aku tertawa dan mendumal dalam hati. Kalau itu benar, pasti sudah dilakukan Bagas dari dulu, teh. Sayangnya tidak.
“Nengnya kan cakepnya berlebihan atuh.” lanjutnya dengan logat Sunda yang masih kental meskipun sudah menetap di jakarta lebih dari dua puluh tahun.
Ya. Tapi nahasnya, suamiku lebih suka dengan orang lain, teh.
“Teteh berlebihan ih.”
“Nggak kok. Kalian cocok loh. Tinggal nunggu baby nya launching. Penasaran lho, se-kasep dan se-geulis apa anak kalian nanti.”
Sedih. Aku menahan sengatan menyakitkan yang menyerang ku. Aku menahan emosi karena yang bicara teh Ari.
“Ya, mohon do'a nya ya Teh, moga cepet ada.” kataku tak mau kalah. Hanya untuk menutupi rasa nggak nyaman dalam diriku karena mendengar kalimat itu lagi, dan lagi.
“Amin.”
***
Aku sibuk membuat rawon daging sapi di dapur. Sedangkan Bagas, sudah menyelesaikan tugas mencuci pakaian dan sekarang sedang menjemur di halaman belakang rumah.
Kegiatan yang sudah lama tidak kami lakukan bersama dan hal ini membuatku merasa canggung dengan sedikit rona di wajah ketika kembali mengingat momentum kebersamaan kami dulu.
Jangan pernah lagi deketin Nadya.
Kata Bagas saat itu, saat Hendra—playboy kelas kakap di sekolah—mendekatiku. Aku masih ingat betul saat dia memasang badan dengan ekspresi marahnya ketika para murid perempuan mencoba mengangguk. Dia juga selalu membantuku dalam banyak hal, termasuk belajar bersama dirumahnya karena nilai pelajaran matematika ku sangat buruk.
Tanpa sadar, aku terlarut dalam lamunan masa lalu yang membuatku jatuh cinta pertama kali kepada seorang laki-laki yang sekarang menjadi teman hidupku, Bagas.
“Udah, Nad. Aku mau mandi dulu. Habis itu kita sarapan dan cus jalan-jalan.” katanya dalam sekali tarikan nafas. Aku mengangguk dan membuka tutup magic com, mengaduk nasi yang sudah matang agar merata.
Kita berencana ke salah satu pantai yang dekat dengan Jakarta. Kami ingin melepas penat dan beban yang selama ini bergelayut di pundak dan menyesakkan dada.
Aku beharap, langkah kami memperbaiki hubungan, akan berjalan baik tanpa halangan dan godaan yang memberatkan. Kemudian berakhir indah untuk kami berdua.
Namun, ketika sebuncah rasa bahagia ketika mengucapkan keinginan dalam sebuah do'a itu berhasil menenangkan diriku seutuhnya, satu pesan yang dikirim Hansel membuatku kembali jatuh dalam lubang penyesalan dan kekecewaan yang begitu menyakitkan.
__ADS_1
Pak Hansel: Lagi dimana? Kenapa tidak membalas pesanku semalam, hm? []
^^^to be continued.^^^