Wedding Dust

Wedding Dust
43. Nadya Ayunda


__ADS_3

...This is it....


...Semoga suka dengan bab ini....


...Selamat membaca...


...Jangan lupa dukungannya untuk Wedding Dust ya biar aku semangat nulisnya....


...Thank You....


...🌹🌹🌹...



Aku menghela nafas panjang ketika Hansel memutuskan untuk tidur disofa. Aku lega, karena dia mau mengerti kondisi dan situasiku yang masih bergetar ketakutan karena ulahnya.


Setelah melewati waktu yang begitu tak terduga ini, aku teringat belum memberi kabar apapun pada Bagas. Sejak siang, aku mematikan ponsel karena aku charge dirumah mama karena habis baterai. Aku pikir nanti saja setelah terisi beberapa persen, menghubungi Bagas.


Setelah menghubungkan konektor dengan ponsel dan hendak mematikan daya, ponselku berdering. Panggilan masuk dari Hansel, dan dia ngajak ketemuan ketika aku pulang dari rumah mama nanti sore. Aku mengiyakan, karena malas berdebat. Toh sebentar, tidak apa-apa kan? Dan inilah kebodohanku yang kesekian kali, karena mau saja menuruti permintaan Hansel.


Tapi aku lupa tidak menyalakan ponsel milikku itu hingga bertemu Hansel di pintu masuk mall dan tidak perlu lagi menghubunginya, sehingga ponsel lagi-lagi ku abaikan dalam keadaan off. Kemudian berlanjut jalan hingga hampir pukul enam malam bersama Hansel tanpa mengingat mungkin orang-orang sedang mengkhawatirkan aku.


Hujan tiba-tiba turun begitu saja. Dan yang membuatku semakin tidak percaya dengan apa yang terjadi hari ini adalah, aku mendengar seperti suara Juwita sedang mendapati keberadaan ku disana. Aku terkejut dan pikiranku buntu selain menarik Hansel pergi dari sana sebelum orang yang aku duga Juwita itu benar-benar memergoki kami berdua.


Disinilah aku berakhir, dikamar hotel Bagas dan beberapa waktu lalu terjadi hal buruk yang hampir membuatku benar-benar harus kehilangan sosok Bagas.


Mengingat nama Bagas, aku bergegas mengirim pesan. Kami berbalas pesan tepat di jam sembilan lebih tiga puluh lima menit.


Menyenangkan, itulah yang aku rasakan ketika jauh dari Bagas dan bertukar pesan seperti ini. Seperti ada rasa yang membuat sisi hatiku ingin sekali merindukan dan ingin bertemu dengannya.


Sampai ketika Bagas membalas dengan kata kangen, aku mengatakan perasaan hatiku yang sejujurnya, jika aku juga sedang merindukannya meskipun baru dua hari tidak bertemu. Sabtu masih empat hari lagi, dan itu terasa begitu lama. Waktu bergerak lambat ketika memikirkan tentang Bagaskara Adewangsa.


“Cepetan bobo Nad. Udah malem.” suara serak Hansel begitu mengejutkan lamunanku tentang suamiku sendiri.


Aku melihat kearah sumber suara, dimana Hansel sedang bergelung dibalik selimut diatas sofa. Ada sedikit rasa tidak tega melihat tubuh jangkungnya meringkuk begitu. Tapi biarkan saja, dari pada kami harus tidur satu ranjang.


“Eumm.” jawabku singkat lalu menarik selimut sebatas leher. Masih ada was-was dalam benakku. Takut ketika aku tertidur lelap, Hansel tiba-tiba melakukan hal buruk padaku. Itu alasan mengapa aku masih enggan menutup mata.


“Nggak perlu khawatir aku melakukan hal buruk padamu.” katanya seperti sedang menebak jalan pikiranku. “Yang tadi itu, aku benar-benar tidak—”


“Okey. Kita tidur sekarang. Aku percaya kamu nggak akan melakukan apapun lagi padaku.” sahutku cepat membuat Hansel terdiam dan terdengar menyamankan posisi disana.


Aku kembali mengetuk layar ponselku, sudah hampir lima belas menit Bagas tidak membalas pesan terakhir yang aku kirim. Apa dia tertidur? Oh baiklah, anggap saja demikian. Bagas pasti lelah seharian bekerja, dan akan sangat nggak etis jika aku egois ingin terus-terusan dia membalas pesan ku. Aku mencoba lagi untuk memejam, hingga semua terasa berangsur memudar dan aku bergelung dengan lelap.


***


Pagi hari yang begitu cerah, aku sudah berganti pakaianku sendiri meskipun masih sedikit basah.


Nggak mungkin aku kembali kerumah dengan pakaian milik Bagas. Bisa mati di gantung sama bapak jika itu benar-benar terjadi.


“Masih basah kok dipakai sih Nad?” tanya Hansel, lebih terdengar menyerupai perintah agar aku memakai bajunya saja.


“Nggak apa-apa, pak.” jawabku kembali seperti biasa. Seperti yang seharusnya antara seorang atasan dan bawahan. Seolah tidak pernah terjadi apapun semalam, dan aku memang berniat melupakan itu semua.


“Pak?”


“Ya. Ada yang salah?” ketusku nggak peduli jika nanti Hansel akan merajuk atau apapun.

__ADS_1


Dahi Hansel berkerut samar, tapi senyuman mengembang di bibirnya setelah itu. “Oke deh. Senyaman kamu aja. Aku nggak maksa.”


Setelah mengatakan itu, dia berjalan menuju kopernya untuk mengemas baju kotor yang semalam aku pakai dan memasukkannya kedalam koper. Ada yang terasa nggak sreg dihatiku.


“Yakin mau dibawa pulang? Istri bapak bisa curiga kalau sampai dia yang mencuci pakaian itu.”


“Memangnya kenapa?”


Gila. Lelaki ini memang sudah nggak waras. Bagaimana bisa dia sesantai itu menanggapi ketakutan dan kekhawatiran ku? Bagaimana kalau istrinya tau semalam dia bersama wanita lain? Lalu, bagaimana nasib pernikahan mereka selanjutnya, jika sampai tau dirinya main belakang?


“Pak. Coba anda pikirkan lagi mengapa saya bertanya begitu.”


Hansel tertawa, lalu berdiri disampingku, memelukku dari belakang tanpa risih terhadap bajuku yang setengah basah. “Aku yang akan mencuci pakaian sekoper itu. Dan baju yang habis kamu pakai, akan aku simpan sebagai kenang-kenangan jika kita pernah sedekat ini.”


Aku meronta melepas pelukannya. “Tolong, kita akhiri saja semua ini, pak. Saya nggak nyaman dan akan merasa sangat bersalah jika sampai—”


“Ssshh... Semua akan tetap aman dan baik-baik saja.”


Sialan sekali dia. Lagi-lagi aku termakan rayuannya. Ah, aku juga mengapa menikmati kedekatan ini lagi sih?


“Nanti sore, antar aku ke bandara. Oke?”


Aku ragu. Pasalnya jarak bandara dan rumah cukup jauh. Ditambah lagi aku yang semalam nggak pulang. Aku nggak yakin ibu atau bapak memberiku izin. “Lihat nanti saja. Aku nggak bisa janji.”


Oke. Anggap saja aku sudah gila sekarang.


“Aku antar ya?” tanyanya ketika aku berhasil meloloskan diri dari pelukannya.


“Nggak. Aku bisa pulang sendiri.”


Aku meraih tas punggungku dan memakainya. Kemudian meraih sepatu dan aku kenakan karena aku harus bergegas pulang sebelum bapak meminta mas Dani mencariku.


Sepanjang perjalanan sejak keluar dari lobby parkir hotel, aku takut jika seseorang menemukan keberadaan ku lagi. Khususnya Juwita.


Ketika sampai di gang rumah, perasaanku semakin tidak keruan. Takut jika Juwita malah bertanya ke rumah, atau paling buruk dia mengatakan kepada bapak dan ibu jika bertemu dengan ku di mall bersama seorang laki-laki. Aku tidak berbohong, aku takut sekali sekarang.


Setelah sampai diteras rumah, pintu depan masih tertutup. Itu artinya ibu masih sibuk dibelakang, dan bapak pasti sudah berangkat ke sawah atau entah ke toko pertanian, karena motor yang biasa dipakai bapak ke sawah, tidak ada ditempatnya.


Membuka pintu sedikit khawatir, aku menghirup aroma bumbu yang sedap diudara. Ibu memang sedang sibuk membuat sarapan pagi yang mungkin dibuat untukku.


“Dari mana saja semalam nggak pulang?” tanya ibu mengejutkan aku saat kakiku berjalan menuju kamar hendak mengganti pakaian.


“Kan kemarin Nadya udah pamit, Bu. Nadya nginep dirumah temen.”


“Temen yang mana?” tanya ibu dengan nada sarkas yang tidak bisa disembunyikan. Sepertinya ibu curiga.


“Temen SMA, bu.” aku memikirkan nama seseorang yang pernah ada dan dekat denganku dikelas. Tapi, tidak ada yang seperti itu. Ibu jelas tau bagaimana perjalananku di sekolah dulu. Tidak ada teman selain Bagas. “Rita, anak A. Yani.”


Ibu diam dan melanjutkan masak. Aku memilih berlari cepat menuju kamar untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang pasti akan ibu katakan untuk menelisik keberadaan ku semalam yang tidak pulang.


Tepat ketika aku telah menanggalkan pakaian atasku, ponselku bergetar. Bagas menghubungi pagi-pagi.


Aku meraih ponsel dan menjawab panggilan suara dari Bagas.


“Halo.” sapaku lembut.


“Lagi ngapain, Nad?”

__ADS_1


“Habis mandi. Mau bantu ibu masak.”


Bohong lagi. Entah berapa banyak lagi kebohongan yang akan aku lakukan demi menutupi kecurangan ku?


“Oh, yaudah. Jangan lupa makan.”


Hatiku yang sebelumnya terasa begitu kalut, berubah menghangat setelah mendengar kata-kata Bagas. “Eumm. Kamu juga jangan lupa makan.”


Bagas mengakhiri panggilan setelah sempat mengatakan sedang rindu padaku. Tidak ada percakapan lain karena mungkin Bagas juga harus bergegas untuk kerja.


Aku meletakkan ponselku diatas meja rias, tapi displaynya kembali menyala. Kali ini dari Hansel.


Pak Hansel: Jangan lupa nanti sore. Usahakan bisa ya?


***


Mengabulkan permintaan pak Hansel, aku rela berkendara lebih dari satu jam menuju bandara. Sore ini sedikit mendung, dan jam penerbangan pak Hansel masih sekitar tiga puluh menit lagi.


Kami memutuskan untuk masuk ke sebuah ruko yang menjual minuman siap saji dalam cup, kemudian duduk-duduk sebentar sambio menikmati pemandangan sore yang tidak cukup indah untuk dipandang.


“Kalau sudah kembali ke Jakarta nanti, jangan berubah seperti orang asing.” tekan pak Hansel padaku sambil menyeruput kopi pesanannya.


Aku mendengus sebal karena secara tidak langsung, lagi-lagi aku harus diingatkan pada hubungan yang terjadi diantara kami. “Kamu biasanya suka gitu Nad. Bad mood tiba-tiba. Ndiemin aku tiba-tiba, kan aku jadi bingung sendiri.”


Salah siapa mau sama aku.


“Ya itu hal wajar, pak. Kita punya porsi masing-masing dan pribadi yang beda.”


Ada pemberitahuan dari penerbangan yang hendak digunakan pak Hansel. Mereka ingin semua penumpang untuk bersiap menuju kabin pesawat. Aku mendengar satu pesawat sedang landing.


“Okey. Sampai ketemu di Jakarta, sayang.”


Aku membelalakkan mata. Sejak kapan sebutan itu ia ciptakan untuk aku yang sama sekali tidak mengharapkan?


Lalu aku menggelengkan kepala. Tidak percaya jika sejauh inilah kami menjalani ini.


Hansel berdiri, menggandeng tanganku hendak menuju tempatnya masuk ke dalam kabin pesawat.


Kami melewati beberapa pintu dimana orang yang sepertinya baru saja keluar dari pesawat yang tadi aku dengar baru saja landing sedan berjalan membaur. Ada begitu banyak orang, sedang tersenyum karena mereka disambut oleh orang-orang terkasih mereka.


Seketika itu juga aku teringat akan Bagas, dan melirik tanganku yang berada dalam genggaman Hansel.


Sial. Kenapa aku seperti ini.


Namun, ketika hendak meminta Hansel agar melepaskan kungkungan tangannya dari pergelangan tanganku, aku mengangkat pandangan yang jatuh pada kehadiran seseorang.


Mataku terbuka lebar, rahangku mengeras, bibir dan lidahku kelu, tubuhku bergetar dan kakiku terasa lemas tanpa daya terpaku diatas lantai bandara. Hansel yang bertanya kepadaku mengapa aku terlihat takut, sama sekali tidak aku indahkan dan hanya fokus pada satu obyek yang sedang berdiri disana, sedang menatap dan memperhatikan aku dengan wajah datar yang membuatku ketakutan setengah mati. Dia disana melihat kecurangan ku dengan mata kepalanya sendiri. Dia menatapku seolah mempertanyakan mengapa aku melakukan ini semua di belakangnya. Dia menatapku seolah, aku adalah seseorang yang memang pantas untuk ia benci selamanya. Untuk ia buang jauh dari hidupnya.


Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan terjatuh jua.


Sepandai-pandainya menyimpan bangkai, pasti baunya akan tercium jua.


Bagas disana.


Bagas melihat semuanya. []


^^^to be continue.^^^

__ADS_1


Semoga lancar mbak Nad. *eh


__ADS_2