Wedding Dust

Wedding Dust
44. Bagaskara Adewangsa


__ADS_3

...Selamat membaca...


...Jangan lupa like, komentar, serta vote dan hadiahnya jika berkenan ya...


...Terima kasih...


...🌹🌹🌹...



Hari ini sudah aku tunggu sejak semalam. Mengambil cuti paksa dari kantor, kemudian memesan tiket penerbangan Surabaya siang hari, tanpa memberitahu Nadya tentang kedatanganku yang tiba-tiba ke surabaya. Dia pasti akan terkejut, juga mungkin senang dengan kehadiranku di sana. Sesuatu yang membuatnya akan terbelalak, dan aku menyebutnya... kejutan.


Aku merindukannya. Sangat merindukannya. Tapi bukan itu saja tujuanku tiba-tiba terbang ke Surabaya, melainkan ada tujuan lain yang membuatku tidak bisa tidur nyenyak semalam. Foto yang dikirim Juwita, semalaman ku lihat, dan terus ku perhatikan hanya untuk meyakinkan jika yang ada didalam sana, bukanlah Nadya dan Hansel. Atau jika memang iya, aku perlu melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Aku perlu bukti, bukan hanya sebuah foto yang bisa saja salah. Aku juga sempat bilang kepada adikku itu untuk tidak mengatakan apapun kepada mama sampai aku tiba di surabaya.


Sesampainya di surabaya nanti, aku akan mampir sebentar kerumah papa untuk bertemu mama dan Juwi, setelah itu aku akan tinggal dirumah ibu Nadya dan ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting dengannya.


Sebenarnya, aku berencana memilih penerbangan pagi. Tapi semua tiket dari berbagai maskapai penerbangan pagi itu sudah terjual habis. Tidak ada sisa satu pun untukku. Harus berlapang dada, aku memutuskan untuk membeli tiket dari salah satu maskapai terbaik yang hari ini masih ada slot di kelas VIP.


Entah mengapa, Tuhan seperti sedang merencanakan sesuatu untukku.


Setelah selesai mengepak pakaian kedalam koper, aku ingin melihat iPad sebentar untuk mengecek serta memonitoring pekerjaan dari rumah. Tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan karena semua berjalan dengan baik, aku meraih ponsel dan hendak memesan makanan dari gofood karena malas keluar.


Tapi, ada beberapa pesan masuk yang datang dari Hera. Menanyakan kabar dan keadaanku saat ini yang tentunya harus aku abaikan untuk sekarang dan masa yang akan datang. Aku tidak ingin membuat hal yang sudah aku lakukan sejauh ini untuk memperbaiki pernikahan, tiba-tiba kembali berantakan hanya karena sebuah pesan yang datangnya dari mantan. Nadya pasti akan—


Ah, Nadya.


Okey. Aku jadi merasa asing dengan perasaanku sendiri sekarang. Mengingat nama Nadya, rasanya seperti mencabut sesuatu yang begitu berharga dalam diriku. Sesuatu yang berharga yang aku sebut cinta.


Sejak melihat foto yang dikirim Juwi padaku kemarin, aku jadi merasa ada yang kurang saat memikirkan tentang Nadya. Ada sesuatu yang hilang yang dulu selalu membuatku selalu antusias ketika hanya memikirkan namanya.


Aku terus merapal kata-kata positif agar emosiku tidak meledak-ledak jika memang yang ada didalam foto tersebut adalah Nadya. Tapi aku berharap, semoga bukan. Semoga Juwita hanya salah lihat.


Tidak ada keinginan untuk mengirim pesan kepada Nadya. Ini adalah salah satu hal yang kurasa hilang dalam diriku. Jika semalam sebelum aku melihat foto itu, aku begitu antusias bahkan tidak ingin berakhir bertukar pesan dengan Nadya. Tapi setelah pesan itu datang, aku jadi malas melihat handphone. Lebih tepatnya ingin menghindar.


Ku putuskan untuk kembali berjalan menuju ranjang. Nggak jadi pesan makan, tiba-tiba nggak selera. Aku menyetel alarm pukul sebelas siang, kemudian mulai mencoba memejam sebentar. Siapa tau nanti pas bangun, semua beban pikiran dan hal-hal negatif yang terus merusak mood, hilang.


Ku stel suhu pendingin ruangan menjadi 20 derajat celsius, kemudian bersiap tidur. Tapi suara ponsel bergetar kembali tertangkap indera pendengaran ku yang memaksaku untuk bangkit dan melihat siapa nama yang muncul disana. Dan ternyata, Nadya.


Aku menghela nafas dan berusaha tidak kaku. Ah, jangan lupa untuk berakting seolah-olah sedang di kantor agar kejutan itu tidak gagal.


“Ya, ada apa Nad?”


“Tumben nggak chat aku?”


Aku tersenyum. Hatiku menghangat karena ternyata Nadya menunggu kabar dariku.


“Oh, aku sibuk sekali sampai lupa sama istri sendiri. Maaf ya.”

__ADS_1


Nadya tertawa diseberang telepon. “Gas, Gas. Kamu nggak pernah berubah. Jangan bilang kamu lupa makan juga! Awas saja kalau sampai kamu lupa makan dan sakit!”


Lega. Seharusnya ini pertanda jika kami baik-baik saja kan?


Pada akhirnya mood ku kembali. Rasa lapar yang tadi hilang, kini muncul begitu saja. Sepengaruh itu Nadya untukku.


“Iya, maaf. Aku tadi lupa nggak sarapan.”


“Tuh, kan. Udah deh, paling bener aku balik aja ke Jakarta. Kamu kalau nggak aku omelin, nggak makan.”


Memang seperti itu kenyataannya selama ini. Nadya selalu mengurusku dengan baik. Dia mempersiapkan semua yang aku butuhkan untuk bertahan hidup. Mulai dari makanan, sampai semua yang aku perlukan untuk bekerja pun, dia yang siapkan. Jadi, kalau sampai nggak ada Nadya, aku nggak tau aku bakalan bisa hidup apa enggak.


“Aku makan habis ini.”


“VC kalau lagi makan.”


“Lebay.” candaku ditanggapi decakan oleh si bibir luwes ini. “Aku makan beneran habis ini, Nad. Perutku laper banget.”


“Ya udah makan gih.”


Aku tersenyum dan bangkit saat itu juga. “Iya, sayang.”


Tidak ada sahutan selama beberapa detik dari Nadya. Hingga ketika aku hendak membuka suara, dia berkata. “Nanti sore, aku ada urusan di luar sebentar.”


“Kemana?” tanyaku lembut, lalu berjalan melewati ruang tengah menuju dapur untuk mencari beberapa bahan yang bisa aku mix dengan mie instan.


“Eumm, ketemu temen.”


“Ya udah. Hati-hati di jalan.” pesanku agar dia tidak teledor dan kurang berhati-hati di jalan raya. Surabaya tidak kalah padat dari Jakarta, kalau sore.


“Ya.” jawabnya singkat. “Ya udah, makan dulu sana. Minta seseorang buat beliin kamu makan, atau minta tolong OB—”


“Aku beli sendiri aja. Aku masih bisa jalan kok.”


Nadya terkikik atas guyonan garing ku. “Iya. Iya pak Bagas. Ya sudah, nanti aku hubungi lagi kalau udah pulang dari temen aku ya?”


Aku mengangguk setuju. “Ya. Hati-hati.”


***


Nadya kerumah temannya. Jadi kejutanku akan berjalan sangat lancar nanti. Dia akan kaget melihatku tiba-tiba ada di Surabaya. Membayangkan muka kaget dan lempeng milik Nadya, membuatku ingin tersenyum sendiri.


Pesawat sudah hampir menyentuh daratan. Aku landing dengan selamat meskipun tadi sedikit ada kendala di udara karena cuaca tiba-tiba buruk.


Menurut pemberitahuan awak kabin, ada hujan badai dan awan tebal yang muncul hingga pesawat mengalami turbulensi yang cukup menakutkan. Tapi pada akhirnya, kami semua mendarat dengan selamat.


Setelah keluar dari pesawat, aku bergegas menuju tempat pengambilan bagasi. Aku begitu semangat karena pada akhirnya, aku bisa pulang ke kota kelahiran dan hendak bertemu belahan jiwaku, Nadya.

__ADS_1


Koperku terlihat, aku berlari semangat mengambilnya, kemudian bergegas menuju pintu dimana lobby menuju pintu keluar sudah melambai tidak sabar untuk kulewati.


“Kopi nggak buruk.” Pikirku, kemudian aku memilih jalur berbeda dari pintu keluar dan berbaur dengan orang-orang yang hilir mudik ditengah hiruk pikuknya bandara.


Kuperhatikan sekitar dengan pandangan sedikit lelah akibat turbulensi yang memang cukup mengganggu. Aku tersenyum ketika melihat seorang anak kecil menyambut ayahnya yang mungkin baru saja sampai juga dari perjalanan luar kota. Disusul sang istri yang memeluk dan tersenyum hangat kepada sang suami. Aku iri.


Mengesampingkan rasa iri yang masih bergelora dalam dada, aku melewati pasangan harmonis itu untuk menuju ke salah satu lobby lainnya yang mungkin menjual makanan atau minuman. Mengikuti langkah kaki hingga sampai di dekat terminal keberangkatan, aku tidak berhenti menelisik setiap sudut bangunan bandara Juanda ini. Sudah banyak yang berubah sejak dua tahun lalu, dan aku bangga dengan perubahan ke depan itu. Lantas pandanganku tertumbuk pada sepasang mata yang kini juga sedang menatapku lurus.


Aku menajamkan pandangan, mengeratkan cengkraman tanganku pada gagang tas koper yang aku bawa saat menyadari sesuatu yang berusaha untuk aku sangkal, malah benar adanya. Firasatku nggak salah, Nadya dan Hansel memang memiliki hubungan dekat di balik punggungku.


Ah, terjadi lagi 'kan? Mengapa aku tidak belajar dari masa lalu?


Sedangkan sisi lain diriku masih berusaha meyakinkan agar aku tetap percaya pada Nadya.


Mengapa dia disana? Bukankah dia sedang ke tempat temannya? Tidak. Itu bukan Nadya.


Pertanyaan itu terus mendesak kewarasanku agar menolak jika yang didepan sana, adalah Nadya yang aku kenal. Bahwa yang disana, bukanlah Hansel yang pernah membuatku jatuh bangun dan berusaha susah payah untuk bangkit dari jurang kelam.


Berbagai kenangan bahagia bersama Nadya terputar didepan mata, berwujud imajinasi sebagai tameng kekecewaan yang menyerang hatiku secara bertubi-tubi. Seluruh inchi tubuhku seperti dikuliti ketika mendapati kenyataan bahwa itu memang Nadya. Dia ada disana, bersama Hansel dan sedang bergandeng tangan. Menyakitkan.


Tidak ada rasa menggebu-gebu ingin marah. Tidak ada letupan-letupan emosi yang mendorongku untuk berlari mendekat dan menghantam pasangan disana. Mati rasa. Yang ada, aku yang kembali jatuh dalam ketakutan, keterpurukan, dan penyesalan karena sebuah pengkhianatan.


“Ah, mungkin begini yang dirasakan Nadya dulu ketika mendapati ku bersama Hera.” gumamku pada diri sendiri. Mencoba memahami perasaan Nadya yang pernah ku sakiti agar semuanya tetap aman terkendali sampai aku pergi.


Semua terjawab sudah. Foto yang dikirim Juwita, tidak salah. Gambar itu, memang Nadya yang sedang bersama Hansel.


Mataku memanas, hingga tanpa ku sadari beberapa tetes liquid bening itu jatuh beruntun membasahi pipi dan lantai.


Buru-buru aku mengusap pipi, lalu memutuskan mengalah dan memutar langkah untuk meninggalkan mereka. Dari pada nanti Nadya yang malah merasa bersalah karena kehadiran ku disini, sekarang.


Ya, yang perlu aku lakukan hanya pergi. Jauh. Kemanapun. Dan tidak ada orang yang akan melihat dan peduli akan keberadaan ku lagi. Tidak Nadya, tidak mama atau papa, bahkan tidak diriku sendiri.


Ini karma. Balasan sekaligus jawaban dari Tuhan untuk perbuatan ku yang lalu, dan sekarang berimbas ke pernikahan yang sedang aku jalani dan coba perbaiki.


Tidak ada yang harus kami pertahankan setelah ini. Dan sekarang aku punya alasan kuat untuk pergi, yakni karena aku mencintai Nadya dan tidak ingin merusak kesenangannya. Naif memang, tapi biarkan dia bahagia dengan caranya.


Tapi sebelum itu, aku harus bertemu dengannya di tempat yang pernah kami janjikan untuk mengakhiri semuanya ketika mengambil langkah awal sebuah hubungan dulu. Dan sekarang, adalah akhirnya. Kami harus mengakhirinya disana, seperti keinginan dan kesepakatan kami berdua, dulu. Sebelum ikatan ini terjadi.


Aku terus berjalan cepat menuju pintu keluar. Disana, ada taxi yang sedang kosong yang akan memudahkan aku untuk segera pergi dari sini.


“Jalan dulu, pak.” pintaku pada pengemudi taxi yang langsung di penuhi oleh pria paruh baya itu.


Sesaat kemudian aku merasakan taxi melambat, dan bapak pengemudi itu menatapku dari spion gantung didepannya. “Itu temannya bukan, nak?”


Tanpa menoleh, aku kembali meminta bapak bernama Suroso itu menambah kecepatan. Aku tau siapa yang dimaksud pak Suroso. Setelah itu aku mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan untuk Nadya.


Mungkin sekarang waktunya. Selesaikan dulu urusan kamu, setelah itu kita ketemu dan bicara.

__ADS_1


Aku tunggu kamu disana. []


^^^to be continue.^^^


__ADS_2