Wedding Dust

Wedding Dust
38. Nadya Ayunda


__ADS_3

...Selamat membaca...


...Jangan lupa untuk terus memberi dukungan untuk Wedding Dust ya agar aku semangat nulisnya......


...Terima kasih....


...🌹🌹🌹...



Surabaya,


Kota dimana aku lahir dan dibesarkan. Mungkin tidak mewah dan jauh dari kata sederhana. Keluarga ku dulu hidupnya pas-pasan hanya untuk makan. Untuk itulah aku dan juga mas Dani berjuang mencari rupiah sejak lulus sekolah dasar.


Lebih daripada masa lalu yang kelam tersebut, aku masih saja merindukan tempat dimana aku tumbuh dan di besarkan ini.


Disini, banyak kenangan yang tersimpan. Disini, berbagai macam kehidupan sosial aku temukan. Dan disini pula, aku mengenal sosok Bagas yang sekarang menjadi pendamping hidupku. Ya, semuanya dimulai dari sini.


Aku menarik koper sambil berjalan melewati lobby yang sangat luas menuju pintu keluar. Tadi sore sebelum aku berangkat ke bandara, Bagas sempat mengirim pesan jika mas Dani akan menjemputku. Dan aku hanya perlu berjalan keluar dan menunggu disana.


Sesampainya di luar, langit sudah sepenuhnya gelap. Lampu menyorot jalanan cukup terang, dan aku masih belum melihat mobil mas Dani yang katanya mau menjemput. Ku lirik jam tangan yang menunjuk angka enam lebih dua puluh menit, lalu aku memutuskan untuk mencari tempat berdiri disisi ujung sambil mencoba menghubungi mas Dani.


Panggilan pertama diabaikan. Apa dia sedang menyetir? Kemudian panggilan kedua, suara mas Dani terdengar menyahut dengan sedikit bentakan. “Iya, aku lagi dijalan. Tunggu sebentar Napa?”


“Aku tunggu di luar, depan pintu keluar.”


“Yo wes. Tungguen dulu. Mbencekno.” (*ya udah tunggu dulu. Nyebelin.


Setelah hampir sejam lebih aku menunggu, akhirnya Xpander hitam milik mas Dani terlihat. Dia membunyikan klakson dua kali dan aku berjalan cepat mendekat sambil menarik koper yang lumayan berat.


Setelah ada disamping body mobil, aku membuka pintu belakang dan memasukkan koperku ke jok penumpang, lalu berjalan kedepan dan duduk di kursi samping mas Dani.


“Kamu ini lho, pulang ndadak kayak ngga ada hari lain aja.” sungutnya dengan wajah kesal sambil menginjak pedal gas mobil.


“Mamanya Bagas minta aku pulang. Bapak juga telepon Bagas, minta uang.”


Mas Dani berdecak.


“Bapak Iki pancet ae.” gerutunya tak kalah sebal dari ku ketika tau bapak lagi-lagi minta uang. (*Bapak ini nggak berubah. “Terus bojomu nangndi? Kok gak ngeterno awakmu?” (*Terus suamimu mana? Kok nggak nganterin kamu?


“Repot mas. Bagas akeh gawean.” (*Sibuk mas, Bagas sedang banyak kerjaan.


“Yo masih ngunu, istri pulang ya dianterin. Kok dibiarin sendirian dan malah ngerepotin orang.” (*Ya meskipun begitu.


Aku nggak pernah kaget dengan ucapan mas Dani, karena memang begitu orangnya. Nggak mau direpotin.


“Ya maaf, mas.”


Setelah itu kami berdua tidak ada percakapan sampai dirumah ibu. Mas Dani mampir sebentar untuk ngomong sama bapak, lalu pulang karena anaknya agak rewel.


Sekarang, ibu sedang menemaniku makan malam. Makanan yang sangat aku sukai dan rindukan. Sudah hampir lima tahun aku jarang makan masakan ibu. Hanya kalau pulang ke Surabaya, seperti ini.


Tiba-tiba bapak masuk setelah mas Dani pulang.


“Kamu ngomong ke Dani?”


Aku mengerutkan kening, lalu ingat sesuatu. Tentang uang itu ya?


“Iya.”


“Dia ngomel ke bapak untuk nggak ngganggu keuangan kalian lagi. Tapi mau bagaimana lagi, bapak perlu tambahan buat beli pupuk.”


Aku tau arah pembicaraan ini. Bapak sedang menagih uang pemberian Bagas yang ada padaku.


“Ya udah. Ndak usah di dengerin mas Dani nya. Bagas nitipin uang ke Nadya kok.”


“Ibu lha wis ngomong toh pak, Ndak usah ganggu arek-arek.” (*Ibu sudah bilang kan pak, jangan ngganggu anak-anak.


“Yo gak opo-opo sih buk. Nek anak nduwe, mampu, uripe cukup, gak masalah toh?” (*Ya nggak apa-apa sih Bu, Kalau anak punya, mampu, kehidupannya cukup, Ndak masalah kan?. Kata bapak memberi pembelaan dan pembenaran untuk dirinya sendiri, membuat ibu geleng kepala.


“Gimana kabarnya Bagas? Sehat kan?” Tanya ibu mencoba mengalihkan topik.


“Sehat. Bagas sibuk jadi nggak bisa ikut pulang. Dia nitip salam buat ibu dan bapak.”


Ibu menjawabnya dengan do'a untuk masa depan pernikahan kami. Dan juga untukku, agar tahun ini diberikan anak. Aku meng-amini do'a tulus ibu meskipun ada sedikit rasa bersalah yang tiba-tiba saja mencuat ke permukaan.

__ADS_1


“Kamu mau kerumah mertua kamu juga?”


“Iya. Besok.”


“Kamu disini berapa hari?”


“Sabtu siang balik bu.”


“Ya mau bagaimana Bu, Nadya Senin harus kerja.”


Ibu terlihat berat mendengar kenyataan jika aku harus kembali cepat. Aku dan ibu memang dekat, dan beliau juga menyayangiku teramat sangat.


“Kalau ada kesempatan lagi, Nadya pasti akan pulang kok.” kataku memberi pengertian agar ibu tidak terlalu kecewa atau sedih. “Sama Bagas.”


***


Nuansa kamar yang sudah hampir lima tahun ini aku tinggalkan, masih tetap sama. Hanya aroma dan beberapa perabot yang dipindahkan karena ibu dan bapak pikir udah nggak diperlukan lagi, mungkin.


Ibu bilang kalau beberapa waktu lalu mamanya Bagas datang kesini untuk silaturahmi. Mereka ngobrol banyak hingga sore. Dan obrolan mereka juga nggak jauh-jauh dari persoalan anak. Ibu bilang, mamanya Bagas udah nggak sabar pingin punya cucu, karena Bagas adalah anak pertama, dan Juwi juga belum menikah. Jadi, aku dan Bagas adalah harapan mereka.


Mengingat itu, aku jadi ingat ke Bagas. Gimana dia berjuang memperbaiki pernikahan kami. Aku juga berusaha, meskipun terbilang tidak sepenuh hati. Ya, katakan saja nggak sepenuh hati, karena masih ada Hansel diantara kami berdua. Dan aku, tidak bisa mengakhiri hubunganku dengan Hansel dengan mudah. Dia bersikukuh ingin tetap bersamaku, lalu aku meng-iyakan dengan alasan klise yang nggak masuk akal yang seharusnya bisa menghentikan semuanya jika aku tegas.


Menatap langit-langit kamar, aku ingat suatu hari ketika aku sedang putus asa, Bagas memberiku semangat mati-matian untuk aku terus berjuang.


Saat itu, masih SMA dan kami bersahabat.


Ada aku, kamu nggak perlu khawatir Nad.


Bagas mengatakan itu di taman yang selalu kami gunakan untuk bertemu. Tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan tentang kami semasa remaja. Tempat dimana kami selalu bertukar informasi baik itu senang atau sebaliknya.


Ah, aku ingin bernostalgia ke sana sebelum kembali ke Jakarta. Aku ingin mengingat kembali momentum yang nggak bisa aku ulangi lagi dalam hidupku.


Bagas nggak pernah berubah. Dia selalu tau ketika aku berusaha menyembunyikan lelah dan keluh kesah untuk diriku sendiri. Dia tiba-tiba datang dan seperti peramal yang bisa membaca pikiran orang lain hanya dengan melihat mata.


Sampai sekarangpun, Bagas adalah orang yang peka pada apapun yang sedang aku alami, kecuali satu hal yang sedang membelenggu ku saat ini. Hal yang aku sembunyikan dengan rapih, dan dia tidak tau sama sekali tentang apa yang terjadi antara aku dan Hansel. Atau, dia hanya pura-pura tidak tau?


Oh my God!!


Aku menutup mulutku ketika baru sadar sekarang. Jangan-jangan Bagas hanya berusaha diam agar kami tetap baik-baik saja?


Aku panik dan menghubungi Letto seketika. Dan tak menunggu lama, suara Letto terdengar di seberang. “Ada apa? Katanya lagi di Surabaya?”


“Iya. Emm...Bagas di tempat kamu?”


“Kenapa?”


“Ada apa nggak?”


“Ada. Lagi ngopi gratis. Nggak mau bayar dia.”


Ouh SHI*ttt!


Rasa panik dan khawatirku tiba-tiba menghilang ketika Letto meminta mengubah panggilanku menjadi video Call.


Ada rasa lega yang begitu bebas, lepas begitu saja saat tau dan melihat Bagas duduk di salah satu meja cafe sambil sibuk menatap laptopnya.


“Dua juga minta WIFI gratis BTW.”


“Kamu ini perhitungan banget ya? Temenmu itu.” kelakarku yang ditanggapi decakan dari pihak Letto.


Kamera ponsel Letto tiba-tiba berubah menyorot langit-langit cafe. Dia seperti sedang berjalan ke suatu tempat yang cukup riuh oleh suara obrolan yang saling sahut menyahut. Lalu,


“Nih! Istri Lo kangen.”


Wajah Bagas muncul di layar ponselku. Letto memberikan ponselnya ke Bagas. Wajahku memerah karena malu. Dan Bagas terlihat begitu tampan dengan polo shirt hitam dan rambut belah sampingnya yang ditata rapi. Lantas sebuah senyuman muncul dari bibirnya.


“Kenapa Nad? Sorry, batre ponselku habis dan aku charge dirumah. Terus buru-buru ke sini gara-gara Letto bilang ada kopi gratis.”


Sepertinya Letto pergi ninggalin Bagas, karena nggak ada suara protes.


“Usaha Letto bisa bangkrut kalau semua temennya macem kamu.”


Bagas tertawa lebar.


“Kata Letto kamu kangen sama aku. Benerankah?”

__ADS_1


“Hoax.”


Tawa Bagas semakin keras hingga menarik perhatian beberapa pengunjung di belakangnya.


“Kamu, lagi kerjain sesuatu?” tanyaku ingin tau.


“Eum. Ada sesuatu yang harus aku laporin ke atasan besok pagi. Dan laporan dari anak-anak baru masuk tadi sore. Jadi, mau nggak mau ya malem ini lembur nugas.”


Aku berdecak kecil karena mengingat kegigihan Bagas dalam bekerja. Biasanya, jika sudah seperti ini, dia akan lupa waktu, lupa makan, atau bahkan lupa untuk tidur.


“Jangan lupa makan,”


“Udah.” sahutnya mantap. Tumben?


“Usahain istirahat. Jangan sampai nggak tidur. Aku sedang nggak di Jakarta. Kalau kamu masuk angin nggak ada yang kerokin.”


Bagas memang pecinta kerokan duri ikan di punggungnya. Bukan tanpa alasan sih sebenarnya. Jika kondisinya udah drop karena kerjaan, dia mudah masuk angin dan aku yang jadi tukang kerok nya.


“Iya, iya sayang. Cepetan bobo gih. Udah malem. Teleponnya lanjut besok aja.”


“Eumm.”


“Mimpi indah ya sayang ku...”


Aku bergidik geli dengan sikap romantis yang dibuat-buat oleh Bagas.


“Masa nggak boleh bilang gitu ke istrinya?”


“Iya. Iya.”


“Miss you so bad.”


“Gas, nggak usah berlebihan. Kita pisah belum ada 24 jam, lho.”


“Yaudah, dadah.”


“Dah...”


Setelah menghubungi Bagas aku langsung pergi tidur. Anehnya, aku merasa lebih tenang sekarang. Tidurku juga nyenyak meskipun kadang-kadang terkejut oleh suara notifikasi ponsel yang aku abaikan karena kantuk.


Dan pagi harinya, ketika suara ketukan pintu yang dibuat ibu berhasil membangunkan aku. Hal pertama yang kulihat adalah ponsel. Ada beberapa notifikasi pesan WhatsApp, E-mail, dan beberapa panggilan tidak terjawab.


Setelah membuka sesuai urutan, ibu jariku bergerak ragu ketika hendak menekan nama Hansel yang juga ada disana. Ada lima pesan dari dia. Dua diantaranya dia kirim pagi ini, persis lima belas menit yang lalu. Melihat isi pesan yang dikirim Hansel, mata yang tadinya belum terbuka sepenuhnya, kini membola hingga nyaris menggelinding keluar dari tempatnya. Bagaimana tidak? Isi pesan tersebut ternyata tentang dirinya yang sedang dalam perjalanan ke Surabaya.


Pak Hansel: OTW Surabaya. See you


Pak Hansel: Pap!



Dia juga mengirim foto tepat duduk yang akan ia tempati di pesawat.


Gila. Hansel benar-benar gila karena nekad menyusulku ke Surabaya. Sebenarnya apa yang sedang dia lakukan, sih? Menjalani peran sebagai selingkuhan yang setia dan perhatian?


Ya Tuhan.


Aku benar-benar akan gila sekarang.[]


^^^to be continue.^^^


...|•|...


Ada yang ingin disampaikan ke,


Nadya?


Atau Bagas?


Atau bahkan, Hansel?


waktu dan tempat dipersilahkan. 😊🤭


Jangan lupa mampir juga ke cerita lain Vi's yang pasti nggak kalah seru lho.


See you.

__ADS_1


__ADS_2