Wedding Dust

Wedding Dust
28. Bagaskara Adewangsa


__ADS_3

...Happy Reading,...


...Terus beri dukungan untuk Nadya dan Bagas ya, biar aku semangat....


...Terima kasih....


...🌹🌹🌹...



Sore ini sedikit mendung. Langitnya kelabu berbaur sinar matahari yang mulai redup karena gelap hendak menyambut dari balik gedung yang berebut ruang di angkasa.


Pukul lima kurang lima menit ketika aku hendak memasuki pintu masuk kompleks perumahan yang aku tinggali, disana aku melihat mobil BMW yang pengemudinya terlihat familiar meskipun kacanya sedikit gelap. Siluetnya seperti... Hansel.


Tapi aku tidak mau berburuk sangka. Mungkin dan bisa jadi aku hanya salah lihat karena terpaut jarak yang cukup jauh. Lagi pula, untuk apa Hansel berada di sini?


Sesampainya didepan rumah, aku melihat lampu ruang tamu sudah menyala. Itu artinya Nadya sudah berada dirumah dan entah mengapa aku senang mendapati semua itu. Membayangkan dia akan menyambut kedatanganku meskipun wajahnya lempeng, menawariku kopi, lalu bertanya ingin makan malam apa aku malam ini, sungguh membuat hatiku tiba-tiba menghangat.


Mobil kuparkir rapi didepan rumah. Sebelum keluar, aku meraih ponsel yang kuletakkan di atas dashboard mobil dan mengaktifkannya. Tidak ada balasan dari Nadya, hanya sebuah pengingat.


...Tomorrow...


...Nadya's birthday....


Dan aku terbelalak atas pemberitahuan itu, pasalnya aku belum menyiapkan hadiah apapun walaupun beberapa pertimbangan sudah aku pikirkan jauh-jauh hari.


Letto, aku harus meminta bantuannya.


Aku memutuskan untuk tidak segera keluar dari mobil dan menghubungi kawan sejawatku itu. Meminta bantuannya untuk menghubungi temannya yang menjadi pemilik disalah satu showroom mobil di daerah dekat HI.


Nada hubung terdengar dan tidak butuh waktu lama, Letto menyahut diseberang.


“Ada apa? Ngomongnya cepetan. Aku sibuk.” katanya jujur.


“Anterin aku ke tempat temen kamu yang punya showroom mobil itu.”


“Jadi beli?”


“Ya.”


“Kapan?”


“Setelah makan malam, aku kesana.”


“Kamu ini Gas, Gas. Kenapa ndadak gini sih? Aku nggak bisa njamin temen ku ada di sana.”


“Nggak apa-apa. Yang penting kamu anterin aku.”


“Ya.”


“Bye.”


“Bye.”


Aku memutuskan untuk membeli mobil sebagai hadiah. Lantas segera turun dari mobil setelah berhasil membuat janji dengan Letto.


Pintu ku ayun pelan untuk terbuka. Ada Nadya disana, di sofa ruang tamu, sedang menyamankan diri dengan bersandar, masih memakai setelan yang tadi pagi aku lihat.


“Baru pulang?” ini suara ku, bukan Nadya.


“Eumm.”


“Bareng Tara?”

__ADS_1


Ada sedikit jeda dari Nadya. Dia terlihat sedang menimbang sesuatu. Gelagat Nadya mudah terbaca olehku. Ada keraguan pada suara lembutnya ketika menjawab,


“Iya.”


Aku dapat merasakan kebohongan di nada bicaranya. Nadya sedang berbohong.


“Oh...” hanya itu yang bisa aku katakan sebagai jawaban. Aku tidak ingin membuat runyam keadaan dengan bertanya lebih jauh, atau sampai menuduh Nadya pulang dengan ‘orang lain’ yang tadi sempat membuatku kepikiran. Apa tadi itu benar si Hansel?


“Kamu mau makan malam apa, Gas?” Nadya bertanya. Dia masih dengan posisi yang belum berubah.


“Apa aja, yang penting nggak ribet masaknya. Aku ada janji sama letto.”


Nadya bangkit dengan kening sedikit berkerut dan wajah memicing penuh telisik. “Mau kemana?”


“Ada. Mungkin pulangnya agak malem.”


“Nggak ketempat aneh-aneh kan?”


Aku tertawa. Ternyata Nadya sedang mengkhawatirkan aku, ya kan?


“Nggak lah sayang, tempat aneh-aneh itu yang gimana sih?” jawabku setengah bercanda dan mendekat pada Nadya yang sudah kembali meletakkan kepalanya pada sandaran kursi. Kemudian aku duduk disampingnya, menyibak poninya yang sedikit berantakan lalu menyelipkannya dibalik telinga tanpa mengalihkan tatapan pada sosok berwajah ayu yang sejak dulu aku kagumi secara diam-diam. “Kalau ngga percaya, kamu bisa tanya ke Letto.”


“Kalian temen kentel. Bisa jadi sekongkol.”


Aku tertawa semakin lebar, dan memberinya satu kecupan dipipi kanan. “Enggak. Suer deh! Kalau aku bohong, aku bakalan—”


“Pulangnya jam berapa?” tanya Nadya memotong kalimat yang belum rampung dengan nada ketus dan wajah sedikit merona. Jarang-jarang lihat Nadya tersipu seperti ini.


“Ngga tau juga. Soalnya lagi ada urusan penting sama orang penting.”


Kepala Nadya bangkit lagi dari sandaran dan menatapku dengan alis yang hampir menyatu. “Siapa?”


“Rahasia dong.”


“Basi.”


“Jangan pulang malem-malem kalau ngga mau malem ini batal.”


***


Letto masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan ketika aku sampai di cafe miliknya. Tiga puluh menit kemudian, kami menuju showroom mobil milik kenalan Letto dan beruntungnya, si pemilik berada di tempat hingga aku bisa bernegosiasi mengenai berbagai hal masalah mobil.


“Jadi mas nya ini mau buat hadiah?”


Aku tersenyum. “Iya mas.”


“Dia itu bego Van. Masa istrinya ulang tahun besok, beli hadiah mobil hari ini. Kalau nggak ada kamu, mana bisa beli dadakan gini, ye kan?”


Aku menggaruk tengkuk leherku karena merasa malu dan bodoh sembari nyengir kuda. Memang, seharusnya aku sudah mempersiapkan hal seperti ini jauh-jauh hari. Tapi karena terlalu banyak pikiran dan sibuk akan pekerjaan, aku hampir saja melupakan ulang tahun Nadya.


“Nggak masalah sih sebenernya Lett kalau barangnya nggak Ngindent. Kalau indent, ya udah nggak kejutan lagi. Dan beruntungnya...barangnya lagi ada.” kata Ivander, si pria ganteng mirip orang China pemilik showroom sambil menyodorkan beberapa berkas jual-beli mobil yang ku pilih, dari tangan mbak-mbak SPG yang sejak tadi mendampingi si boss. “Nissan oke lah buat cewek.”


Aku dan Letto mengangguk sepakat. Memang tehnik marketing itu sangat berpengaruh untuk kemajuan sebuah bisnis seperti ini. Ku acungi jempol untuk Koko Ivan.


“Istri, kerja dimana mas?”


“Di salah satu perusahaan ekspor impor, Ko.”


Pria berusia empat puluh tahun itu mengangguk paham. “Udah berapa lama nikah?”


Aku melirik Letto yang asyik dengan gadgetnya. Dia dari tadi sibuk dengan persegi pintar itu, hanya ikut bicara beberapa kali saat diperlukan.


“Lima tahun.” jawabku singkat sambil membubuhkan tanda tangan diatas materai.

__ADS_1


“Anak?”


“Belum ada Ko. Masih asyik pacaran.”


“Oh, lagi jamannya ya sekarang. Nikah tapi pacaran di lama-lama-in. Jangan tunda-tunda, mumpung masih muda, masih kuat kerja. Biaya pendidikan sekarang mahal mas. Ngga kayak jaman kita dulu.” katanya memberi sedikit petuah bijak yang ada benarnya. “Ya, nggak masalah sih nunda kalau memang belum ada arah ke sana. Tapi masa depan, siapa yang tau, kan?”


Aku tau kemana arah pembicaraan ini akan bermuara. Memperoleh ilmu membina rumah tangga dari yang sudah berpengalaman dan ahli, terasa lebih bisa masuk di akal sehat.


“Kamu juga, Lett. Ngapain nunda nikah. Mau nunggu jompo dulu? Keburu layu Lett.”


“Ngga mas. Calonnya aja yang belum ada.”


“Dia mah, takut istrinya banyak mau dan ngatur-ngatur.” kataku ikut menyelip. Kemudian menyodorkan kartu debit milikku kepada si SPG yang dari tadi membantu administrasi kami. Tak beberapa lama, aku menerima alat transaksi elektronik itu dan mengetik nomor PIN.


“Oh ya. Punya kenalan yang bisa ngeblong SIM nggak Ko? Soalnya istri ngga mau make kalau ngga pegang SIM.”


“Waduh, ntar tak cariin dulu lah. Kalau ada, tak kabarin.”


Semua urusan sudah selesai. Kesepakatan mobil aku ambil besok siang sama Letto. Dan persiapan lain seperti kue, dan kejutan lain aku sambung besok saja. Sekarang udah jam sepuluh malam dan aku ngga mau Nadya ngebatalin rencana kita tadi pagi. Tau kan? Pasti taulah.


Sesampainya di rumah, lampu sudah padam. Semoga saja Nadya belum tidur dan nggak ngambek gara-gara aku sampai di rumah jam setengah sebelas malam.


Aku masuk rumah dan mengunci pintu. Aku lega melihat televisi yang masih menyala, karena itu tandanya masih ada kehidupan dirumah ini. Atau dengan kata lain, Nadya masih terjaga menunggu aku pulang.


Namun semua tidak seperti yang aku harapkan. Ternyata Nadya sudah tertidur disofa dengan televisi menyala. Mungkin dia kelelahan dan bosan menunggu ku.


Aku putuskan untuk mendekat dan duduk di lantai demi memandangi wajah tenang Nadya ketika terlelap. Rambut hitam, kulit putih bersih, alis tebal, mata bulat dengan bulu mata lentik dan panjang yang indah, hidung mancung, bibir seksih berwarna ke orenan, serta leher jenjang yang mulus tanpa celah.


“Kenapa kamu kadang menyebalkan sih, Ay?” kataku, sembari mengusap pipinya yang lembut. Sejak dulu, aku ingin sekali memanggilnya dengan sebutan ‘Ay’, namun terwujud hanya ketika dia sedang terlelap seperti sekarang.


Lalu aku terkikik seperti Kunti ketika ingat bagaimana kelakuan kami dulu. “Kamu memang masih Nadya yang aku kenal secara fisik. Tapi, kemana hilangnya Nadya ku dulu? Kenapa kamu sekarang selalu bersikap dingin dan seperti ingin menjauhiku, hm?”


Aku mengecup singkat bibirnya. “Maafkan aku kalau selama kita menikah, tidak bisa membahagiakan kamu dan malah bikin hubungan kita seperti ini. Nggak karu-karuan.”


Aku tertunduk pilu menyesali bagaimana selama ini aku tanpa malu mengakui hubunganku bersama Hera didepan wanita cantik yang ada didepanku ini. Karena, aku tidak bisa membayangkan sesakit apa hatinya yang berusaha ia tutupi? Sebab, melihat dia tersenyum kepada Hansel saja, sudah membuatku ingin meledak. Seperti itukah yang dirasakan Nadya ketika melihatku bersama Hera? Atau memang dia tidak merasakan apapun hingga bisa bertahan denganku hingga sekarang?


“Nad, aku—”


Tanpa aku duga, Nadya bangkit dan tiba-tiba mengecup bibirku. Aku terbelalak mengetahui dia belum tertidur sepenuhnya.


“Sudah janji nggak pulang malam. Coba lihat, jam berapa sekarang?”


Aku cekikikan mendengar gerutuan protes Nadya kepadaku.


“Maaf,”


“Kamu tau, aku sudah menghabiskan satu judul film untuk menunggumu pulang, Gas.”


“Iya, maaf.” aku bangkit dan bergabung di sofa bersama Nadya. Memeluknya erat dan membubuhi puncak kepalanya dengan kecupan- kecupan kecil, lalu mengusapnya beberapa kali. “Ada urusan yang nggak bisa aku tunda sampai besok. Maaf terlambat.”


“Gendong.”


“Hah?” aku sampai menganga tak percaya dengan permintaan Nadya. “Apa?”


“Gendong aku ke kamar. Kuat nggak? Kalau ngga, aku jalan sendiri deh.” rajuknya dengan pipi memerah, kemudian bangkit dari sofa dan bersiap pergi.


“Eh, nggak-nggak. Kuat kok.” tahanku agar dia nggak pergi.


Aku segera bangkit dan meraih tubuh Nadya dalam timangan. Bagiku, bobot Nadya tidak berpengaruh apapun pada diriku. Tapi aroma feromon yang menguar, membuat satu sisi diriku meronta.


“Jadi?” tanyaku memastikan, dia mengangguk.


“Jangan terlalu semangat. Besok aku kerja, nggak mau kalau sampai jadi bahan perhatian karena ulah kamu.”

__ADS_1


“Siap komandan.” jawabku penuh semangat berkobar. Jadi, kalian siap dengan apa yang akan terjadi antara aku dan Nadya malam ini? []


^^^to be continued.^^^


__ADS_2