
...Kalian akan suka dengan Bagas di part ini ☺️...
...Happy reading......
Aku akan menunggu sampai kapanpun. Sampai Nadya siap dengan perasaannya untukku. Meskipun nanti, pada akhirnya dia tidak bisa memiliki perasaan yang sama denganku, aku akan menerimanya. Anggap saja itu hukuman untukku karena sudah mempermainkan sebuah ikatan sakral pernikahan.
Hari berlalu begitu saja. Pagi sudah kembali menyapa. Tidak ada cuitan burung atau desiran angin dari pepohonan rindang yang menyejukkan. Kami hidup ditengah hiruk pikuk perkotaan yang hampir tidak pernah tidur. Kota yang tidak sepi sampai pagi datang menyapa kembali.
Tubuhku sedikit kelelahan setelah menyetir beberapa jam seorang diri, kemarin. Sebenarnya Nadya bisa menyetir mobil. Berhubung dia tidak memiliki Surat Izin Mengemudi untuk mengemudi mobil, dia menolak keras ketika aku meminta dia menggantikan aku. Dia bilang, dari pada kena tilang atau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, lebih baik aku saja yang pegang kemudi. Dan itu ada benarnya.
Aku menggeliat sebentar, lalu bangkit dan meregangkan otot dan tulang leher. Setelah itu, aku melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul lima pagi.
Aku harus segera bangun dan membantu Nadya. Ingat! Aku dan Nadya sekarang dalam misi memperbaiki hubungan kami yang berantakan dan juga transparan agar membaik dan memiliki tujuan.
Sedikit desisan serta decakan aku luncurkan ketika merasakan morning wood yang tidak kaleng-kaleng. Si burung Pipit bertransformasi menjadi burung Beo, dan meronta ingin di manja oleh sang pawang. Tidak lucu jika aku keluar kamar dan menemui Nadya dengan keadaan celana mengembung. Itu pasti akan sangat memalukan.
Tiba-tiba, otak nakal ku bekerja. Maukah Nadya menemaniku sebentar untuk memanjakan si burung beo nakal ini?
Ah, ini tidak mungkin. Nadya akan marah dan mendiamkan aku jika aku memaksanya telentang di atas ranjang pagi-pagi begini. Terlambat, dan aku dalam masalah. Aku harus bermain solo lagi.
“Oh, iya. Tanggal berapa sekarang?” gumamku, lalu meraih ponsel dan mengetuk layarnya dua kali. Tanggal 2 September, itu artinya tamu bulanan Nadya seharusnya sudah lewat. Aku harus memastikannya sendiri. Takut jika ketidak sengajaan beberapa hari lalu berbuah hasil. Sebenarnya tidak apa-apa untukku, tapi mungkin Nadya tidak akan berkenan.
Aku berlari keluar kamar tanpa pakaian, dengan kata lain yang disukai anak muda jaman sekarang, topless. Langkahku langsung menemukan jalur seolah mendapat telepati tentang keberadaan Nadya saat ini. Dan tidak salah, dia memang berada disana, sedang mengambil sesuatu dari dalam pantry disamping meja dan kompor yang sedang menopang panci yang mengepul.
“Nad,” panggilku, sama sekali tidak membuatnya terkejut.
“Eumm.”
“Kamu udah datang bulan?”
Nadya menghentikan kegiatannya memilah mencari sesuatu di dalam keranjang aluminium kecil yang menyimpan beberapa bumbu bubuk siap saji, lalu menoleh dan mengunci pandanganku.
“Sudah. Kemarin baru beres. Kenapa?” tanyanya sambil meneliti tubuhku dari atas sampai bawah dengan tatapan aneh. Apa pertanyaan yang aku ajukan padanya terlalu aneh sampai dia menatapku seperti itu?
“Jangan aneh-aneh Gas. Kamu terlambat kalau mau minta jatah pagi-pagi begini.” katanya membuatku membulatkan kedua mata selebar mangkuk bakso kang Yono yang biasa lewat depan rumah setelah isya'. Aku tertangkap oleh Nadya.
“Eh, nggak kok.”
“Tuh.” tunjuknya dengan dagu ke arah burung beo ku yang masih belum mau tenang. “Nanti telat ngantor kalau kamu mintanya sekarang.”
“Nad, bukan itu maksudku.”
__ADS_1
“Udah, kamu beresin beo kamu aja dulu. Tenangin dia biar nggak bikin aku sebel. Kalau mau main, nanti malem aja.”
Yes. Apa ini kode aman buat nanti malam?
“Okey. Nanti malem, boleh?” candaku. Tebak-tebak berhadiah, siapa tau beruntung.
“Eumm.” jawab Nadya tanpa melihatku dan membawa sebungkus bumbu mendekat ke arah panci. Dia masak sop ayam kesukaanku.
Aku tersenyum kaku sambil menggaruk tengkuk leherku yang sedikit kaku dan sakit. Sial, kenapa lemah sekali sih? Masa nyetir mobil aja sampai kaku-kaku begini?
“Pengamannya habis. Nanti aku mampir supermarket sebentar mau beli. Kamu mau nitip sesuatu nggak?”
Aku bisa melihat gerakan kaku Nadya ketika menoleh ke sisi kanan bahunya, lalu dengan gerakan pelan lagi, dia menoleh sepenuhnya ke arahku. “Nggak perlu pake pengaman.”
Bibirku yang tadinya tersenyum bak cengiran kuda, lenyap seketika. Nggak perlu pake pengaman? Serius?
“Ka-kamu nggak apa-apa aku ngga pake?”
Nadya membuang muka. Aku bisa melihat semburat merah dipipinya. “Nggak mau? Ya udah beli pengaman yang banyak. Pilih yang bener. Jangan ada yang bocor.”
“Eh, eh. Enggak kok. Aku langsung pulang nanti.”
***
Hari ini dia bilang mau dateng ke kantor. Alasannya masih sama, mau nganter makan siang yang dia beli di rumah makan Padang yang jadi favorit kami dulu saat masih getol-getolnya pacaran.
Nggak menunggu seseorang memberitahu kedatangan Hera padaku, aku berinisiatif menunggunya di lobby sepi yang hanya dikunjungi beberapa pegawai Bank yang ingin menghabiskan waktu makan bekal yang mereka bawa. Disini, ruangannya cukup nyaman. Kaca membentang memperlihatkan pemandangan jalanan ibu kota dan keindahan sungai yang sekarang dijaga ketat kebersihan dan keindahannya oleh pemerintah. Lalu, ada meja aluminum panjang mengikuti bentuk kaca yang sedikit meliuk setengah lingkaran, dan juga kursi aluminium tanpa sandaran yang bisa berputar. Nggak sia-sia aku mengajukan proposal pembangunan untuk ini. Tempat ini akan sangat bermanfaat dimasa depan setelah masa jabatanku berakhir nanti.
Aku duduk membawa tumbler minuman berisi teh manis buatan Nadya dan juga kotak bekal yang dibawakan Nadya untukku tadi pagi. Menunya masih sama, sup sayap ayam dan perkedel kentang kesukaanku.
Aku merogoh saku celana bahan yang ku kenakan. Lalu mengirim pesan untuk Hera agar langsung saja datang ke tempat dimana aku berada saat ini, dan nggak sampai lima belas menit, dia sudah muncul dengan senyuman manis yang biasa dia berikan kepadaku.
Hera terlihat sedikit kurus, mungkin efek dia sakit beberapa waktu lalu. Aku juga cukup terkejut karena Hera sudah ngantor padahal kemarin Sabtu dia masih terbaring lemas di ranjang rumah sakit.
Dia meraih bahuku dan mengecup pipi kanan dan aku menjauh ketika dia ingin mengecup bagian kiri.
“Kamu masih sakit lho. Kok udah masuk kerja sih?” tanyaku menelisik sambil memperhatikan fitur wajahnya yang berubah sedikit tirus.
“Udah sembuh. Ngga enak lama-lama di rumah sakit. Kangen sama kamu juga.”
Aku menghela nafas kasar, lalu menurunkan pandangan pada paper bag yang ia bawa. “Aku tadi udah kasih tau kalau aku bekal, kan? Kenapa masih di beliin sih?”
“Aku pikir kamu cuma ngeles cari alasan biar aku nggak kesini, Gas.”
__ADS_1
“Iya, tapi kamu tetep nekad datang kan? Sama aja.”
Senyuman Hera mengembang. Hera tidak beda jauh dengan Nadya. Mereka berdua sama-sama keras kepala, tapi cara mereka berbeda dalam mengekspresikannya.
“Kalau nggak gini, kamu bakalan terus nolak aku, Gas.” katanya sendu. Pada kenyataannya, aku memang menjauhinya beberapa hari ini. Aku ingin memperbaiki pernikahanku dengan Nadya, dan salah satu langkah yang harus aku ambil adalah mulai mengakhiri hubungan tidak ber-arahku bersama Hera.
Aku mempersilahkan dia duduk terlebih dahulu. Lobby masih sangat sepi, hanya ada satu pegawai yang duduk cukup jauh dari kami dan sedang sibuk memakan bekalnya sambil bermain ponsel. Jadi aku dan Hera sedikit bebas untuk bicara tentang kami.
“Makan yuk.” ajakku padanya dan dia angguki sambil membuka satu dari dua bungkus nasi padang yang ia bawa. “Jangan sampai telat makan. Nanti kambuh lagi.”
“Iya. Kemaren banyak pikiran, dan males makan. Ya udah, mau gimana lagi.”
Aku tersenyum getir. Aku tau jelas maksud ucapan Hera itu. “Sorry.”
Ruangan kembali sunyi ketika kami menikmati makan siang kami. Kemudian, setelah menghabiskan makan siang, kami kembali mengobrol karena masih ada sisa jam istirahat sebelum dia kembali ke kantornya.
“Maafin Om Roni kemarin ya, Gas. Dia sama sekali nggak tau posisi hubungan kita.”
Aku mengedarkan pandangan ke arah luar kaca. Aku ingin meneguhkan hati dan tidak ingin kembali luluh oleh kalimat sendu Hera dan berakhir berdiri di tempat yang sama. Aku ingin bergerak maju untuk masa depan pernikahanku bersama Nadya. Tekadku sudah bulat.
“Aku yang seharusnya minta maaf ke kamu, Ra. Aku tiba-tiba minta kita stop hubungan kita, dan bikin kamu kepikiran sampai sakit. Itu salahku.”
Kali ini, aku bisa merasakan sentuhan tangan Hera di lengan tanganku yang tertutup kemeja biru langit bergaris, pilihan Nadya pagi ini.
“Gas, aku pingin kamu mikirin itu sekali lagi. Aku nggak pingin kita udahan gitu aja setelah enam tahun berjuang bareng-bareng sama kamu.”
“Tapi, aku harus ambil pilihan Ra. Aku dan kamu nggak bisa terus kayak gini. Aku dan kamu nggak bakalan bisa bersama. Aku udah nikah.” gigihku agar Hera mau menerima alasan yang sudah aku katakan sebelumnya.
“Aku mau nungguin kamu Gas. Nungguin sampai Nadya bosan ke kamu dan milih pisah sama kamu.”
Aku menajamkan pandangan ketika mendengar Hera yang berkata hubunganku dan Nadya akan berakhir. Tanganku kiriku yang bebas di sisi tubuh, mengepal samar tanpa sepengetahuan Hera. “Aku dan Nadya nggak bakalan pisah, Ra. Kami nggak pingin kecewain orang tua kami.”
“Itu cuma dari sudut pandang kamu, Gas. Bukan Nadya.” sahut Hera sedikit menarik perhatian beberapa orang yang mulai berdatangan. “Aku nggak melihat ketulusan dimata Nadya untuk kamu.”
“Kamu salah. Aku yang lebih tau Nadya.”
“Gas. Tolong, jangan kayak gini. Aku nggak mau udahan sama kamu.”
Aku menundukkan kepala, teringat betapa cantiknya Nadya tadi pagi ketika tersenyum padaku saat berpamitan sebelum masuk ke tempat kerjanya. Senyuman Nadya yang sangat aku rindukan dan aku sukai.
“Sorry. Jawabannya tetap sama, Ra. Kita udahan. Aku nggak mau nyakitin Nadya semakin jauh.” tegasku membuat nafas Hera berubah memburu. “Aku dan Nadya ingin memperbaiki pernikahan kami. Jadi, aku mohon relain aku, dan kita udahan.” []
^^^to be continued.^^^
__ADS_1