Wedding Dust

Wedding Dust
51. Bagaskara Adewangsa


__ADS_3

WEDDING DUST UPDATE


LUANGKAN WAKTU UNTUK MEMBERI LIKE, KOMENTAR, DAN TAMBAHKAN WEDDING DUST KEDALAM LIST FAVORIT KALIAN YA, BERI JUGA VOTE DAN HADIAH JIKA BERKENAN 🤭


TERIMA KASIH


🌹🌹🌹



Gentleman.


Papa pernah memberiku wejangan sebelum menikahi Nadya. Dia berpesan agar aku menjadi seorang laki-laki yang memiliki prinsip, seorang suami yang memiliki wibawa dan harga diri yang bisa dibanggakan istri, dan tentu saja, menghargai istri dan jangan pernah menyentuh seinci kulit istri dengan sebuah pukulan.


Aku mencoba mewujudkan semuanya sejak lima tahun yang lalu, lebih tepatnya sejak menikahi Nadya Ayunda.


Aku tidak pernah menyakiti Nadya dengan tanganku, aku selalu mencoba menjadi pria sabar dan pengertian untuk Nadya, meskipun aku memang brengsek di satu sisi lain.


Sekarang aku ingin menebus kesalahanku itu dengan menjadi laki-laki yang gentleman.


Sore hari, aku sudah berada didepan kantor tempat Nadya dan Hansel bekerja. Tadi, sebelum berangkat Nadya berpesan agar aku berhati-hati dengan Hansel karena bisa saja dia melakukan sesuatu yang bisa menyakitiku.


Ya, aku tau Hansel bisa nekat sejauh itu. Tapi untuk kali ini, aku tidak akan tinggal diam. Aku tidak mau mengulangi lagi kesalahan dimasa lalu dengan melepaskan orang yang aku sayangi begitu saja.


Beberapa pegawai terlihat berhambur satu persatu keluar dari kantor. Kemudian ponselku bergetar, sebuah pesan masuk.


Ini siapa?


Pesan dari Hansel. Aku sempat meminta nomornya ke Nadya, dan dia memberikan nomor itu meskipun aku bisa menangkap ada keraguan dalam benak Nadya.


Aku menggeser pesan itu untuk membalas.


Aku Bagas. Temui aku di Cafe dekat kantor kamu. Ada yang pingin aku omongin sama kamu, aku tunggu.


Sudah hampir tiga puluh menit aku menunggu disini, tujuanku ya hanya satu. Kalau Hansel menolak bertemu, aku akan masuk kesana untuk menemuinya. Itu inisiatifku.


Tapi tak butuh waktu lama, dia membalas pesanku. Wow, dia gentle sekali.


H: Oke. sepuluh menit lagi aku kesana.

__ADS_1


Aku tersenyum diujung bibir. Keberaniannya boleh diacungi jempol.


Segera ku nyalakan mesin mobil, menginjak pedal gas dan bergegas menuju sebuah cafe yang letaknya di deretan kantor ini berada. Cafe berdesign out door yang lumayan worth it kalau dijadikan tempat beradu argumen.


Aku memilih salah satu kursi yang nggak jauh dari mobilku berada. Seorang pramusaji datang untuk menawarkan menu, dan aku memesan dua es Americano untuk aku dan Hansel.


Tak lama berselang setelah minuman datang, Hansel juga sampai dan berjalan ke arahku berada.


Ada sesuatu dalam diriku dari masa lalu yang memberontak marah, hingga ingin menghantam wajah itu dengan pukulan bertubi-tubi. Tapi aku ingat janjiku pada Nadya, kemudian aku berusaha menenangkan diri.


Dengan penuh percaya diri, Hansel duduk kursi kosong didepan ku. Tanpa berniat mengangkat bendera peperangan, aku menyodorkan satu cup Americano yang tadi sudah aku pesan kepada Hansel.


Dia melihat cup minuman tersebut lantas tertawa sumbang dan membuang muka sejenak. Dia terlihat sedang berusaha meremehkan aku.


“Minuman itu sebagai sapaan antara senior dan junior yang sudah lama nggak ketemu. Jangan lupa, kita pernah satu kampus dan menyukai orang yang sama.”


Sudah menohok kah kalimatku? Aku harap dia paham kemana aku akan membawa arah pembicaraan kami.


“Ada apa ngajak aku ketemuan begini? Oh, pasti karena dua hari lalu itu ya?”


Dia bertanya seolah tidak terjadi apapun dan tidak menyakiti siapapun. Dan aku tidak pernah lupa, tidak akan pernah lupa Hansel yang seperti ini. Dia masih Hansel yang sama seperti waktu itu.


Mendengar dia menyebut nama Nadya, emosiku terpatik lagi. Aku mengepalkan satu tanganku yang bebas di bawa meja, mencoba mempertahankan kesabaran yang sebenarnya sudah sejak melihatnya tadi, menghilang.


“Untuk apa dia ikut?” tanyaku seakan ingin tau alasan Hansel mempertahankan keberadaan Nadya.


“Apa lagi memangnya? Kamu akan tau yang sebenarnya. Itu kan yang hendak kamu tau dariku? Itu kan tujuanmu ngajak aku ketemu seperti ini?” katanya mengintimidasi tanpa rasa bersalah sedikitpun.


“Dia udah cerita semua ke aku, dan aku perlu bicara sama kamu.”


“Oh ya? Apa Nadya juga memberitahu kalau kami pernah berada dalam satu kamar hotel?”


SH*IIIT!!! APA MAUNYA?


Aku memang mendengar semuanya dari Nadya, tak terkecuali tentang hotel ini. Nadya bilang dia terpaksa karena terjebak hujan. Dan aku percaya semua yang dikatakan Nadya dari pada Hansel, si tukang profokasi.


“Jadi, sekarang mau bagaimana?”


“Tinggalkan Nadya. Dia istriku!” kataku menegaskan jika Nadya milikku seutuhnya.

__ADS_1


Lelaki didepanku ini tertawa lantang. “Ya. Dia memang istrimu, tapi dia nyaman bersamaku Gas. Jangan lupakan itu.” sahutnya penuh percaya diri. “Kalau kamu mau menyalahkan kami, silahkan koreksi dulu diri kamu sendiri. Sejauh mana Nadya menahan beban dalam hatinya, jangan egois hanya dengan mengakui dia sebagai istri.”


Salah memang, jika aku memandang diri seperti ini. Hansel juga ada benarnya, karena selama ini aku membagi kasih sayang ku untuk Nadya dan orang lain.


“Aku tau, aku salah. Itu masa lalu kami, dan kami sedang memperbaiki semua kesalahan-kesalahan itu.”


“Memperbaiki? Lucu sekali. Yang sudah hancur dan pecah, nggak akan pernah bisa kembali utuh, Gas. Kamu lupa jika hati seorang wanita itu seperti kaca?”


Kali ini emosiku mulai meledak. Dia bicara seperti dirinya tidak melakukan kesalahan kepada keluarganya. Baiklah, biarkan aku menjadi orang jahat kali ini.


“Lalu, bagaimana dengan dirimu? Apa kau lupa jika kamu juga sudah berkeluarga? Bagaimana jika anak dan istrimu tau kelakuanmu di belakang mereka?!” kataku menyerang tanpa memikirkan suasana hatinya. Hansel berubah pias, matanya menatap tajam ke arahku, rahangnya mengeras. Emosinya mungkin sedang merangkak naik sekarang.


“Jangan bawa-bawa mereka dalam pembicaraan kita.”


Dia terpancing.


“Jadi, lepaskan Nadya. Jangan ganggu dia lagi.” sahutku tegas tak ingin dibantah. Tapi bukan Hansel namanya jika dia menyerah begitu saja.


“Bagaimana jika aku nggak mau?”


Aku tertawa jumawa. Ku condongkan tubuhku sedikit maju hingga area bawah dadaku menempel pada tepian meja, ku satukan kedua telapak tangan diatas meja, lalu kesunggingkan sebuah seringai tajam kepadanya. Aku juga punya prinsip kuat sebagai kepala rumah tangga. Aku tidak ingin kehilangan sekali lagi hal berharga milikku, oleh orang yang sama.


“Aku sendiri yang akan menghancurkan keluargamu.” kataku tegas dan tajam hingga Hansel tidak bisa berkata apa-apa selain hanya menatapku dengan sorotnya yang masih tajam menghujam dengan rahang tak kalah mengerat dan tangan terkepal sempurna. “Jangan anggap aku akan diam saja kali ini.” tekanku mulai mengintimidasi, menyerang satu sisi kelemahannya. “Dulu, kamu bisa menghancurkan aku, karena kamu tidak memiliki sesuatu yang bisa aku hancurkan. Tapi,”


Aku bergerak mundur, menyandarkan tubuhku pada sandaran kursi besi berwarna hitam ini tanpa memutus tatapan dari manik Hansel. “Tapi, sekarang aku bisa melakukan itu. Menghancurkan dirimu, sama seperti dirimu menghancurkan aku dulu. Jangan lupakan jika kamu memiliki keluarga, dan aku akan memporak-porandakan keluarga kecilmu hingga hancur berantakan. Camkan itu!” kataku dengan nada dingin dan senyuman yang sudah sepenuhnya lenyap dari wajah dan bibirku.


Aku berdiri dan mendorong kakiku kebelakang hingga kursi yang sebelumnya menopang tubuhku, jatuh terjungkal ke belakang. Aku puas dengan apa yang baru saja aku lakukan pada Hansel. Mengancamnya dengan tanpa perasaan. Ini sangat menyenangkan, saat melihat wajah paniknya yang ketakutan.


Dan sebelum aku benar-benar meninggalkannya, aku menyempatkan diri menghentikan langkah dan berbalik menatapnya dari sisi kanan bahuku. Disana, aku berkata sekali lagi agar dia menyerah pada egonya ingin memiliki sesuatu yang sebenarnya tidak patut untuk is rebut. “Tinggalkan Nadya. Dan jangan pernah ganggu lagi kehidupan kami. Atau kamu akan merasakan akibatnya jauh lebih mengerikan dan gelap dari pada bayanganmu sendiri.”


Ku ayunkan langkah menjauh dari Cafe dan bergegas masuk kedalam mobil. Nafasku memburu karena kenangan lama tiba-tiba muncul dan menyerang tepat di titik terendah hidupku. Sumpah demi apapun, masa lalu yang diberikan Hansel untukku, memiliki dampak yang begitu mengerikan.


“Sial!” umpatku keras. Tanganku memukul kemudi, dan ku banting kepalaku pada sandaran kursi mobil, kemudian meremas rambutku hingga rasa sakit oleh cengkeraman itu berhasil mengalihkan ku dari rasa sakit yang mendera batin.


“Aku tidak akan memaafkan mu kalau sampai Nadya memohon dan menangis lagi didepanku.”


Se-cinta itu aku pada dia. Dan aku bersumpah, akan menghancurkan siapapun yang berani menyakiti Nadya . []


^^^to be continue.^^^

__ADS_1


__ADS_2