Wedding Dust

Wedding Dust
33. Nadya Ayunda


__ADS_3

...Happy Reading......


...🌹...



“Kalau misalnya aku khianati kamu, gimana?”


“Memangnya, ada niat kesitu?”


“Cuma seumpama.”


“Aku akan menghilang. Dari siapapun,”


Aku ingat, aku terperanjat penuh kejut saat itu. Hatiku begitu perih, teriris hingga rasanya ingin mati ketika mengingat semua yang terjadi beberapa hari ini.


“Termasuk dari hadapan kamu, Nad.”


—————


Sudah seminggu sejak kejadian Hansel memaksaku untuk menjalin hubungan dibelakang Bagas dan meng-iyakan karena dia mengancam, hari ini aku memutuskan diam dan tidak mengajaknya bicara sama sekali selain urusan pekerjaan.


Hansel selalu mencuri-curi kesempatan untuk mendekat padaku, dengan caranya sendiri. Akan tetapi aku memilih abai dan fokus ke pekerjaan.


“Nanti makan siang diluar yuk.” ajaknya yang masih saja aku abaikan. “Nad,”


Aku menoleh dengan ekspresi datar yang katanya, sangat dia sukai. Kata Hansel, aku cantik, seksih, dan misterius ketika menatap seseorang dengan tatapan seperti itu. Tapi aku yakin, tidak begitu. Mereka pasti lebih banyak membenci dari pada kagum atau penasaran seperti yang dibilang Hansel.


“Saya bawa bekal, pak.”


“Sekali-kali dong, ya...” pintanya dengan suara manja yang dibuat-buat.


“Maaf. Saya makan di kantor sama Tara saja. Lagi pula, orang-orang yang melihat, akan curiga pada kita.”


“Terserah mereka. Toh memang kita sedang melakukannya, ya kan?”


Kali ini aku menatap tajam penuh ketidak sukaan kepadanya. Mengapa mulutnya enteng sekali ketika mengatakan hubungan terlarang ini?


“Tolong jangan tegaskan itu didepan orang lain. Cukup kita saja yang tau.”


Hansel tertawa, lalu dia berjalan mendekat padaku dan mengusap kepalaku yang langsung aku tepis kasar. Aku benar-benar takut dengan kenekatannya. Aku khawatir jika tiba-tiba saja Tara muncul dan melihat apa yang sedang kami lakukan berdua, kemudian mengadu kepada Bagas. Sumpah, aku tidak siap kehilangan Bagas sampai kapanpun.


“Kenapa, hm? Kamu takut?”


Aku mencebik dan mendorong kursiku sedikit menjauh. “Tolong jaga sikap anda, saya tidak mau ada orang lain tau tentang hubungan terlarang kita.” kataku sekali lagi ingin menegaskan kepada Hansel agar dia sadar diri akan status masing-masing.


“Nad,” sekali lagi dia ingin menyentuhku, namun aku selalu berusaha menolak.


“Bisa diem nggak sih tangannya?!”


Hansel tercengang. Wajahnya sedikit mengeras setelah mendengar ucapan kasarku. Aku nggak peduli, dipecat hari ini pun aku bakalan kabulin untuk berhenti.


“Tau nggak, semakin kamu nolak gini, aku semakin terpacu untuk dapetin yang lebih lho.”

__ADS_1


Aku berdiri seketika, menatapnya dengan jantung berdetak sangat cepat hingga membuat pandanganku berkunang. “Apa maksud bapak bicara begitu?”


“Aku menginginkan kamu lebih dari—”


Stop. Please.


Aku memejam mata, menggeleng tidak percaya, lalu mengambil langkah pergi dari ruangan untuk ke kamar mandi. Mengapa sekarang aku seperti seorang wanita yang tidak punya harga diri? Mengapa perubahan sikap Hansel padaku begitu drastis hingga berani-beraninya dia menginginkan aku lebih? Sial!!!


Di dalam kamar mandi, ada mbak Nana yang juga sedang ada keperluan di kamar mandi. Tatapan kami bertemu sejenak sebelum aku memutus dengan mengalihkan pupil melihat pintu kamar mandi yang ada tidak jauh dariku sambil mengangguk sopan, karena dia senior ku disini. Aku wajib menghormatinya.


“Nad, mau buang air kecil?” tanyanya nggak masuk akal. Coba dipikir lagi, apa orang secerdas dan berkompeten seperti dia, tidak tau tujuan seseorang ke kamar mandi?


“Ah, iya mbak.” jawabku santai sembari tersenyum, lalu meraih handle pintu berbentuk bulat dan bersiap mendorongnya.


“Beberapa hari ini, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan ke kamu deh. Tapi aku nggak pernah dan nggak sempet ketemu kamu.”


Aku menggenggam handle pintu, bersiap menerima pertanyaan yang sudah aku pastikan...akan menjurus ke arah hubunganku bersama Hansel.


“Oh ya. Sekarang kita sedang bertemu. Jadi, silahkan mbak Nana bertanya.”


Dia tersenyum disudut bibir.


“Ada hubungan apa kamu sama Hansel.”


Jantungku seperti meledak. Mbak Nana tau tentang hubunganku dengan Hans?


“Kami nggak ada hubungan apa-apa kok mbak. Pak Hans itu atasan saya dan saya hanya bekerja sebagai partner di kantor—”


“Bullshit. Kamu pikir saya bodoh ya?”


“Di Semarang, kalian bahkan makan malam berdua.” lanjutnya, kali ini dia melipat kedua lengannya didepan dada dan menatapku intens. Sedetik kemudian, dia berdecak dengan tatapan mengintimidasi karena aku tidak menurunkan pandangan darinya. “Jauhi dia. Dia sudah punya anak, Nad. Kasihan anak sama istrinya.”


Sumpah. Diriku sekarang sudah tidak ada harganya lagi dimata wanita ini. Tapi aku masih memilih diam dan menunggu kalimat menyakitkan lainnya yang hendak dia tujukan untukku.


“Kalau mau cari selingkuhan, cari yang single aja Nad. Jangan yang sudah punya anak istri kayak dia. Kasian keluarganya. Kamu juga nggak mikir perasaan suamimu kalau tau perbuatan kamu dibelakangnya?”


Ya Tuhan. Haruskah aku memohon ampun kepada Bagas hari ini? Mengapa hatiku seperti dikoyak dan hancur tak bersisa mendapati kenyataan menyedihkan ini?


“Stop goda dia deh, Nad. Atau aku yang akan paksa kamu berhenti—”


“Mbak, saya tidak sejahat it—”


“Kamu ngerasa kamu nggak jahat. Tapi kelakuanmu lebih dari ibblis.”


Satu tetes airmata mengucur begitu saja. Tidak ada kalimat pembelaan yang keluar dari mulutku, karena aku memang bersalah. Ini salahku.


“Aku kira kamu wanita baik-baik karena selalu menjaga sikap dan menghargai serta sopan didepan orang lain.”


Stop, please.


Tubuhku mulai lemas. Kedua kakiku seolah tidak sanggup lagi menahan bobot tubuhku. Aku ingin luruh ke lantai.


“Tapi dibalik semua kebaikan kamu itu, kamu tidak lebih baik dari seorang wanita ******* nggak tau diri.”

__ADS_1


“Berhenti mbak. Aku nggak seburuk itu.”


“Kamu seburuk itu.”


Aku menggeleng tidak percaya jika memilih membuka hati saat itu, akan berujung seperti ini.


“Atau kamu mau, aku menyampaikan berita mengejutkan ini kepada suamimu?”


Aku kembali menggeleng lemah ketika mbak Nana mengambil langkah mendekat padaku. Jarak wajah kami terpangkas ketika dia menyorongkan kepala tepat disebelah telingaku.


“Jaga sikapmu, kalau kamu ingin selamat dan nama baikmu tetap disegani disini. Jauhi hansel.”


“Kenapa? Apa mbak juga menyukainya?”


Wanita itu sedikit terperanjat, kemudian tertawa kaku sambil merotasikan kedua bola matanya. “Nad, Nad. Kamu itu naif sekali ya.”


Aku hanya menatap lurus ke arah mbak Nana yang mencibir ku. “Hansel itu—”


“Eh, Nad.”


Syukurlah. Aku akan berterima kasih pada Tara karena dia muncul di waktu yang tepat. Aku ingin memeluk temanku itu karena aku limbung. Tapi aku terus berusaha kuat berdiri diatas kakiku sendiri.


“Ra. Bisa antar aku ke klinik?”


“Lho, kamu sakit? Kenapa nggak izin aja?”


“Ra, plis. Anterin aku sekarang.”


“Uh, oke. Ayo.”


Kata-kata itu. Kata-kata yang begitu merendahkan diriku. Hatiku begitu hancur ketika mendengar mbak Nana mengatakan itu dengan sebuah bisikan sarkas beserta nada ketus ketika aku berjalan melewatinya untuk meminta pertolongan Tara.


“Dasar ******* nggak tau diri.”


***


Tara mengantarku ke klinik tanpa berbicara sepatah katapun seolah tau keadaanku yang kacau, hanya terus memandangiku yang berjalan sambil menangis tak tau diri.


Hingga kami Samapi di ruangan tak terlalu luas dan bernuansa putih itu, kami disambut seorang petugas kesehatan yang sedang berjaga disana.


“Lho, mbaknya pucat sekali. Kenapa mbak? Silahkan berbaring dulu di ranjang.”


Aku tidak menjawab. Aku lebih sibuk mengusap airmata yang terus berjatuhan didepan Tara. Lalu aku berkata kepada Tara dengan suara parau dan kacau ketika petugas kesehatan itu sibuk mencari stetoskop dan termometer nya dimeja. “Ra, jangan bilang apapun ke Bagas tentang ini.”


Dia mengangguk mengerti dan masih setia berdiri di sampingku.


“Apapun yang kamu dengar hari ini—” aku memejam menahan malu. “—tolong lupakan.”


“Kamu sedang ada masalah, Nad?”


Tara mendekat, dia meraih satu telapak tanganku dan menggenggamnya sedikit erat dengan usapan. “Mau cerita ke aku? Aku mau dengerin apapun masalah kamu. Jangan lupain, kalau kamu punya aku sebagai pendengar, aku bersedia dan ada kapanpun kamu butuh aku. Oke?!”


Aku bersyukur, setidaknya Tara tidak seperti Hansel. Dengan bisikan parau aku berkata, “Thanks.” []

__ADS_1


^^^to be continued.^^^


__ADS_2