Wedding Dust

Wedding Dust
22. Bagaskara Adewangsa


__ADS_3

...Happy Reading......



Aku lagi di rumah sakit.


Isi pesan Hera tiga jam yang lalu. Aku jarang menghubungi dan membalas pesan atau panggilan yang dia lakukan akhir-akhir ini. Aku mencoba membangun batas, kemudian perlahan melepas. Tapi, membaca pesan itu, hati kecilku nggak bisa abai gitu aja. Bagaimanapun, Hera pernah nemeni aku lama banget. Bahkan sampai sekarang, hubungan kami masih terjalin. Posisi ini sangat menyulitkan aku.


Aku memilih pulang lebih dulu untuk membersihkan diri, sekalian melihat apa Nadya sudah pulang atau belum. Tanpa sengaja, dijalan searah menuju kompleks, aku melihat Tara membonceng Nadya dan aku memutuskan memutar stir, berbalik arah untuk membelikan nasi uduk yang biasa Nadya pesan saat aku pulang kerja, kalau dia lagi pingin. Setelah mendapatkan nasi induk itu, aku langsung pulang.


Sesampainya dirumah, aku mendengar suara gemericik air yang sudah bisa aku pastikan itu Nadya. Benar saja, tak lama kemudian dia keluar dan tak terkejut akan kehadiranku di sini.


Demi memutus suasana canggung yang tiba-tiba saja muncul, aku membuat percakapan dengan topik yang muncul begitu saja dari otakku.


“Aku beliin nasi, aku taruh di meja makan. Ngga usah masak buat makan malam. Aku ada urusan mendadak.”


Responnya hanya diam dan melewatiku begitu saja tanpa peduli, sama seperti satu Minggu belakangan. Aku tersenyum miris lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setengah jam berlalu, aku sudah selesai membersihkan diri dan mengganti pakaian. Lantas menyambar kunci mobil yang tadi sempat aku taruh di atas meja ruang tengah. Nadya ada di sini, menonton serial Netflix kesukaannya.


“Kalau jam sembilan aku belum pulang, kunci saja pintunya. Aku bawa kunci cadangan.” ucapku lalu mengambil langkah untuk segera pergi.


“Kamu sebenernya mau kemana?”


Aku cukup terkejut karena akhirnya Nadya buka suara. “Aku...itu...”


“Ngomong yang jelas.”


“Mau ke rumah sakit.”


“Siapa yang sakit?” tanya Nadya, dia sedikit bangkit dari duduknya mendengar aku berkata begitu.


“Aku cuma mau nengok sebentar. Habis itu ke tempat Letto. Udah kadung janjian sama dia.”


“Yang sakit siapa?” tekan Nadya menuntut.


Ragu, tapi aku nggak bisa bohong ke Nadya. “H-Hera.”


Aku melihat wajah datar Nadya berubah kaku. Dia berhak berekspresi begitu karena aku sejak awal memang brengsek. Nggak bisa menghargai perasaannya sama sekali.


“Oh.”


Aku menggaruk tengkukku yang sama sekali nggak gatal. “Kamu mau...ikut?”


“Jangan gila kamu, Gas. Sinting!” jawabnya terang-terangan dan tegas menolak sambil memalingkan wajah ketusnya. Aku mau ngomong jujur ke dia. “Kalau kamu nggak jujur tadi, aku mau ngikuti kamu lho.” lanjut Nadya tanpa sungkan, tapi justru membuatku senang. Aku terkikik sampai bahuku berguncang.


“Oh ya?”


Nadya tidak menjawab, tapi wajahnya memerah. Sepertinya dia malu.


“Cepetan dimakan nasi uduknya, keburu ngga enak.” titahku dengan wajah yang sudah nggak menunjukkan ekspresi sumpek seperti semenit yang lalu. “Aku cuma mau nengok Hera sebentar kok. Dia bilang lagi sakit dan harus dirawat inap. Setelah itu, aku mau mampir bentar ke tempat Letto, terus langsung pulang.”


Ada sebuncah rasa bahagia melihat Nadya sudah melunak. Rasanya, aku jadi malas pergi dan ingin cuddle saja sama Nadya dirumah. Kangen berat, tau!


***


Aroma disinfektan menyapa ketika kaki sudah melewati pintu kaca yang terbuka otomatis. Hera bilang, dia dirawat di ruang VVIP yang ada dilantai dua. Dia juga bilang dikamarnya lagi ada saudaranya yang sedang besuk. Nggak masalah. Itu artinya, ada alasan buatku nanti buat pulang cepat.

__ADS_1


Dandelion 25. Tempat Hera dirawat.


Aku mengetuk pintu lalu membukanya. Beberapa orang yang ada didalam menoleh dan melihatku dengan tatapan penasaran. Lalu Hera, tersenyum ke arahku.


“Eh, nak Bagas.” itu suara mamanya Hera yang memang sudah mengenalku sejak setahun kami berkencan. “Masuk sini nak.”


“Siapa, mbak? Pacar Hera?” tanya wanita yang sedang memangku anak kecil berusia kisaran lima tahun.


“Hahaha... Iya. Ganteng kan?”


“Ganteng banget malahan.” sahut orang lainnya. Kali ini laki-laki.


Pria paruh baya berkacamata bundar itu mendekat dan meraih bahuku untuk ia rangkul akrab. Senyumannya tulus dan lebar seperti bangga yang entah ditujukan kepada siapa. “Jadi, kapan disegerakan ini, Ra?”


Aku membeku ditempat. Disegerakan? Maksudnya, menikah? Itu amat sangat tidak mungkin. Hera sampai tercengang dan raut wajahnya berubah datar beberapa saat sebelum dia kembali memutuskan untuk tersenyum sambil menatap ke arahku.


“Om. Jangan gitu. Masih lama ih. Lagian dia juga masih sibuk nyari uang.” kali ini Hera mencoba bercanda dengan orang yang dia panggil Om ini.


“Uang kan bisa dicari sambil jalan. Ya kan nak Bagas?”


Aku tersenyum kaku. Tidak berniat menjawab dengan kalimat. Ah, keputusanku datang diantara keluarga Hera, salah. Aku malah seperti didesak untuk segera meresmikan hubungan kami ke arah pernikahan.


Aku berjalan menuju ranjang tempat Hera berbaring. Meletakkan buah dalam keranjang yang aku bawa untuknya, dan satu kantong roti tawar kesukaannya diatas nakas. “Sorry.” bisiknya dengan gerakan bibir tanpa suara, dan aku mengangguk.


“Asli orang sini?”


“Saya asli Surabaya, om.”


“Oh..Nak Bagas ini, kerja dimana?”


Aku terkejut mendengar pertanyaan Om nya Hera. Mataku bertemu sebentar dengan milik Hera, lalu aku kembali menatap ke arah si Om sambil mengembangkan senyuman.


“Wah, cocok itu sama si Hera. Ya udah, kapan nih Om bisa Dateng ke rumah sebagai wali?”


Ini sama sekali ngga lucu. Aku mulai nggak nyaman. Satu telapak tangan ku tiba-tiba di genggam Hera, mungkin dia ingin memintaku bertahan sebentar untuk situasi seperti ini.


“Kami masih belum ada arah kesana, Om. Kami masih ingin fokus ke karir kami—”


“Nggak baik lho pacaran lama-lama, Ra. Pamali.”


***


Aku bersyukur ada saudara Hera yang juga sedang menjenguk, karena aku benar-benar cuma sebentar disana. Dan sekarang aku ada di rumah Letto. Pria jomblo ini tadi memberitahuku agar datang kerumahnya saja, bukan ke cafe. Dia bilang takut bangkrut kalau aku sering datang dan meminta kopi gratis di sana. Temen sialan.


Setelah parkir mobil, aku berlari kecil ke teras rumah Letto. Disana, dia sudah duduk santai sambil menyedot Vape dan mengepulkan asap dari mulutnya seperti cerobong asap kereta.


“Lo bikin gue muter jauh kali, Lett. Temen set*an.”


“Lha emang. Baru tau Lo?”


“Taik.”


Aku terkikik dan duduk membanting tubuh di kursi samping Letto.


“Ada apa lagi? Perasaan Lo sama Nadya itu nggak pernah akur sehariiii... aja. Capek gue lihatnya.”


“Makanya, Lo nikah biar tau gimana rasanya kalau bini Lo lagi ngambeg. Dah ah, gue mau ambil minum dulu.”

__ADS_1


Aku berjalan masuk kedalam rumah Letto. Suasana disini sepi, karena komplek perumahan yang Letto tempati ini, adalah kompleks perumahan baru yang 50% nya masih dalam tahap pembangunan.


Setelah ambil minum, aku kembali keluar dan duduk bersama Letto. “Ya itu salah satu alasan gue buat nggak nikah dulu. Lihat Lo sama Nadya aja udah pusing. Gimana nanti kalau gue ada di posisi kayak elo. Males banget.”


Aku menoyor kepala Letto hingga nyaris terjungkal ke lantai. “Njing!!” dan aku tertawa puas mendengar dia mengumpat sebal.


“Banyak alesan Lo.”


Letto membenarkan posisi duduknya lagi. “Jadi, elo kemana waktu itu? Istri Lo chat gue tanya elu dimana. Ya gue jawab jujur aja Elo gak disini.”


Aku tertunduk dan tersenyum miris. “Gue ke Heaven.”


“Fu*ck!! Ngapain Lo kesana?”


“Gue budrek, Lett. Awalnya gue mau ke tempat Lo. Tapi pikiran gue tiba-tiba oleng dan nuntun gue kesana begitu aja.”


“Gas, Lo jangan coba-coba jadi kayak dulu lagi. Kalau Lo ada masalah, cukup ke gue. Gue bisa bantu elo kapanpun Lo butuhin. Ngerti?!”


Aku mengangguk membenarkan. Memang nggak seharusnya aku datang ke tempat terkutuk itu. Untung saja waktu itu aku segera sadar dan pulang.


“Istri Lo sakit, tapi malah Lo tinggal kesana. Brengsek Lo Gas.”


“Ya. Dan gue nyesel sekarang, Lett. Nadya udah kayak nggak peduli lagi sama gue selain nyiapin keperluan gue doang. Apa ya istilahnya? Hambar gitu lah.”


“Apa gara-gara Hansel?”


Entahlah. Nadya selalu bilang kalau dia dan Hansel tidak ada hubungan apa-apa selain partner kerja. Aku mencoba percaya meskipun hatiku menolak. Nadya mau terbuka pada Hansel, itu saja sudah membuatku berfikiran nggak enak kepada mereka. Ditambah lagi Nadya yang mau memberikan senyuman hangat yang udah lama hilang dari dirinya untuk Hansel, pikiranku tambah kacau.


“Nggak tau. Gue coba percaya sama Nadya kalau dia dan Hansel nggak ada apa-apa.”


Letto menatapku lekat, lalu membuang muka dan menghisap Vape nya lagi. “Sulit. Bini Lo keras kepala dan gampang emosi. Elonya, terlalu bucin. Gue nggak paham sama konsep hubungan kalian. Kalau memang nggak sejalan, apa masih harus di pertahanin?”


“Lett—”


“Gue ngomong realistis aja sebagai teman Lo, Gas.”


Benar.


“Pernikahan kalian itu, dari awal udah aneh.”


“Aneh?”


“Ya. Menurut gue, aneh.”


Aku menghela nafas berat. Kenapa dia ngomongnya tanpa di filter begitu? Aku jadi merasa terpojok. Apa seharusnya memang kami sudahi saja agar tidak saling menyakiti?


“Beda lagi, kalau kalian mau memperbaiki hubungan kalian yang aneh dan nggak sehat itu.”


Aku menoleh tajam kearah Letto berada. Pria ini bicaranya suka benar.


“Ya kan? Mana ada orang menikah dengan alasan nggak ingin mengecewakan orang tua. Lalu membuat kesepakatan aneh agar nggak merusak persahabatan, tapi ranjang tetep jalan. Aneh kan?”


Aku mengangguk setuju.


“Memurut gue, sebaiknya loe bicara soal masa depan hubungan kalian. Bilang loe mau perbaiki hubungan, lalu bahas juga soal anak kalau perlu.”


Pasti, wanita yang nanti jadi pendamping hidup Letto bakalan beruntung. Dia tipikal orang yang berfikiran terbuka dan mau ngerti orang lain. Pria ini orang yang dewasa dalam hal menanggapi masalah, meskipun memang kadang menyebalkan dan bibirnya itu suka ngomong tajem.

__ADS_1


“Intinya, Lo nggak bakal kehilangan Nadya, kalau elo mau perhatian dan ngertiin dia lebih sabar. Lebih dari perhatian yang ditawarkan si Hansel untuk dia.”[]


^^^to be continued.^^^


__ADS_2