Wedding Dust

Wedding Dust
Bukan hanya Nadya Dan Bagas, tapi Kita.


__ADS_3

...Ending bukanlah akhir, tapi langkah baru untuk memulai sesuatu....



Bukan pernikahan kami yang berubah menjadi debu, tapi pernikahan kami yang berdebu karena tak terurus sejak lama seperti rumah yang kosong ditinggal penghuninya. Pernikahan itu ibarat rumah. Jika pemilik rajin merawat dan membersihkan rumah tersebut, niscaya rumah tersebut akan selalu terlihat indah dan kokoh karena terawat. Beda dengan rumah yang dibiarkan terbengkalai begitu saja, yang nahasnya itu adalah pernikahan kami.


Pada akhirnya, lima tahun kami baru sadar jika semua itu butuh dibersihkan, butuh diperbaiki, dan butuh di bangun kembali.


Tembok yang mulai runtuh, tiang yang hendak roboh, perlahan-lahan kami perbaiki bersama hingga rumah yang sudah hampir tumbang di makan waktu itu, kembali berdiri megah diantara bangunan-bangunan indah yang lainnya. Kami berhasil menegakkan kembali sebuah bangunan yang kita beri nama Rumah tangga.


Kami juga sudah memberitahu kabar gembira tentang kehamilan kepada kedua keluarga yang sudah lama menanti kehadiran sosok cucu. Apalagi mama, beliau sampai rela terbang dari Surabaya ke Jakarta setelah dua hari dari pemberitahuan kami, hanya untuk melihat perut ku yang masih rata. Mama bahkan menangis dan berterima kasih padaku ketika bagas memberi tahu jika anak kami kembar. Ya kan, Gas?


Ah, iya. Mama menangis saat itu. Aku ingat betul bagaimana mama memeluk Nadya dan terus mengucapkan terima kasih pada menantunya yang cantik ini.


Eh, jangan cubit-cubit hidung begini, sakit tau.


Iya maaf. Lalu, untuk acara tujuh bulanan nanti, mama sama ibu jadi ke sini? Jadi di gelar disini acaranya?


Iya. Jadi. Mama bilang padaku untuk jangan mikirin itu. Itu urusan orang tua. Aku disuruh fokus ke si kembar aja.


Ah, calon nenek yang baik, kan?


Benar. Mama yang paling antusias karena ini adalah cucu pertama yang sangat beliau nanti-nanti.


***


Hari berganti begitu saja. Gerak Nadya makin terbatas, Nadya bahkan sering kesulitan berdiri atau melakukan sesuatu karena perutnya yang sangat besar dan juga si kembar begitu aktif di perutnya. Aku kadang merasa kasihan kalau tiba-tiba Nadya tengah malam terbangun dan meringis, lalu mengeluh sakit pada perut bagian bawahnya.


Usia kehamilan Nadya sudah 37 Minggu, dan beberapa minggu lagi si kembar akan meramaikan dunia kami. Aku sudah nggak sabar.


Mama juga memaksa tinggal di Jakarta sampai Nadya melahirkan. Ada untungnya juga karena akan ada yang menemani dan menjaga Nadya jika tiba-tiba Nadya kontraksi.


Malam ini aku dan nadya menghabiskan waktu berdua, karena dua hari yang lalu mama harus pulang ke surabaya karena ada hal penting yang harus beliau lakukan beberapa hari kedepan.


Aku membiarkan Nadya bersandar di dadaku ketika kami melihat serial Netflix kesukaannya. Aku sama sekali tidak keberatan dengan bobot Nadya yang menekan dadaku, karena aku tau yang dirasakan Nadya saat ini lebih berat dari pada apa yang aku rasakan ketika Nadya bermanja ria seperti ini. Sesekali aku mengusap perut besarnya yang bergerak-gerak karena keaktifan si kembar di dalam sana.


Ah, kami berdua baru tau beberapa waktu lalu, jika si kembar memiliki gender berbeda. Mereka sepaket, cewe dan cowo. Hal itulah yang membuat aku begitu bangga pada Nadya dan diriku sendiri.


“Udah Nemu nama buat mereka, ay?” tanyaku kepada Nadya sambil memainkan surainya yang halus.


“Ada sih, cuma nggak tau kamu bakal suka apa enggak.”


“Siapa?”


“Evander dan Eveana.”


“Eh, bagus loh. Aku suka, tinggal nambah Adewangsa aja dibelakangnya.”


Aku memeluk Nadya semakin erat. Aku begitu menyayangi ibu dari calon anak-anakku ini.


Dulu, kami menikah karena tidak ingin membuat orang tua kami kecewa. Tapi sekarang, tujuan kami bukan itu, melainkan membuat mereka bahagia dan bangga karena memiliki anak seperti kami.


“Kalau bukan kamu, pasti mama nggak akan mau punya cucu, Nad.”


“Kamu bisa aja. Ya nggak gitu juga, Gas.”


“Serius. Mama pernah bilang kalau nggak mau kasih restu kalau bukan kamu.”


Nadya menggeliat membenarkan posisi duduknya. Wajahnya memicing seperti menahan sesuatu.


“Kenapa?”


“E-engga apa-apa.”


Aku bangkit, lalu mengusap perut Nadya dengan gerakan memutar. “Apa sakit?”

__ADS_1


Nadya hanya diam, tapi kemudian mengangguk. “Mulas, kayak mau BAB.”


Aku melompat dari atas sofa, berlari menuju kamar untuk mencari ponsel dan menghubungi mama, atau ibu, atau dokter Adrian untuk menanyakan apa yang sedang dirasakan Nadya itu adalah tanda-tanda persalinan.


Ah, oke. Aku memutuskan menekan nomor dokter Adrian. Dia yang lebih pengalaman atas hal ini.


“Ya, pak Bagas?” tanya dokter Adrian di seberang telepon.


“Maaf mengganggu dok, tapi istri saya baru saja mengeluh perutnya mulas.”


“Oh, benarkah? Apa intensitasnya masih jarang?”


Aku berlari ke tempat Nadya duduk. Dia mendesis ketika aku duduk disampingnya. “Masih sakit, Ay?”


Nadya mengangguk. “Ini dokter Adrian. Kamu bisa bicara sama beliau.”


Nadya meraih ponsel yang ku sodorkan, kemudian dia menyapa. “Selamat malam, dok.”


“Selamat malam, ibu Nadya. Saya dengar anda merasa mulas, bagaimana dengan intensitasnya? Sering, atau masih jarang.”


“Baru saja terasa, dok.”


“Oh, anda bisa mengecek sebentar? Apa ada bercak darah atau tidak? Lima menit lagi saya hubungi.”


“Apa saya datang ke tempat praktek dokter saja ya?”


“Saya masih ada jam praktek di rumah sakit ibu.”


Nadya melirik ke arahku, dan aku mengangguk.


“Kami akan ke rumah sakit.”


“Baiklah, saya tunggu.”


Selama perjalanan, Nadya terlihat menahan sakit dengan desisan dan kepalan tangannya diatas paha yang tertutup dress putih santainya.


“Sabar ya sayang,” kataku mencoba menangkan, yang di sanggupi sebuah anggukan dari Nadya.


Aku merasa panik ketika Nadya mulai merintih. Jalanan yang masih menunjuk angka setengah sembilan malam ini masih padat. “Ay, kamu masih bisa nahan?”


Nadya mengangguk lagi. Mungkin dia tidak ingin membuatku panik dan khawatir. Tapi itulah yang aku rasakan sekarang ketika melihat wajah Nadya yang dipenuhi peluh.


Nad, terima kasih sudah rela berkorban demi anak kita.


Aku mengusap wajah frustasi. Jalanan hanya merayap sedangkan sudah hampir satu jam aku mengikuti jalur.


“Shi*iit!!!” umpatku pada akhirnya karena kesal dan nggak tega ngelihat Nadya menahan kesakitan seperti itu. “Nad, apa kita ke rumah sakit terdekat aja? Aku bisa menghubungi dokter Adrian jika kamu mau.”


Aku melihat Nadya mengatur nafas dan mencoba tersenyum. “Nggak, kesana saja.”


“Tapi—”


“Aku nggak apa-apa.” katanya, membuat airmata ku seketika meluncur bebas menyentuh pipi. Nadya sekuat itu.


Dan aku menghela nafas lega ketika melihat nama rumah sakit tempat dokter Adrian berada sudah terlihat semakin dekat. Aku mempercepat laju mobil, dan sampailah kami didepan instalasi gawat darurat. Disana, dokter Adrian sudah menunggu karena lima belas menit yang lalu, dia menghubungi kami.


“Saya akan membawa ibu Nadya ke dalam untuk melakukan pemeriksaan. Silahkan pak Bagas parkir mobil dulu dan jangan lupa peralatan persalinannya dibawa.”


Aku mengangguk dan bergegas memarkir mobil Nissan Juke milik Nadya di area parkir VVIP.


Kakiku sudah tidak sabar untuk segera menemukan Nadya. Dan sebuah senyuman kaku ku berikan kepada Nadya yang sudah memakai pakaian rumah sakit. Ku letakkan dua tas besar berisi pakaian bayi dan pakaian kami diatas meja yang ada diujung ruangan.


Sedangkan dokter Adrian, terlihat sibuk mempersiapkan alat-alat medis yang akan digunakan untuk membantu persalinan Nadya.


“Hai, gimana keadaan kamu?” sapa ku sambil mengecup kening Nadya yang penuh peluh, dan mengusapnya lembut.

__ADS_1


“Sudah pembukaan tujuh. Nggak lama lagi kita akan bertemu dua makhluk kecil yang sudah kita nanti-nanti.”


Aku menangis mendengar Nadya mengatakan itu. Terima kasih, Nad. Aku tidak akan bisa membayar pengorbanan mu hari ini, tapi aku janji, aku akan mencintaimu dan mencintai anak-anak kita sampai nafas terakhirku nanti.


Nadya kembali mendesis, kali ini aku menggenggam tangannya, dan dia meremat kuat telapak tanganku. Aku bisa membayangkan sesakit apa yang dia rasakan saat ini.


“Sabar ya ibu, nggak lama lagi kok. Setengah jam-an, mungkin.” kata dokter Adrian sambil kembali memeriksa perut Nadya dengan alat medis untuk memeriksa denyut jantung si kembar yang bersahut-sahutan.


“Nah, mereka tenang lho papa. Kenapa papa tegang begitu?” goda dokter Adrian padaku yang memang ketakutan setengah mati. Kakiku sudah lemas seperti jelly.


Sebenarnya ada opsi lain untuk persalinan kembar yang ditawarkan dokter Adrian kepada kami, tapi Nadya menolak dan memilih untuk melahirkan si kembar dengan persalinan normal.


Lima belas menit berlalu, Nadya mulai mengeluh mulas secara beruntun. Dokter Adrian melakukan pemeriksaan lagi, dan mengangguk kepada dua suster pendampingnya.


Dokter Adrian memberi instruksi kepada Nadya dengan rinci bagaimana cara mengejan yang benar. Sedangkan aku, hampir pingsan melihat Nadya berjuang seperti sekarang.


“Ilang mulesnya?” tanya Dokter Adrian ketika Nadya berhenti mengejan, Nadya mengangguk sebagai jawaban.


Setelah beberapa detik, Nadya mulai berjuang lagi dan aku terus memberikan semangat dan dukungan untuknya.


“Semangat sayang. Aku cinta kamu.”


Suara tangis bayi memecah ketegangan, dokter Adrian tersenyum dan mengangkat bayi pertama yang dilahirkan Nadya.


“Si adek ternyata si cantik.”


Aku dan Nadya kompak mengucap syukur. Kemudian Nadya menyebut nama anak perempuan kami, “Eveana...”


“Nama yang cantik.” sahut dokter Adrian mendengar nama yang disebutkan oleh Nadya. “Istirahat dulu ya mama. Nanti kalau mulesnya dateng lagi, kita berjuang lagi.” kata dokter Adrian sambil meletakkan si cantik dalam dekapan Nadya.


25 menit kemudian...


Nadya meringis lagi, dan suster mengambil si adek dari dekapan Nadya.


“Nah, si kakak pingin ketemu adek nih. Berjuang ya mama,”


Nadya mengangguk dan mulai mengulangi apa yang sudah ia lalui ketika melahirkan bayi pertama kami tadi. Hingga tangisan kedua yang lebih kencang memenuhi pendengaran kami. Tangisan itu membuatku semakin lemas dan tergugu dalam tangis.


“Evander...” ucapku dalam gugu tangis ketika nafas Nadya menerpa wajahku setelah berjuang melahirkan putra kami.


Nadya telah mempertaruhkan nyawanya demi dua nyawa. Surga untukmu Nadya sayang. Aku cinta kamu, selamanya. []


...***END***...


WEDDING DUST SUDAH TAMAT YA BESTIE, TINGGAL PART EKSTRA YANG BAKALAN HEBOH OLEH DUA BOCIL KESAYANGAN NENEK.


SEMOGA SUKA DENGAN ENDINGNYA YA...


TERIMA KASIH UNTUK TEMAN-TEMAN SEMUA YANG SUDAH MEMBERI DUKUNGAN KEPADA WEDDING DUST SAMPAI AKHIR. TERIMA KASIH UNTUK HADIAH-HADIAH YANG SANGAT BERARTI UNTUK VI'S YANG TENTU SAJA MEMBUAT VI'S SELALU SEMANGAT DAN BETAH UNTUK TETEP NULIS DISINI.


SEKALI LAGI TERIMA KASIH YA...


LOVE YOU ALL...❣️❣️❣️


EH, JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU VI'S YA...


JUDULNYA ”ME GUSTAS TU”. PASTI SERU.😉


HAYO, SIAPA YANG TAU ARTINYA?


MAMPIR YUK, LIST FAVORIT YA...



SEE YOU...🖤

__ADS_1


__ADS_2