
WEDDING DUST UPDATE
SELAMAT MEMBACA
JANGAN LUPA UNTUK MEMBERIKAN DUKUNGAN KALIAN AGAR AKU SEMANGAT NULIS YA...
TERIMA KASIH 🤗
🌹🌹🌹
Memang, suami mana yang tidak sakit hati melihat istrinya dalam gandengan pria lain didepan matanya?
Reaksi Bagas saat ini adalah reaksi wajar dari seorang suami sekaligus laki-laki yang menjunjung tinggi harga diri sebagai kepala keluarga. Aku tidak mau menghentikan niatnya untuk bicara dengan Hansel, tidak sama sekali. Tapi aku takut terjadi apa-apa dengannya. Hansel itu orangnya nekat, dan akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Aku bisa merasakan itu karena aku mengalaminya sendiri, pasti Bagas juga tau. Masa lalu kelamnya itu berhubungan erat dengan Hansel.
Mendengar Bagas hendak menemui lelaki itu, hatiku yang baru semalam tenang, kembali dirundung rasa khawatir yang begitu mendera. Bagaimana hal yang aku takutkan terjadi? Yakni, bagaimana jika Hansel dengan sadar melukai Bagas. Entah itu fisik, atau psikisnya?
Terlalu berlebihan, tapi aku benar-benar takut membayangkan hal itu. Sekali lagi aku tegaskan, Hansel itu orangnya nekat.
Aku mengehentikan aktifitas memasakku sejenak, kemudian menatap lurus kuah kental rendang yang sedang meletup-letup itu dengan pandangan kosong.
“Boleh aku ikut?” tanyaku, berharap Bagas meng-iyakan dan mengajakku ketika bertemu Hansel. Hanya untuk berjaga-jaga dan memastikan mereka tidak melakukan hal buruk di sana.
Kulihat dari ekor mata, Bagas menurunan lengannya yang semula dilipat didepan dada, kemudian berjalan kearah ku. “Buat apa?” tanyanya lesu.
Tapi sumpah. Aku ikut bukan ingin bertemu dengan Hansel, aku hanya ingin memastikan jika mereka bicara tanpa ada unsur kekerasan dan baku hantam.
“Aku nggak ingin kamu kenapa-kenapa.” jawabku jujur, karena memang itu tujuanku.
“Memangnya aku kenapa? Aku cuma ingin bicara dengan dia, nggak mau cari ribut apalagi baku hantam.”
“Itu kamu, Gas. Beda cerita sama Hansel. Dia itu nekat.” kataku mulai meninggi. Sungguh, aku tidak bisa membayangkan jika sampai Bagas terluka karena ulahku.
Bagas mendekat, mengusap rambutku dan tersenyum. “Tidak akan terjadi apa-apa. Aku akan baik-baik saja. Kamu nggak perlu ikut, eumm?!” kata Bagas sembari memiringkan kepala untuk menengok wajahku. Kalau sudah begini, aku bisa apa selain berharap dan berdo'a agar semua pikiran buruk dalam kepalaku, tidak terjadi kepada Bagas.
***
Setelah membersihkan rumah dan sarapan berdua, kami berencana untuk beristirahat menikmati waktu libur yang tersisa.
Sekarang masih pukul sebelas siang. Aku dan Bagas sama-sama merebahkan diri diatas sofa lebar yang ada didepan televisi sambil melihat salah satu film Hollywood yang baru saja di rilis oleh Netflix. Selama film diputar, kami hanya fokus pada layar lebar didepan kami tanpa ada pembicaraan apapun. Dan sekarang, film itu telah selesai. Bagas menggantinya dengan berita siang disalah satu saluran TV swasta kesukaannya.
__ADS_1
“Kamu mau datengin dia di kantor?” tanyaku tiba-tiba, membuat Bagas menoleh sigap diatas tumpuan kedua lengan yang dia jadikan bantalan.
“Eumm. Kalau mau di ajak minum kopi, ya sambil ngopi.”
Aku mendengus kesal. Masih sempat dia bercanda saat pikiranku kalut bukan main. “Gas. Aku serius.”
“Aku juga serius, Nad. Lagian, aku itu mau bicara baik-baik, bukan mau menodong atau menipu Hansel.” Bagas mengerutkan kening dengan sedikit tawa jail. “Kenapa? Takut Hansel kenapa-napa ya?”
“Ish! Bukan itu. Aku—”
“Iya, Nad. Aku tau. Aku nggak bakalan macem-macem kok. Serius, aku cuma mau ngobrol ringan sama dia.”
“Janji?!” ketusku sambil menyodorkan jari kelingking didepan wajahnya. Bagas terkikik geli, tapi dia membalas dengan kelingkingnya yang membelit kelingkingku.
“Janji. Kamu kayak ABG aja ih?!”
Aku bergerak mendekat, merapatkan diri dengan cara menidurkan kepalaku pada satu lengannya, merangkul pinggangnya, dan melilit satu kakinya dengan kaki ku.
“Apalagi sekarang?”
Aku ragu, tapi aku juga harus membicarakan ini karena hubungan kita yang baru, baru saja dimulai. Kami harus saling terbuka dan jujur satu sama lain. Ingat, kemarin malam kita sama-sama menangisi pernikahan kami. Jadi aku nggak mau lagi nyia-nyia-in waktu ketika sama Bagas.
Bisa kurasakan dada Bagas bergerak membusung, kemudian sedikit berguncang. Dia sedang tertawa.
“Aku sih, terserah kamu. Soalnya kamu yang bakalan kerepotan kalau hamil nanti.”
“Oh, serius dong.”
Bagas malah tertawa dan mencubit gemas hidungku, kemudian mengecup puncak kepalaku. “Yang banyak deh, biar rame.”
“Banyak itu, berapa?”
Bagas memutar posisi menghadapku, lalu merangkul tubuhku sepenuhnya. Ternyata posisi seperti ini sangat nyaman, mengapa tidak dari dulu saja sering-sering cuddle seperti ini? Menyenangkan tau.
“Empat?” jawabnya dengan intonasi tanya. Dia sudah menyebutkan jumlah, jadi aku harus memberi tanggapan. Semoga saja Bagas senang dengan jawabanku ini.
“Empat. Anak pertama kembar cowok, anak kedua kembar cewek.” kataku sambil mendongakkan kepala ingin tau ekspresi Bagas ketika aku berkata seperti itu.
Dan tidak disangka, manik matanya berbinar. Dia terlihat senang hingga dapat kulihat sedikit rona di kedua pipinya. “Boleh. Memangnya dari keluarga kita, ada keturunan kembar?”
Yah, malah bahas kembarnya. Aku sedikit kecewa. tapi nggak apa-apa deh, yang penting Bagas senang dan suka dengan jawabanku.
__ADS_1
“Ibu sih pernah bilang, kalau nenek dari bapak ada keturunan kembar.”
Bagas mengangguk, lalu mengecup hidungku yang saat ini masih mendongak melihat wajahnya. “Okey. Aku harus rajin menanam benih mulai dari sekarang. Siapa tau kan? Kita kebagian jatah kembar setelah ayah kamu keloncatan satu periode kembarnya.”
Aku mendengus lelah. Tapi aku bahagia. Kutundukkan wajah dan membenamkan didada bidang beraroma woody musk dari tubuh Bagas yang aku sukai. “Oke lah. Kita harus rajin. Kamu jangan makan aneh-aneh, jangan minum minuman beralkohol, jangan suka pergi ke bar atau apapun saat kita mulai program anak.”
Bagas tertawa dengan kalimat yang keluar dari mulutku. “Iya. Lagian siapa juga yang minum alkohol, aku nggak minum minuman seperti itu.”
“Pernah. Kamu aja yang sok lupa.”
Bagas mengeratkan pelukan dan tertawa lepas hingga aku nyaris kehabisan nafas dan meronta minta dilepas.
“Iya, maaf. Khilaf.”
Cetusku tak ingin dibantah. “Khilaf tapi dilakukan lagi. Itu namanya belum puas.”
“Nggak lagi, deh. Janji.”
Hening sesaat, hingga aku merasakan sesuatu sedang bereaksi di antara pusarku.
“Kamu langsung pengen?”
“Kamu sih, bahas-bahas anak. Jadinya bangun deh. Kamu sengaja nggodain aku ya biar begini?” jawabnya tanpa dosa hingga membuatku malu.
“Ih, kepedean.” sahutku sudah kepalang malu. Dia benar-benar pandai membuat seorang wanita tersipu dengan jebakan kata nya.
“Nggak kepedean, tapi jujur saja deh. Kamu memang menggodaku kan tadi?”
Kenapa pembicaraan ini jadi menjurus ke arah proses pembuatan sih?
“Nggak. Aku cuma pingin terbuka dan bahas masalah anak sama kamu.”
“Tapi udah terlanjur begini.” katanya frustasi, mulai menciumi pipiku. “Boleh minta sekarang nggak?”
Bagaimana aku bisa menolak jika Bagas sudah mengungkung ku seperti ini. Dia bahkan sudah menciumi setiap inci wajahku, dan berakhir melu-mat bibirku.
Aku tergoda untuk membalas ciuman itu dengan tak kalah panas, hingga kami akhirnya lupa daratan dan mulai terseret gair-ah.
Satu decapan cukup keras menjadi penanda untuk perpisahan sementara bibir kami. Kemudian, dengan nafas sedikit memburu, Bagas berbisik seduktif di telingaku, “Mau lanjut di kamar?” []
^^^to be continue.^^^
__ADS_1