
...Happy Reading......
...Jangan lupa beri dukungan untuk Nadya dan Bagas ya, biar yang nulis semangat. 😊...
...🌹🌹🌹...
Luaskan sabarmu untuk istrimu. Lapangkan hatimu menghadapi semua sikap manja yang memang terkadang menyebalkan. Luangkan waktumu agar dia merasa nyaman berada disini. Dan cintai dia, karena dia kelak menjadi ibu dari anak-anakmu.
Satu pesan yang diberikan papa setelah ijab qobul ku dinyatakan sah oleh beberapa saksi lima tahun yang lalu. Papa berpesan agar aku selalu sabar menghadapi sikap Nadya, bagaimanapun bentuk dan semenyebalkan apa sikap Nadya. Hanya satu yang belum bisa aku realisasi kan sejak menikah dan hidup bersama Nadya, yakni meluangkan waktu lebih banyak untuk berdua.
Aku sibuk, Nadya juga sibuk setelah memilih bekerja setahun setelah kami menikah. Waktuku lebih banyak di kantor dan, Hera. Nadya aku anggap baik-baik saja karena sejak awal dia tidak keberatan.
Nadya tidak pernah sekalipun menangis didepanku, selama aku bersamanya. Dia selalu tersenyum, usil, dan ceria ketika bersamaku. Itulah yang membuatku lengah dan tidak bisa mengerti Nadya seutuhnya hingga waktu yang seharusnya berharga untuk kami, terbuang sia-sia.
Beberapa hari ini, aku juga merasakan ada sedikit perubahan sikap Nadya kepadaku. Lebih tepatnya setelah Hansel muncul diantara kami.
Okey, salahkan aku jika kalian menganggap aku terlalu egois karena berfikiran buruk kepada Nadya dan Hansel, sedangkan aku sendiri bermain terang-terangan didepan Nadya. Aku salah. Aku memang salah dalam hal itu. Tapi aku berusaha untuk memperbaiki semuanya. Aku ingin melepas Hera meskipun tidak secara langsung. Aku sedang berusaha melepasnya perlahan.
Kembali melihat kehidupan kami yang sekarang. Aku begitu terpukul ketika melihat Nadya menangis. Kepanikan segera menyerbu setiap inci diriku. Aku ketakutan melihat pipinya basah oleh air mata. Selama ini aku berusaha mempersiapkan diri, jika suatu saat aku melihat Nadya menangis, agar aku bisa menahan dan menguatkan diriku sendiri.
Tapi apa? Lihatlah sekarang. Aku lemah nggak berdaya hanya karena melihat dia menangis. Semua yang aku antisipasi selama ini hancur seketika. Air mata Nadya begitu menyakitkan untukku.
Aku menurunkan bobot tubuh Nadya diatas ranjang, di sisi yang biasa ia gunakan untuk tidur. Dia bahkan tidak mau melepaskan pelukannya. Dia bilang, dia malu karena menangis didepanku. Tapi aku yakin, bukan itu alasan yang sebenarnya yang ingin dia katakan.
Kalau sudah seperti ini, aku tidak bisa tidak ikut larut dalam kondisi Nadya yang terlihat begitu tertekan. Dia terus berkata malu, dan meminta maaf. Mungkin sama seperti diriku yang ingin meminta maaf untuk kejadian beberapa hari ini, atau mungkin ada satu sisi pada diri Nadya tidak ingin juga melepas egonya.
Aku duduk bersandar pada kepala ranjang, mengusap surainya yang halus dan harum vanilla kesukaanku. Kemudian mengecupnya beberapa kali agar dia bisa lebih tenang dari ini ketika bersamaku.
“Aku salah Gas.”
“Nggak. Aku kok yang salah. Nggak seharusnya aku melarang kamu bekerja. Nggak seharusnya aku bersikap egois dan kekanakan seperti ini. Maafin aku, Nad. Aku sudah terlalu kekanakan selama hidup bersama kamu.”
Perbaiki hubungan kalian.
__ADS_1
Kalimat Letto terus menggema di gendang telingaku.
Kali ini aku menurunkan telapak tangan menyentuh punggung Nadya. Mengusapnya lembut agar dia semakin nyaman. Haruskah aku membahasnya malam ini? Nadya terlihat kurang baik, tapi apa aku takut akan terlambat jika menundanya lebih dari malam ini.
Aku melipat bibir ke dalam, sibuk mengobrak-abrik isi otak untuk mencari solusi agar Nadya mau mendengarkan ucapanku? Atau lain kali saja setelah Nadya sudah membaik?
Fine. Aku harus memilih sekarang. Diam terlalu lama bersama Nadya itu, sungguh canggung.
“Sebenarnya, aku sudah membicarakan banyak hal dengan Hera akhir-akhir ini, Nad.”
Aku bisa merasakan jika Nadya sedang menahan nafasnya saat ini. Tangisnya pun tiba-tiba reda begitu saja. Dia sedang mendengarkan aku bicara.
“Tentang hubunganku dengannya. Tentang bagaimana nasib pernikahan kita kedepannya, semua aku bicarakan dengan Hera.”
Ranjang memantul kecil. Nadya sedang memposisikan diri didepanku. Aku bisa melihat dengan jelas, wajahnya, hidungnya, dan juga bibirnya yang memerah karena tangis. Dan itu sangat menggemaskan juga membuat hatiku ikut tersayat. Eh, apa usia 29 tahun masih bisa dikatakan menggemaskan? Tapi Nadya memang menggemaskan bagiku.
Aku memandangnya penuh harap dengan tatapan lembut. Semoga Nadya bisa mengerti maksud dan tujuanku membahas ini bersamanya.
“Dia bersikeras nggak mau ngelepas hubungan kami. Tapi aku terus meyakinkan dia agar kami berakhir. Hubungan kami tidak benar, dan seharusnya sudah berakhir sejak dulu. Sejak aku memutuskan untuk mengambil tanggung jawab atas dirimu dari ayahmu, Nad.”
“Mungkin karena itulah, Hera sakit. Aku mengatakan semua itu terlalu mendadak, dan dia syok. Dan hal itu membuatku merasa bersalah padanya.”
Nadya kembali meletakkan kepalanya di dadaku. Dia bahkan mengeratkan pelukan di pinggangku, meskipun diam tanpa berniat memberi tanggapan.
“Aku merasa bersalah, sekaligus berdosa pada waktu bersamaan.” lanjutku, dan masih banyak sekali kelanjutan kalimat yang sudah aku susun sejak perjalanan pulang tadi.
“Aku ingin memperbaiki hubungan kita, Nad.”
Gerakan Nadya berubah kaku saat aku berkata ingin memperbaiki hubungan kami. Tapi, aku tetap melanjutkan usahaku.
“Aku ingin, kita memulai hubungan pernikahan tanpa terikat dan terbebas tali persahabatan.” kukatakan itu dengan lantang yang saat itu juga membuat Nadya mengangkat wajahnya. Ada sorot luka di kedua maniknya yang masih memerah.
“Aku ingin. Kita berhubungan layaknya suami istri pada umumnya.”
Pandangan kami belum terputus. Lantas aku memutuskan untuk mengecup bibirnya singkat. “Dan juga...anak.”
__ADS_1
Tidak ada sahutan. Apa aku gagal? Apa Nadya akan menolak mentah-mentah dan memilih tetap begini saja? Saling menyiksa satu sama lain dalam hubungan transparan tanpa arah?
Suara hujan yang teredam menjadi syair paling merdu mengiringi diam kami. Nadya menarik tubuhnya dan ingin menjauh. Tapi aku menahannya kuat-kuat. Kutarik paksa hingga dia kembali berbaring diatas dadaku, lalu aku mengecup puncak kepalanya berkali-kali.
“Jangan pergi.”
Aku membisikkan kata-kata itu berkali-kali hingga tubuh Nadya kembali pasrah padaku. Agak memaksa, tapi aku tidak ingin terlambat. Aku tidak ingin Nadya semakin nyaman bersandar pada orang lain selain diriku.
Ini cukup mendadak. Mungkin Nadya juga berfikir seperti itu dan dia kemungkinan ingin berfikir terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan.
Setelah hening cukup lama, akhirnya dia bersuara dan mengambil sikap. “Apa...yang membuatmu ingin hubungan kita seperti itu?”
Pertanyaan yang sulit untuk aku jawab meskipun sudah terpampang jawaban konkrit didepan mata.
“Apa karena desakan mamamu ingin segera menimang cucu?”
Tubuhku tiba-tiba saja menegang, bahkan lebih tegang dari sebelumnya. Jika karena alasan itu, mungkin sudah lama aku memintanya. Tapi semuanya lain. Aku hanya tidak ingin kehilangan Nadya.
“Kalau hanya karena itu, aku bisa melakukannya,” Nadya menjeda, nafasnya sedikit memburu. “Aku bisa memberikanmu anak sebagai cucu mama, meskipun tanpa cinta.”
“Nad—” ucapku berniat protes karena putus asa. Bukan itu tujuanku mengajaknya memperbaiki hubungan kami.
“Gas, beri aku alasan yang jelas agar aku bisa memiliki tujuan yang sama denganmu.”
Jantungku berdebar. Perasaan khawatir dan was-was seperti hendak mengungkapkan cinta untuk pertama kalinya, menyerang diriku. Aku seperti ABG yang baru saja jatuh cinta di fase puberitas pertama. Efek membuat Nadya percaya begitu menantang. Aku takut di tolak.
Hingga aku terus meyakinkan diriku, memberi dukungan untuk diri sendiri, dan memberitahu jika Nadya itu istriku. Milikku. Bukan milik siapapun, apalagi Hansel. Tidak. Nadya hanya milikku. Sebut saja aku egois, silahkan. Asal Nadya tetap menjadi milikku.
Aku menarik nafas cukup besar dari mulut. Membiarkannya memenuhi rongga dada dan paru-paru, lalu menyelam manik Nadya cukup dalam dengan sorot tulus dari dalam hati. Dengan penuh percaya diri aku berkata, “Karena aku, mencintaimu.” []
^^^to be continued.^^^
Jangan lupa juga untuk mampir dan dukung cerita Vi's yang lainnya ya Readers baik hati sekalian.
See you.
__ADS_1