
...Happy Reading......
...Beri dukungan kepada Bagas dan Nadya agar aku semangat ngelanjutin cerita mereka, ya......
...Terima kasih....
...🌹🌹🌹...
Dulu, kantor menjadi salah satu tempat pelarian saat aku ada masalah dengan Bagas. Aku akan dengan sangat senang hati datang ke kantor saat aku dan Bagas saling diam. Tapi sekarang, entah mengapa datang ke kantor terkadang membuatku gamang. Seperti ingin menghindari sesuatu.
Tapi terlepas dari itu, aku ingin tetap menjalani pekerjaanku sebagaimana mestinya. Melakukan apa yang biasanya aku kerjakan di kantor.
Bagas bilang jika dia ingin memperbaiki hubungan kami. Tak peduli jika hubungan persahabatan kami yang sudah terjalin lama, akan berakhir mengenaskan jika percobaan kami gagal. Satu hal yang bisa aku pegang dari ucapannya, dia ingin kami berubah dekat sebagai suami istri. Dan tentu saja, dia menginginkan anak. Oh tidak. Aku juga sebenarnya menginginkannya, tapi terlalu malu untuk memberitahu pada Bagas.
Meja Hansel masih kosong, ini masih jam setengah delapan, aku datang terlalu cepat.
Tapi entah mengapa tiba-tiba saja pintu ruangan terbuka dan Hansel muncul dari balik pintu. Tersenyum hangat hingga lesung pipinya terlihat. Amat sangat berbeda dengan Hansel yang mengirim pesan dengan kata-kata sedikit merajuk kemarin malam.
“Pagi, Nad.” sapa Hansel. Berjalan melewati Nadya kemudian meletakkan tas kerja di mejanya sendiri. “Pagi bener datengnya? Tumben?”
Aku hanya menanggapi dengan senyuman.
“Seru liburannya?”
Eh, darimana dia tau kalau aku berlibur kemarin?
“Bapak tau dari mana?” tanyaku ingin tau. Hansel memang orangnya sedikit nekad, tapi aku sangat yakin dia tidak akan suka jika aku ketus padanya.
“Tara.”
Tara. Kamu ngapain sih kasih tau orang ini segala. Lalu, sedekat apa Hansel dengan Tara hingga mereka bertukar pesan?
“Tara? Antara?” tanyaku lagi, ingin memastikan jika aku tidak salah dengar.
Pak Hansel mengangkat bahu dengan bibir melengkung tanda jika dia mengiyakan pertanyaanku.
Diam-diam aku mengepalkan telapak tangan. Jika seperti ini, ruang gerakku semakin sempit karena Hansel. Aku takut—
“Lain kali, ayo pergi sama saya.”
Apa?!
Aku menatap tajam kearah Hansel. Bagaimana dia bisa mengatakan itu dengan santai seperti tidak memiliki beban dan juga seolah dia manusia yang belum terikat janji sehidup semati dengan orang lain.
__ADS_1
“Sama bapak?”
“Eum. Kenapa memangnya?”
Aku mengerjap beberapa kali. Masih belum percaya jika apa yang aku dengar sekarang adalah sebuah kenyataan. Hansel ingin mengajakku berlibur berdua bersamanya.
“Masa suami kamu aja yang boleh ajak kamu jalan? Aku juga bisa nyenengin kamu, meskipun hanya sebagai selingkuhan.”
Ada satu sengatan kuat yang membuat jantungku seolah berhenti berdetak dengan degupan keras yang mengejutkan seperti dihantam batu meteor. Aku sama sekali tidak percaya dia menyebut dirinya seperti itu. Aku tidak percaya dia menyebut kedekatan yang terjalin antara kami, dengan lebel selingkuh.
“Apa maksud bapak? Saya tidak pernah menganggap hubungan kita sejauh itu, pak?!” sahutku cepat dengan mood yang sudah kembali hancur. Wajah ketus ku kembali aku pasang sebagai bentuk rasa tidak suka pada klaim Hansel yang tiba-tiba. “Kita cuma sekedar partner kerja.”
Dengan sebuah seringai tajam disudut bibirnya, Pak Hansel mendekat ke arahku. Ia meraih satu tanganku dan berusaha menggenggamnya yang kemudian aku tampik begitu saja.
“Nad, Nad. Jangan naif. Kita nyaman satu sama lain. Kamu juga butuh aku untuk mengatakan semua masalah pernikahan kamu dengan Bagas, yang ternyata tidak pernah bahagia.”
Aku menggeleng mantap. Mataku mulai terasa memanas. Ingin sekali aku menampar pipi laki-laki itu karena sudah berani berkata dan berkomentar burung tentang hubunganku bersama Bagas.
“Lalu, mana ada partner kerja yang bertukar pesan mesra dan kadang-kadang menceritakan masalah pribadi? Kamu ingin hubungan kita disebut apa?”
Aku tertohok dengan perkataan Hansel yang memang benar adanya. Aku salah langkah dan Hansel menjadikan itu senjata untuk melemahkan pertahanan ku.
“Kita bukan hanya sekedar partner kerja, Nad. Kita lebih dari itu.”
Tidak. Aku menggelengkan kepalaku kuat sebagai penolakan atas pernyataan Hansel itu.
Aku kembali menatapnya tajam. Kali ini, mataku mulai berembun ketika mendengar pernyataan selanjutnya dari mulut Hansel yang selama ini ku kira orang bisa menerima aku tanpa meminta imbalan apapun.
“Kita sedang berada di zona itu, Nad. Tanpa sadar, kita sudah mengingkari hubungan yang mengikat kita. Kita sudah selingkuh dibelakang mereka, Nad.”
Satu titik cairan bening jatuh ke pipiku mendengar itu. Setelah itu, aku menunduk dalam dan rentetan air mata itu jatuh beruntun. Hansel benar. Kita sudah berbuat curang dengan menjalin keakraban secara diam-diam.
Aku terkejut ketika tanpa aba-aba, Hansel mengusap air mataku. Aku tidak suka posisi ini. Aku tidak suka hubungan yang baru saja di klaimnya sebagai selingkuh.
“Jangan bicara seperti itu, Pak.” tuturku disela isak tangis yang tak mau diajak kompromi.
“Kenapa? Kalau kamu takut Bagas tau, kita hanya perlu diam dan tidak mengatakan pada mereka.”
Lagi-lagi aku lemah. Hanya bisa menggelengkan kepala sebagai jawaban atas ucapan Hansel.
“Jangan takut. Aku akan selalu ada buat kamu.”
“Nggak. Ngga seharusnya bapak berkata seperti itu. Aku tidak pernah menginginkan anggapan berlebihan bapak tentang hubungan kita.”
Aku mendengar dengusan kesal dari hidung dan bibir Hansel. Dia terlihat tidak terima.
__ADS_1
“Udah terlanjur, Nad. Kita udah berjalan terlalu jauh. Aku juga nyaman sama kamu.” katanya sembari mengusap pipiku lembut, yang aku tampik sedikit kasar. Aku merasa risih.
“Nggak.”
“Oke. Lalu, hubungan seperti apa yang kamu maksudkan untuk kedekatan kita selain, selingkuh? Hah?!”
Entah untuk keberapa kalinya aku menggeleng. Tapi aku janji ini menjadi yang terakhir. “Tidak ada hubungan apapun diantara kita. Anda adalah atasan saya di kantor, dan saya adalah asisten anda. Kita partner kerja.”
Hansel tertawa kaku. “Naif. Kamu bener-bener naif Nad. Kita udah nyaman, tapi kamu nggak mau aku menyebut hubungan kita sebagai seling—”
“Stop!” ucapku sedikit keras dan menekan suara agar Hansel kembali sadar. “Saya hanya mencintai suami saya. Saya mencintai Bagas. Bukan laki-laki lain. Termasuk anda.” tegasku penuh penekanan. “Jika selama ini bapak menganggap semua yang saya lakukan kepada bapak adalah salah satu hal yang membuat bapak nyaman dengan saya, mulai saat ini jangan pernah lagi mengirim pesan kepada saya.”
“Apa maksud kamu? Nad, dengerin aku dulu.”
“Kita nggak bisa membicarakan ini disini, pak. Reputasi saya menjadi taruhannya. Jadi, jika bapak ingin menyelesaikan ini, mari kita bicarakan ditempat lain.” seruku tak ingin dibantah. “Saya akan memberitahu bapak, dimana kita bisa membicarakan hal ini.”
***
Sesampainya di kompleks perumahan, hatiku terasa begitu ringan, plong dan tidak tertindih beban seperti di kantor.
Jika dulu pulang membuatku begitu tersiksa seperti di neraka karena aku harus bertemu lagi dengan bagas, berbeda dengan sekarang setelah Bagas menyatakan kesungguhannya ingin memperbaiki pernikahan kami, rumah terasa seperti surga bagiku.
Tiga puluh menit yang lalu Bagas mengirim pesan jika dia akan sampai rumah sekitar pukul lima sore. Hansel memaksa mengantar pulang setelah memastikan semua pegawai kantor sudah pulang. Laki-laki itu memaksa gigih untuk mengantarku pulang setelah perdebatan beda pendapat kami di kantor tadi pagi.
BMW hitam mengkilat miliknya berhenti tak jauh dari rumah Bagas. Aku sengaja meminta kepadanya untuk tidak berhenti tepat didepan rumah, takut jika ada yang salah faham nantinya.
“Terima kasih sudah mengantar saya pulang dengan selamat.” ucapku lembut sambil bergerak meraba kunci seatbelt dan membukanya.
Namun gerakanku terhenti ketika tangan Hansel meraih pergelangan tanganku, kemudian menariknya sedikit keras hingga tubuh kami saling condong. Satu kecupan mendarat di pipiku tanpa aku minta, yang berhasil membuat darahku mendidih tapi tidak bisa melakukan apapun selain diam dengan rahang mengeras dan jemari yang mengepal kuat karena sengatan sakit yang teramat dalam dada.
“Sampai jumpa besok. Aku cinta kamu, Nad.”
Sial. Semurah itu kah diriku hingga dia berani menciumku seperti itu?
Tanpa menjawab, aku menarik tanganku keras dan meraih handle pintu mobil. Membuka dan keluar dari mobil mewah itu dengan perasaan campur aduk yang begitu menyiksa. Rasa bersalah untuk Bagas begitu mendominasi hingga aku ingin meneriaki Hansel dengan umpatan buruk dari yang paling buruk.
Ku banting pintu mobil hingga berdebum cukup keras, lalu aku meninggalkan laki-laki yang sudah berani menyentuh yang bukan hak nya itu tanpa menoleh lagi. Sepanjang jalan menuju rumah yang tak lagi berjarak jauh dari pandangan, aku terus merutuki kebodohan ku yang sudah berani bermain api dan membuka hati hingga ada orang lain yang dengan berani dan tanpa permisi masuk begitu saja.
Aku bodoh. Katakan saja itu berkali-kali ditelinga ku agar rasa bersalahku pada Bagas sedikit berkurang.
Dadaku sesak memikirkan bagaimana senyuman hangat Bagas, lalu semakin sakit hingga nyaris membuatku sulit bernafas ketika melihat wajah Hansel di balik kelopak mataku yang tiba-tiba saja ku pejamkan.
Aku ingin berterus terang dan meminta ampun kepada Bagas atas semua kelakuanku ini. Tapi mengapa sulit sekali?
Ku tepuk dadaku yang sakit dengan kepalan tangan. Cukup keras dan aku berharap hal itu bisa membantuku agar bisa bernafas. Namun sangat sulit. Dan semakin sulit ketika senyuman Bagas kembali terulas di dalam kepalaku.
__ADS_1
Bagas, maafkan aku. []
^^^to be continued.^^^