Wedding Dust

Wedding Dust
45. Nadya Ayunda


__ADS_3

...Selamat membaca...


...Jangan lupa semangat untuk hari ini......


...🌹🌹🌹...



Aku menatap lurus kearah dia yang mulai memutar dan berjalan pergi.


Ketika ketakutan menyerang ku dari berbagai sudut, aku memilih menanggalkan genggaman tangan Hansel dan berlari mengejar Bagas, orang yang selama ini selalu ada dan berusaha membuat kami membaik.


Sekarang aku sadar, jika cinta pertama itu bukanlah orang pertama yang kita cintai. Tapi cinta pertama adalah orang yang berhasil membuat kita merasa benar-benar dicintai hingga takut kehilangannya. Aku, ada diposisi ini sekarang.


Bagas terus memacu langkahnya menjauh. Aku teringat akan ucapannya saat itu,


Karena kali ini, jika aku kehilangan kamu, aku nggak tau apa yang bakal terjadi pada diriku sendiri.


Aku kalut. Kata-kata Bagas terus terngiang di telinga, dan mengganggu otakku untuk berfikir jernih. Untuk saat ini, aku harus terus mengejar dia, berlari sebisaku untuk menghentikan Bagas agar mau bicara terlebih dahulu denganku sebelum kecurangan ini menuju tahap final, yang mungkin berujung perpisahan.


Ini risiko, dan aku sudah pernah membayangkan jika hal ini sampai terjadi. Namun aku sama sekali tidak pernah menduga Bagas akan tau semua secepat ini.


Dia sudah melewati bilah pintu kaca dan masuk ke dalam sebuah taxi yang kosong. Nahasnya, taxi itu memacu pergi sebelum aku bisa mencapai pintu dan meminta Bagas keluar dari sana.


Aku berlari mengejar bak film drama yang sering aku lihat. Ternyata sesakit ini rasanya ditinggalkan, sesakit ini rasanya diabaikan. Sekarang, pikiranku penuh akan hal-hal buruk yang akan terjadi kedepan.


Bagaimana perasaan orang tua kami?


Bagaimana dengan Juwita?


dan yang paling menyakitkan, bagaimana nasib pernikahan dan persahabatanku dengan Bagas setelah semua ini nanti?


Aku lelah berlari. Aku berhenti dan menekuk lutut setelah melihat taxi itu bergerak semakin cepat meninggalkan aku. Tidak, bukan hanya taxi, tapi juga Bagas. Dia meninggalkan aku untuk pertama kalinya dalam keadaan berantakan dan terluka seperti saat ini. Aku tidak yakin dia akan memaafkan aku, karena selama ini dia sudah memberikan peringatan tegas untukku.


Aku meringkuk dan menyembunyikan wajahku didalam cela yang tercipta. Aku tidak bisa menangis, hanya siksa penyesalan yang terus mendera karena tidak berterus terang kepada Bagas sejak awal.


Ditengah kekacauan itu, ponsel dalam saku ku bergetar singkat. Sebuah pesan, dan aku bergerak pelan mengangkat wajah lalu berdiri menepi untuk membuka isi pesan itu.


Mungkin sekarang waktunya. Selesaikan dulu urusan kamu, setelah itu kita ketemu dan bicara.


Aku tunggu kamu disana.


Aku terhuyung kebelakang, jatuh kedalam dekapan seorang yang aku tau dengan cepat siapa itu.


“Nggak apa-apa. Kita akan baik-baik saja.” bisik Hansel lembut diantara pandangan kami yang bertemu.

__ADS_1


Tidak apa-apa katanya? Omong kosong.


Sekuat tenaga aku bangkit dari dekapannya meskipun badan masih terasa lemas seperti kehilangan separuh nyawa. Ku buat jarak diantara kami.


“Kita berakhir sekarang juga.”


“No. Aku nggak mau Nad!”


Sunggingan senyum miris terbit di bibirku. Dia masih saja egois, memikirkan kesenangannya sendiri tanpa memikirkan bagaimana aku dan perasaanku.


“Nggak mau?” tanyaku sinis. “Mau lihat aku hancur lebih dari ini?”


“Nad, kamu bakal butuh aku setelah ini.” kekeuhnya tak tau diri. Aku benar-benar kesulitan melepaskan diri dari Hansel, meskipun didepan matanya sendiri dia sudah melihatku yang hancur tak bersisa. “Bagas bakal pergi dari kamu. Ninggalin kamu, dan kamu bakalan butuh aku.” lanjut Hansel percaya diri. Masih sama, dengan rayuan dan mulut manisnya yang mengandung racun.


“Nggak.” jawabku tegas. Yang aku butuhin itu Bagas, bukan kamu.


Aku mengambil langkah ditengah rintik gerimis dan angin yang mulai berhembus dingin menerpa wajah dan seluruh tubuh. Hampa, aku tidak merasakan adanya sedikit rasa dalam diriku. Semua seperti hanya berjalan tak tentu arah bersama raga yang kosong.


Hansel menarik tanganku sekali lagi.


“Nad,”


“Plis. Udah, kita berhenti sampai sini, Hans. Aku capek, dan jangan ganggu aku lagi.” kataku dengan suara bergetar lemah. Aku sama sekali nggak bohong jika aku lelah. “Sekarang, kembalilah ke Jakarta. Kembalilah ke keluargamu yang hangat bersama anak dan istrimu, sebelum semuanya hancur... seperti aku.”


Aku tunggu kamu disana.


Di tempat itu kan? Taman yang menjadi tempat kami bertemu, membuat kesepakatan, dan...mengakhiri semuanya.


Bagas egois sekali sekarang. Mengapa dia tidak ingin mendengarkan aku terlebih dahulu, dan malah mengajakku bertemu disana yang sudah jelas sekali tujuannya. Tujuan akhir, yakni mengakhiri hubungan tak tentu arah ini.


Ku lajukan motor dengan kecepatan lumayan tinggi. Entah mengapa, aku tidak peduli pada apa yang akan terjadi padaku dengan mengemudi motor seperti ini. aku tidak menangis,” Air mataku seolah membeku dan dipaksa untuk tetap di tempatnya, agar tidak ikut luruh, jatuh oleh perasaan takut kehilangan.


Dengan jarak tempuh yang memakan waktu empat puluh lima menit dari bandara, disana aku melihat punggung lebar berkemeja biru langit kesukaanku.


Beberapa minggu lagi dia berulang tahun, dan jujur aku takut jika aku tidak bisa menjadi orang pertama lagi yang mengatakan selamat ulang tahun untuknya.


Disana, Bagas menatap ke arah danau buatan yang sejak dulu memang terbengkalai. Tumbuhan dan rerumputan tumbuh jauh lebih tinggi dari terakhir kami datang kesini.


Semua kenangan bersama Bagas yang tertinggal disini, kembali terputar acak di dalam kepalaku. Kepingan demi kepingan terkumpul dan menyatu hingga membuat satu gambar utuh di hari itu. Hari dimana kami bertemu sebelum pernikahan itu terjadi. Hari dimana aku memintanya untuk setuju dan menikah denganku untuk hidup bersama sebagai suami istri dan sahabat. Yang mana membawa hubungan pernikahan kami menjadi kering.


Kami menikah, tapi dunia kami tidaklah searah. Aku membiarkan Bagas bahagia dengan kehidupannya dengan wanita sebelum aku, yang tentu saja itu sangat menyiksaku. Walaupun aku bisa bertahan dengan itu hingga lima tahun. Hingga Bagas memutuskan untuk menggandengku, memintaku untuk memulai semuanya dari awal untuk memperbaiki semuanya.


Tapi lihatlah sekarang. Betapa menyedihkannya aku. Betapa buruknya aku yang menyia-nyiakan semuanya hanya demi sebuah kenyamanan sesaat bersama orang lain.


Aku berjalan mendekati sosok yang sepertinya masih belum menyadari kehadiranku. Aroma musk lembut yang aku rindukan menguar menyapa hidung ketika jarak kami hanya terpaut beberapa centi. Tanganku terulur ingin menyentuh bahunya yang naik turun dengan nafas tenangnya. Tapi semua urung ketika sebesit pikiran muncul dalam benakku.

__ADS_1


Aku tidak pantas untuknya.


Lalu aku menegur sapa dengan suara. “Aku, datang.”


Bagas menoleh sedikit terkejut, namun dia menyematkan sebuah senyuman yang terlihat tidak sehangat biasanya yang ia berikan kepadaku. Semuanya benar kacau.


“Ah, sudah sampai. Duduklah dulu.” pintanya sambil menggeser tubuhnya ke kiri agar ada ruang untuk ku tempati. Memori itu kembali terputar di otakku hingga membuat mataku memanas. Sekarang, sudah berada didekat Bagas, aku ingin menumpahkan semua tangis yang sejak tadi aku tahan mati-matian.


Suasana begitu canggung saat aku sudah duduk satu bangku bersamanya. Bangku yang masih sama, namun sedikit berkarat karena tidak ada yang menjamah. Aku melirik kedua telapak tangan Bagas yang ia letakkan diatas lututnya. Sesekali jari-jarinya meremas celana bahan yang dia pakai. Dia terlihat gugup, atau...menahan luapan amarah? Mungkin opsi yang kedua adalah jawabannya.


“Nad,”


“Eumm.” sahutku cepat sambil mengangkat wajah menatap fiturnya yang lebih memilih tidak melihat ke arahku.


Kami diam cukup lama, dan itu membuatku cukup was-was. Bagas bukanlah tipikal orang yang banyak diam, dia orang yang aktif bicara. Mendapati Bagas yang seperti ini, membuat rasa takutku datang berkali-kali lipat, membuat jantungku berdebar mengerikan hingga kepala terasa pening.


“Kita bahas semuanya.” kataku memulai topik pembicaraan. Memang tujuanku datang memenuhi keinginannya untuk bertemu adalah membahas tuntas masalah ini.


Bagas tertunduk dengan sebuah senyuman. “Maaf, tidak bisa membuatmu nyaman dan aman saat bersamaku.”


Kenapa justru kalimat itu yang keluar dari bibirnya. Aku merasa bersalah dan tidak bisa berkata-kata mendengarnya. Seolah semua ini memang karena ulah dan kesalahanku, yang tidak bisa kupungkiri memang begitu adanya. Aku terdiam.


“Jika boleh memutar waktu, aku ingin hari ini tidak seperti ini. Atau, paling tidak hari ini tidak ada dan tidak terjadi.” katanya sendu mengiris pilu. “Tapi, aku juga bersyukur. Setidaknya, ada orang yang membuat kamu bahagia saat bersamanya.”


“Cukup Gas. Kamu nggak mau denger penjelasan ku dulu?” tanya ku berharap Bagas masih mau percaya dan mendengarkan. Dia tidak memberikan jawaban secara harfiah, tapi dia terangguk ragu tanpa mantap padaku.


Persetan. Aku tidak ingin kehilangan dia. Jadi aku akan tetap bicara dan memeberikan alasanku melakukan itu padanya. Aku sudah berusaha bersamanya memperbaiki hubungan. Jadi, aku tidak mau menyerah sekarang. Aku ingin tetap mempertahankan Bagas.


Mempertahankan rumah tangga dan juga persahabatan yang sudah kami jalin sejak lama.


“Aku salah karena udah nggak jujur sama kamu,”


Hening.


“Aku juga salah nggak nurut sama ucapan kamu buat berhenti dari kantor.” kata-kata klise yang seharusnya tidak perlu aku katakan itu meluncur sendiri melewati tenggorokan. “Dan sekarang malah seperti ini.” sesalku, menunduk dalam penuh penyesalan luar biasa.


“Aku dan Hansel, memang ada hubungan yang lebih dari sekedar seorang atasan dan bawahan.” jelas ku mula-mula.


“Kamu nggak salah dengan itu, karena aku tidak lebih baik dari kamu nad.”


Aku tau, Bagas menempatkan dirinya sebagai seorang sahabat sekarang. “Aku pernah membuat hatimu lebih sakit daripada yang aku rasakan. Maafkan aku tidak bisa membuatmu bahagia selama berada di sisi ku, hingga kamu melakukan ini.”


Aku meremas jeans yang melekat di kakiku meskipun sulit, pandanganku mengabur. Tangis yang sejak tadi aku tahan, ingin tumpah saat ini. “Tapi,” Bagas menjeda ucapannya, membuatku kembali ingin memperhatikan fitur nya yang masih tidak melihat ke arahku. “Apa masih bisa kita bersama lagi setelah saling menyakiti seperti ini?” []


^^^to be continue.^^^

__ADS_1


__ADS_2