Wedding Dust

Wedding Dust
EXTRA PART (Eveana dan Evander)


__ADS_3

Bocilnya versi gede ya Guys


Selamat membaca...


🌹🌹🌹



Waktu bergerak seperti batu yang dilempar ke atas sungai, lalu jatuh dan tenggelam tanpa jeda.


Tujuh belas tahun berlalu, dan mereka berdua tumbuh seperti...Tom and Jerry.


Eve yang sedikit tomboy karena mengikuti gelagat sang kakak, terus menggoda kakaknya yang memang laki-laki hingga terkadang mereka adu otot di ruang tengah. Nadya dan Bagas, jangan ditanya. Ini adalah tontonan wajib mereka berdua diusia mereka yang hampir memasuki setengah abad.


“A-aw....” teriak Evander kencang yang berada dalam kungkungan si tomboy Eveana. “Mom, Eve gigit tanganku. Aw, sakit!”


Nadya menggeleng dengan helaan nafas berat. Memang seperti itu tingkah anak-anaknya. Untung saja yang satu laki-laki, yang satu perempuan. Kalau laki-laki dua-duanya, bisa pecah kepala Nadya setiap hari memikirkan love language mereka berdua yang lebih menjurus ke adegan kekerasan itu.


“Adek, kasihan kakak dong. Jangan digigit macam boneka mampang gitu.” kata Nadya mencoba melerai dengan perkataan. Mau bagaimana lagi, tidak mungkin Nadya ikut berguling di tengah mereka sebagai seorang wasit.


“Evan yang mulai, Mom. Dia bilang Eve kayak ondel-ondel kalau pake make-up.”


Kali ini Bagas yang menggeleng tidak percaya. Tapi dia tetap diam dan meraih keripik kentang yang ada diatas meja. Menonton serial dunia nyata yang lebih seru dari drama apapun.


“Memang kayak ondel-ondel tuh—AWWW...”


Kelihatannya gigitan Eve lebih keras dari sebelumnya karena volume teriakan Evander lebih kencang dari yang lima menit lalu. “Mommy... Tolong.”


Bagas tersenyum ketika Nadya membawa sebuah kayu menyerupai pentungan kearah mereka berdua yang seketika itu juga diam tak berani melakukan pergerakan apapun. Nadya yang Bagas tau bersikap dingin, telah bangkit.


“Berhenti, nggak? Kepala mommy rasanya makin nyut-nyutan dengerin teriakan Evan. Eve, berhenti gigit kakak kamu. Kalau tidak mau, mommy pentung gantian kalian berdua, ngerti.”


Bagas menyemburkan tawanya diatas sofa. Nadya memang begitu ketika sudah nggak ada ide untuk melerai kedua buah hatinya.


“Papi juga diem.” sembur Nadya semakin kesal karena bukannya membantu, Bagas malah asyik menonton, tertawa lagi. Kan sebel tuh. Bagas seketika diam dan berdehem.


Eve melepas Evan dan melompat memeluk Nadya mencari perhatian. Sedangkan si kakak, mendecih kesal karena tingkah Eve yang selalu meminta perhatian sang ibu setelah bertengkar. Alhasil, Eve selalu lolos meskipun bersalah.


“Mom, Eve dapat nilai bagus di sekolah.”


Dibandingkan Evan yang sering mendapat nilai C, Eve lebih mewarisi otak Bagas dengan mendapatkan nilai A atau B.


“Benarkah?”


“Bohong mom.” teriak Evan dari jauh, melancarkan aksi balas dendam. “Dia punya pacar banyak disekolah.”


“Van, bisa diem nggak!”


“Kakak. Kamu harus panggil Evan dengan sebutan kakak.” seru Nadya nggak mau dibantah, membuat Evan merasa menang dan menjulurkan lidah ke arah Eve.


“Kan beda tiga puluh menit aja, mom? Jadi nggak perlu lah panggil si badut Mampang itu dengan panggilan kakak.”


“Eve...” de-sah Nadya kerana lelah berdebat dengan si putri yang nggak akan mau kalah debat.


“Pa, Eve dapet hadiah apa? Eve dapet nilai bagus lho?” manja Eve kepada sang papa, berjalan mendekat, limbung didepan papanya dan berakhir merebahkan kepalanya di dada sang ayah.


Bagas menelan ludahnya kasar. Inilah kesalahannya karena memanjakan si kembar. Mereka akan selalu meminta tanpa mau ditunda.


“Memangnya, Eve mau hadiah apa dari papi?”


Eve terdiam sejenak, mungkin sedang berfikir.

__ADS_1


“Beliin Eve ini.” katanya, sambil menunjukkan gambar sebuah jam tangan dengan bandrol tujuh juta sembilan ratus sembilan puluh sembilan rupiah tanpa diskon dan nggak bisa nego.


Ludah Bagas kembali tertelan dan hampir membuatnya tersedak. “Eve, itu bukan jam tangan untuk anak seusia kamu. Bahaya ih, papi nggak mau beliin. Yang lain aja.”


Eve merajuk, ia mengangkat tubuhnya dari badan Bagas kemudian berdiri menjauh hingga menghilang di dalam kamarnya.


Nadya datang mendekat. “Tuh hasilnya. Makanya kalau dibilangi jangan di manja, ya jangan di kasih dong. Kalau udah kayak gini, siapa yang buntung?” Nadya meletakkan segelas teh hangat untuk Bagas. Lalu menatap kembaran si cantik yang sekarang lagi asyik dengan ponselnya di atas sofa lain dengan kaki menyilang. “Kak,” panggilnya untuk si tampan Evan.


“Ada apa, Mom. Kalau manggil Evan buat ngerayu Eve, mending mommy batalin deh. Evan lagi nggak mood tuh.” cebiknya sambil menatap Nadya sekilas, kemudian kembali menatap ponselnya untuk lanjut bermain game online. Tim nya sedang berjaya.


“Evan. Apa mommy pernah ngajari Evan seperti itu?”


Sontak telunjuk Evan yang sibuk diatas layar ponsel, terhenti. Dia kini mengangkat kakinya untuk menuruni sofa, kemudian berjalan lunglai menuju kamar Eve, kembarannya yang ribetnya minta ampun.


“Iya, iya. Evan kesana. Tapi Evan nggak jamin Eve bakal luluh.” kata Evan, lalu menambahkan diam-dalam hati, karena Evan bakalan bikin Eve tambah kesel. Dan senyuman jail itu terbentang di bibirnya.


***


Eve sudah melupakan kejadian semalam, dimana papanya menolak membelikan hadiah, dan si usil Evan merayunya agar mengerti maksud dan tujuan papa menolak permintaan kali ini.


Pagi ini, Eve berniat berangkat bersama Gio. Meskipun tidak berasal dari sekolah yang sama, Gio rela berangkat pagi dan memutar arah demi mengantar Eve. Sudah sering pemuda itu menjemput Eve. Gio juga sudah dekat dengan Bagas, tapi tidak dengan Evan. Karena menurut Gio, Evan itu orang yang sulit di yakinkan jika tidak melihat kenyataan, kalau tidak ada bukti. Selain itu, Evan punya prinsip kuat. Ya, maklum, Bagas sudah menanamkan itu sejak dini agar dia memiliki komitmen dan nggak plin-plan sebagai cowok.


“Gio!” panggil Eve sedikit berteriak. Giovanni ini putra seorang pemilik sebuah restoran mie yang sedang viral di media sosial. Eve dan Gio kenal ketika sekolah mereka ada event yang melibatkan sekolah mereka bekerja sama. Mereka kenalan lalu dekat, dan usut punya usut, Gio sudah menyatakan perasaannya kepada Eve.


“Gue bareng juga.” sambar Evan mendahului Eve yang hendak mendekati Gio.


Mobil Gio lumayan mahal, jadi Evan nggak mau menyia-nyiakan kesempatan itu.


***


Eve cemberut sedari pulang sekolah. Alasannya, karena Evan menyebalkan saat di mobil tadi.


Masa' dia cerita kalau Eve itu suka tidur dengan mulut terbuka, suka pake baju yang nggak feminim sama sekali, dan Evan juga menegaskan jika Eve itu pemarah. Kan Gio bisa ilfeel kalau seperti itu.


“Kalau ada masalah, cerita. Jangan diem manyun kayak bebek begitu.” Nadya bicara berdasarkan pengalaman, bahwa diam tidak akan menyelesaikan masalah.


Meskipun muka lempeng Nadya itu tergolong cukup mengesankan, tapi Bagas nggak habis pikir kenapa istrinya itu memasang wajah lurus seperti itu ketika memberi solusi untuk putri mereka.


“Evan nyebelin.”


Nadya menghela nafas. Dua bocahnya ini selalu bertingkah seperti tikus dan kucing, nggak pernah akur.


“Eve, sudah berapa kali mommy bilang, panggil dia kakak. Dia itu kakakmu lho.”


“Eve nggak suka punya kakak seperti dia.”


Nadya sontak menoleh. Dipikir lahiran gampang apa, enak aja dianya bilang nggak mau punya kakak seperti itu? Nadya geram, dia menahan emosinya yang sudah hampir meledak karena sikap manja Eve.


Akan tetapi, belum sempat Nadya meluapkan rasa kesalnya, Bagas sudah mencuri pembicaraannya dengan sang putri.


“Kak Evan melakukan itu pasti ada alasannya, Ve. Dia pasti ingin melindungi kamu. Jangan bilang nggak suka sama kakak, begitu. Kesannya kamu nggak bersyukur punya saudara kembar sebaik Evan.”


Eve membenamkan kepalanya di bantalan kecil sofa ketika Evan datang sambil berteriak mengucap salam.


Tatapan Evan tertuju pada Eve yang terlihat aneh. Dia bicara dengan sang papa dengan bahasa bibir, tanpa suara. “Dia kenapa?”


Bagas mengedikkan bahu. Biar anak laki-laki nya itu bersikap gentle kepada adiknya.


Evan menggaruk pelipisnya ketika melangkah mendekat pada Eve. Dia lantas duduk di sisi sofa sambil menatap punggung adiknya yang masih belum mau mengangkat wajah. “Lu kenapa dah?” tanya Evan mulai mencari tau.


Eve nggak peduli. Dia diam saja yang justru membuat Evan sadar akan sesuatu.

__ADS_1


“Lo marah gara-gara tadi pagi?” tanya Evan sedikit keras membuat Eve menarik wajahnya untuk menatap Evan.


“Lo nyebelin.” tukasnya tajam, lalu kembali membenamkan wajahnya ke atas bantal. Sedangkan Evan tertawa, kemudian mengusak rambut Eve gemas.


“Gue lihat Gio sama cewek beberapa waktu lalu.” kata Evan sengaja menjeda menunggu respon dari Eve.


“Bohong. Gue tau Lo nggak suka Gio, tapi jangan fitnah kayak gitu dong.” ketus Eve dengan tatapan mengajak perang.


“Suer. Gue nggak bohong. Gue lihat dia jalan sama cewek di mall.”


Eve diam tidak memberi sangkalan.


“Lo adik gue, dan gue sayang sama Lo. Mangkanya gue nggak mau Lo di sakiti sama cowok macem Gio itu.”


Eve mengangkat wajahnya. Dia bangun dari tidur telungkupnya dan menghadap ke arah Evan. Menatap lurus penuh telisik kearah manik mata kakaknya, mencari ke-jailan yang biasa laki-laki itu lakukan padanya.


Nihil. Nggak ada. Evan nggak sedang berbohong kali ini.


Eve pun dengan cepat berhambur ke pelukan Evan sambil menangis.


“Makasih kak, udah sayang sama Eve.”


Sedangkan bapak-bapak dan ibu-ibu yang duduk di sofa lainnya, saling tatap karena bingung setengah mati. Mengapa ada adegan mellow dalam drama per-kakak-adikan yang biasanya hanya diisi ke-jailan dan saling ganggu?


“Makanya, kalau kenalan sama cowok itu, dilihat dulu. Jangan mentang-mentang mobil bagus tampang wow, lu nya mau aja di kibulin.”


Eve mengangguk masih dalam pelukan Evan.


“Tapi tenang. Sebagai kakak yang baik hati, gue bakalan selalu lindungi elo, meskipun elo suka bikin pala gue puyeng.”


Nadya dan Bagas menahan tawanya sampai harus berpelukan. Dua bocahnya itu mungkin sebentar lagi akan berubah menjadi orang dewasa.


“Janji?” kata Eve parau karena menangis.


“Janji dong. Sayang kalau adik gue yang cantiknya minta di gebukin orang se-kompleks ini diambil orang yang nggak bener.” goda Evan membuat emak-bapaknya nggak bisa lagi nahan tawa. Mereka bertiga tertawa, sedangkan bibir Eve sudah manyun kayak bibir bebek.


“Ish. Nyebelin! Mommy sama Papi juga. Ish!”


Evan meraih puncak kepala adiknya penuh sayang. Lalu keduanya fokus karena Nadya tiba-tiba berseru,


“Mommy sama Papi mau ku Surabaya, nih! Siapa yang udah kangen sama nenek, Oma, sama Tante Juwi?”


Si kembar yang notabenenya memang dekat dengan sang nenek ber-tos ria untuk merayakan kebahagiaan karena hendak berkunjung kerumah nenek-nenek yang menyayangi mereka.


“Kita lah, mom. Ayo berangkat ke Surabaya.”


Sejatinya, sebuah kesabaran akan berbuah manis, dan kasih sayang keluarga tidak akan pernah luntur. Terutama ayah dan ibu. Mereka lah yang akan menjadi orang pertama yang akan membantu kita jika kesulitan, dan menegur kita jika salah.


Cintai keluargamu selagi ada kesempatan, sayangi mereka selagi kamu bisa. Karena keluarga adalah... segalanya. []


...—WEDDING DUST FINAL END—...


Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai akhir ya. Mohon maaf jika ada salah kata atau bahasa yang kurang berkenan.


Ingat, keluarga adalah tempat kita akan kembali disaat orang lain tidak akan pernah mau peduli dengan urusan kita. Jadi, sayangi keluargamu apapun dan bagaimanapun keadaannya.


Thank You...


Yuk setelah ini mampir ke cerita baru Othor, yang pasti nggak kalah seru. Judulnya ME GUSTAS TU. Simpan di list favorit agar nggak ketinggalan saat aku update bab terbaru. Selamat membaca dan bergabung dengan pasangan baru hasil kehaluan Othor ya...


See you 🤗

__ADS_1



__ADS_2