Wedding Dust

Wedding Dust
53. Nadya Ayunda


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA...


JANGAN LUPA DUKUNGAN KALIAN UNTUK WEDDING DUST YA


TERIMA KASIH...


🌹🌹🌹



“Resign?” tanyanya padaku sambil mempertemukan manik kami.


“Ya. Saya mengundurkan diri. Tidak ada lagi yang perlu saya takutkan untuk pergi dari sini. Terima kasih sudah mempermudah semuanya. Bagas juga nitip salam buat kamu. Terima kasih, katanya.”


Hansel menyeringai dan menatap tak suka padaku. Lantas, ia menjauhkan diri dari meja dan bersandar pada punggung kursi kerjanya tanpa memutus tatapan matanya padaku.


“Eumm, kamu boleh nggak takut. Tapi ingat, aku adalah atasanmu, dan surat resign mu itu nggak akan sah tanpa tanda tangan dariku. Kamu lupa prosedur itu?”


Ya. Aku melupakannya. Aku lupa jika surat itu masih harus mendapatkan persetujuan dari Hansel. Sial, tau begitu tadi aku bersikap baik sampai dia menandatangani surat ku dulu.


Merasa bodoh, aku berusaha menutupi dengan menggelengkan kepala. Tidak mungkin aku mengakui kebodohan ku didepannya, bisa-bisa aku terjebak lagi dengan permainannya.


Ketika aku tenggelam dalam lamunanku akan kecerobohan sikapku, Hansel sudah berdiri disamping ku. Tidak lama, karena setelah itu dia duduk di tepian meja sambil melipat kedua tangannya didepan dada dan tersenyum padaku. Kasih senyuman yang sama, senyuman yang menawarkan sebuah kenyamanan. “Nad, kamu nggak usah naif deh. Bilang aja kalau masih mau bertahan disini.”


“Tidak. Saya ingin berhenti bekerja karena ingin fokus ke rumah tangga sa—”


“Rumah tangga bullshit!!” sahutnya cepat memotong kalimatku dengan sebuah seringai mengerikan yang belum pernah aku lihat sebelumnya. “Tengok kembali bagaimana kelakuan suamimu itu di belakangmu. Masih sok-sokan mau memperbaiki pernikahan. Yang ada kalian makin jauh menyakiti satu sama lain.”


Kenapa Hansel memprovokasi seperti ini? Aku jadi takut dan ragu. Bagaimana kalau ucapan Hansel benar. Aku dan Bagas bisa jadi gagal dan berakhir menyedihkan.


“Sudahlah. Percaya saja padaku, Nad. Aku memang bukan orang baik-baik yang mau menunggumu berpisah dengan suamimu terlebih dahulu. Tapi aku adalah orang yang bisa buat kamu nyaman—”


“Stop! Berhenti meremehkan Bagas didepanku.”


“Kenyataannya memang begitu, sayang.”


Aku melengos ketika lengannya terulur dan hendak menyentuh dagu ku.


“Tolong tanda tangani saja surat pengunduran diriku itu. Karena hanya dengan cara itu kita bisa berhenti dari hubungan ini.”


Hansel kembali berdiri. Dia berjalan memangkas jarak hingga kini kami berhadapan, dan aku bisa merasakan bagaimana nafas hangatnya menyentuh permukaan kulit wajahku. “Boleh, tapi dengan satu syarat.”


Aku mendelik lebar mendengar itu. Syarat? Haruskah dia bersikap seperti ini? Licik sekali.


“Katakan.” ucapku tegas.


Hansel mendekatkan wajahnya samping telingaku, kemudian berbisik. “Temani aku di hotel Kempinski, satu malam saja. Setelah itu aku bakal lepas kamu, kita berakhir.”


FU*CKING Hansel!!


Aku tau maksudnya, One night Stand.

__ADS_1


Dia pikir aku bisa ia gunakan seperti ja-lang? Persetan dengan tanda tangan. Persetan dengan uang pesangon atau gaji tertahan. Demi Tuhan, aku membenci orang ini. Dan nggak akan sudi datang ke tempat ini lagi.


Tanpa berkata apapun, aku berbalik badan menjauh dari Hansel. Kuraih tas ku dan hendak keluar dari ruangan dengan amarah berkobar, dan harga diri yang sudah diinjak di tempat paling bawah hingga aku merasa tidak pantas lagi dicintai. Yang terpenting sekarang, aku dan Bagas akan tetap bersama.


Namun langkahku yang sudah berdiri diambang pintu kembali tertahan oleh suara Hansel dan langkah dengan sepatu pantofel mengetuk lantai itu terdengar mendekat. “Kalau kamu keluar dengan cara begini, hari ini juga aku akan membuatmu malu didepan semua penghuni kantor ini.”


Persetan.


Aku meraih kenop pintu, namun dia berhasil menangkap pinggangku hingga aku memekik tertahan.


“Lepaskan!” pintaku serius. Aku takut seseorang tiba-tiba datang dan masuk kedalam ruangan ini.


“Kamu nggak bisa seperti ini ke aku, Nad. Kamu yang udah buat aku jatuh cinta setengah mati ke kamu, sekarang malah kamu mau ninggalin aku gitu aja? Nggak bisa. Kalau aku nggak bisa dapetin kamu, Bagas juga enggak!”


“Lepas!!”


Hansel itu, nekat.


Pintu terbuka tanpa diketuk, dan wajah yang tidak asing yang pernah aku lihat, menatap kami lurus. Suara anak kecil yang memanggilnya mama, membuat Hansel seketika melepaskan pelukannya di pinggangku dan berlari ke arah wanita bernama Yuana. Ya, istri Hansel datang tanpa sepengetahuan laki-laki itu. Dan yang membuatku terkejut, Yuana berjalan cepat menuju sofa, meletakkan batita cantik itu disana, kemudian berjalan cepat ke arahku. Menatap nanar dengan manik berkaca-kaca kearah ku.


“Apa yang kalian lakukan disini?”


“Ana, ini tidak seperti yang kamu pikirkan.”


“Diam! Aku tidak bertanya padamu!” bentak Yuana cukup keras kepada Hansel hingga suara itu membumbung menggelegar memenuhi ruangan. “Jawab aku. Apa yang kalian lakukan disini?!” teriaknya keras tanpa sopan santun didepan muka ku.


Apa ini saatnya aku memanfaatkan semuanya untuk menyerang Hansel? Dia tidak akan bisa berbuat apa-apa kalau aku mengakui hubungan ini didepan istrinya.


“Mommy, Mommy, kenapa Mommy marah?”


Yuana diam tidak menanggapi putrinya sendiri. Dia terlihat sibuk memendam emosi yang hendak meledak karena ulah Hansel, maksud ku, ulah kami berdua.


“Katakan, sebelum aku menghabisi kalian berdua!” tekannya dingin, namun tak urung membuatku gentar. Aku mengambil senyuman jumawa sebagai pilihan. Kemudian aku menunduk sejenak menatap sepatu pantofel ku yang terasa kurang nyaman secara tiba-tiba.


“Coba tanya kembali pada suamimu, nyonya? Tanya padanya, apa hubungan kami yang sebenarnya.”


Yuana menggeram dan meraih krah kemejaku hingga wajahku sedikit mendongak.


“Ah, pantesan kamu sering pulang telat ya, mas. Jadi ini alasannya?” kali ini, Yuana berbalik menatap Hansel.


“Sayang, kamu salah—”


“Kami selingkuh.” tegasku memotong kalimat Hansel dengan cepat, tidak ingin semakin berbelit karena Hansel berkilah tentang hubungan yang sejauh ini ingin tetap ia jalani meskipun.


Rasakan. Kita akan sama-sama merasakan kehancuran. Terlebih Hansel yang pasti masih menyembunyikan hubungan ini dari istri tercintanya.


“Okey. Okey.” sela Hansel panik akan pengakuanku, disela ketegangan yang terjadi. Dia berjalan menengahi kami, memberikan aku perlindungan dengan punggung tegap dan lebarnya. “Aku mau ngaku. Aku memang ada hubungan sama dia, An.”


“Keterlaluan kamu Mas!” sahut Yuana sembari menggelengkan kepala tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


Suasana didalam ruangan kerja ini berubah menjadi arena pertengkaran, yang tentu saja tidak untuk memperebutkan seorang pria.

__ADS_1


“Sorry, tapi... aku nggak bisa menghindari perasaan itu, An. Aku mohon kamu mengerti aku sekali ini saja.”


Crazy. Laki-laki ini benar-benar nggak punya hati dan juga perasaan. Bagaimana bisa dia berkata seperti itu didepan istrinya sendiri?


“Aku mencintai dia. Tapi aku juga mencintai kamu. Mencintai putri kita.”


“Jangan bawa-bawa anakku dalam kelakuan bejatmu ini mas!”


Akan tetapi, dengan cepat Yuana melewati Hansel, meraih dan menarik satu lenganku, kemudian satu tamparan mendarat di pipiku. Ia bahkan menarik kasar kemejaku hingga kancing teratasnya terlepas. Ternyata, ibu muda ini memiliki peringai buruk jika sedang dirundung amarah. Dengan gerakan cepat, Hansel menarik Yuana menjauh dariku, dan aku melirik si gadis cilik yang harus menyaksikan drama orang dewasa memuakkan ini. Kasihan, kasihan dia.


Aku pun berjalan sekali lagi menuju pintu, dan meraih kenopnya tanpa mau berfikir panjang tentang Hansel dan istrinya yang mungkin sedang berdebat didalam sana.


Biarkan aku bersikap pecundang sekali saja, demi mempertahankan keputusanku untuk meninggalkan kantor ini. Semua mata tertuju padaku yang memang keluar dengan keadaan sedikit berantakan. Tidak terkecuali, Tara—teman dekatku di kantor.


Aku mengabaikan bisik-bisik yang mengatakan aku tak tau malu, aku wanita buruk, dan aku seorang ja-lang. Ya, Nadya. Abaikan saja semuanya, maka kamu akan baik-baik saja. Biarkan saja reputasiku yang sudah hancur disini, semakin tidak berarti dimata mereka. Yang terpenting, aku terlepas dari tempat dan lingkungan memuakkan ini.


Setelah sampai di parkiran, aku segera masuk kedalam mobil dan memacunya meninggalkan bangunan itu tanpa mau lagi menengok kebelakang. Anggap saja semua itu masa lalu yang harus di kubur dan tidak perlu diingat. Anggap saja semua ini mimpi buruk, dan sekarang waktunya aku bangun dari mimpi itu, untuk melihat kenyataan jika masa depanku jauh lebih indah jika bergandengan tangan bersama Bagas.


Ya, Bagas adalah tujuanku. Bagas adalah rumahku, tempatku kembali dari semua kerumitan hidup yang sedang mendera dan merajam batinku.


Bagas adalah bagian termahal dari setiap kepingan harga diriku yang telah hancur oleh diriku sendiri. Dan aku, adalah orang beruntung yang masih bisa merasakan kasih sayangnya. Kasih sayang seorang Bagaskara Adewangsa. Dia adalah segalanya untukku.


***


Aku sampai dirumah tepat pukul sembilan pagi. Baru satu jam aku meninggalkan rumah, dan aku lega sekarang. Setidaknya sumber masalah kini telah teratasi.


Aku tidak akan lagi peduli jika sampai Hansel menghubungiku, memohon-mohon untuk kembali atau sekedar meminta maaf. Aku anggap semua nya sudah clear. Selesai.


Sofa ruang tengah menjadi tujuan utamaku. Ku lepas sepatu dan duduk diatas persegi panjang empuk itu sembari mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Kucari kontak bernama Hansel dan memblokir nomornya saat ini juga. Aku tidak mau kembali di bayang-bayangi masalah dan masa lalu. Dan setelah itu, aku mengirim pesan kepada Bagas.


Clear.


Husband: Clear? Maksudnya?


Singkat padat dan jelas. Tapi entah mengapa, Bagas justru bingung dengan isi pesanku itu. Mungkin dalam benaknya, aku masih harus menyelesaikan beberapa hari sesuai perjanjian kerja yang telah disepakati.


Aku nggak butuh tanda tangan persetujuan pengunduran diri.


Aku butuhnya kamu.


Isi pesan itu cukup menggelikan, tapi aku suka. []


^^^to be continue.^^^


Gimana bab ini menurut kalian?


Kasih komentar dong...


Eh, beberapa bab lagi Wedding Dust tamat BTW. Nanti akan Vi's post cerita baru yang pastinya seru dan sedikit berbeda dari cerita-cerita Vi's pada umumnya.


Tungguin ya bestie...

__ADS_1


__ADS_2