
...Nadya lagi yuks....😜...
...Jangan lupa tinggalkan like dan komentar jika berkenan,...
...Selamat membaca...
...🌹🌹🌹...
Aku gelisah. Tidak bisa tenang sedikitpun ketika mengetahui Hansel menyusulku ke Surabaya.
Bagaimana jika dia juga mencari tau, bahkan nekat mendatangi rumah bapak ibu? Jawaban apa yang akan aku berikan pada mereka nanti jika seorang laki-laki datang ke rumah dan mengaku sebagai teman? Atau bahkan Hansel akan mengakui dirinya sebagai teman dekat yang lebih dari sekedar dekat? Hansel itu nekatnya luar biasa. Dia jauh lebih nekat daripada Bagas.
Jika Bagas lebih menghargai sebuah privasi, maka Hansel akan mengutamakan egonya demi mencapai apa yang dia inginkan. Ya, perlahan-lahan aku tau sifat Hansel yang satu itu. Dia orangnya nekat, dan tentu saja egois.
Agendaku hari ini adalah mendatangi rumah mertuaku dan menginap semalam disana. Oh oke, mari kita fokus saja ke situ, nggak perlu peduli dengan kedatangan Hansel yang akan merusak suasana hatiku.
Memakan waktu sekitar tiga puluh menit untuk datang ke rumah mama. Yap, aku memanggil mamanya bagas dengan sebutan mama, sama seperti Bagas memanggil beliau.
“Eh, sayangnya mama...” pekik mama saat pintu yang kuketuk tiga kali tadi sudah terbuka. Beliau memelukku erat penuh kasih sayang. Mungkin seperti ini yang dirasakan Juwi selama ini, hidup ditengah kasih sayang utuh dari kedua orang tuanya. Bagas, mungkin juga demikian. Karena basically, Bagas juga orangnya penyayang. “Dateng kemaren ya? Bagas telepon mama, terus Juwi maksa kesana tapi mama larang. Soalnya udah malem.”
Aku tersenyum lega. Setidaknya, aku masih diterima di keluarga yang sangat hangat ini, sekarang.
“Juwi kemana ma? Kuliah?”
“Ya. Di tadi juga mau bolos, tapi mama marahi habis-habisan karena dua hari yang lalu dia juga nggak masuk.”
Kali ini aku tertawa cukup lebar. Seperti Bagas, Juwi juga kadang-kadang memiliki sifat pemberontak yang bertolak belakang dengan Bagas. Bisa dibilang, kalau terlahir sama-sama perempuan, mungkin Bagas juaranya. Soalnya, Bagas itu meskipun usil, dia nggak pernah bikin Mama dan papa marah. Dia itu nurut.
“Ini, ada sedikit oleh-oleh dari Jakarta buat mama, papa sama Juwi ” kataku sambil menyodorkan bag paper berukuran cukup besar berisi beberapa oleh-oleh khas Jakarta dan beberapa pakaian.
“Aduh, ngerepotin kamu aja Nad.”
“Nggak ma.”
“Kamu nginep kan?”
Aku tersenyum sambil mengangguk. “Eumm.”
“Bagas bilang dia ada masalah cukup serius dikantor dan nggak bisa nganter kamu pulang. Pasti masalahnya udah fatal banget sampe dia nggak bisa nganter kamu, ngebiarin kamu pulang sendiri ke Surabaya begini.”
Mama mengarahkanku duduk di sofa ruang tamu. “Sebenarnya masalah itu bukan di kantor Bagas sih, ma. Cuma semua kantor jadi kena imbasnya, termasuk kantor yang dipegang Bagas. Nadya juga nggak tega lihat Bagas gelisah dan kelelahan begitu.”
Mama tersenyum, lalu meraih lengan ku untuk ia usap.
“Bagas bisa melewati itu. Anak mama yang satu itu, kuat kok.”
Aku menyambut telapak tangan mama dan mengusapnya lembut. Merasakan bagaimana diberi kasih sayang selain ibu ku sendiri yang terlampau berlebih. “Ya. Nadya tau itu.”
Sore hatinya, Juwita pulang sambil membawa lapis kukus yang aku sukai. Rasa original kesukaanku, yang juga menjadi kesukaan Juwi karena ada banyak parutan keju diatasnya.
“Mbak Nad.....” panggilnya seperti anak kecil sambil berlari merentangkan tangan meminta pelukan. Aku tersenyum dan merentangkan tangan tak kalah lebar dari adik kesayangan si Bagas ini.
Juwita memelukku erat, menyembunyikan wajahnya diantara ceruk leherku setelah aku menangkap tubuhnya yang sedikit bau asap kendaraan. “Kangen.” rengeknya manja. Juwi memang seperti ini padaku, sejak dulu.
__ADS_1
“Nah ini sudah disini. Yok kangen-kangenan.” jawabku sambil mengusap punggungnya lembut. “Eh, nggak kangen sama mas mu?”
“Nggak sama sekali. Kemarin dia VC dan bikin aku emosi.”
Bagas selalu begitu, dia suka bercandain Juwita sampai marah. Katanya nggak afdol kalau nggak bikin bibir Juwi manyun kayak bebek.
“Nginep kan?” tanya Juwi, menekankan agar aku tinggal dan bermalam di sini.
“Iya, tapi besok sore balik kerumah ibu.”
Bibir Juwita merengut, dia terlihat nggak setuju denganku. “Yang lamaan dikit kek kalau nginep disini, mbak.”
“Iya. Lain waktu kalau pulang lagi sama mas mu. Soalnya, Sabtu aku balik jakarta.”
“Cepet banget.” protes Juwita masih nggak terima.
“Ya kasihan mas mu disana nggak ada yang ngurus, dek.”
Tiba-tiba ponsel di atas meja yang ada dibelakangku bergetar. Juwita berhenti merengek dan bertanya, “Hansel?”
Sial. Dia masih nggak menyerah buat aku menjawab teleponnya. Haruskah aku blokir saja nomornya?
“Oh, itu atasan mbak di kantor. Mungkin ada sesuatu yang pingin ditanyain ke mbak. Mbak jawab telepon dulu ya?”
Juwita mengangguk sambil menjauhkan tubuhnya dariku, membiarkan aku pergi meninggalkannya tanpa rasa curiga sedikitpun.
Jika sedang disini, aku dan Bagas biasanya tidur dikamar utama yang dulu memang ditempati Bagas sejak masih kecil hingga dewasa. Setelah mengunci pintu untuk menghindari kemungkinan terburuk Juwita masuk ke dalam tanpa permisi, aku menatap layar ponsel dan mengeratkan genggaman pada persegi pintar itu.
Sudah dua kali Hansel meneleponku sore ini, dan sekarang, aku harus menjawabnya sebelum teror yang dia lakukan semakin brutal dan membabi buta tak kenal situasi.
“Ada apa?” tanyaku ketus, nggak ingin menyembunyikan nada nggak suka ku kepadanya.
“Jutek amat sih?” godanya dengan suara empuk. “Padahal mau bilang kangen dengan nada manja.”
Cih. Bisa ya pria berusia 32 tahun dan sudah beristri, berkata menjijikkan seperti itu pada orang yang bukan istrinya.
“Ngomong langsung saja. Saya dirumah mertua.”
“Aku bosan di hotel.”
Coba beri penilaian seberapa benar pertanyaanku ini. “Lagian, kenapa anda ke Surabaya? Tidak ada yang meminta anda—”
“Aku nyusul kamu.”
Nggak tau malu.
“Saya nggak minta anda nyusul saya ke surabaya. Pak, tolong jangan ganggu ketenangan saya disini.”
Dia diam sejenak sebelum kembali berbicara.
“Iya aku tau, Nadya sayang. Ini atas kemauanku sendiri. Lagian, nggak ada yang tau tujuanku ke Surabaya kalau nyusul kamu.”
Aku berdecak. Rasa marahku mulai menggebu sampai di ubun-ubun. “Oke. Jadi tujuan anda datang ke sini, cuma mau nyusul saya kan” celetukku menyebalkan kepada atasaku yang mengklaim dirinya sebagai selingkuhan ku.
“Ya, tapi lebih ke kangen dan pingin ada moment berdua sama kamu tanpa ada yang ganggu aja, sih.”
__ADS_1
“Sinting!” cerocosku nggak mau lagi peduli walaupun dia atasanku di kantor. Sedangkan dia, malah tertawa renyah diseberang sana. Sinting bukan?
“Iya, aku sinting gara-gara asistenku cantik ini.”
“Kalau nggak ada tujuan lain, aku tutup. Aku pulang ke Surabaya bukan untuk memusingkan anda, pak Hans.”
Suasana sedikit sunyi setelah adu kata antara aku dan Hansel. Tapi,
“Serius aku bosan di hotel, Nad. Mau jalan keluar juga males nggak ada temen. Mau nemenin aku nggak?”
“Emoh.” sahutku cepat dengan bahasa Jawa yang pasti nggak akan bisa dia ngerti.
“Emoh? Apa itu emoh?”
“Coba google translate. Anda orang terpelajar.” ketusku setelah itu memutus panggilan sepihak dan mengubah ponsel dalam mode senyap.
Ku jumput rambutku segenggam, lalu merematnya kuat. Kepalaku mendadak berat dan mataku terasa panas. Sejauh ini hubunganku dengan Hansel? Bagaimana cara agar aku bisa lepas dari dia tanpa harus mengikut sertakan Bagas didalamnya? Semua ini tidak semudah yang dibayangkan.
Lalu, ditengah rasa frustasi ku akan hubungan gelap dengan Hansel, ponselku menyala tanpa suara. Aku melirik malas, namun berubah antusias ketika tau Bagas yang menghubungi.
“Halo,” sapaku bersemangat, namun tidak dengan hatiku yang seperti diaduk. “Kamu baru nyampe rumah?” lanjutku karena Bagas nggak memberi jawaban atas sapaan ku.
“Eum. Baru banget dan masih belum mandi.”
Aku melirik jam dinding. Pukul lima lebih sepuluh menit. “Cepetan mandi, setelah itu makan.”
“Kata Juwi, kamu lagi dirumah mama?”
“Iya. Juwi telepon kamu?”
“Enggak. Aku yang telepon dia karena dia dan mama bikin status kalau lagi seneng gara-gara ada kamu.”
Sebesar itu rasa sayang mereka padaku.
“Tapi papa di luar kota,” rajukku dengan suara manja, lebih terdengar seperti tikus yang sedang mencicit.
“Iya. Papa baru bisa pulang lusa katanya.”
Aku menyesal akan hal itu. Papa mertua adalah orang yang paling baik, dan jauh, jauuuuh lebih baik dari ayahku sendiri yang suka mengganggu ketenangan rumah tangga anak-anaknya.
“Iya. Aduh, aku jadi mellow gara-gara kamu, Gas. Dah ah, mandi sana!”
“Iya. Nggak mandi pun, aku tetep wangi.”
“Dih...”
Bagas tergelak tawa. “Yaudah. Dadah. I love you.” []
^^^to be continue.^^^
...🌼🌼🌼...
Mampir juga ke cerita Vi's yang lainnya ya Readers sekalian,
See you
__ADS_1