
...Mereka beraksi Guys 😉...
...Selamat membaca...
...Jangan lupa beri dukungan untuk Nadya dan Hansel ya? Eh, salah. Nadya dan Bagas ya...😁...
...Terima kasih....
...🌹🌹🌹...
Karena Hansel bilang akan melacak GPS ku dan datang kerumah ibu jika aku menolak ajakannya kali ini, aku mengiyakan permintaan bertemu dengannya. Kami sepakat untuk bertemu disalah satu mall besar di kawasan Jl. A. Yani. Aku membawa motor yang dipinjami mas Dani selama aku tinggal disini. Kata mas Dani, biar aku nggak ngerepoti dia dan istrinya. Ya, begitulah kakak laki-laki ku itu.
Setelah memasuki area parkir, Hansel menyusulku karena kami sempat berpapasan di gerbang masuk mall. Dia tersenyum sembari berjalan kearahku. Cukup menarik perhatian karena Hansel memang memiliki tinggi menjulang, juga wajah rupawan yang bisa menarik dan mengundang perhatian siapa saja yang memandang. Celana santai selutut berwarna hitam, dia padu dengan kaos berwarna putih yang cocok sekali dengan kulitnya yang putih bersih. Sepatu sport Nike hitam, dan rambut dipomade rapi ke sisi kiri yang menampilkan kesan bad boy kelas kakap.
Hey! Sadar Nad. Lu udah ada Bagas. Dan yang sedang bersama elu sekarang, cuma orang yang sedang singgah ingin bersenang-senang.
“Cantik.” katanya sambil memperhatikan penampilanku yang menurutku biasa saja. Rok tutu tiga perempat berwarna hitam yang ku padu dengan corp jumper abu-abu gelap, dan tas punggung kecil berwarna senada, serta sepatu Converse hitam sedikit tinggi menyerupai boots diatas mata kaki.
“Gombal.” sinisku agak jutek karena masih agak kesal karena dia memaksa.
“Udah makan?” tanyanya, masih setia menungguku yang merapikan rambut setelah melepas helm.
“Udah.” sahutku memutar kunci motor kearah lock kemudian menarik dan memasukkan kedalam tas.
“Berarti belum.” sahutnya sambil terkikik. Dia tau kebiasaan ku berbohong padanya. Nggak bermaksud bohong sih sebenarnya, hanya nggak ingin semakin jauh dan juga merepotkan dia.
“Ih, nyebelin deh.” kataku sambil berdiri dan menepuk rok beberapa kali.
Aku sangat terkejut saat Hansel tiba-tiba meraih telapak tanganku begitu saja untuk ia gandeng. Sontak aku mengibaskannya cukup keras, lalu menatapnya galak. “Apaan sih?”
“Ya apa salahnya romantis, walau cuma selingkuhan.” bisiknya cukup jelas dan mungkin orang yang sedang parkir disebelah motorku bisa mendengar. Sialan memang si Hansel ini.
“Bisa diem nggak? Nggak usah ngomong kayak gitu deh. Aku nggak suka!” sungutku cukup menarik perhatian beberapa orang di area parkir yang nggak jauh dariku dan Hansel berada. Hansel mengangguk dengan bibir dilipat kedalam, kemudian menoleh ke sekitar yang ternyata memang mulai ramai. “Tolong, jaga bicara anda ketika di kawasan umum begini.”
“Ah Okey, sorry my bad.”
Aku berjalan mendahului, dan tentu saja menjadi perhatian publik karena pertengkaran kecil kami barusan.
“Nanti, mampir hotel aku ya?”
Tuh, nyebelin nggak. Jadi dia kesini itu maunya apa?
“Nggak.”
“Kenapa?”
Aku menghentikan langkah, mendengus kesal dengan mood yang sudah benar-benar nggak karu-karuan. “Coba bapak pikir sendiri jawabannya.”
“Oke deh. Nyerah. Lain kali saja kita stay cation berdua ya? Yang jauh biar nggak kayak gini.”
Enggan menanggapi, aku memilih kembali mengambil langkah dan meninggalkan Hansel yang mengejar dibelakang. Setelah berhasil mensejajarkan posisi, Hansel meraih pinggang ku dan ia rangkul yang tidak sempat aku hindari. “Nggak usah protes, nggak ada yang tau.”
__ADS_1
Aku mendengus sekali lagi. Ya sudahlah. Capek juga harus terus-terusan menolak Hansel yang nggak mau nyerah. Aku biarkan saja ketika dia merangkul pinggang bahkan bahuku ketika kami jalan.
“Ikut aku sebentar.” ajaknya, menarik tanganku dan membawa masuk kesebuah butik baju dengan brand ternama yang dikenal seantero bumi.
Dia memilih dress berwarna merah jambu dan menempelkan di badanku. “Cocok. Kamu mau yang ini?”
“Nggak deh,” jawabku sekenanya karena ada pegawai butik yang sedang bersama dan memperhatikan gerak-gerik kami.
“Jangan khawatir. Aku beliin dia juga kok. Jangan merasa bersalah begitu.”
Aku melirik ke arah SPG cantik disebelah Hansel. Dia tersenyum penuh makna kepadaku. “Nggak perlu. Aku lagi nggak ada acara apa-apa. Jadi belum perlu pakaian seperti itu.”
“Kan bisa dibuat ngantor? Kamu cocok banget loh kalau pakai dress di kantor. Cantik banget malahan, iya kan mbak?” tanya Hansel tiba-tiba pada mbak-mbak SPG yang kali ini mengangguk dengan sebuah pernyataan.
“Iya. Mbaknya cantik, pasti cocok kok.”
Dasar lambe marketing. “Nggak perlu, Sel. Lain kali saja.” ini adalah pertama kalinya aku memanggilnya dengan nama. Dia sempat terkejut dan menatapku lurus, lalu tertawa tanpa suara dengan wajah dan telinga memerah. Sepertinya dia sedang besar kepala sekarang.
“Ini saya ambil mbak.” katanya sambil menyerahkan dress yang tadinya dia tempelkan pada ku kepada mbak SPG bersama sebuah kartu tipis berwarna hitam yang jarang sekali dimiliki orang kelas menengah bawah seperti aku. Kartu tanpa batas yang hanya dimiliki oleh kalangan berada dan berpenghasilan tinggi. Bagas juga memilikinya satu, dan dia percayakan padaku.
“Nggak usah.” rajukku dengan nada sedikit kesal.
“Sssh, nggak apa-apa. Itu hadiah karena kamu mau nemenin aku jalan-jalan malem ini.”
Aku pamit pulang dari rumah mama sekitar pukul lima sore setelah menginap. Dan aku pun langsung bertemu dengan Hansel disini setelah dia memaksaku datang. Sedangkan Juwita, tadi pagi kami sudah saling pamit karena Juwi ada kelas sampai sore.
Keluar dari butik dan berjalan keliling mall mencari baju untuk anak dan istrinya, hansel juga sempat mengajakku mencoba beberapa game di time zone yang ternyata seru dan bisa buat kami sedikit akrab, kemudian dia mengajak aku ke Solaria untuk makan.
Menu sudah dipesan oleh kami. Aku memesan nasi goreng tom yum seafood, sedangkan Hansel memilih nasi ayam bistik. Setelah itu Hansel memulai obrolan sambil menunggu pesanan kami jadi.
“Seneng, Nad?”
Aku mengangguk dengan wajah lempeng. Jangan dikasih senyum, nanti dia ngelunjak minta lebih. “Lumayan.”
“Ayo main lagi kapan-kapan. Di jakarta juga banyak tempat menyenangkan kayak gini.”
Ah iyakan saja. Belum tentu kesampean, biar nggak ribet juga kalau berdebat lagi sama dia.
Tak butuh waktu terlalu lama, makanan dan minuman kami datang. Hansel memberi tips untuk si pramusaji yang tentu saja membuat laki-laki pramusaji itu tersenyum senang sambil berterima kasih.
“Selamat makan.”
Aku tersenyum dan memulai sesi makan malam ku setelah berdo'a dalam hati. Tidak ada obrolan sama sekali sampai makanan kami habis.
Kami sempat membahas pekerjaan, sempat membahas beberapa hal random sampai di mana waktu terasa begitu sesak ketika Hansel meraih tanganku dan ia genggam. Aku memperhatikan bagaimana ia memandangku dengan mata sipitnya. Pandangan tulus dan sayu itu begitu mengganggu kewarasan.
“Kenapa?” tanyaku masih saja dengan nada ketus.
“Kenapa apa?”
Aku menarik tanganku dan meletakkan diatas paha dibawah meja.
__ADS_1
“Kenapa kamu tega mengkhianati istri dan anakmu seperti ini?” tanyaku memancing. Semoga dia tersinggung dan mengakhiri hubungan yang menyiksa ini.
Hansel seperti di paku ditempat. Gelagatnya berubah kaku, dan rahang di wajahnya terlihat mengeras. “Apa kamu sudah lupa, jangan pernah bahas mereka waktu kita berdua begini.”
“Kenapa enggak? Aku berhak tau tentang itu. Disini, aku yang akan disalahkan jika sampai hubungan kita ini terbongkar.” tembakku tak ingin mengingkari perasaan dan rasa bersalahku kepada banyak orang yang kami sayangi.
“Kamu benar. Tapi aku juga punya andil dalam hubungan ini. Jadi kamu tidak pantas merasa bersalah dan disalahkan sendirian.” katanya tenang. “Jangan merasa sendirian, Nad. Karena ada aku.”
Aku tertunduk lesu melihat kecurangan ini begitu nyata. Juga, apakah dia akan memegang omongannya itu jika suatu saat hubungan ini terbongkar? Atau hanya berkata manis agar aku tergoda untuk tetap bersamanya? Entah.
“Kamu bisa datang padaku kapanpun kamu mau, kapanpun kamu butuh.” tukas Hansel dengan suara rendah dan tenang. “Aku akan memperlakukan kamu dengan layak.”
Sebagai seorang wanita, aku tidak mau munafik dengan menyangkal rasa senang akan bujukan Hansel. Aku memang membutuhkan perhatian, dan sekarang Hansel sedang memberikannya padaku.
“Makasih atas perhatiannya, tapi hubungan kita tetap salah.”
“Aku tau, tapi aku nggak bisa tanpa kamu, Nad. Aku cinta kamu.”
Aku menggeleng. “Kita nggak harusnya kayak gini.”
“Lalu, mau kamu kita harus kayak gimana?”
“Kita sudahi. Lalu kembali pada kehidupan masing-masing.” jawabku lugas tidak ingin didebat, tapi bukan Hansel jika diam saja ketika egonya tersakiti.
“Nggak. Kalau kamu mau kita berakhir, itu artinya nggak ada yang boleh miliki kamu juga.”
Aku mengerutkan kening mencerna maksud Hansel. “Maksudnya,”
“Bagas juga nggak boleh miliki kamu.” putus Hansel cepat dengan seringai tajam disudut bibirnya membuatku gelagapan nyaris kehabisan udara.
Ini benar-benar gila. Bagaimana bisa aku berurusan dengan orang yang egonya setinggi langit begini? Harus bagaimana aku sekarang? Apa yang harus aku lakukan agar Hansel mau pergi dari hidupku?
“Udah, nggak usah mikir sejauh itu. Jalani aja deh Nad. Kamu itu parno banget sih?”
“Saya takut karena disini posisi saya salah.”
“Tau, aku tau. Tapi kamu nggak sendiri. Ada aku. Aku yang memulai semuanya.”
Aku memilih diam kembali. Berdebat dengan Hansel itu seperti berenang menyusuri benua untuk mencari ujungnya. Sulit.
Ditengah kecamuk hatiku yang begitu rumit, tiba-tiba suara hujan turun dari luar bentangan kaca terdengar cukup deras menghantam bumi. Aku terbelalak karena mungkin akan kesulitan pulang.
“Aduh, hujan.” keluh Hansel sambil menatap keluar. “Kamu pulangnya gimana, Nad? Jauh nggak sih rumah kamu dari sini?”
Ingin sekali aku jawab jujur, cukup jauh. Tapi kalau aku menjawab begitu, Hansel akan mengambil keuntungan. Aku bisa membaca mimik wajahnya dengan mudah—
“Ke hotel aku aja. Deket.”
Hampir saja aku menampar mulut Hansel itu jika tidak mendengar suara penuh rasa penasaran dari balik punggungku.
“Eh, itu kayaknya mbak Nadya deh?”[]
__ADS_1
^^^to be continue.^^^