
...Semoga semua urusan kalian semua diberi kelancaran di hari Jum'at ini. Amin......
...Selamat membaca,...
...Jangan lupa utuk selalu memberi dukungan kepada Wedding Dust ya, karena dukungan kalian sangat berarti dan juga semangat untuk penulis berusaha lebih baik lagi...☺️...
...Terima kasih....
...🌹🌹🌹...
...Disini, kita memutuskan untuk mengikat janji suci....
...2...
Setiap pulang ke Surabaya, Bagas dan Nadya selalu menyempatkan diri untuk datang ke taman biasa mereka berdua melepas rindu sebagai sepasang sahabat yang terpisah jarak.
Bagas yang sejak kuliah tinggal di Jakarta, pulang ke Surabaya hanya dalam waktu tertentu. Atau paling mentok kalau dia mendengar suara Nadya sedang sedih seperti tertekan. Disitulah letak kelemahan Bagas, dia tidak bisa melihat Nadya dalam kesulitan.
Dan hari ini, dia memutuskan pulang ke Surabaya karena dua hari yang lalu ibunya menelepon dan menyuruhnya pulang karena ada keperluan mendadak yang tidak dijelaskan.
Bagas menyodorkan satu cup minuman dingin kehadapan Nadya. Gadis itu merengut, bibirnya mengerucut, Bagas sadar jika Nadya sedang bad mood.
“Kenapa nggak kasih tau aku?” tanya Nadya bernada ketus setengah mamvus.
Bagas menyeruput kopi pahit miliknya. Ia juga nggak tau masalah ini. Tau tidak masalah apa yang sedang mereka bicarakan?
Sebuah lamaran.
Keluarga Bagas ternyata meminta Bagas pulang karena mereka hendak melamar Nadya untuk Bagas.
__ADS_1
“Aku juga ngga tau masalah itu Nad. Tadi jam sepuluh aku sampai di Surabaya dan langsung pulang ke rumah. Mama dan papa langsung menyuruhku bersiap untuk kerumah kamu.”
Nadya menatap tak terima. Setidaknya Bagas bisa bertanya tujuan keluarganya datang kesana beramai-ramai seperti itu, bukan?
“Aku nggak tau kalau mereka berencana melamar kamu. Sumpah.”
Tadi, sepulang dari tempat kerja dengan motor kesayangannya, Nadya dikejutkan oleh kehadiran keluarga Bagas dirumahnya. Awalnya dia hanya mengira jika kunjungan itu hanya ajang silaturahmi untuk mempererat hubungan kekeluargaan mereka. Tapi Nadya bak disambar petir disiang bolong ketika papa Bagas mulai mengatakan tujuannya datang kerumah orang tuanya. Mereka meminta Nadya menjadi menantu mereka, dan saat itu juga Nadya dan Bagas terkejut secara bersamaan. Mereka saling tatap dengan wajah dan airmuka yang tidak bisa diartikan.
Keduanya kompak berkilah dan meminta waktu untuk memikirkan itu berdua. Meskipun sudah mengenal dan dekat sejak SMA, jika sudah dikaitkan dengan urusan hidup bersama dalam ikatan pernikahan, mereka perlu membicarakannya. Karena hal itu akan berpengaruh pada masa depan mereka, pada kehidupan mereka, dan pada persahabatan mereka.
“Lalu,” Bagas menjeda kalimatnya, merubah posisi pandangan ke arah Nadya yang ada disampingnya. “Bagaimana menurut kamu? Apa kamu mau menuruti keinginan mereka?”
Nadya tampak memikirkan sesuatu dalam diamnya. Dia bahkan tak berkedip sembari menatap bebas danau yang sepertinya sekarang jauh lebih baik dari dulu saat dia dan Bagas masih SMA.
Bagas menghela nafas cukup besar, lalu kembali bicara. “Aku punya kekasih, Nad.” de-sah Bagas frustasi. Kalau dia tidak terikat hubungan dengan orang lain, mungkin Bagas tidak akan seberat ini mengambil keputusan. Karena dia memang ingin Nadya menjadi bagian dari hidupnya, sejak lama. Namun ia pendam sendiri dengan alasan tidak ingin menghancurkan persahabatan yang sudah terjalin.
Seperti mendapat serangan telak berkali-kali dan bertubi-tubi, Nadya langsung memutar kepala dan menatap lekat pada sosok Bagas yang juga menatapnya. “Kenapa tidak kamu katakan itu kepada orang tuamu? Setidaknya kamu punya alasan untuk menolak perjodohan yang sedang mereka lakukan kepada kita. Setidaknya, kamu bisa menjaga perasaan orang yang kamu cintai.” sentak Nadya marah entah untuk alasan yang mana. Bagas yang nggak mau tegas, atau untuk dirinya sendiri yang nggak bisa menerima kenyataan jika Bagas memiliki seorang kekasih. Entahlah.
“Masalahnya, aku nggak pingin buat orang tua kita kecewa kepada kita.”
“Lalu bagaimana dengan kita?” cecar Nadya menyahut ucapan Bagas begitu saja karena kesal. “Bagaimana nasib persahabatan kita jika sampai kita menuruti mereka?” lanjut Nadya berapi-api menahan kesal setengah mati. “Kalau sampai kita gagal membina rumah tangga, bukan hanya kita yang berantakan, persahabatan kita juga akan hancur, Gas.”
Bagas diam seribu bahasa. Dia tau apa yang dikatakan Nadya itu benar adanya. Jika sampai mereka memilih menikah, lalu hubungan mereka gagal ditengah jalan, persahabatan mereka yang menjadi taruhannya.
“Aku tau. Tapi, apa yang lebih membahagiakan dari pada menuruti keinginan dan memberikan kebahagiaan kepada orang tua kita?”
“Aku juga tau itu. Tapi tidak dengan cara menikah. Karena itu sangat egois.” sahut Nadya cepat dengan nada tidak bersahabat. “Kita juga akan membohongi orang banyak jika melakukan pernikahan itu, Gas.”
Bagas menatap Nadya lebih dalam. Disana dia menemukan sebuah ketakutan yang begitu jelas. Manik mata Nadya tidak bisa berbohong darinya.
“Kita jalani saja, tapi kita bebas menjalani hidup kita masing-masing. Hidup berdua, hanya sebagai sahabat dalam ikatan rumah tangga. Selanjutnya, kamu bebas dengan hidupmu, dan aku bebas dengan hidupku.” tutur Bagas mulai meyakinkan Nadya agar mengikuti saran yang muncul dikepalanya. Alasannya, tidak ingin mengecewakan kedua belah pihak dari masing-masing keluarga. Konyol sekali bukan?
__ADS_1
Nadya mengeraskan rahang. Ia tidak habis pikir jika Bagas berfikir seperti itu. “Apa itu artinya, kamu akan tetap berhubungan dengan kekasihmu meskipun kita menikah?”
Bagas mengangguk ragu. Ia yakin Nadya akan memarahinya karena usulan nggak masuk logika itu. “May be.”
Ah, ini tidak masuk akal. Tapi...
“Baiklah.” entah apa yang ada dalam pikiran Nadya saat itu. Saat dia mengiyakan ajakan konyol Bagas yang bisa jadi boomerang untuk mereka berdua. Putus asa, mungkin. “Tidak ada cinta, hanya ikatan pernikahan sebagai formalitas agar keluarga kita nggak kecewa sama kita berdua.”
Sejujurnya, ada setitik rasa bahagia ketika Bagas dan kedua orang tuanya datang meminang dirinya. Ia berasumsi, bahwa dia akan bahagia karena menikah dengan sahabatnya sendiri, orang yang paling mengerti dirinya. Tapi kenyataannya jauh lebih sulit dan menyakitkan.
“Mari kita buat kesepakatan.” ajak Bagas menawarkan keuntungan yang mungkin akan berguna dimasa depan jika memang mereka tidak di takdirkan untuk hidup bersama.
Nadya berfikir sejenak, kemudian...
“Jika memang kita tidak bisa bersatu di masa depan. Aku ingin kita bertemu dan menyelesaikan semuanya disini. Di tempat pertama kali kita memutuskan untuk menjalin sebuah persahabatan.”
***
Pernikahan mereka digelar dua bulan setelah Nadya dan Bagas memutuskan untuk menjalankan apa yang menjadi keinginan orang tua mereka.
Keduanya siap menjalani kehidupan baru dengan status baru yang entah nanti berjalan seperti apa dimasa depan. Mereka juga sudah membicarakan mengenai semua hal yang berhubungan erat dengan hubungan suami dan istri. Diantaranya kehidupan yang berhubungan dengan rumah tangga—antara lain: sandang, pangan, papan, ranjang, dan yang terakhir tentu saja anak.
Pertama, rumah. Bagas memutuskan untuk membawa Nadya ke Jakarta setelah menikah nanti untuk tinggal dirumahnya yang ia beli di sana. Selama ini Bagas hidup sendirian di rumah itu. Jadi, tidak ada salahnya jika membawa Nadya kesana. Selain sebagai teman hidup, Nadya juga merupakan sahabat yang sudah ia lindungi dengan segenap jiwa raganya. Bagas juga akan menjamin kehidupan Nadya dengan memberikan nafkah yang layak, serta memenuhi kebutuhan pakaian untuk Nadya.
Kedua, ranjang. Untuk urusan yang satu ini, baik Nadya maupun Bagas tidak berbicara banyak. Hanya saja Nadya pernah menyinggung jika mereka akan melakukannya sebagaimana mestinya pasangan suami istri, Nadya tidak keberatan akan kebutuhan biologis manusiawi tersebut. Tapi dengan satu syarat, yakni tanpa cinta. Ya, Nadya bahkan rela mengorbankan perasaannya dan memilih memendam semua dalam-dalam.
Dan yang terakhir, yakni masalah anak. Anak merupakan hal yang wajar—mungkin—bagi pasangan suami istri pada umumnya. Tapi itu tidak bagi Nadya dan Bagas. Mereka berdua memutuskan untuk menunda kehadiran si buah hati dengan dalih tidak ingin menjadikan anak mereka korban keegoisan karena mereka melakukan hubungan suami istri tanpa cinta.
Mereka sepakat, dan akhirnya mengambil langkah sejalan, yakni sebuah pernikahan. Tanpa arah dan tujuan, hanya untuk menjaga perasaan orang lain yang mereka sayang, meskipun harus mengorbankan perasaan mereka satu sama lain. []
^^^to be continue.^^^
__ADS_1