Wedding Dust

Wedding Dust
46. Other side's Garden (Senior High School period)


__ADS_3

...Selamat membaca...


...Jangan lupa dukungannya untuk Wedding Dust ya teman-teman pembaca yang Budiman......


...Terima kasih....


...🌹🌹🌹...



...Disini, kami selalu menghabiskan waktu bersama....


...1...


Pagi itu, musim kemarau yang cukup ekstrim, Nadya berencana menghabiskan waktu sepulang sekolah di sebuah taman yang saat itu mangkrak tidak dilanjutkan karena entah apa alasannya.


Taman ini sebenarnya cukup menarik karena ada danau buatan yang bisa di jadikan tempat santai di tepiannya, atau wahana-wahana permainan yang sudah dipasang namun tidak terawat. Kata ibunya, taman itu sudah ada sejak Nadya masih berusia dua tahun. Dan ia merasa beruntung karena masih bisa menikmati taman tersebut meskipun cukup menyeramkan untuk beberapa orang.


Ada sih, beberapa orang yang datang kesini. Mereka kebanyakan pasangan kekasih, atau pasangan wanita dan lelaki yang mungkin sedang menjalin hubungan gelap. Nadya menebak itu dengan mudah karena gerak-gerik pasangan itu cukup membuatnya terganggu.


Nadya menatap lurus ke arah danau yang kotor akan reruntuhan daun. Dia sedang sibuk memikirkan bagaimana caranya untuk membayar SPP bulan depan, karena toko yang ia tempati untuk kerja paruh waktu, pindah ke lokasi yang lebih jauh dan memakan biaya untuk datang kesana. Lalu Nadya memutuskan untuk mengundurkan diri.


Ditengah lamunannya itu, seseorang tiba-tiba duduk disampingnya. Orang yang dua hari lalu mengajaknya berteman ketika mengikuti acara MOS sekolah. Satu-satunya orang yang mau menyapanya, dan satu-satunya orang yang mengejarnya sampai kesini.


Nadya menatap pemuda yang kemarin, menyebutkan namanya. Bagas, begitu katanya kemarin.


“Kamu suka kesini?” tanya Bagas sambil bergerak memutar aktif seperti baling-baling Doraemon—salah satu karakter dua dimensi kesukaan Nadya yang ia lihat ketika hari libur.


Nadya tidak memberikan jawaban dan malah sibuk menatap tajam pada sosok bernama Bagas ini.


“Hey, jangan menatapku begitu. Aku pemuda baik-baik tau.” celetuknya meskipun Nadya tidak bertanya.


“Kenapa kamu mengikutiku?”


Bagas tertawa. “Lho. Kita teman toh?”


Nadya mengerutkan kening tak suka. Pemuda ini sok kenal dan sok akrab. Tipikal buaya darat kelas kakap.


“Siapa bilang?” ketus Nadya menolak klaim Bagas sebagai teman.


“Oh. Kalau begitu, mulai sekarang, kita berteman.” sahut Bagas sambil menyodorkan telapak tangannya untuk bersalaman. Namun nahas, Nadya—si jutek—ini enggan membalas jabatan tangan tersebut hingga terpaksa Bagas meraih paksa telapak tangan ramping dan putih itu kedalam genggaman telapaknya yang berukuran lumayan besar.

__ADS_1


“Apaan sih!” kesal Nadya karena Bagas menyentuhnya tanpa izin.


Mendapat tanggapan seperti itu, Bagas merasa bersalah. Mungkin dia yang terlalu humble, atau si Nadya ini yang terlalu kolot. Dan pada akhirnya dia hanya bisa menggaruk tengkuk lehernya karena malu.


“Maaf.”


Dalam hati, Nadya ingin berseru jika Bagas tidak perlu meminta maaf karena sebenarnya tidak sepenuhnya salah Bagas. Nadya melihat Bagas memang orangnya mudah bergaul dengan orang lain. Ia melihatnya ketika acara MOS kemarin, tidak sedikit yang mendekati pemuda manis berhidung bangir dan berkulit kuning langsat ini.


Karena merasa nggak enak, Nadya berniat pergi meninggalkan Bagas disitu sendirian. Tapi apa yang terjadi? Bagas justru mengikutinya seperti anak kucing yang tersesat dan minta dibawa pulang.


“Kenapa mengikutiku? Pulang sana! Kamu nggak punya rumah?”


Bagas menghentikan kakinya yang berbalut sepatu kulit hitam berlogo Ecco. Sepatu itu hadiah dari papanya karena lulus dari SMP dengan nilai yang sangat bagus.


”Kata siapa? Tuh rumahku.” jawab Bagas sambil menunjuk rumah panggung untuk burung yang ada diatas pohon yang kini sedang melindungi mereka dari teriknya sinar matahari siang.


Untuk pertama kalinya Nadya menyemburkan tawa karena ke-anehan Bagas. Sadar sudah kelepasan, Nadya kembali memasang ekspresi datar agar Bagas nggak ngelunjak, pikirnya.


“Aku mau pulang. Jangan ikuti aku.” pinta Nadya ketus sekali agar pemuda ini tak lagi mengekor padanya dan pulang kerumahnya sendiri.


“Besok, kita ketemu lagi kan?”


Nadya nggak memberi jawaban dan tetap berjalan meninggalkan Bagas yang sudah tidak mengejarnya lagi. Begitu-begitu Bagas peka dengan kode yang diberi Madya padanya.


Ternyata rumahnya di arah sana. Batin Nadya sembari menahan senyum ketika mengingat tingkah aneh si Bagas. Setidaknya, ada yang mau berteman dengannya.


Tatapan mata Nadya masih belum mau beralih sampai ketika Bagas tiba-tiba berbalik dan menyuguhkan senyuman begitu manis di wajahnya yang ternyata....lumayan tampan jika dilihat dari jarak dekat.


“Disini! Pulang sekolah! Aku tunggu!” teriaknya lagi, sangat keras hati ngga Nadya bisa mendengarnya dengan jelas. Kemudian dia berlari cepat karena seseorang meneriakkan namanya. Untuk ukuran pelajar, Bagas termasuk murid berada karena memiliki sopir yang mengantar dan menjemputnya ketika sekolah.


***


Keesokan harinya, Nadya benar-benar datang. Ia menganggap teriakan Bagas kemarin adalah janji yang harus ia tepati. Dia sendiri merasa canggung karena baru kali ini dia dekat dengan seorang murid laki-laki.


Nadya duduk disana, di kursi yang kemarin ia tempati. Ia hanya bisa berharap jika Bagas tidak mempermainkannya dan membuatnya malu.


Hari semakin sore, hampir setengah jam menunggu dan tidak nampak kehadiran Bagas, Nadya bersama moodnya sudah hancur pun berniat pulang saja dan menganggap tidak pernah mengenal Bagas karena sudah mempermainkan.


Namun, baru saja ia hendak beranjak, suara sepatu menghentak jalanan terdengar samar di telinga Nadya yang membuatnya refleks menoleh.


Bagas sedang berlari menuju dirinya. Kemudian membungkuk dengan nafas ngos-ngosan disela tawa Bagas meraih pergelangan tangan Nadya. “Maaf terlambat. Ada kelas tambahan.” katanya masih dengan nafas tersengal karena berlarian cukup jauh dari jalan utama.

__ADS_1


Nadya menarik paksa tangannya dan dengan mudah terlepas karena Bagas memang tidak ingin memaksanya.


“Aduh,” keluh Bagas sambil memegang dadanya. Nadya yang terkejut dan mengira Bagas ada gangguan pernafasan, terbelalak dan meraih satu lengan Bagas untuk ia genggam dengan kedua tangan.


“Kamu nggak apa-apa?” tanya Nadya khawatir dan panik melihat bintik-bintik keringat sebesar biji jagung di kening Bagas. “Gas. Jangan bikin takut deh.” untuk pertama kalinya Nadya menyebut nama Bagas.


“Aduh, nafasku,” keluh Bagas, lagi. Yang kemudian dituntun Nadya duduk di kursi besi berukir motif meliuk seperti tumbuhan rambat.


“Duduk, duduk dulu.”


Bagas mengikuti instruksi Nadya dan duduk dengan wajah memicing. Nadya semakin takut, dan juga panik. “Kamu kenapa sih?” seru Nadya cukup menyentak. “Tunggu sebentar. Aku carikan bantuan sebentar.”


“Nggak usah. Nafasku, cuma ngos--ngosan. Jadinya sulit bicara.” katanya terbata-bata sambil tertawa.


Wajah panik Nadya berubah seketika menjadi datar saat Bagas kembali mengerjainya. Kali ini pemuda itu tertawa sembari memegang perutnya yang kram karena terlalu over ketawa. Dia tidak menduga jika orang seperti Nadya yang kelihatan cuek bebek minta ampun itu, tipikal orang panikan.


Satu cubitan kecil seperti sengatan petir mendarat di paha Bagas yang membuat siswa tinggi itu terdiam mengaduh.


“Rasain. Berani kayak gitu lagi, aku nggak sudi ketemu kamu, apalagi jadi temen kamu.”


Bagas masih mengusuk pahanya yang kini terasa panas dan jarem. “Nggak lagi deh. Cubitan kamu rasanya kayak disengat petir di siang bolong.”


Nadya menatap galak. Ia sedikit terganggu dengan cara Bagas membuat guyonan. Dia sudah hampir mati berdiri karena takut, eh ternyata Bagas cuma mempermainkan dia. Nyebelin gak tuh?


“Eh, tunggu. Tapi barusan kamu ngomong apa? Temen? Kita temenan?” cerocos Bagas berapi-api ketika Nadya keceplosan membuat status hubungan mereka. “Hah, akhirnya.”


“Nggak ya. Kita bukan temen. Aku nggak kenal kamu dan kita—”


Tanpa banyak bicara, Bagas menyambar tangan Nadya dan mengaitkan jari kelingking mereka. “Teman. Kita teman mulai sekarang.”


Lelah menghindar, Nadya hanya menghela nafas kasar dan membuang mukanya yang sepertinya memerah karena—


“Dan tempat ini, adalah tempat kita akan menghabiskan waktu sebagai teman. Ah, tidak-tidak.” kata Bagas bermonolog sambil menggeleng kepala karena Nadya nggak peduli dengan ocehannya sama sekali. “Kita, sahabat.”


Nadya lagi-lagi dibuat terbelalak karena Bagas yang dengan seenak hati menyematkan lebel persahabatan tanpa persetujuan darinya.


“Mau kan jadi sahabat aku, Nad?”


Karena nggak mau terlalu lama berurusan dengan manusia hiperaktif seperti Bagas, Nadya meng-iyakan saja apa yang diinginkan Bagas. Yakni menjadi sahabatnya.


Akan tetapi seiring berjalannya waktu, Nadya menikmati hubungan persahabatan mereka. Dia mulai bergantung pada sosok Bagas yang selalu ada untuknya. Selalu membantunya disaat kesulitan meskipun Nadya terus menolak. Bagas menjadi manusia pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun untuknya, sebagai seorang sahabat.

__ADS_1


Perlahan-lahan, perasaan lain tumbuh dalam benak Nadya, dan tentu saja ia sembunyikan dan selalu ia sangkal agar hubungan persahabatan mereka tidak rusak karena ke-egoisannya. Ya. Bagas adalah cinta pertama yang Nadya simpan rapat untuk dirinya sendiri. Bagas adalah sahabat yang ia cintai. []


^^^to be continue.^^^


__ADS_2