Wedding Dust

Wedding Dust
19. Nadya Ayunda


__ADS_3

...Happy Reading......



Lalu, kami harus memulai pembicaraan dari mana?


Sesampainya dirumah, Bagas tetap diam dan nggak terlihat ada minat untuk membicarakan permasalahan lain yang muncul diantara kami. Dia hanya berjalan mendahului, membuka pintu, lalu menghilang dibalik pintu kamar yang ketika aku sampai disana, sudah tertutup rapat.


Jam menunjuk angka lima sore, dan aku berniat membersihkan diri dulu sebelum memutuskan memulai lagi obrolan bersama Bagas. Cuaca Jakarta sangat panas hari ini. Atau, perasaanku saja?


Didalam kamar mandi, pikiranku seolah diaduk, di jungkir balik, bahkan sampai membuat mataku berkunang. Air yang mengalir membasahi kulitku terasa dingin meskipun tadinya suhu terasa begitu panas. Aku bingung, harus mengatakan apa pada Bagas, jika suamiku itu bisa melihat senyuman seperti itu dariku untuk Hansel.


Jujur, aku memang sengaja membuat jarak dengan Bagas selama ini. Alasan klasik yang aku buat hanya masalah persahabatan yang tidak ingin rusak hanya karena kami saling mengakui perasaan, kemudian kami bertengkar, dan bisa jadi kami memilih jalan paling buruk untuk pernikahan kami, yakni sebuah perpisahan yang tentu saja akan membuat kami berdua tidak akan lagi bisa menerima satu sama lain.


Tapi kali ini, masalahnya berbeda. Bagas termasuk orang terdekat ku. Dia yang paling mengerti aku selama ini. Dan dia paling tau tabiatku. Termasuk gelagat atau air muka ku ketika menghadapi orang lain. Bagas jelas bisa membacanya.


Aku menghela nafas, menunduk menatap bagaimana air jatuh kelantai keramik berwarna krem yang ku injak.


Ah, datang ya?


Ini tanggal 23, dan memang seharusnya tamu bulanan ku datang. Aku mematikan shower, meraih botol sabun mandi dan sampo secara berkala, lalu mulai membersihkan diri. Setelah berbilas, aku mengenakan semua yang perlu aku pakai, termasuk satu benda yang bisa menampung tamu bulanan yang hari ini datang.


Aku keluar dari kamar mandi. Tidak ada Bagas di ranjang seperti biasanya, dan hal itu terasa aneh, juga memicu rasa khawatirku jika kali ini, Bagas benar-benar serius dengan ucapannya.


Aku menuju lemari pakaian dan mengganti baju handuk dengan pakaian rumahan yang biasa aku kenakan sore hari, lantas keluar kamar untuk mencari Bagas. Dia ada di dapur, sibuk dengan wajan diatas tungku kompor, dan aku bisa menghirup aroma telur dadar yang mungkin sekarang sedang ia buat.


Bersama langkah ragu, aku mendekat, mencoba mencari topik pembicaraan yang bisa membuat dia bersuara.


“Sini, aku buatin.” kataku sambil mencoba meraih spatula dari tangan Bagas, tapi malah ia jauhkan dari jangkauan ku. Aku mengerti, dia menolak. Suara spatula kembali beradu dengan penggorengan yang kini membuat sebesit rasa dipermalukan muncul dalam pikiranku. Aku mencari topik lain.


“Masakan yang aku buatin tempo hari, habis?” tanyaku lagi, sambil berjalan menuju lemari pendingin, membuka dan mencari kotak Tupperware, sekalian mengecek bahan masakan yang tersisa. Tiga kotak yang dua hari lalu kutinggal berisi rendang, gudeg, dan sop ayam itu sudah nggak ada. Aku tersenyum senang karena Bagas menghabiskan semuanya tanpa sisa. Tapi, dia masih tidak menyahut pertanyaanku.


“Mau aku buatin pecel buat temen dadar kamu?”


“Nggak.”


Dingin sekali. Dan aku mulai tersulut emosi lagi.


“Okey. Jadi katakan kenapa kamu melarangku kerja. Jangan hanya karena pak Hansel ada disana, kamu melarangku seperti paling benar sendiri. Kamu salah jika berfikir aku akan berselingkuh dengan dia, Gas.” cerocosku panjang lebar, berharap Bagas terpancing dan memberi jawaban. Tapi aku salah, dia tetap diam.


Mungkin, hanya dengan ancaman ini Bagas akan buka suara. “Jangan sampai aku merealisasikan tuduhanmu itu, Gas.”


Berhasil. Dia berhenti, lalu menoleh pada bahu kirinya untuk melihat keberadaan ku yang saat ini sudah dingin. Telapak tanganku basah karena takut jika Bagas akan bereaksi sebaliknya dari yang aku harapkan.


“Jadi kamu punya niat untuk itu?”

__ADS_1


Tidak. Tidak sama sekali. Aku hanya bisa meneriakkan itu dalam hati.


“Lakukan. Kalau itu bisa buat kamu bahagia.”


***


Aku menghabiskan sisa malam dengan menangis. Terlalu lelah menahan air mata selama lima tahun. Terlalu lama, hingga nyaris membuatku putus asa.


Bagas tadi sempat pamit pergi ke tempat Letto meskipun aku tidak merespon dengan jawaban apapun. Perasaanku kacau. Campur aduk dengan rasa nyeri yang entah mengapa tidak biasanya ketika aku datang bulan, tiba-tiba muncul. Aku menggigit bibir beberapa kali, menahan nyeri dan suara tangis sampai pesan itu datang. Pesan dari pak Hansel untukku.


Pak Hansel: Sudah tidur?


Aku makin tersedu. Mengapa justru dia yang hadir ketika aku kacau seperti ini?


Tidak dulu mengindahkan pesan itu, aku memilih mencari kontak telepon Letto dan mengirim pesan ke dia, karena nomor Bagas tidak bisa dihubungi.


Bagas disana? Tolong suruh pulang ya, Lett. Aku sedang butuh dia. Aku lagi nggak enak badan.


Tak berselang lama, balasan pesan dari Letto datang.


Letto: Bagas nggak kesini.


Seketika, air mataku semakin deras jatuh. Memangnya siapa lagi yang ia datangi sekarang, selain Hera? Tapi, apa masih patut dia membohongiku seperti ini?


Aku menepuk dadaku beberapa kali, berharap rasa sakit dan sesaknya pergi saat aku tau kebenaran jika Bagas tidak ada di tempat Letto. Kemudian, aku kembali mengusap layar ponsel dan mengetik balasan untuk Letto.


Aku kembali ke menu awal, lalu kembali membuka WhatsApp dan membaca pesan pak Hansel. Dan membalasnya.


Belum, pak.


Naif. Tapi aku butuh pelarian. Aku butuh seseorang yang bisa aku jadikan teman sampai Bagas pulang nanti.


Pak Hansel: Ah, kenapa? Lagi ada masalah?


Haruskah aku jawab ya?


Hanya salah faham. Balasku seperti ingin diperhatikan. Tapi hanya itu stok kalimat yang muncul didalam otakku.


Pak Hansel: Salah faham? Apa ada hubungannya dengan airport tadi?


Pak Hansel: Oh ya. Diluar kantor, panggil Hansel saja cukup.


Aku mencoba memahami isi pesan tersebut. Apa maksudnya? Apa dia ingin menjalin keakraban dengan ku?


Pak, tolong jangan begitu. Jangan berusaha menjalin keakraban dengan saya.

__ADS_1


Balasku mencoba mengaskan agar dia sadar status kami masing-masing. Tapi, balasannya membuatku membolakan mata.


Pak Hansel: Tapi aku ingin dekat sama kamu, Nad. Kamu bisa cerita ke saya tentang hal yang tidak bisa kamu ceritain ke Bagas.


Air mataku tiba-tiba berhenti. Jantungku berdegup kencang seolah bertemu dengan orang yang tepat untuk membuka hati. Tapi, saat sadar aku salah, aku kembali ingin menangis.


Pak Hansel: Aku janji, akan buat kamu nyaman.


Aku mengusap air mata. Haruskah aku mencobanya?


Dan jariku menekan keyboard ponsel begitu saja. Beberapa hal aku ceritakan ke Hansel, dan dia selalu menanggapi dan memberi jawaban yang cukup masuk akal dan bisa membuatku nyaman.


Ah, seperti inikah yang dirasakan orang diluar sana yang sedang selingkuh? Bukan hanya karena ada rasa ingin bersama apalagi memiliki, tapi karena merasa nyaman dan diperhatikan, lalu menjadi dekat. Apa karena itu? Tolong beri aku penjelasan.


Hingga pukul setengah dua belas malam, pesan itu ku akhiri sepihak karena aku mendengar suara motor yang sedang memasuki garasi rumah. Bagas datang.


Aku segera melompat turun dari ranjang, mengesampingkan semua perasaan berdebar dan bersalah karena bertukar pesan dengan Hansel, aku berlari menuju pintu depan. Ingin sekali memastikan jika terkaanku salah, atau paling tidak Letto sedang mengerjaiku dengan bilang jika Bagas nggak ada disana.


Tapi, setelah pintu berhasil kubuka, aku mendapati Bagas sedikit berantakan sedang melihatku. Aroma pekat yang membuat mual yang bercampur asap rokok, membuat semua pradugaku luruh. Kaki ku terpaku pada tempatku berdiri. Belum pernah aku melihat Bagas seperti ini selama mengenal dan hidup bersamanya.


Bukan Hera yang ia datangi, melainkan tempat lain yang jauh lebih menyesakkan dadaku. Club malam? Diskotik? Itu yang aku pikirkan sekarang.


Lalu, aroma parfum yang begitu asing—


“Dari mana kamu?!” tanyaku tajam, tak mau menahan lagi rasa takut yang merayap naik di hatiku.


Pertanyaanku membuat langkah Bagas terhenti. “Tau apa kamu.” jawabnya santai tanpa rasa bersalah padaku sedikitpun.


Aku memutar tubuh, berjalan sedikit berlari, lalu meraih salah satu lengannya yang hampir pergi menjauh dengan kasar hingga tubuh tinggi tegapnya oleng.


“Kamu udah gila?” pekikku yang sama sekali tidak di gubris. “Jawab aku! Kamu dari mana?!!!” teriakku nggak peduli jika tetangga mendengarnya.


Bagas mencoba menepis tangan ku beberapa kali, tapi aku terus berusaha mencengkeramnya.


“Aku capek, Nad.”


“Kamu minum?” tanyaku setengah berbisik setelah mengendus lengan pakaian yang ia kenakan. “Jawab aku!”


“YA! PUAS KAMU!” sentaknya berteriak didepan wajahku hingga refleks membuatku memejamkan mata dan meremat pakaian didepan perutku. Sangat menyakitkan.


Hari ini, aku seperti dihancurkan oleh kenyataan. Bagas yang ada didepanku, bukankah Bagas yang aku kenal. Dia orang lain.


“Kenapa kamu lakukan ini?” ucapku dengan suara parau. Batas kesabaranku berada diujung tanduk, dan siap musnah dalam lembah putus asa. “Kenapa kamu begini?!” lanjutku berteriak.


“Sial!” umpatnya kesal menyentak tanganku hingga aku jatuh terduduk dilantai. Aku tau dia tidak sadar melakukan itu karena terpengaruh oleh alkohol. Tapi aku merasa tersakiti.

__ADS_1


Kemudian, dengan airmata berderai yang aku usap kasar, aku mengunci tatapan kami. Dengan suara tajam, rahang mengerat, gigi bertubrukan, dan kepalan tangan kuat, aku berkata. “Kamu sudah keterlaluan, Gas. Jangan menyesal jika aku nyaman dengan orang lain.” []


^^^to be continued.^^^


__ADS_2