
...Happy Reading All......
...🌹...
Nadya sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Aku penasaran, sungguh. Tapi aku tidak ingin berprasangka atau menerka hal-hal buruk padanya. Hubungan baru kami, baru saja dimulai. Aku tidak ingin mengacaukannya, dan biarkan saja waktu berlalu untuk mencari jawabannya sendiri.
Nadya duduk di pangkuanku, mengusap wajahku dengan wajah sendu seperti ingin menangis. Tapi aku tak lelah berkata padanya untuk tidak menangis, aku hanya ingin melihat dia tersenyum.
Detik berikutnya, Nadya memelukku, menyembunyikan wajahnya pada ceruk leherku dan berkata, “Aku akan memberitahumu nanti, kalau aku sudah siap dengan semua risikonya.”
Pada detik yang sama, hatiku seperti dipukul gada hingga remuk. Satu rahasia yang aku terka semakin mencuat ke permukaan karena ucapan Nadya.
“Baiklah. Jangan paksa dirimu jika kamu tidak ingin. Aku akan menunggu sampai kamu bicara.”
Aku merasakan sebuah anggukan dari Nadya. Mungkin, akan tidak mudah untuk menjalani tujuan kami. Jalannya juga nggak akan mulus tanpa batu atau kerikil yang akan menusuk dan menyakiti. Aku siap dengan risiko-risiko kecil itu. Tapi mendengar Nadya memilih menyembunyikan sesuatu dariku, aku mendadak gusar. Apakah rencana ini akan berhasil? Nadya saja masih belum bisa jujur dan terbuka padaku.
Memilih membalasnya dengan pelukan, aku tidak ingin kami larut dalam pikiran masing-masing dan berniat bahagia hari ini.
“Aku sudah memesan tempat di restoran kesukaanmu. Bersiaplah, ayo kita makan malam disana.”
Nadya bangkit menjauhkan diri. “Restoran?”
Aku tersenyum, meraih helaian halus poni Nadya yang menjuntai didepan wajah ayunya, kemudian menyelipkannya dibalik telinga. “Ya. Makan malam romantis ala anak muda jaman sekarang.”
Sebuah tepukan ku terima di dada hingga aku mengaduh. “Terlalu berlebihan kamu, Gas. Lagi pula, kita udah nggak muda lagi. Kita udah tua, nggak perlu ngikuti tren ala-ala anak muda segala.”
“Engga...”
“Iya.”
Aku mencubit gemas hidung kecil dan Bangir Nadya sambil memicingkan wajah karena gemas. “Demi kamu, apa yang engga sih. Yuk, keburu lewat jam reservasi. Nanti hangus uangku melayang sia-sia dan perutku lapar karena nggak makan.”
“Tau gitu masak aja dirumah ngga sih?!”
“Sudah. Cepetan ganti baju. Aku tunggu di teras.”
“Naik motor?”
“Eumm.” jawabku singkat.
“Kalau Letto kesini, gimana?”
Lagi-lagi aku mengembangkan senyum. “Ngga usah khawatir. Spesies sejenis Letto itu, tahan banting kok. Dia bakalan tetep bertahan hidup meskipun nungguin kita sampai besok pagi.”
“Jahat kamu ya.”
Semua rencana berjalan dengan baik hari ini. Kami juga sempat nonton film di bioskop setelah makan malam. Kami berdua sampai dirumah tepat pukul sepuluh malam, kemudian Letto datang dan kami bertiga akhirnya ngobrol di ruang tengah ditemani dua gelas kopi hitam buatan Nadya untukku dan Letto, kemudian satu gelas besar teh panas milik Nadya sendiri.
“Jadi ini tadi acaranya anniversary gitu? Tega banget nyuruh orang nunggu dua jam di luar. Jadi tumbal nyamuk pula.” tanya Letto sambil menjumput segenggam kacang goreng dari toples dan memakannya santai. Perlu kalian tau, Letto ini termasuk orang yang apa-apa di tanggapi santai. Santuy person.
“Ngga juga sih.” ini Nadya yang ngejawab. Biarkan mereka yang memiliki kemiripan sifat yang saling bicara. “Salahin tuh, Bagas. Tadi udah aku tolak tapi maksa nonton.”
__ADS_1
“Settan Lo itu emang, Gas.”
Aku mendengar suara tertawa Nadya sebelum dia meraih ponselnya dan terlihat serius diantara pendaran cahaya yang memantul ke wajahnya.
“Kalau gue settan, Lo ibblis nya dong.”
“Bangssat!”
Gelagat Nadya terlihat kurang nyaman. Entah itu karena bercandaan ku dengan Letto, atau ada informasi di ponselnya yang membuat dia mendadak cemberut. Tak lama kemudian, Nadya melempar ponselnya dia atas meja. Bahkan, Letto sampai ikut berjengit terkejut.
“Lo marah gara-gara ada gue disini ya, Nad?”
Nadya terlihat sedikit terperanjat dengan kejujuran Letto. Aku hanya bisa menepuk jidat mendapati dua makhluk satu spesies ini berinteraksi. Cara mereka berkomunikasi membuat geleng-geleng kepala.
“Eh, engga kok.”
“Lalu kenapa hape Lo, Lo banting gitu?”
Letto plis, gumamku dalam hati memohon pada temanku itu untuk menyudahi kalimat-kalimat jujur dan menohok-nya.
“Ah, itu, aku ada sedikit problem. Sorry ya.”
Dan jawaban Nadya lebih membuatku terkejut. Jika biasanya dia akan tersinggung dengan kalimat sarkasme, kaki ini dia bisa menanggapi Letto dengan sabar bahkan meminta maaf.
“Oke. Nggak masalah. Tapi kurang-kurangi yang begitu, kesian Bagas.”
“Lha, kenapa gua?” protesku tak terima.
Tidak menjawab, Letto hanya mengedikkan bahu. Tiba-tiba,
“Siapa? Bagaimana latar belakangnya?”
Sumpah. Letto sudah seperti bapak-bapak posesif yang meminta penjelasan ketika anak gadisnya dilamar teman prianya.
“Namanya Antara. Aku sih biasanya manggil dia Tara. Dia...perantau juga sih. Tapi dia baik kok. Aku udah kenal dia sejak pertama kali masuk kantor. Ya, meskipun kadang dia cerewet kayak cewek kebanyakan.”
Letto menggaruk pelipis dan menyangga satu lengannya di lutut. “Gimana ya jelasinnya, Nad. Gua masih belum ada niatan untuk kesana.”
“Kamu ngga belok kan?” tanya Nadya sembari mengangkat kedua lengannya, menggenggam jemarinya kecuali jari tengah dan jari manis membentuk huruf V, lalu menggerakkannya naik turun sebagai tanda petik pengumpamaan.
“Ya enggak lah. Gila lo.”
“Ya udah. Nanti aku kirimi kontaknya. Kamu aja yang ngehubungi dia dulu.”
“Gue udah pusing mikirin Lo sama Bagas, jadi gue ngga mau nambah beban hidup gue lagi dengan nerima tawaran Lo buat punya cewek.”
Sejenak, suasana terhenti karena ucapan Letto. Aku dan Nadya saling menatap satu sama lain, sebelum akhirnya Letto menyambung kalimatnya sambil berdiri, beranjak pamit.
“Yang akur kalian berdua. Kalau akur kek gini seneng lihatnya. Gue juga nggak mau tua mendadak mikirin Lo berdua.” katanya yang tentu membuat aku dan Nadya hanya bisa merenung dan menengok kebelakan demi menilik masa lalu. “Dah ah, gue pamit. Yuk nyet, anterin gue pulang.”
***
Setelah mengantar Letto kembali pulang, aku menghabiskan sisa hari kembali bersama Nadya, berbicara banyak hal tentang masa lalu yang menyenangkan hingga membahas pekerjaan.
__ADS_1
“Aku pingin pulang ke Surabaya, Gas. Udah hampir dua tahun nggak pulang, kangen ibu, ayah, mama, dan papa kamu juga.”
“Yang sabar ya. Aku harus ngajuin cuti dulu.” jawabku tak ingin membuat Nadya kecewa.
“Kalau kamu sibuk, aku bisa pulang sendiri kok.”
“Nggak. Kita pulang sama-sama.” putusku tegas memikirkan kemungkinan jika Nadya pulang sendiri tidak menutup kemungkinan berbagai pertanyaan akan muncul, baik dari kedua orang tuanya, kedua orangtuaku, atau bahkan mas Dani—kakak laki-laki Nadya, juga Juwita. Tentu, mereka akan bertanya kenapa aku tidak mengantarnya pulang.
“Gas,”
“Apa,”
Nadya bergerak mendekat dan meletakkan kepalanya di lenganku yang ia jadikan sebagai bantalan.
“Seandainya usaha kita ini berhasil, apa yang akan kamu lakukan? Mengakhiri hubungan dengan Hera?”
Ah iya, hampir lupa. Aku belum memberi tahu tentang hubunganku dengan Hera yang sudah berakhir.
“Aku dan Hera sudah selesai, Nad.”
Nadya mengangkat kepalanya kasar untuk melihat ke arahku. “Apa?”
“Kami sudah putus.”
Nadya berkedip cepat dengan bibir terkatup kedalam. “Serius?”
“Eumm.”
Nadya menggeliat dan memelukku erat.
“Terima kasih.” katanya. “Aku harap, aku bisa menjadi wanita baik seperti yang kamu harapkan.”
Aku menghela nafas besar, memeluknya posesif karena tidak ingin melepaskan Nadya barang sedetikpun. “Tentu saja. Kamu adalah wanita dan istri terbaik yang selama ini aku sia-sia in. Maaf ya, selama ini aku selalu bikin kamu kecewa.”
“Nggak. Kamu selama ini selalu baik di mataku, meskipun kadang memang menyebalkan.” celetuk Nadya padaku.
Kami tertawa bersama, pada akhirnya. Saling bicara terbuka begini, lebih menenangkan.
“Kamu masih percaya sama aku kan?”
“Tentu saja aku percaya.” Aku mengecup surainya. “Kalaupun ada yang bicara buruk tentang kamu, aku pasti akan lebih dulu mendengarkan kamu dari pada siapapun. Sekalipun orang yang bicara itu orang tuaku, aku akan mendengarkan kamu dulu.”
“Makasih ya, udah mau sabar sama sifat dan sikap aku selama ini.”
Seburuk apapun cara Nadya marah dan membenciku, aku tetap menyayangi dan mencintai dia. Bahkan lebih dari mencintai diriku sendiri. Aku harap selamanya, atau aku akan jatuh sekali lagi dalam lubang gelap kehancuran karena kehilangan sosok yang aku sayangi.
“Aku...cinta kamu, Gas.”
Seperti terkena sengatan petir tanpa hujan disiang bolong, tubuhku mendadak kaku dan panas. Nadya mencintaiku? Aku tidak salah dengar kan?
“Kamu—”
“Ayo kita berusaha bersama-sama.” katanya sambil meraih leherku untuk dia kecup, lalu naik dan bibir kami bertemu. “Aku ingin menjadi ibu dari anak-anakmu.” []
__ADS_1
^^^to be continued.^^^