
...Happy Reading......
...Ambil positif, buang negatif, Okey... ❣️...
Seminggu sejak kejadian memuakkan itu, aku semakin menjaga jarak dari Bagas. Aku juga nggak begitu canggung membalas pesan-pesan yang dikirim pak Hansel untukku.
Jujur saja aku butuh orang yang bisa ngerti dan paham keadaanku saat ini, dan orang itu adalah Hansel, atasanku sendiri yang tidak pernah lelah meyakinkan jika aku akan nyaman, dan rahasiaku juga aman.
Beberapa hal yang tidak bisa aku sampaikan ke Bagas, aku sampaikan ke dia. Beberapa hal tentang pernikahan kami yang lama aku simpan bahkan hampir membusuk, mulai aku buka satu persatu. Bukan ke Bagas, tapi kepada Hansel. Dia berhasil membuatku nyaman, dan tentu saja tanpa sepengetahuan Bagas.
Aku tau kalau tingkah laku ku ini tidaklah benar, karena aku bisa merusak dua ikatan sekaligus. Tapi kata Hansel, selagi kita bisa menjaga rahasia ini dengan baik, kami akan baik-baik saja. Dan aku membenarkan itu.
Pagi ini, pak Hansel terlihat sibuk diluar kantor, tidak ada di tempatnya. Tapi dia tidak lupa mengirimiku pesan, bertanya aku sedang melakukan apa, atau apakah aku sudah makan? Hal yang sering dilakukan Bagas, dilakukan juga oleh Hansel. Pertanyaan-pertanyaan yang terlihat sepele, tapi tentu saja memiliki makna yang begitu berarti untukku.
Aku sedang makan siang dengan Tara di kantin kantor.
Balasku untuk pak Hansel, kemudian meletakkan kembali ponsel di meja dan melahap makan siang yang sudah di sediakan oleh pihak kantor.
“Bagas?” tanya Tara sambil menyeruput teh hangatnya dari cup minum.
Aku nggak tau harus jawab apa, karena itu bukan Bagas. Tidak mungkin juga aku menjawab kepada Tara secara terbuka jika itu Hansel. Jadi, aku memilih diam sambil mengedikkan bahu, kemudian meraih sendok dan kembali menyuapkan nasi kedalam mulut.
“Serius, Lo berdua kenapa sih? Gue nggak paham sama hubungan kalian, deh!” cerocos Tara disela mulutnya yang sibuk mengunyah makanan. Aku hanya bicara dan berdo'a dalam hati agar dia nggak tersedak.
“Memangnya kenapa? Memang seperti ini dari dulu, kan? Lo juga tau Bagas kayak apa.”
Aku melihat Tara mengembuskan nafasnya cukup keras. Mungkin dia lelah melihat kami. Apalagi aku?
__ADS_1
“Iya, gue tau. Tapi Bagas itu sayang banget ke elu Nad. Gue aja bisa lihat kalau Bagas itu cinta banget sama elu. Cara dia ngelihat elu, beda banget sama cara dia menatap ke cewek lain. Termasuk ke gue, beda banget.”
Aku tersenyum kecil. Hatiku cukup tersengat mendengar kenyataan yang dikatakan Tara jika Bagas memang selalu melihatku dengan tatapan sayangnya. Mungkin hanya sebagai sahabat, Ra. Aku ingin mengatakan itu didepan Tara, tapi dia pasti menyangkal dan topik akan semakin melebar. Aku nggak suka.
“Anggep aja begitu.”
“Eh? Kok gitu. Gue nggak bohong lho Nad. Bagas itu—”
“Iya. Iya. Habisin makannya dulu. Ntar keburu jam makan siang selesai. Makan dulu gih.” kataku, mengalihkan semua pembicaraan kami dan berhasil. Tara diam dan fokus memakan makanannya. Tapi tidak denganku. Kalimat yang baru saja meluncur dari bibir Tara, menambah beban dalam otakku. Benarkah yang dikatakan Tara? Bagas cinta sama aku? Tapi dengan cepat aku menyangkal, Nggak mungkin.
Setelah hampir tiga puluh menit kami menghabiskan jam istirahat, aku dan Tara memutuskan untuk naik ke lantai tiga, tempat kami bekerja. Masih ada waktu dua puluh menit tersisa, Tara menahan ku yang hendak meninggalkan dia untuk kembali ke ruangan.
“Elo nggak lagi geger sama Bagas kan?”
Aku menatap mata Antara sejenak, lalu tersenyum dengan bibir yang sedikit kubuka agar dia percaya dengan apa yang akan aku katakan ini. “Enggak. Kami baik-baik aja.”
Lagi-lagi aku tersenyum. Kali ini aku meraih lengan Tara dan mengusapnya. “Lo ngga perlu khawatir. Gue sama Bagas baik-baik aja kok.”
“Gue sayang sama kalian lho.”
Ulasan senyum yang membingkai bibirku, menghilang sejenak. Aku mencerna kalimat Antara, wanita ini begitu tulus ketika berkata demikian. Kemudian, aku kembali menarik sudut bibirku ragu agar membentuk senyuman. “Thanks.”
***
Sesampainya dirumah, aku menghapus senyuman yang tadi aku berikan kepada Tara ketika kami berpisah didepan gerbang rumah. Aku diantar pulang sebab Bagas mengirim pesan kepada Tara jika dia tidak bisa menjemput karena pekerjaannya yang belum rampung.
Sejak bersitegang seminggu yang lalu, semua yang Bagas lakukan seperti tidak ada gunanya untukku. Aku hanya berusaha bertahan sampai detik ini, berharap aku bisa sampai di penghujung jenuh kami dan memutuskan untuk kembali berbaikan.
Bagas mengirim pesan tadi siang, tapi aku mengabaikannya sampai sekarang. Aku masih tidak mau melihat ke arah dimana Bagas berusaha menarikku lagi kepadanya. Hatiku terlalu sakit. Harga diriku terluka.
__ADS_1
Dan sepanjang jalan menuju teras rumah, aku kembali teringat apa yang sempat ditanyakan Tara kepadaku sebelum aku memutuskan kembali ke ruang kerja tadi siang.
Elo keliatan deket sama pak Hansel.
Yang ternyata, pertanyaan itu cukup mengganggu sekarang.
Apa terlihat begitu kentara? Atau, memang sedekat itukah kami hingga orang lain dapat melihat dan mengartikannya demikian?
Aku memutar kunci dan membuka pintu. Aroma Bagas lah yang pertama kali menyambut kedatanganku dirumah yang entah mengapa mengetuk hatiku untuk berkata jika aku sedikit merindukannya. Bayangan Bagas tersenyum ke arahku, terlihat begitu nyata.
Tadi pagi, aku berangkat lebih awal setelah menyiapkan semua kebutuhan Bagas sebelum berangkat kerja. Mulai dari setelan yang akan ia kenakan, sarapan, bekal, dan beberapa hal lain yang biasa aku lakukan sebelum Bagas berangkat bekerja. Kecuali berpamitan. Aku menskip bagian itu karena aku tidak mau ketemu Bagas. Dan ya, selama seminggu ini kami jarang bertatap muka. Paginya aku memutuskan untuk bangun dan berangkat lebih awal, dan malam hari ketika Bagas sampai di rumah, aku sudah tidur lebih dahulu.
Mengesampingkan semua pikiran yang sedang nggak mau diajak berdamai, aku berjalan cepat menuju kamar. Membersihkan diri mungkin akan membuat beban hari ini sedikit ringan.
Akan tetapi, hal yang lebih tidak aku duga ketika keluar dari kamar mandi adalah, Bagas sudah berada dikamar dan sedang melonggarkan dasi yang terlihat menyiksa leher kekarnya. Jantungku sempat berdebar karena terkejut akan kehadirannya. Aku pikir dia maling yang menyelinap masuk.
Dia tersenyum, aku menghindar tanpa membalasnya. Dan aku menyesal setelah itu karena Bagas terlihat kecewa diantara wajah lelahnya. Senyuman miris tersungging di bibirnya.
Aku berjalan menuju meja rias untuk membalurkan krim yang biasa aku gunakan setelah mandi agar kembali segar. Sedetik kemudian aku menoleh karena suara Bagas menyapa gendang telingaku.
“Aku beliin nasi, aku taruh di meja makan. Ngga usah masak buat makan malam. Aku ada urusan mendadak.”
Penasaran. Tentu saja aku ingin mencercanya dengan beberapa pertanyaan, tapi semua tertahan di kerongkongan, mengiringi kepergian Bagas menghilang dibalik pintu kamar mandi. Aku menatap cukup lama disana, meratapi bagaimana sikap keras kepalaku yang selalu ia pahami. Kadang aku bertanya pada diriku sendiri, mengapa Bagas sekuat itu menghadapi wanita keras kepala seperti aku?
Cukup lama termenung menatap pintu yang terkatup, aku mengubah posisi agar kembali menatap pantulan diriku di cermin, bersamaan ketika bunyi gemericik mulai terdengar.
Sebagai seorang istri, kata-kata Bagas tadi terdengar tidak jelas dan aku butuh kalimat penjelasan yang lebih spesifik. Urusan? Urusan yang seperti apa? Dengan siapa? Sampai jam berapa? Berhubungan dengan pekerjaan kah? Pertanyaan-pertanyaan yang ingin aku tanyakan dan hanya bisa tertahan, membuatku gelisah. Aku penasaran. Aku harus tau, urusan apa yang hendak dia kerjakan malam ini. Ya, aku ingin tau. Dan aku memutuskan akan mengikutinya nanti. []
^^^to be continued.^^^
__ADS_1