Wedding Dust

Wedding Dust
41. Nadya Ayunda


__ADS_3

...Entah siapa yang salah, ku tak tau......


...Part ini sedikit Dua puluh satu ples....


...Kalau nggak nyaman, skip aja oke?...


...Selamat membaca...


...🌹🌹🌹...



Aku memutuskan mengikuti saran Hansel dengan pergi ke hotelnya karena jaraknya yang tidak terlalu jauh. Akan tetapi tetap saja, pakaian kami basah kuyup, dan Bagas memberikan satu stel pakaian bersih miliknya untuk ku pakai.


“Kalau sudah reda aja pulangnya. Disini juga nggak ada jas hujan.” katanya mencoba memberi solusi lain yang terdengar cukup bisa diterima akal sehat.


Tadi, setelah mendengar ada seseorang yang menyebut namaku, aku menarik Hansel dan cepat-cepat pergi dari Solaria, meminta Hansel mengemudi motor dan aku di boncengnya. Semuanya reflek aku lakukan karena panik. Suara itu, adalah suara Juwita—adik Bagas.


“Memangnya kenapa kamu tiba-tiba ngajak pergi dari sana. Kayak lihat setan aja narik paksa aku keluar dan menerjang hujan. Gimana kalau kamu sakit setelah kehujanan begini? Lain kali jangan ceroboh deh, Nad.” tegur Bagas memperingatiku agar lebih hati-hati dan tidak mengambil keputusan yang tidak menguntungkan untuk diriku sendiri.


“Sorry. Tapi aku nggak bisa kasih kamu alasan kenapa aku seperti itu.” jawabku meminta pengertian darinya.


Hansel duduk diatas ranjang yang juga menjadi tempat duduk ku. Dia meraih telapak tanganku yang masih dingin, dan menggenggamnya dengan telapak tangannya yang besar dan hangat. “Nggak apa-apa. Kalau kamu capek, tidur aja. Nanti kalau udah reda hujannya, aku bangunin.”


Aku menolak dengan sebuah gelengan kepala. “Kamu aja yang tidur. Besok harus balik Jakarta kan?”


“Sore kok. Jadi nggak masalah.” katanya santai sambil menepuk lembut punggung tangan milikku. “Mau jalan lagi nggak, besok?”


“Nggak. Cukup hari ini aja. Aku nggak mau seseorang melihatku bersama kamu.” tolakku relevan.


Hansel bangkit, menuju lemari pendingin dan menuang segelas air putih dingin untuk ia minum. “Aku nggak nyangka juga kita bakalan satu ruangan begini, selain di kantor.”


Bodoh. Mengapa aku malah berakhir disini. Apa aku terkesan murahan sekarang?


“Jangan macem-macem.” ancamku sengit agar Hansel tidak berbuat nekat.


Hansel tersenyum miring dan kembali berjalan mendekat, lalu duduk di sampingku.


“Kiss bolehlah?” godanya yang terlihat serius. Sumpah demi apapun, aku adalah wanita bersuami, aku tau bagaimana gelagat seorang laki-laki saat gai-rahnya sedang terpatik naik.


Aku mencoba bangkit, namun Hansel menahan tanganku. Sial. Aku rela tidak mendapatkan maaf dari Bagas dan mendapat hukuman jika sampai malam ini kami berakhir diatas ranjang.


“Kemana?” tanyanya, suaranya mulai serak. Buku kudu ku meremang karena takut terjadi sesuatu yang sama sekali tidak aku harapkan.


“Sofa. Aku mau tidur disana.” jawabku sekenanya berharap dia mau melepaskan cekalan tangannya padaku.


Hansel tertawa. “Disana sempit Nad. Disini saja sama aku.”

__ADS_1


“Jangan gila. Ingat status kita—”


“Selingkuhan. Dan apa yang dilakukan selingkuhan selain saling mencari ketenangan dan kesenangan?”


Diam-diam aku berharap seseorang datang mengetuk pintu kamar ini agar aku bisa berlindung dari sosok Hansel yang sedang diselimuti kabut has-rat.


Siapapun, Aku mohon ketuk pintu itu...


“Itu hanya pikiran kamu,” sahutku mencoba tetap terlihat tenang agar Hansel tidak bisa membaca rasa takutku yang terlampau besar.


“Ah, panggil namaku kayak tadi dong, Nad. Kamu lihat kan, aku sampai salah tingkah waktu tadi kamu manggil aku dengan nama.”


Aku menggeleng tak habis pikir.


“Itu hanya formalitas didepan SPG itu. Aku nggak mau kita dilihat aneh sama orang lain.”


“Kita udah begitu dimata orang lain Nad. Mereka sudah melihat kita dengan lebel selingkuh yang menempel di kening kita.”


“Berhenti! Jangan pernah ngomong begitu.”


“Kamu terus menyangkal seolah kamu nggak menikmati hubungan yang kita jalani ini, Nad.” kata Hansel meruntuhkan rasa percaya diriku yang masih tertinggal seujung kuku. Aku tidak berdaya. Kami memang se-hina itu. “Kita sama-sama suka, jadi apa yang salah.”


“Sudah aku bilang, itu cuma pikiran kamu aja.” sahutku cepat dan dibalas Hansel dengan sebuah ciuman di bibir.


God.


“Lepas.” teriakku disela ciuman yang masih berlangsung.


Tidak terkabulkan. Yang ada Hansel mendorongku cukup keras hingga aku telentang diatas ranjang dengan pakaian sedikit tersibak naik hingga mencapai pinggang. Pergerakan ku dikunci, Hansel menindihku dengan bobotnya yang cukup besar untuk ukuran wanita kurus seperti aku.


Tolong. Siapapun tolong aku sekarang. Aku menyesal memilih lari dari Juwita tadi.


Aku menahan suaraku agar tidak mematik has-rat Hansel semakin naik. Tapi semuanya sia-sia. Dia semakin intens memberikan ciuman basah pada bibirku. Hingga aku merasakan permukaan kulit telapak tangannya naik menyentuh perut dan dadaku.


“Lepas!!!” pekikku keras, namun teredam oleh ciumannya yang semakin tidak terkendali. Mencecap, melum-at, dan berusaha mengetuk jalan masuk agar lidah kami bertemu.


Gas, mari kita pilih jalan berpisah setelah ini. Dan maafkan aku yang tidak bisa menjaga diri untukmu, untuk pernikahan kita.


Semua kenangan tentang Bagas berputar acak seperti gulungan kaset kusut yang coba diputar ulang. Membuatku seperti wanita yang tidak pantas untuk dicintai oleh orang baik seperti pria bernama Bagas.


Aku meronta, sekali lagi mencoba melepaskan diri. Hingga pada akhirnya aku berhasil mendorong dada Hansel dengan kekuatan tersisa yang ada didalam diriku, kemudian menendangnya cukup keras di area perut hingga dia jatuh tersungkur dilantai berkarpet abu-abu berbulu.


Wajahku pias setelah bangkit dari ketakutan yang membuat jantungku nyaris melompat keluar. Aku memberanikan diri menatap lurus ke arah wajah Hansel, tak peduli jika selanjutnya aku harus menerima pukulan atau apapun itu karena kesalahannya.


Tapi itu tidak terjadi. Yang ada Hansel bangkit dan mundur beberapa langkah menjauhiku. Dia membalas tatapan mataku dengan pandangan layu. “Maaf, Nad. Aku—”


“Kenapa kamu lakukan ini padaku?” tanyaku serak diantara tangis yang sudah tidak bisa lagi aku bendung.

__ADS_1


“Aku mencintaimu, Nad. Aku akan bertanggung jawab jika sampai Bagas tau lalu menceraikanmu.”


Sebuah gelengan aku berikan untuknya yang biadab. “Jika kamu pikir aku akan menyerahkan diriku begitu saja, kamu salah.” kataku, kejam tanpa perasaan. Biar saja, sudah buruk, sekalian hancur saja. “Jika kamu memang benar-benar mencintaiku, setidaknya kamu bisa menjagaku. Bukan malah menghancurkan aku seperti ini.” titahku semena-mena bersama lebel yang tersemat dalam diri ku, bersama peranku, sebagai perebut suami orang. Aku sudah tidak peduli lagi atas penilaian Bagas padaku. Mati rasa, mungkin itu kata yang tepat.


Namun Hansel terlihat bersungguh-sungguh dan tak melepas sedikitpun pelukannya pada tubuhku. “Jika itu yang kamu inginkan, aku akan melakukannya. Apapun agar kamu percaya jika aku memang mencintaimu tulus dari lubuk hatiku, Nad.” katanya terlihat bersungut. “Kalaupun kamu memintaku untuk meninggalkan keluargaku, akan aku lakukan.”


Aku cukup terkejut hingga tangisku terhenti seketika itu juga. Hansel benar-benar gila. Mengapa dia rela dan akan berbuat senekat itu untuk melepas orang yang dia cintai demi dosa berwujud manusia seperti aku?


Yang ada dalam pikiranku sekarang, bagaimana nasib Bagas? Bagaimana nasib anak dan istri Hansel? Dan bagaimana perasaan semua orang yang menyayangiku, yang aku khianati jika sampai tau tingkah laku menjijikkan yang aku lakukan sekarang? Ah, aku benar-benar tidak pantas hidup. Aku cuma sampah.


“Bagas tidak akan tau kita seperti ini, Nad. Kamu hanya perlu merahasiakan semua ini dari dia. Jadi please, jangan akhiri hubungan kita ini.”


Dia pernah merebut orang yang aku sayangi, dan aku tidak mau dia melakukannya sekali lagi, yaitu merebut kamu dariku.


Aku memejamkan mata mengingat ucapan Bagas saat itu. Hatiku ngilu, sakit dan sesak secara bersamaan. “Diam. Jangan menyebut namanya dengan bibirmu yang brengsek itu.” kataku tajam. Tidak ingin nama Bagas muncul dari bibirnya.


Aku merasakan Hansel yang kembali bergerak gelisah. Lalu, sekali lagi dia berjalan mendekat. Meski rasa was-was masih mengungkung seluruh inci hati dan badanku, aku dapat melihat setidaknya manik mata hansel sudah tidak lagi terlihat benih-benih gai-rah. Karena alasan bodoh itulah, membiarkan Hansel kembali memangkas jarak yang sempat tercipta diantara kami. Mungkin dia sudah sadar jika dia bersalah. Lantas dia mencoba meraih tanganku yang tentu saja terus aku tolak. Hansel sudah keterlaluan, dia berbuat terlalu jauh hanya dengan status hina yang dia klaim. Kemudian dia berbicara lembut meminta maaf.


“Maaf Nad. Aku sudah keterlaluan padamu.”


Aku menatapnya tajam, lalu menyeringai tanpa mau susah payah memikirkan perasaan lelaki ini.


“Maaf, simpan permintaan maaf itu untuk anak dan istrimu saja nanti ketika sampai di jakarta.”


Merasa terus ditolak, Hansel menyambar tubuhku dan membawanya kedalam pelukan. Disana, tempat dimana aku bisa mendengar degup jantung Hansel yang cepat, aku mulai menangis keras. Menumpahkan semua kecamuk yang menyakiti harga diriku.


Dan sejak saat inilah, ketika masih didalam pelukan Hansel, aku tau bahwa...


Nadya Ayunda, aku, adalah nama yang harus Bagas hapus dari hidupnya setelah ini. Nama yang harus ia hapus dari ingatannya seperti debu yang harus ia singkirkan dari sucinya sebuah janji sehidup semati.


Seorang Nadya Ayunda, tidak akan pernah pantas untuk bersanding dengan Bagaskara Adewangsa. Dan Nadya hanyalah debu dalam pernikahan. []


^^^to be continue.^^^


...🖤🖤🖤...


Jadi, siapa yang salah?


Coba tulis pendapat readers sekalian tentang bab ini.


Atau ada sesuatu yang ingin disampaikan kepada Nadya dan Hansel di part ini?


Terima kasih juga untuk yang masih setia mengikuti Wedding Dust sejauh ini. Masih ada banyak hal yang akan terjadi di bab-bab selanjutnya. Jadi terus pantau Wedding Dust ya...


Terima kasih. ☺️


See you.

__ADS_1


__ADS_2