Wedding Dust

Wedding Dust
37. Nadya Ayunda


__ADS_3

...Selamat membaca...


...Cerita akan memasuki konflik, jadi jangan lupa terus beri dukungan dan ikuti kelanjutan cerita Nadya dan Bagas ya......


...🌹🌹🌹...



...|•|...


Perkataan Bagas semalam menjadi titik paling ujung untukku mengambil keputusan. Dia tidak bisa menerima apapun yang berhubungan dengan Hansel. Dan ya, secara langsung aku tau dampak jika aku berkata jujur, mengatakan aku ada hubungan dengan pria itu. Aku pasti akan kehilangan Bagas, dan aku nggak mau itu terjadi.


Tapi, semuanya tidak akan selesai jika aku terus main kucing-kucingan dan nggak tegas seperti ini.


Oke, aku harus membicarakan ini dengan Bagas setelah kembali dari Surabaya. Aku janji pada diriku sendiri dan aku harus nepatin itu.


“Kenapa semalam nggak ikut ajakan ku, hm?” tanya Hansel dari meja kerjanya. Ia terlihat sibuk hari ini karena hampir setengah hari dia tidak berdiri sama sekali dari tempat duduknya, kecuali urusan kamar mandi.


Aku mengangkat pandangan dari layar komputer dan menatap wajahnya sebentar. “Bagas ngajak pulang. Anda juga tau itu, kenapa bertanya lagi?”


“Bagas benci banget kayaknya sama aku.”


Haruskah aku menjabarkan alasan mengapa Bagas membencinya? Aku rasa tidak perlu, Hansel hanya berusaha membuat dirinya terlihat baik didepanku 'kan?


Aku diam tidak memberikan jawaban yang sepertinya tidak ia butuhkan.


“Lain kali, ayo jalan malam sama aku ya?”


“Nggak bisa. Bagas dirumah kalau malam.” jawabku sekenanya, menjalankan peran layaknya seorang selingkuhan yang sebenarnya.


“Ya bikin alasan sayang. Masa nggak bisa?”


Aku menahan umpatan dalam hati. “Saya nggak mau Bagas tau tentang kita.”


“Kamu takut? Nad, selama kita bisa memanipulasi dengan baik, kita nggak bakalan ketahuan.”


Kali ini, rasa kesalku sudah ada di ujungnya. Bagaimana bisa aku diam saja sekarang setelah menyadari kebodohannya sendiri yang membuat aku terjerat dengan orang seperti dia.


“Sekarang saya tanya, apa bapak nggak pernah merasa menyesal sudah membohongi anak dan istri bapak dengan menjalin hubungan dengan saya seperti ini? Saya yakin anda—”


“Aku mengabaikan semuanya ketika berada di dekat kamu, Nad. Termasuk anakku sendiri yang sudah menjadi separuh hidupku.”


Aku tertawa sinis. “Lalu, mengapa anda tega melakukan ini?”


Hansel mengangkat wajahnya. Dia terlihat tidak suka ketika aku membawa anak dan istrinya dalam percakapan kami. “Nggak perlu bahas mereka kalau lagi sama aku. Itu urusanku sama mereka dirumah.”


“Tapi saya adalah orang yang berpotensi merusak kebahagiaan keluarga anda, pak.”


Aku melihat Hansel memejamkan matanya sebentar, kemudian kembali melihatku dengan tatapan sedikit lembut. “Tidak. Itu tidak benar. Kamu adalah bagian dari kebahagiaan saya juga, Nad. Jangan pernah menyebut dirimu seperti itu, Okey?”


Lucu sekali. Mengapa dia tidak mau mengakui kalau aku adalah orang ketiga yang akan merusak ikatan sakral dan komitmen sehidup sematinya bersama sang istri?


“Tidak. Saya memang seperti itu. Dan saya sadar, saya orang paling jahat disini.”


“Sudah saya katakan, saya nggak suka kamu nyebut dirimu seperti itu. Dan jangan bawa-bawa anak istri saya diantara kita, ngerti?!”


Entah mengapa, membuat Hansel emosi seperti itu, satu sisi diriku merasa lega jika dia masih laki-laki yang sayang pada keluarganya.


“Saya mau mengajukan cuti selama satu minggu.”


“Apa?”


Hansel hampir berdiri karena ucapanku.

__ADS_1


“Satu Minggu? Untuk apa?”


Aku menghela nafas yang terasa begitu berat. “Saya mau pulang ke surabaya. Orang tua saya meminta saya pulang.”


Hansel mengerutkan kening. “Sama Bagas?”


Haruskah aku berbohong dengan jawaban ’Ya’?


Tidak. Bagas selalu bilang jika jujur itu lebih baik dan tidak menambah dosa.


“Tidak. Bagas sedang sibuk.”


“Bawa kemari pengajuan cutinya.”


Aku berdiri dan meraih amplop yang sejak pagi aku letakkan di laci meja, lalu membawanya ke meja Hansel. Tanpa berpikir dua kali, dia membubuhkan tanda tangannya disana. Kemudian dia tersenyum padaku tanpa bisa aku tebak apa maksudnya. Tapi, dia mengatakan sesuatu yang membuat aku membuka mata lebar setelahnya.


“Aku juga sedang ada urusan di surabaya.”


***


Pulang dari kantor, Bagas sudah dirumah. Ada Letto juga diteras, dan mereka terlihat ngobrol serius ditemani dua cangkir minuman yang sudah hampir tandas.


Setelah memasukkan motor ke dalam garasi rumah, aku berjalan ke arah mereka berdua dan menyapa Letto.


“Udah lama Lett?”


“Udah. Sejak jaman prasejarah.”


Sialan. Dia selalu seperti itu. Aku tidak bisa menahan tawa, sedangkan Bagas menatap jengah ke arah sahabat karibnya itu.


“Pantesan nggak ada yang mau. Lha wong pithecanthropus erectus.” celetuk Bagas mencoba membuat lelucon yang malah ditanggapi umpatan oleh mulut Letto yang ceplas-ceplos itu.


“Njing!!”


Aku tertawa lepas sambil berjalan masuk ruang. Badanku lengket dan aku perlu mandi.


Oke, mari lupakan laki-laki itu meskipun sulit.


Aku membawa satu bungkus nasi ayam geprek yang aku tujukan untuk makan malam Bagas. Tapi ternyata di westafel sudah ada dua piring kotor seperti bekas mie ayam. Untuk kali ini, aku kelepasan membiarkan Bagas makan tanpa aku.


Setelah selesai mandi, aku berjalan keluar sambil mengusuk rambut yang masih basah. Ternyata Letto sudah pulang, hanya Bagas sendirian duduk diteras sembari mengesao Vape di tangannya.


Tunggu, sejak kapan—


“Sudah makan Nad?”


Pertanyaan Bagas membuat pikiranku yang menanyakan sejak kapan dia memiliki alat hisap berasap itu terjeda dan teralihkan untuk menberi jawaban.


“Sudah. Tadi kamu aku belikan ayam geprek, tapi di westafel ada mangkuk bekas mie ayam. Kamu makan mie sama Letto?”


“Eum. Mie ayam Abang yang biasa lewat habis Maghrib.”


“Oh.” jawabku singkat. “Ayam gepreknya gimana dong?”


“Biarin aja, nanti kalau sempat, aku makan.” jawab Bagas terlihat acuh, mungkin rasa kesalnya belum hilang.


Aku menggantikan Letto yang tadi duduk di samping Bagas. “Kamu, kenapa nge-vape? Aku risih lihatnya Gas.”


“Oh ini? Letto yang ngasih, barusan.”


Aku hanya mengangguk meskipun nggak nyaman.


“Cuti yang ku ajukan udah di tandatangani. Aku jadi ke Surabaya besok.”

__ADS_1


“Syukurlah kalau gitu. Hati-hati ya, maaf nggak bisa pulang bareng kali ini.”


Aku mengangguk paham.


“Mas Dani gimana? Udah kamu telepon? Kalau belum, aku telepon sekarang biar nanti kamu sampai di Surabaya udah ada yang jemput.” tanya Bagas, memastikan jika aku akan sampai disana tanpa kendala apapun. Termasuk transportasi untuk perjalanan ke rumah ibu.


“Belum. Kayaknya mas Dani sibuk, aku telepon tadi sore juga nggak ada jawaban.”


“Coba aku telepon. Kali aja udah nggak sibuk.”


“Nggak usah.”


“Nggak apa-apa, sekali saja.”


Aku sudah berusaha menolak, tapi Bagas terus memaksa hingga aku nggak bisa nolak dan mengangguk mengiyakan. Sebenarnya, Bagas dengan mas Dani nggak begitu dekat. Malah bisa dibilang, mereka kayak orang nggak kenal.


Dulu, waktu masih masa-masa sekolah, mas Dani yang selalu melarang aku berteman dengan Bagas, meskipun ibu dan bapak nggak masalah. Hingga pada moment lamaran, mas Dani nggak hadir dan esok harinya bicara serius dengan bapak, kalau dia menentang pernikahan ku dengan Bagas. Aku nggak tau apa masalah mereka, tapi yang pasti mas Dani nggak pernah mau menerima Bagas.


Nada hubung masih terdengar setelah beberapa detik lewat. Aku yakin mas Dani nggak bakalan angkat telepon Bagas. Dia —


“Halo, mas.”


“Siapa?”


“Eh, mbak. Mas Dani nya ada?”


“Mas Dani sedang keluar. Ini siapa ya?”


Sudah aku duga. Nomor Bagas nggak akan pernah ada dalam daftar kontak mas Dani.


“Saya, Bagas mbak.”


“Oalah, kamu toh. Ono opo?” (*Oalah, kamu? Ada apa?


“Bade maringin semerap, Nadya besok wangsul teng surabaya mbak. Nopo mas Dani saget jemput Nadya teng bandara?” (*Mau ngasih tau, Nadya besok pulang ke surabaya. Apa mas Dani bisa jemput Nadya di bandara?


“Jam piro? Mas mu iku gak iso di cekel buntute.” (*Jam berapa? Mas mu itu nggak bisa di pegang ekornya*


Aku melihat Bagas terkikik oleh kata-kata istri mas Dani.


“Sore mbak. Palingan Maghrib nyampe.”


“Oh Yo wes. Nanti tak kandanane.” (*Oh ya udah. Nanti tak kasih tau dia.


“Atau suruh telepon balik saya atau Nadya aja mbak. Biar lebih enak ngasih taunya.”


“Yo. Gampang. Engkuk tak kandanane wonge.” (*Ya. Gampang. Nanti aku kasih tau ke orangnya.


“Ngge. Matur nuwun ngge mbak.” (*Ya. Terima kasih ya mbak.


“Podo-podo. Salam nang Nadya yo.” (*Sama-sama. Salam ke Nadya ya.


Setelah itu, aku menarik nafas dan menghelanya penuh rasa nggak enak ke Bagas. “Udah aku bilang nggak usah. Di sana nggak kurang taxi Gas.”


“Dari pada kena biaya. Lebih baik manfaatin mas mu toh?”


Masalahnya, Dani itu agak sulit jika dimintai pertolongan—apalagi oleh kami berdua. Meskipun kami saudara se-ayah dan se-ibu, kami tidak terlalu dekat karena mas Dani sibuk dengan hidupnya sendiri tanpa peduli kepada adiknya, tanpa peduli ke aku.


“Aku lebih milih naik taxi dari pada berurusan dengan mas Dani.” kataku sambil berlalu meninggalkan Bagas yang masih duduk di kursi sembari mengikuti arahku berjalan. “Kamu lupa bagaimana dia dulu membencimu? Aku tidak pernah lupa Gas. Mas Dani nggak pernah setuju sama hubungan kita.”


“Itu dulu, Nad.”


“Sekarang juga masih,”

__ADS_1


“Orang bisa berubah. Asal kita mau berusaha, hal yang mustahil akan menjadi nyata.”[]


^^^to be continue.^^^


__ADS_2