
...Okey kita sentil si Bagas lagi ya, kasian udah beberapa bab nggak muncul....
...Maaf telat update....
...Selamat membaca,...
...Jangan lupa dukungannya untuk Wedding Dust...
...Terima kasih....
...🌹🌹🌹...
Ini sudah hari ke dua Nadya meninggalkan Jakarta untuk pulang ke Surabaya.
Meskipun kami bertukar pesan setiap dua jam sekali, dan melakukan VC di malam hari sebelum tidur, rasanya masih ada yang kurang jika Nadya tidak nyata berada disampingku berbaring.
Di suasana sunyi seperti ini, banyak sekali hal yang membuat otakku semakin menanggalkan kata kantuk dari sistem kerja nya. Mataku masih terang benderang, nggak ada rasa ingin terlelap sedikitpun. Aku kepikiran Nadya lalu berakhir menerawang sedikit demi sedikit masa lalu pernikahan kami berdua yang tidak jelas arah tujuannya selain hanya hidup berdua.
Dari langit-langit, aku memutar bola mata menuju bagian tengah tembok kamar. Kamar yang di design dengan warna nude sesuai keinginan Nadya ini, ada foto pernikahan kami yang lima tahun lalu sudah tergantung nyaman tak pernah di pindah sejak hari dimana dia dipasang seminggu setelah resepsi berlangsung.
“Sedang apa Nadya sekarang? Mengapa tidak mengirim pesan atau telepon seharian ini?”
Ada terbesit pikiran buruk jika Nadya sedang sakit atau apa. Tapi semua ku enyahkan karena aku sama sekali nggak ingin itu terjadi kepada Nadya.
Memang sejak siang tadi, aku sudah tidak bisa menghubungi Nadya. Biasanya dia akan memberitahu terlebih dahulu jika akan menonaktifkan handphone. Dia pasti masih dirumah mama kan? Apa perlu aku menghubungi mama dan menanyakan Nadya. Sepertinya bukan ide buruk.
Aku meraih lagi ponsel yang sebelumnya sudah aku simpan di laci. Ku ketuk dia kali display yang kemudian muncul foto Nadya disana. Kucari kontak mama dan segera menghubunginya.
Namun ketika nada hubung masih terdengar, tiba-tiba aku berubah pikiran. Ku matikan panggilan tersebut dan ku simpan lagi handphone diatas nakas.
“Bodoh! Bagaimana kalau mama malah berfikiran aneh-aneh tentang kami? Terlebih lagi pada Nadya?” kataku bermonolog, karena memang begitu sistem kerjanya. Mama akan khawatir, lalu mencari tau kesana-kemari, dan berujung berfikir negatif jika tidak menemukan apapun. Tidak seharusnya aku membawa mama ke ranah rumah tangga kami ini.
Aku menoleh ketika ponselku bergetar. Aku sudah menebak siapa yang menghubungiku. Mama. Ya, beliau selalu membalas panggilan dariku dengan cepat jika terlewat.
“Ada apa menghubungi mama?”
Aku diam sejenak. Memikirkan jawaban bohong lebih sulit untukku. Mama pun tidak pernah mengajariku untuk berbohong, sekalipun tidak.
“Nggak ma. Bagas salah pencet. Tadinya mau pencet nomor Nadya, tapi malah nyambungnya ke mama. Maaf.” Jujur aku menyesal telah berbohong sekarang. Apalagi orang yang aku bohongi, adalah orang yang mengajarkan aku untuk tidak berbohong kepada orang lain. Dan permintaan maaf itu, untuk kebohongan yang aku buat.
“Kangen banget ya? Mama juga, padahal baru beberapa menit lalu ditinggal Nadya pulang.”
“Oh, Nadya sudah pulang?” tanyaku antusias karena sedikit banyak mama sudah memberi bocoran tentang keberadaan Nadya. Berarti, aku hanya perlu menghubungi keluarga ibu setelah ini untuk memberitahu Nadya agar mengaktifkan ponselnya.
“Sekitar sejam yang lalu.” jawab mama singkat memperjelas situasi.
“Sebenarnya tadi Bagas memang mau menghubungi mama,” aku-ku mengingkari sendiri kebohongan yang beberapa detik lalu kubuat. “Maaf bohong ke mama.”
“Kenapa pake bohong segala sih? Orang yang ditanyain juga istri sendiri.”
Istri sendiri. Aku sedikit tertohok dengan kalimat mama untukku.
“Ya, nggak enak aja. Takut mama kepikiran.”
__ADS_1
“Mungkin Nadya masih dijalan atau pergi ke suatu tempat. Jadinya panggilan kamu nggak dijawab.”
Masalahnya, nomornya nggak aktif, Ma. Bukannya nggak dijawab. Gumamku dalam hati, tak berani bersuara.
“Ah, bisa jadi.” sahutku menutupi sesuatu dari mama. “Biar Bagas coba telepon ke ibu aja dulu.”
“Oh, oke. Kalau gitu, mama tutup teleponnya ya?”
Setelah panggilan mama terputus, aku menghubungi ibu—panggilanku untuk orang tua wanita Nadya—dan menanyakan keberadaan Nadya.
Dan yang mencengangkan, Nadya belum sampai rumah. Bahkan dia tidak memberi kabar apapun kepada ibunya tentang keberadaannya sekarang. Nadya seperti menghilang ditelan bumi tanpa kabar apapun. Dan itu berhasil membuatku kalang kabut.
Tanpa kabar, ponsel nggak aktif, suami mana yang nggak pusing dan hampir gila akan hal itu. Apalagi orang tersebut adalah orang yang selama ini kita cinta dan sayangi.
Aku bahkan bertekad hendak menghubungi polisi dan melaporkan kejadian tanpa kabar dari Nadya ini sebagai laporan orang hilang. Cukup berlebihan, memang. Tapi aku benar-benar takut jika terjadi sesuatu pada wanitaku itu, yang apesnya, kami berada di beda tempat yang membuat gerakku dibatasi paksa oleh jarak.
Ku urungkan niat menghubungi polisi dan mencoba melakukan panggilan pada nomor Nadya. Nihil, masih belum aktif.
Hingga waktu menunjuk angka sembilan lebih tiga puluh lima menit, ponselku berdenting. Sebuah pesan masuk ke kotak pesan dan pengirimnya adalah Nadya, wanita yang hampir lima jam membuatku kehilangan akal dan hampir gila.
Nadya: Sorry. Ponselku kehabisan baterai. Sedangkan aku keluar sama temen, dan kami sama-sama nggak bawa charger.
Aku menghembuskan nafas lega. Beban dan sumpek dalam hatiku sirna seketika oleh pesan Nadya yang baru saja aku terima. Nadya pergi bersama temannya dan ponselnya hanya kehabisan baterai. Tidak ada hal buruk yang terjadi. Aku hanya terlalu takut karena Nadya tidak memberikan kabar dengan pesan atau panggilan padaku.
Nadya: Balas pesan aja. Ponsel lagi di charge.
Sambungnya yang ku sanggupi dengan balasan mengetik pesan.
Oh syukurlah. Kamu beneran baik-baik aja kan?
Kukirim pesan tersebut dengan cepat karena nggak sabar menunggu balasan dari Nadya.
Ting!
Nadya: Sorry ya Gas. Pulang dari rumah mama, aku ketemu temen sampai lupa waktu dan nggak kasih kabar sama kamu.
Nggak apa-apa. Sekarang kamu dimana?
Satu menit,
Dua menit,
Tiga menit,
Sampai...
Sepuluh menit.
Butuh waktu selama itukah mengetik jawaban atas pertanyaan singkat ku itu? Tapi tak lama kemudian,
Ting!
Pesan dari Nadya datang.
Nadya: Dirumah.
__ADS_1
Singkat, padat dan jelas hingga aku tersenyum dan membanting tubuhku diatas ranjang sangking leganya. Dia dirumah dan seharusnya sudah waktunya dia untuk beristirahat sekarang. Tapi, aku masih tidak ingin mengakhiri sesi berbalas pesan dengan Nadya yang sepertinya kelelahan.
Kangen.
Kataku dalam bentuk ketikan.
Nadya: Eum. Aku juga
Eh, ini serius Nadya kangen sama aku?
Mendadak aku merasa kayak muda lagi, menjadi Bagas yang baru saja jatuh cinta kepada seorang gadis, menjadi seorang Bagas yang sedang kasmaran dan tersipu-sipu hanya karena isi pesan seorang wanita.
Aku tidak punya kata-kata romantis untuk aku berikan kepada Nadya. Jeda membalas pesan kami cukup lama, dan aku masih belum menemukan kalimat yang cocok untuk mengatakan sesuatu yang bisa membuat Nadya tersipu. Karena aku sedang dalam keadaan demikian.
Tiba-tiba terbesit satu akal untuk membuat Nadya terkejut dan pasti tidak akan percaya dengan apa yang akan aku beritahukan.
Akan tetapi, tepat ketika aku belum sempat mengetuk display ponselku, layar berukuran 6,5 inchi itu terlebih dulu menyala. Ada sebuah notifikasi pesan masuk. Bukan dari Nadya, melainkan Juwita. Sedikit mengecewakan, tapi tidak apa-apa, toh setelah membalas pesan Juwita nanti bisa lanjut dengan Nadya.
Bontot: Ini beneran mbak Nad nggak sih mas?
Tanya Juwita pada ku. Dia masih mengetik pesan selanjutnya. Tidak terlalu lama, hanya beberapa detik, setelah itu sebuah pesan gambar masuk ke dalam kotak pesan WhatsApp ku.
Bontot: đź“·
Gambar yang dikirim adik ku satu-satunya itu tidak terlalu jelas. Seperti sebuah gambar yang diambil buru-buru dan terlalu banyak goncangan. Tapi disana, aku bisa menebak dengan jelas siluet yang ada. Siluet yang begitu aku kenal meskipun itu tidaklah terlalu jelas. Itu adalah punggung Nadya. Baju yang di kenakan oleh wanita dalam gambar yang dikirim Juwita itu, adalah baju yang kupilih bersama Nadya beberapa bulan lalu ketika kami pergi ke acara pameran yang ada disalah satu mall besar dijakarta.
Namun, terlepas dari itu. Ada satu hal yang membuatku terasa bak ditimpa meteor sebesar bumi. Satu sosok yang familiar untukku yang ada tak jauh dari Nadya. Sedang menggandeng tangan yang terlihat mirip Nadya, yang terkesan lari menghindari sesuatu.
Aku memperbesar gambar tidak jelas itu ke arah laki-laki yang ada disebelah Nadya. Itu...
Pesan dari Juwita kembali datang. Semua fokus ku pada foto itu beralih pada isi pesan yang dikirim Juwita. Mataku melebar seketika, jantungku nyaris berhenti ketika aku membaca,
Bontot: Aku lihat ini di mall A. Yani sekitar jam 6 sore.
Bontot typing...
...
Ting!
Bontot: Aku harap aku salah lihat. Karena jika itu mbak Nadya, dia tidak sendirian. Dia bersama seorang laki-laki. Mereka pergi sebelum aku berhasil menyapa.
Nggak mungkin Nadya berbuat curang dibelakangku 'kan? []
^^^to be continue.^^^
...🌼🌼🌼...
Hayo, konflik akan terjadi. Aku harap kalian suka dengan konfliknya nanti.
Jangan lupa juga untuk mampir ke karya-karya Vi's yang lainnya ya,
Sampai jumpa di bab selanjutnya yang pasti akan seru. Eh, maksudnya anu, eh, begimana sih ngomongnya ini—
Yang pasti, tunggu kelanjutan cerita mereka ya...
__ADS_1
See you.