
...Happy reading......
...Siapkan senyuman termanis kalian untuk Bagas dan Nadya di moment ini, ya......
...🌹🌹🌹...
Pukul delapan malam, Bagas belum menunjukkan tanda-tanda datang. Diluar sudah mulai sepi, gerimis juga mulai turun. Sudah dua hari ini turun hujan pas malam hari.
Aroma basah tanah tersiram hujan menjadi favoritku malam ini. Entah mengapa aku sedikit merasa lega setelah sedikit bicara dengan Bagas tadi.
Selama ini, kami mencoba jujur. Tidak saling membohongi satu sama lain dan berhasil meskipun kadang menyakitkan. Contohnya hari ini. Kalau saja tadi Bagas tidak bilang kalau mau jenguk Hera, mungkin aku akan lebih membenci dia kalau aku nekad mengikuti dan melihat dengan kepalaku sendiri karena dia bicara nggak jujur dan terbuka padaku.
Tapi, aku justru merasa lega karena Bagas mau memberitahuku kalau akan bertemu Hera, meskipun menyakiti satu sisi hatiku sebagai seorang istri.
Karena gelisah, aku memutuskan untuk mengunci pintu dan menyalakan televisi untuk mengalihkan semua kegundahan yang sedang bergelut dengan ragaku. Namun, ditengah semua rasa yang campur aduk itu, ponselku bergetar. Aku buru-buru meraihnya karena pada awalnya aku kira itu Bagas. Tapi sesaat kemudian tatapanku berubah nanar ketika melihat nama Hansel muncul dilayar. Apa dia sudah gila? Mengapa meneleponku di jam-jam waktu keluarga seperti ini? Apa kata istrinya kalau sampai wanita itu tau suaminya menelepon wanita lain?
Aku meneguk saliva, mengatur nada suara dengan satu deheman kecil, lalu menggeser tombol hijau yang melompat-lompat.
“Halo,”
“Aku ganggu, Nad?”
“Apa ada sesuatu penting yang ingin bapak bicarakan dengan saya sampai menelepon saya jam segini?” tanyaku ketus.
“Nggak sih. Cuma kangen aja.”
Gila. Hal gila macam apa yang sedang kami lakukan sekarang? Mengapa pak Hansel bersikap seperti ini?
“Pak—”
“Nggak perlu protes. Aku cuma ngomong kenyataan, Nad. Aku kangen kamu.”
Ada dua perasaan yang mengungkung ku sekarang. Bagaimana mengatakannya ya? Yang jelas, aku merasa bersalah dan senang secara bersamaan.
“Aku—”
Mendengar suara deru mesin mobil memasuki pekarangan rumah, aku menoleh ke arah jam dinding. Pukul sembilan tepat.
Tumben? Biasanya, kalau sudah sama Letto, Bagas kadang lupa waktu.
“Pak, maaf. Saya mau istirahat. Selamat malam.”
Aku matikan panggilan sepihak, lalu melompat turun dari sofa panjang yang ada diruang tengah untuk berlari ke ruang tamu. Lampu ku nyalakan, dan membuka sedikit gorden untuk memastikan jika yang datang beneran Bagas.
Aku kasih tau. Sebenci dan seburuk apa suamimu, dia akan tetap menjadi orang yang paling kamu tunggu kedatangannya saat kamu tidak melihat keberadaannya di sekitarmu.
Setelah dia keluar dari mobil, aku memutar gagang pintu dan menyambutnya pulang.
__ADS_1
“Tumben?” tanyaku.
Dia tersenyum dan mengantongi tangannya disaku sembari menatapku congkak. “Kenapa? Nggak boleh nih pulang cepet?”
Aku malah tersenyum. Sudah beberapa hari ini nggak denger dia bercanda ke aku. “Ya udah, cepetan masuk. Nyamuknya malah masuk semua kelamaan nungguin kamu.”
Aku berbalik dan meninggalkan pintu. Bagas menyusul, kemudian mengunci pintu dan mematikan lampu. Dia ikut bergabung di sofa bersamaku.
“Nungguin aku pulang?”
“Nggak. Lagi nonton film.”
Tidak bisa aku hindari untuk tidak melirik ke arah Bagas. Tawa kecilnya masih mampu membuatku penasaran, seperti apa dan bagaimana ekspresinya. Selalu seperti itu. Dan Yap! Aku ngaku, aku memang selalu menunggu Bagas pulang dan menyapaku meskipun, kadang aku lebih suka menjaga image didepannya.
Banyak orang bilang, aku itu judes dan nggak sedikit yang bilang aku aneh karena jarang senyum ke mereka. Tau kenapa? Karena aku hanya ingin senyumanku dilihat Bagas, bukan orang lain.
Untuk masalah dengan Hansel di airport beberapa hari lalu, jujur aku nggak sadar kalau sudah tersenyum seperti yang dikatakan Bagas waktu itu. Aku memang sedikit merasa nyaman di samping Hansel akhir-akhir ini. Tapi aku sama sekali nggak berniat buat jalin hubungan apapun sama dia. Aku hanya ingin ada teman cerita saat aku sumpek. Udah, itu aja.
“Gimana keadaan Hera?” aku bertanya sambil menoleh ke Bagas dan mata kami pun mau tidak mau bertemu.
“Baik. Katanya sudah agak mendingan dari pada kemarin.”
“Sakit apa?” tanyaku lagi, kepo.
“Asam lambungnya naik.”
Oh, asam lambung. Aku juga suka kambuh kalau banyak pikiran dan juga telat makan.
“Takut hantu, ya jangan lihat film horor toh cah ayu~cah ayu.”
“Apa sih!” kesalku karena ledekan Bagas. Siapa yang ta— “Aaarrrh...” teriakku kencang sambil menutup muka dan melompat ke arah Bagas duduk ketika selimut putih yang sedang berada di jemuran terbang dan membentur satu objek yang terlihat seperti bentuk manusia. Aduh, kenapa seram begitu sih?!
“Dah ah. Matiin. Nanti malah minta anter ke kamar mandi. Nggak malu?”
Satu pukulan melayang, mendarat manja di dada bidang Bagas yang keras dan padat hingga berbunyi ‘bugh’, membuat dia memicing karena menahan sakit.
“Kapok!” ketusku dengan wajah sebal yang dibalas pelukan erat oleh Bagas sambil tertawa. Tanpa sadar, aku ikut tertawa lepas dalam pelukannya. Sudah lama aku tidak tertawa seperti ini. Rasanya lega, nggak ada beban. “Lepasin nggak?” teriakku ketika merasakan kaki berpaha sekal milik Bagas mulai mengunci kedua kaki dan seluruh pergerakanku yang ingin melepaskan diri.
Bukannya marah, aku malah tertawa kesenangan karena akhirnya kami bisa seperti dulu. Kami yang jika bercanda, suka kelewat batas.
Karena sudah sesak, aku mencubit pinggang Bagas, dan seketika aku terlepas dari kekangan.
“Sakit Nad!” teriaknya frustasi sambil menggosok pinggangnya sendiri.
“Kenapa? Mau nambah?” tantangku kesal dengan mata melotot hampir lepas dari sarangnya. Tapi, taukah kalian bagaimana unik dan langkahnya seorang Bagas? Aku kasih tau.
Setelah mengatakan itu, Bagas melompat diatas sofa. Badannya membungkuk hingga keningnya menyentuh permukaan sofa, punggung dan pant*atnya naik—nyaris menyerupai katak, dan kedua telapak tangannya menyatu membentuk lancip diatas kepala. “Ampun nyai. Nggak lagi-lagi deh.”
Tawaku meledak. Aku bahkan hampir pipis dicelana sangking kerasnya tertawa. Tubuh bongsor Bagas tidak cocok menjadi pengawal nyai di jaman purba. Dia lebih cocok menjadi body guard presiden Amerika karena selain proporsional, wajahnya juga mumpuni. Dia juga bisa di nominasikan sebagai pria seksih L-Men of the year, jika dia mau.
__ADS_1
“Kamu ngapain sih?!” tanyaku masih tertawa karena keusilan Bagas.
“Ampun nyai.”
“Nyai, nyai! Memangnya wajahku udah keriput gitu kamu panggil nyai?”
Bagas bangkit dan tersenyum hangat kepadaku. Entah mengapa hatiku terasa diremat hingga mataku tiba-tiba buram. Aku ingin menangis.
“Lho? Kenapa? Kok nangis?” tanya Bagas panik ketika aku mengusap pipiku yang basah terkena lelehan air mata. “Nad, ada apa?”
Kamu tidak tau, Gas. Ada setumpuk rasa bersalah sedang menekan ujung kepala dan ribuan paku menusuk dadaku. Aku merasa sangat bersalah.
Melihat Bagas yang mulai kepanikan dan memangkas jarak, aku menggeleng dan menahan dia agar tidak memelukku. Sumpah, rasa bersalah ini begitu menekan setiap inci pembulu darahku hingga sekujur tubuhku terasa begitu ngilu.
“Nad, kenapa? Kamu marah? Okey, aku minta maaf atas sikapku beberapa hari ini. Aku—”
“Stop. Nggak perlu nyalahin diri kamu sendiri, Gas.” tekanku lugas. Aku hanya ingin menekankan pada diriku, jika apa yang sedang aku lakukan bersama Hansel dibelakang Bagas, tidaklah benar. Meskipun hanya bertukar pesan atau ngobrol di telepon, Hansel seperti sedang memintaku memberinya ruang agar dia ada di kehidupanku. Aku sadar itu, dan aku merasa bersalah karena sempat terlena dan membuka hati hingga Hansel leluasa mengatakan isi hatinya, meskipun tau semuanya beresiko.
Aku memejam sejenak, tapi justru bayangan Hansel yang muncul. Bayangan yang begitu menyakitkan dan membuat rasa bersalah membuncah.
“Nad, please. Jangan kayak gini.”
Aku masih diam setelah kembali membuka mata dan menatap manik mata Bagas yang terlihat begitu tulus. Satu pertanyaan muncul dalam benakku, bagaimana bisa aku berfikir membuka hati untuk pria lain, saat didepanku ada pria yang sudah hadir dihidupku dan rela berbuat apapun untukku, selalu menunjukkan kasih sayangnya? Apa otakku masih sehat? Otakku perlu dipertanyakan kewarasannya.
“Gas,” panggilku serak berniat mengatakan sesuatu padanya, namun tercekat oleh Saliva yang terteguk tiba-tiba karena Bagas menarikku kedalam pelukan, menahan punggungku dengan satu tangan, kemudian perlahan menyelipkan lengan yang lainnya dibawah lututku. Dia berdiri dari sofa, membopongku menuju kamar. Sedangkan aku, bersembunyi didadanya yang bidang dengan melingkarkan kedua lengan di lehernya. Malu atas kelakuanku sendiri setelah selama ini membenci kelakuan Bagas bersama Hera.
Saat berjalan menuju tempat ternyaman kami, dia berbisik. “Kita akan baik-baik saja.” []
^^^to be continued.^^^
...🌼🌼🌼...
BTW, Bagas bisa lebih sweet dari pada ini loh.
Eh tapi tunggu! Gimana? Apa bab ini sudah bisa di kategorikan dalam bentukan moment sweet? 😁
Oh,
Ada yang ingin disampe'in ke...
Nadya?
Atau,
Bagas?
Atau mungkin,
Hansel?
__ADS_1
Waktu dan tempat, dipersilahkan. 😜😜😜